
🤗🤗🤗🤗🤗
.
.
.
.
.
Garvi bergeming melihat tamara yang tampak menikmati pesta yang diadakan oleh perusahaan adyatama, tentu saja tamara bisa dengan mudah berbaur dengan yang lainnya, karena memang dia sering menemani garvi menghadiri acara penting seperti ini, sikapnya yang humble, membuatnya banyak disukai oleh orang-orang, vandra merasa bangga sekali menggandeng tamara disisinya, dia bahkan tak melepaskan pegangan tangannya sama sekali, beberapa orang menyelamati hubungan mereka, karena baru kali ini mereka melihat vandra dan tamara datang bersama sebagai sepasang kekasih, jadi banyak yang berpikir jika mereka baru menjalin hubungan, padahal mereka sudah bersama cukup lama, kurang lebih tujuh tahun, setidaknya itulah yang tamara yakini, karena memang dia tidak ingat kejadian selama lima tahun ini, dia hanya ingat peristiwa dua tahun sebelumnya saat bersama vandra, selebihnya dia hanya bisa mendapatkan penjelasan dari vandra, tentang kejadian lima tahun yang terlupakan olehnya, dan tamara percaya saja dengan semua kata-kata vandra, vandra tidak akan mungkin tega membohonginya.
Garvi meremat gelas minumnya kuat-kuat karena menahan diri, dia berusaha mengontrol dirinya agar tidak terbawa suasana, meskipun dia ingin sekali menerjang kedua makhluk yang tengah bercanda ria dihadapannya itu, melihat itu ghibran segera menyingkirkan gelas dari tangan garvi, dia takut garvi kalap dan menghancurkan gelas itu karena genggaman tangannya yang kuat, meskipun garvi tipe pria yang cool, tapi jika ada sesuatu hal yang memicu emosinya, dia bisa berbuat nekat, dan ghibran pernah menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri.
" kamu harus tenang vi " hibur ghibran
" dia telah melanggar kesepakatan kami " sahut garvi geram
" jangan sampai kamu berbuat bodoh, justru itu yang dia inginkan, dia sengaja memancing amarahmu " jelas ghibran
" aku tau, lalu ?, apa menurutmu aku harus diam saja ? " tanya garvi dengan penuh penekanan dalam setiap kata nya
" aku tau ini tidak mudah, tapi kami harus ingat tujuanmu selama ini, jangan kamu rusak hanya karena emosi sesaatmu " jawab ghibran
garvi mendengus kesal seraya memalingkan wajahnya, namun itu tak bertahan lama, dia beranjak dari kursinya dan mendekati pasangan kekasih itu, jantung tamara berdegup kencang karena mendapat tatapan yang sangat menusuk dari garvi, seakan pria itu akan melahapnya detik itu juga, vandra semakin mengeratkan pegangan tangannya, seakan menantang garvi, secara tidak langsung, dia ingin memberitahukan bahwa dia tidak takut kepada garvi, matanya menyiratkan kesiapannya untuk menabuh genderang perang terhadap garvi.
Garvi berdiri dihadapan keduanya dengan sikap angkuhnya, dia melirik ke tangan tamara yang memang sengaja vandra tunjukan ke hadapannya, kedua pria tampan itu sama-sama menebarkan aura permusuhan yang begitu kentara.
" jaga batasanmu, jangan sampai kamu menyesalinya nanti " ujar garvi
" itu tidak perlu, aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan, dan aku tidak butuh yang lainnya, coba saja kalau anda bisa, lakukan apa yang anda mau, karena aku tetap akan menjadi pemenangnya " tantang vandra, tamara memegang bahu vandra mengingatkan pria itu untuk menahan dirinya
__ADS_1
" kamu tidak akan mendapatkan apapun, karena aku tidak akan membiarkannya, sekali pencuri tetap pencuri, dan seorang pencuri tidak akan pernah bisa mendapatkan apapun dari hasil curiannya, karena sepintar apapun dia menyembunyikan barang curiannya, suatu saat barang curian itu pasti akan ditemukan " sahut garvi,
tamara sedikit bingung demgan pembicaraan kedua pria itu, apa maksud dari kata-kata garvi, mengapa dia mengatakan kalau vandra adalah pencuri, ada apa lagi ini ?, mengapa dia merasa menjadi orang yang bodoh, karena tidak mengetahui apapun.
