
🤗🤗🤗🤗🤗
.
.
.
.
.
dua makhluk yang berbeda gender itu tengah mengadu ego nya, baik garvi atau pun tamara, tak ada yang mau mengalah lebih dulu, mereka saling terpaku, seakan berbicara melalui mata mereka.
" baiklah, katakan " garvi pun membuka pembicaraan
" apa bapak tidak ingin menjelaskan sesuatu kepada saya ? " pancing tamara
garvi menaikan alisnya sebelah karena heran mendapati pernyataan seperti itu dari tamara
" tentang ? " garvi balik tanya
" semuanya " jawab tamara enteng
" aku rasa, aku tidak perlu menjelaskan apapun padamu " timpal garvi
" sudah kuduga, bapak pasti akan mengatakan hal itu, baiklah kalau begitu, apa sekarang saya boleh pindah ke apartemen saya ? " tanya tamara
apa yang ditebak garvi ternyata benar adanya, itulah yang diinginkan tamara, kembali ke apartemennya.
" kenapa ? " tanya garvi
" kenapa apanya ?, apa saya salah, kalau saya ingin pulang ke apartemen saya sendiri ? " tanya tamara
" tidak, aku tidak mengijinkannya " jawab garvi tak goyah dengan permintaan tamara
" tidak bisa pak garvi, saya mau pulang ke apartemen saya, bapak lihat sendiri apa yang sudah terjadi gara-gara saya tinggal dirumah bapak " tutur tamara
" kamu meminta ijin kepadaku kan ?, jadi aku jawab, dan jawabanku tetap tidak " tegas garvi
" bapak jangan egois, hidup saya jadi berantakan " jelas tamara
" itu bukan urusanku, dan aku tidak peduli, aku hanya melakukan, apa yang harus aku lakukan " balas garvi
__ADS_1
" apa bapak tidak mengerti juga ?, vandra yang sudah lama mengenalku saja , dia bisa menuduhku yang bukan-bukan, apa lagi orang lain " tukas tamara
garvi menggeram mendengar tamara menyebut nama vandra
" aku tidak peduli dengan omongan orang lain, apa lagi dengan pria yang tidak tau diri itu, aku hanya sedang berusaha melindungi sesuatu yang sangat berharga bagi diriku " ucap garvi
" bapak takut kalau saya akan membocorkan rahasia perusahaan ?, kalau itu bapak tenang saja, saya tidak akan membocorkannya, tapi kalau bapak tidak percaya juga, bapak boleh memasangkan sesuatu ditubuh saya ini, jadi jika saya sampai mengatakan rahasian perusahaan bapak, maka benda itu otomatis akan membunuh saya saat itu juga " usul tamara
garvi memandang penuh arti, sebelum akhirnya dia menjawab.
" tidak, sekali tidak, tetap tidak " lanjut garvi
tamara memutar matanya malas, sepertinya usahanya sia-sia.
" ok, anda memang tidak bisa diajak bicara baik-baik rupanya, maaf ya pak garvi, tolong jangan halangi saya lagi, karena percuma, itu tidak akan merubah apapun " gertak tamara
" dasar keras kepala" sentak garvi
" siapa ?, saya ?, saya keras kepala ?, saya atau bapak yang keras kepala ?, yang selama ini selalu memaksakan kehendaknya adalah bapak bukan saya, dan gara-gara saya mematuhi bapak, lihat apa jadinya, saya kehilangan orang yang sangat saya cintai.
tapi apa pedulinya pak garvi dengan masalah saya ?, saya ini hanya makhluk yang tidak ada harganya dimata bapak kan ?, untuk apa juga saya mengatakan semua ini kepada bapak, toh pak garvi sendiri tidak akan mengerti dengan penderitaan saya ?, karena bagi pak garvi, saya ini bukan siapa-siapa, makanya pak garvi bisa cuek saja seperti itu,
pak garvi tidak lupa kan dengan kejadian waktu itu?, gara-gara pak garvi menyuruh saya tinggal dirumah bapak, hubungan saya dan vandra jadi hancur berantakan, saya kehilangan orang yang berarti dalam hidup saya, bapak tidak tau kan, seberapa sakitnya saya ?, sebenarnya, percuma juga saya mengatakan ini kepada bapak, pak garvi juga pasti tidak mau ambil pusing dengan masalah percintaan saya.
" diam.... !!! " teriak garvi sambil membanting tas yang dibawanya
" jangan pernah kamu menyebut nama pria itu dihadapanku " geram garvi
" kenapa ?, memangnya apa salah vandra sama bapak ?, mengapa begitu membencinya ?, apa sebenarnya yang kalian sembunyikan dari saya ?, katakan pak garvi, ayo katakan ! " desak tamara
" it's not your business tamara " timpal garvi menahan diri
" jelas itu urusan saya, karena saya juga ikut terlibat didalamnya, apa jangan-jangan selama ini, pak garvi juga memanfaatkan saya untuk memanas-manasi vandra " tuduh tamara
garvi tidak menanggapi
" bicara pak garvi, jangan bungkam, beri saya penjelasan, jangan membuat saya terlihat bodoh seperti ini " lanjut tamara
garvi pergi begitu saja meninggalkan tamara yang terlanjur emosi karena tidak mendapatkan jawaban apapun, namun langkahnya terhenti, karena tamara kini menarik tangannya untuk mencegah pria itu menghindari dirinya.
" tolong pak garvi, jelaskan pada saya, ada apa ini sebenarnya ? " pinta tamara penuh harap
garvi melihat ke arah tangannya yang disentuh oleh tamara, membuat tamara jadi salah tingkah dan melepaskan tangannya.
