
🤗🤗🤗🤗🤗
.
.
.
.
.
Garvi melajukan mobilnya, menyusuri jalanan kota yang begitu ramainya, sementara disampingnya, tamara, gadis itu hanya diam saja, dia masih memikirkan kejadian barusan, dia jadi merasa bersalah meninggalkan vandra sendirian, harusnya disaat seperti ini, dia ada disamping vandra untuk menenangkannya, tapi ini, dia malah meninggalkan vandra yang sedang gundah memikirkannya disana.
tamara diliputi oleh rasa bersalahnya, dia jadi tidak bisa berpikir jernih saat ini, meskipun raganya disini, namun pikirannya masih tertuju pada vandra, dia benar-benar sedih harus meninggalkan vandra seperti itu, sementara garvi, hanya diam seribu bahasa tanpa ada rasa penyesalan sama sekali diwajahnya, pria itu sungguh berhati batu, apa jangan-jangan garvi sengaja melakukannya ya ? atau kah memang hanya kebetulan ? mungkin hanya tuhan dan garvi saja yang tau jawabannya, so... jangan di skip ya bacanya, biar nggak ketinggalan jalan ceritanya. 🤗
tamara tau bahwa vandra pasti merasa kecewa padanya, tapi bagaimanapun, dia tidak bisa mengabaikan kewajibannya sebagai seorang sekretaris, dia wajib menuruti perintah bosnya, selagi hal itu masih dalam batas kewajaran, apakah hal ini masih wajar ? aduh... sabar ya tamara, nanti author cariin jalan keluarnya.
tamara merutuki kebodohannya sendiri waktu itu, mengapa dia tidak teliti membaca keseluruhan isi kontrak kerjanya, sebelum dia menanda tanganinya, entah itu jebakan atau apa ? tanpa tamara sadari ternyata didalam kontrak itu tertera jika dia mengundurkan diri sebelum habis masa kontrak kerjanya maka dia harus membayar denda ke perusahaan sebesar lima milyar, kemana coba dia mau nyari uang sebanyak itu ? jika saja dia teliti, maka hal ini tidak akan terjadi, mungkin dia bisa terbebas dari CEO yang kurang waras itu, andai saja waktu bisa dia putar kembali, maka dia tidak akan pernah melamar pekerjaan di perusahaan Akhilendra itu, ya...memang penyesalan itu datengnya belakangan kan.
ini semua berawal dari satu tahun yang lalu, saat itu tamara berada dirumah sakit, dia mengalami kecelakaan yang mengharuskannya di rawat inap, kecelakaan itu membuatnya harus dioperasi karena terjadi benturan keras dikepalanya, yang membuatnya mengalami pendarahan yang hebat, setelah dioperasi berkali-kali, dia tidak sadarkan diri selama beberapa hari, dan ketika dia sadar, dia tidak ingat kejadian sebelum kecelakaan, bahkan kejadian selama lima tahun terakhir ini, dia hanya ingat beberapa hal saja, menurut dokter penyakitnya itu dinamakan amnesia disosiatif jenis localized, kondisi dimana seseorang tidak bisa mengingat kejadian dari periode waktu tertentu, dan salah satu penyebab dari amnesia ini adalah kecelakaan yang menimbulkan traumatik, pada penderita amnesia disosiatif, ingatan masih ada, tetapi tersimpan sangat dalam dipikiran dan tidak dapat diingat, namun, ingatannya tersebut bisa kembali dengan sendirinya setelah dipicu sesuatu disekitarnya.
orang yang mengalami amnesia disosiatif mungkin tidak menyadari bahwa dia kehilangan ingatan walaupun terlihat bingung, tidak seperti hilang ingatan akibat cedera otak atau penyakit, orang yang mengalami amnesia disosiatif tampaknya jarang menunjukan kekhawatiran tentang kondisinya tersebut, dan hal itulah yang selama ini dialami oleh tamara dan karena hal itu juga yang membuatnya harus mencari pekerjaan baru karena dia tidak ingat kalau dulu dia bekerja dimana, lalu ketika dia tau ada lowongan kerja di perusahaan Akhilendra, diapun melamar pekerjaan disana, dan disinilah dia sekarang, bekerja sebagai sekretaris di perusahaan Akhilendra Group.
beruntung, dia memiliki kekasih seperti vandra, yang selalu setia kepadanya hingga saat ini, menemaninya disaat dia sakit, merawatnya dengan penuh kasih sayang sampai dia sembuh dari luka-lukanya, meskipun ingatannya belum pulih, itu tidak masalah buat tamara, karena memang dia seorang anak yatim piatu, jadi memang tidak ada yang perlu dikhawatirkannya, toh dia juga masih ingat kalau selama ini dia dibesarkan dipanti asuhan mother's love foundation, dia juga ingat namanya, dan terlebih lagi dia ingat dengan vandra, kekasihnya yang dengan sabarnya membantunya untuk mengingat hal-hal yang berkaitan dengannya, jadi nggak masalah kan ? meskipun dia tidak ingat ada kejadian apa selama lima tahun ini, namun asalkan vandra ada disampingnya, semua bukanlah masalah besar baginya.