" sudah vi, ayo ! " lerai ghibran sambil menarik tangan garvi, tapi garvi tidak beranjak sama sekali dari tempat berdirinya
" vi ! " panggil ghibran lagi
garvi masih menatap nanar ke arah vandra, yang juga dibalas oleh vandra dengan tatapan menantangnya, lalu dia berlalu meninggalkan vandra yang masih menatap punggung garvi dengan sikap sok nya.
" mengapa pak garvi ngomong kayak gitu ? maksudnya apa sih ? " tanya tamara
" bukan apa-apa, dia hanya bicara sembarangan, kamu sendiri juga tau kan karakternya " jawab vandra tanpa melepaskan tatapannya
tamara diam saja, dia sangat tau kalau vandra sedang membohonginya lagi, setiap kali tamara menanyakan hal itu, hanya itu saja yang menjadi jawaban vandra, tamara berusaha sabar menahan rasa penasarannya, dia akan menunggu sampai vandra siap untuk menceritakan semuanya kepadanya, mungkin masalah vandra dengan garvi sedikit rumit, sehingga membuat vandra tidak bisa berterus terang kepada tamara secara leluasa.
sementara itu, ghibran kembali membawa garvi ke tempat tadi mereka duduk, dia harus bisa menenangkan sahabatnya itu, ini tidak bagus, dia tau garvi sudah terprovokasi, segera ghibran memesankan minuman untuk garvi agar pikirannya tidak terpusat pada sekretaris cantiknya itu dan pasangannya.
garvi memang orang yang sangat disiplin dan sangat tepat janji, dia paling benci orang yang suka ingkar janji, dia sudah membuat kesepakatan dengan garvi, tapi dengan mudahnya dia mengingkari kata-katanya, sungguh tidak bisa dipercaya.
ghibran hanya membiarkannya, dia berpikir, lebih baik garvi mabuk dari pada dia mengamuk diacara ini, apa lagi banyak wartawan dimana-mana, selama ini garvi selalu berusaha menyembunyikan dirinya dari para wartawan, jika sampai dia membuat keributan, otomatis wajahnya pasti akan terpampang di media, tentu nanti ghibran juga yang harus repot mengurusinya.
Garvi memang sangat menjaga privasi nya, dan itu membuat wartawan penasaran tentang perjalanan hidupnya, kisah cintanya, atau apapun yang ada hubungannya dengan garvi, mereka berlomba-lomba ingin mengungkapkan identitas sang CEO Akhilendra, siapapun yang berhasil melakukannya, maka sudah dipastikan dia akan mendapatkan ketenaran dikalangan para wartawan.
selama ini, setiap kali garvi berbisnis dengan pengusaha lainnya, garvi selalu membuat kesepakatan agar mereka merahasiakan tentang dirinya, salah satu alasannya adalah dia ingin melindungi keluarganya, sebagai pebisnis yang sukses pastilah punya banyak saingan, mereka yang tidak menyukainya, pasti akan berusaha menjatuhkannya, dengan cara apapun, bahkan bila perlu, mereka akan mencelakai keluarganya sebagai jaminan, agar mereka bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.
" wah kalian cocok sekali "
" aku jadi iri melihat kalian "
" kalau kalian menikah, pasti anak-anak kalian cantik dan ganteng kayak papa dan mamanya "
" selamat ya, semoga kalian berdua langgeng "
__ADS_1
" kapan menikah ?, jangan lupa undangannya ya "
itulah kata yang terlontar dari para tamu yang hadir di pestanya adyatama, mereka ikut bahagia, melihat pasangan yang baru go publik itu, bahkan tamara sampai bersemu merah dibuatnya, sementara vandra hanya tersenyum menanggapi celotehan para rekan bisnisnya yang mengatakan dirinya beruntung mendapatkan pasangan secantik tamara, dan kesemuanya itu bagaikan drama di mata garvi, meskipun dia berusaha mengacuhkannya, tapi tidak bisa sepenuhnya, tetap saja telinganya gerah mendengar ucapan orang-orang yang menyelamati keduanya.