__ADS_1
" maaf " ujarnya kemudian, tamara tau kalau bos nya itu tidak suka disentuh oleh sembarang orang, dengan nyalinya yang secuil, tamara berusaha menatap ke arah garvi, sekedar ingin tau reaksi darinya, dia takut perbuatannya tadi bisa memancing amarah garvi, kalau sudah begitu, akan lebih sulit lagi mengajak garvi berbicara.
pandangan mereka bertemu, saling mengunci, membuat tamara jadi grogi, tadinya dia takut jika garvi akan murka kepadanya karena tadi sudah bertingkah tidak sopan dengan menyentuh tangan garvi.
rupanya, apa yang ditakutkannya itu salah, garvi justru menatapnya dengan tatapan lembut, penuh dengan perasaan rindu, meski tamara sendiri tidak tau, untuk siapa sebenarnya perasaan rindu yang garvi perlihatkan kepadanya, yang pasti bukan untuknya, tapi mengapa hatinya justru menghangat detik itu juga, kedua mata garvi yang menatapnya syahdu, membuat tamara bingung dalam mengambil sikap.
ada keharuan dari sorot matanya, meski tamara sendiri bingung mengapa CEO nya membalas tatapannya dengan reaksi aneh seperti itu, dan suasana ini sangat tidak asing bagi tamara, dia seakan pernah merasakan sensasi seperti ini dimasa lalunya, ada apa dengannya ?, mengapa instingnya mengatakan jika dia sudah cukup lama mengenal garvi, jauh sebelum dia bekerja di perusahaan Akhilendra.
dunia seakan berhenti berputar, seketika semua menjadi hening, bahkan udara disekitarnya pun seakan berhenti bergerak, seluruh alam berporos pada kedua insan yang saling menyelami pikirannya masing-masing lewat tatapan mata yang penuh makna.
" belum waktunya, jika memang sudah saatnya, tanpa kamu minta pun, aku akan menjelaskan semuanya, dari mana semua ini bermula, dan sampai hari itu tiba, kamu harus bersabar dan jangan bertanya lagi tentang hal itu padaku, karena aku tidak akan menjawabnya, meski kamu memohon sekali pun" garvi beralasan
" ok, kalau begitu, pak garvi setuju atau tidak, saya akan pergi dari rumah bapak, kalau bapak sudah memilih untuk menutup mulut bapak, maka saya pun memilih untuk keluar dari rumah yang sudah memenjarakan saya selama ini " kata tamara yang sudah kembali kesadarannya, setelah tadi dia seakan terhipnotis oleh kelembutan yang ditunjukan garvi lewat pandangannya.
" sudah aku bilang, tidak, kamu harus tetap disini " tolak garvi
" terserah, saya tetap pada pendirian saya " kekeh tamara, diapun langsung mengangkat kopernya hendak pergi keluar, dia capek berdebat dengan garvi, yang ujung-ujungnya tidak akan membuahkan hasil.
garvi mencengkram tamara, dan mendorongnya ke dinding, meskipun tidak keras, namun itu cukup untuk membuat tamara menabrak tembok yang ada dibelakangnya, kini tubuh tamara menjadi terkunci, tidak bisa bergerak kemanapun, karena kini tubuh garvi berhasil mengurung badannya yang mungil itu, membuatnya terpojok diantara dinding dan garvi.
" mengapa kamu sulit sekali diajak kerja sama ? " tanya garvi
" bukan saya, tapi pak garvi yang tidak pernah mau menjelaskan apa-apa, dan membuat saya bingung" sahut tamara
" kenapa kamu tidak ikuti saja semua yang aku katakan, sesulit itu kah tamara ? " tanya garvi lagi
" bagaimana saya mau mengikuti apa kemauan bapak, jika saya sendiri tidak mengerti dengan situasi ini " bela tamara
" apa kamu tidak bisa percaya saja dengan semua yang aku lakukan, karena aku sedang berusaha melindungimu " tekan garvi
" bapak tidak sedang melindungi saya, tapi yang bapak lakukan itu, hanyalah rasa ketidak percayaan bapak terhadap saya " lanjut tamara
" lalu, apa yang harus lakukan agar kamu percaya bahwa aku tengah berusaha melindungimu ? " tanya garvi
" bebaskan saya, biarkan saya kembali ke apartemen, tanpa pengawalan sama sekali, barulah saya percaya kalau bapak memang sedang berusaha melindungi saya, bukan karena bapak tidak percaya terhadap saya "
garvi tidak menjawab, dia menatap tamara intens, dari matanya, garvi bisa melihat bahwa gadis itu sangat serius dengan kata-katanya.
garvi melepakan kungkungannya, kemudian dia meninggalkan tamara yang kini tengah memegangi wajahnya yang terasa panas, adegan barusan membuat wajahnya memerah bagai tomat, bagaimana tidak, selama ini dia tidak pernah sedekat itu dengan garvi, jantung tamara jadi berdegup tak karuan.
" maaf nona, saya disuruh mengantar anda oleh tuan, sini saya bawakan koper anda sekalian " ujar salah satu anak buah garvi.
tamara mengiyakan dan segera menyusul anak buah garvi, untung dia sudah bisa menetralkan perasaannya, sekali lagi tamara memerhatikan mansion garvi dari luar, karena nantinya, dia tidak akan tinggal lagi dimansion mewah itu, tanpa diketahui tamara, garvi pun sedang memperhatikannya dari dalam ruang kerjanya yang memang berada diatas, garvi tak beranjak dari tempat berdirinya, sampai mobil yang membawa tamara hilang dari pandangannya.
__ADS_1
🤗🤗🤗🤗🤗