" turun "
tiba-tiba sebuah suara membuyarkan lamunannya.
" apa ? " tanya tamara gelagapan
garvi mendelik
" aku bilang turun, apa pendengaranmu terganggu lagi ? setiap kali aku bicara denganmu, kamu selalu saja tidak dengar, lebih baik kamu ke dokter THT saja, bisa runyam urusannya jika aku mempunyai sekretaris yang tuli sepertimu " jawab garvi dengan kasar.
tapi kali ini tamara tidak ingin membalasnya, pikirannya sedang ruwet, jadi dia tidak ingin mendengar ocehan yang tidak perlu dari garvi, lebih baik dia diam saja, sepertinya itu adalah keputusan yang terbaik untuknya saat ini.
tamara melihat kesekeliling, mencari tau sedang dimana dia sekarang, setelah menelisik, rupanya kini mereka tengah berada disebuah restoran.
" mengapa kamu hanya diam saja, apa sekarang kamu juga bisu hah ! " bentak garvi karena tak suka dengan kebungkaman tamara
" saya dengar pak garvi yang terhormat " jawab tamara sekenanya, dia pun langsung turun dari mobil garvi tanpa memperdulikan bosnya itu lagi.
" hei, ngapain kamu turun duluan ! apa kamu pikir aku ini sopirmu ? " bentak garvi lagi setelah dirinyapun keluar dari mobilnya.
" tadi kan pak garvi sendiri yang menyuruh saya untuk turun, gimana sih ? salah mulu " oceh tamara
" apa maksudmu ? kamu mau membantah saya ? " ujar garvi yang terus-terusan marah kepada tamara
" maaf pak garvi " sahut tamara malas
__ADS_1
tamara tak bisa berbuat apa-apa selain mengalah dengan CEO nya itu, ya...namanya juga bos, mau salah kek, mau bener kek, tetep aja kita yang disalahkan, sesuai dengan mottonya, BOS TIDAK PERNAH SALAH.
" terus sekarang, apa yang bisa saya bantu ? " tanya tamara
" nanya mulu kamu, udah, kamu ikut aja, dan jangan banyak tanya lagi " jawab garvi masih dengan sikap ketusnya.
ampun deh ini si bos, pengen banget dah tamara ngejitak kepala tuh CEO, kali aja dulu otaknya jadi kegeser, makanya dia emosi jiwa mulu, apa apa marah, salah dikit marah, kayaknya si bos garvi itu pas lahir nggak pake nangis kali ya, tapi langsung marah-marah, nggak kebayang kan kalo hal itu kejadian ? pasti itu jadi salah satu tanda kalo kiamat sudah dekat, tamara jadi senyum-senyum sendiri membayangkan hal barusan, dan hal itu tak luput dari pandangan garvi.
" ngapain senyum-senyum sendiri gitu ? udah nggak waras kamu ya ? " tanya garvi yang memang sangat teliti dalam mencari kesalahan orang lain.
" emang dosa gitu kalo senyum " ujar tamara menggerutu
" kalau ngomong yang jelas, jangan menggerutu gitu " ucap garvi
" tidak ada pak garvi, sebaiknya kita langsung masuk saja ke dalam, yuk " sahut tamara mempersilahkan dengan senyum yang dipaksakan
" kamu udah berani ngatur-ngatur saya hah, awas kamu ya ? jangan harap kamu bisa bebas hari ini, aku pasti akan memberikanmu hukuman " omel garvi
" maaf pak garvi, sekarang tersersah pak garvi saja maunya gimana, saya ikut aja " lanjut tamara yang sudah lelah meladeni omelan bosnya itu
" nah gitu dong, kamu sebagai bawahan harus bersikap sopan kayak gitu " kata garvi kemudian
garvi pun langsung masuk kedalam restoran dan tamara hanya mengikutinya saja dari belakang, dia tidak ingin berbicara apa-apa lagi, dari pada nanti disalahin mulu.