dan kinilah saatnya, inilah saat yang tepat bagi garvi, dengan setengah kesadarannya , dia membanting gelas yang tengah dipegangnya, dan membuat semua orang menatap kearahnya dengan keheranan, hingar bingar yang semula bergema, kini menjadi hening, mereka seakan menantikan kejadian selanjutnya, apa yang akan dilakukan oleh usahawan muda itu, mengapa dia sampai membanting gelasnya sampai pecah, ada apakah gerangan denganya ?.
tamara dan vandra pun ikut menoleh ke arah garvi, dan sialnya lagi ghibran tidak ada disamping garvi saat ini, pria itu sedang ke toilet sebentar, karena melihat garvi yang tengah terlena oleh minumannya, jadinya ghibran merasa aman untuk meninggalkan pria itu barang sejenak.
tapi rupanya tidak seperti itu kejadiannya, kini garvi dengan matanya yang mulai sayu karena minuman, berjalan gontai ke arah vandra dan tamara, dia tertawa sambil menepukan tangannya.
dia terus berjalan, hingga akhirnya dia berada dihadapan vandra, dia menatap vandra dengan tatapan biasanya, tatapan tak bersahabat, vandra hanya mengamatinya sambil menunggu, dia penasaran apa yang akan dilakukan pria itu kini.
prok...prok...prok...
" wah...wah...wah... hebat, hebat sekali pak vandra, anda sangat luar biasa, selamat ya untuk kalian " ujar garvi sambil tertawa lantang, membuat yang lainnya hanya terpaku, menanti dengan sabar adegan berikutnya
" apa yang anda inginkan ? " tanya vandra serius
" apa yang aku inginkan ? kamu tanya apa yang aku inginkan ? kau tentu lebih tau dibandingkan siapapun " jawab garvi, kali ini dia mulai menunjukan sikap arogannya lagi
" pak garvi sudah, anda sedang mabuk, lebih baik anda pulang saja, tolong jangan membuat keributan " lerai tamara
" lepaskan, jangan sentuh aku, kamu tidak pantas menyentuhku " gertak garvi
" tolong anda berbicara sopan dengan pasangan saya " bela vandra
" pasangan ? , cih... aku jijik mendengarnya ? " geram garvi
" bapak garvi, selama ini saya sabar menghadapi anda yang selalu mengganggu hubungan kami, anda selalu merusak rencana kami , anda selalu memarahi pacar saya hanya karena dia bawahan anda, dan sekarang anda juga sedang mempermalukan saya dihadapan orang banyak, sebenarnya apa mau anda ? mengapa anda selalu mengacaukan kehidupan saya " tanya vandra berentetan
" tanyakan itu pada dirimu sendiri, jangan pernah menanyakan hal itu padaku dengan mulut kotormu, kamu mungkin bisa menipu semua orang vandra, tapi tidak untuk seorang Garvi Akhilendra, aku tau betul kelakuan busukmu itu " jawab garvi
tamara yang ada disitu hanya bengong saja menyaksikan pertengkaran mereka, sejujurnya dia sendiri tidak tau, mengapa garvi sebegitu murkanya.
__ADS_1
apa gara-gara dia tidak menuruti perkataan garvi untuk tidak keluar mansionnya, tapi kalau karena itu masalahnya, harusnya kan harvi memarahi dirinya, bukannya vandra, tapi malahan vandra lah yang dari tadi disudutkan garvi, ah.. tamara jadi kesal sendiri dibuatnya, seandainya dia ingat kejadian lima tahun yang lalu, mungkin saja dia bisa tau, masalah yang sebenarnya, dan sampai hari inipun vandra tetap menyimpan rapat alasan mengapa dirinya dan garvi, padahal mereka sudah berjanji untuk terbuka satu sama lain, tapi rupanya, vandra masih enggan untuk menceritakan padanya, padahal tamara sudah siap menerima apapun itu nantinya, seburuk apapun, tamara akan berusaha untuk menerimanya, karena cintanya kepada vandra begitu tulus, dan jika memang vandra melakukan kesalahan yang begitu besarnya, dengan keikhlasannya, tamara akan memaafkan semua yang telah vandra lakukan, meskipun mungkin hal itu nanti akan menyakiti hatinya.
🤗🤗🤗🤗🤗