garvi dan tamarapun langsung masuk kedalam restoran itu, namun lagi-lagi tamara merasakan hal yang aneh, dia seperti tak asing dengan tempat ini, namun tamara tak mau ambil pusing, toh dia sendiri tau kalo dia terkena amnesia disosiatif, vandra sudah menjelaskan kondisinya kepadanya, jadi mungkin aja dia emang pernah kesitu dengan vandra, dan hal itu terlintas begitu saja di dalam memorinya.
mereka langsung duduk disalah satu meja yang terletak diujung restoran, ya.... tidak banyak yang tau kalau ternyata CEO muda kita ini adalah seorang introvert, dia tidak suka keramaian, itulah mengapa dia selalu memilih tempat duduk yang jauh dari keramaian orang-orang, bahkan tamara saja heran ketika dia baru pertama kali mengetahui hal itu, masa seorang Garvi yang angkuh dan galak itu memiliki sifat introvert ? dan hal itu sangat tidak cocok dengan gambaran dirinya, dihadapan karyawan lain, dia terlihat begitu berwibawa, begitu sempurna tanpa cela, bahkan digilai para perempuan seantero negeri, dan itu menjadi hal yang lumrah, tentu saja banyak gadis yang mau menjadi pasangan Garvi Akhilendra, dia pria muda yang tampan dan gagah, dan jangan lupakan kekayaan keluarganya yang tak terhingga itu, apa lagi dia adalah pewaris tunggal dari perusahaan itu, dia juga cerdas, ditambah dengan sikap cool man nya yang membikin hati para cewek kesengsem berat dibuatnya, dia juga sering wara wiri jadi pemberitaan media sebagai pengusaha muda yang sukses, meskipun garvi tidak mengijinkan fotonya dipajang di media apapun, karena dia tidak ingin kalau orang-orang mengetahui siapa dirinya, namun ketampanan dirinya sudah menjadi bahan pembicaraan dari mulut ke mulut, tentunya hal itu berawal dari karyawannya sendiri yang sudah melihat dengan mata kepala mereka sendiri, seberapa ganteng dan gagahnya seorang Garvi Akhilendra.
" pak garvi ingin makan apa ? biar saya pesankan ? " tamara menanyakannya dengan sopan, meskipun tamara sangat kesal dengan bosnya itu, tapi dia tetap berusaha bersikap profesional dihadapan garvi
garvi tidak langsung menyahut, dia hanya membuka-buka buku daftar menu yang dibawakan oleh seorang waitress tadi.
" samain aja sama punya kamu, aku nggak selera " jawab garvi
tamara pun segera memesan makanan untuk mereka berdua
" ok, baik, saya pesan yang ini ya, dan tolong dibungkus saja " titah tamara kepada waitress itu sambil menunjuk gambar makanan yang ada di buku menu, dia tau garvi tidak nyaman berada ditempat seperti ini, dan itu tergambar jelas dari sikapnya yang mulai gelisah
" eh... kata siapa aku minta dibungkus, aku mau makan disini " oceh garvi
" tapi kan saya tau kalau bapak tidak nyaman berada ditempat seperti ini, jadi lebih baik makanannya kita bawa pulang saja " jelas tamara
" jangan sok tau kamu ya, kamu itu cuma sekretarisku, jadi ikuti aja semua perintahku " tegas garvi
tamara mendengus kesal sebelum akhirnya dia menyuruh waitress itu untuk membatalkan pesanannya tadi.
" maaf ya , kami jadi makan disini aja, nggak jadi dibungkusnya " ulang tamara, dan waitress pun segera pergi untuk mempersiapkan pesanana mereka.
"ok signora " jawab waitress
tak lama hidangan yang dipesanpun datang, garvi mempersilahkan tamara untuk makan, dan tamarapun langsung menyantap dengan lahap spaghetti yang dipesannya, dia tidak memperhatikan sekitarnya, dia begitu kelaparan karena tadi belum sempat untuk makan siang, dia begitu bernapsunya sampai dia tanpa sengaja bersendawa dihadapan garvi, menyadari itu, tamara malu bukan kepalang, wajahnya merah padam karena menahan rasa malu dihadapan garvi, tamara mendudukan kepalanya demi untuk menyembunyikan rasa malunya, namun sekilas dia melihat senyum tipis disudut bibir garvi, apa tadi dia salah lihat ya ? pikirnya, tapi kalaupun memang itu benar, ternyata si manusia kaku itu manis juga kalo tersenyum gitu, eits....jangan nakal ya tamara, inget sama vandra yang supel itu, jangan sempe tergoda !!! ðŸ¤.
__ADS_1
setelah mengumpulkan keberaniannya, tamarapun mengangkat kembali kepalanya, lalu tatapannya langsung tertuju pada spaghetti yang ada dihadapan garvi, pemuda itu tidak menyentuh makanannya sama sekali, alangkah konyolnya dia, jadi selama dia makan tadi, garvi hanya menonton dirinya saja, mau ditaro mana coba mukanya, dia mengutuk dirinya sendiri yang begitu kalap ketika melihat makanan yang ada dihadapannya, dia jadi lupa dengan sekitarnya, dia cuma berharap, mudah-mudahan si garvi jadi amnesia juga, biar dia nggak inget kejadian hari ini.
" kenapa berhenti makannya ? sudah kenyang kamu ? " ledek garvi.
tamara langsung cembetut mendengar ledekan garvi
" anda sendiri, kenapa makanannya tidak dimakan, kan sayang ? " tanya tamara jutek
" melihat caramu makan seperti itu, membuatku tidak napsu makan " jawab garvi, tamara tidak menanggapi.
" nih... makan saja punyaku sekalian " tawar garvi, tamara tidak langsung mengiyakan, dia tau kalau bosnya itu pasti sedang mengejeknya, garvi paham dengan kebungkaman tamara.
" aku serius, makanlah, aku tau kamu suka sekali makanan ini kan, jadi makanlah, aku benar-benar sedang tidak selera " titah garvi, kali ini suaranya melembut.
tamara menatap tajam ke arah garvi, dia mencoba mencari kebenaran dari ekspresi wajah bosnya itu, dan sepertinya kali ini garvi serius dengan kata-katanya.
" cameriere! " panggil tamara kepada salah seorang waitress dalam bahasa italia
" ada apa signora ? ada yang bisa saya bantu lagi ? " tanya waitress itu
" tolong yang ini dibungkus ya, makasih " jawab tamara sambil menyodorkan piring spaghetti itu kepada waitress
" baik signora, tunggu sebentar " ujar waitress itu sambil membawa piring yang diberikan tamara
" mengapa kamu minta dibungkus ? " tanya garvi bingung
" kita ke rumah bapak saja, saya akan masak sesuatu buat bapak, bapak belum makan kan ? dan saya juga tau pak garvi tidak nyaman berada disini, jadi biar saya masakan saja, bukankah itu juga menjadi tugas saya, sesuai dengan apa yang bapak perintahkan dulu " jawab tamara.
garvi bangkit dari kursinya dan menarik lengan tamara agak kasar
" jangan berani-beraninya kamu mengatur hidup saya ya, kamu itu bukan istri saya " ujar garvi
" siapa juga yang mau jadi istri bapak, saya hanya menjalankan kewajiban saya, jadi saya harap, pak garvi pun mengerti " sahut tamara
garvi sudah mau menumpahkan amarahnya lagi tapi tanpa dikomandoi tiba-tiba " kriuuuuk...." o o, mengapa perutnya yang keroncongan berbunyi sangat tidak elitnya disaat seperti ini, membuat sang CEO jatuh harga dirinya dihadapan sekretarisnya itu, tamarapun hanya bisa menahan senyumnya melihat kejadian itu.
garvi langsung melepaskan tangan tamara, dia mengambil beberapa lembar uang dan menaruhnya dimeja, lalu berlalu begitu saja tanpa mengatakan hal apapun.
" ini, makanannya signora " seorang waitress memberikan bungkusan pada tamara
" oh...makasih ya, dan ini uangnya " ujar tamara sambil mengambil uang yang ada di meja dan memberikannya pada waitress yang membawakan bungkusan makanannya tadi.
" tapi ini kebanyakan signora " ucap waitress itu
" tidak apa-apa, ambil saja kembaliannya " lanjut tamara
" makasih signora " sahut waitress itu
tamarapun meninggalkan restoran itu dengan senyum penuh kemenangannya, dia tidak bisa membayangkan betapa malunya CEOnya itu, dia yang sok cool begitu, pasti mendapat pukulan telak karena kejadian tadi, jatuh juga akhirnya harga diri bosnya itu dihadapan tamara, ah tamara begitu menikmatinya, jadi seperti ini rasanya menang, tamara jadi tidak sabar ingin melihat reaksi wajah garvi jika mereka bertemu lagi nantinya, kira-kira gimana ya ? ðŸ¤.
🤗🤗🤗🤗🤗
__ADS_1