
π€π€π€π€π€
.
.
.
.
.
tok...tok...tok...βΌοΈ
" pak garvi, saya ingin bicara " ucap tamara, namun tak ada jawaban dari dalam kamar garvi
" pak garvi, kita harus bicara " ulang tamara, tetap tak ada jawaban, kesal tak ada jawaban, tamarapun akhirnya berteriak kencang
" PAK GARVI, SAYA MAU BICARAβ" teriak tamara sampai menggema ke seluruh ruangan, tak ada sahutan juga, tamara berdecak geram, cukup !, ini keterlaluan, bagaimana mungkin pria itu bisa mengabaikannya, setelah apa yang telah terjadi saat ini, bahkan tamara harus menghadapi situasi yang sangat mencekam gara-gara si garvi yang sok kecakepan itu, dia sudah tidak bisa ditolerir lagi, mau sampai kapan pria itu akan berlaku seenaknya terhadap tamara , dia harus mempertahankan harga dirinya kali ini, habis sudah kesabaran tamara selama ini, dia tidak bisa menunggu lagi, setahun sudah dia membiarkan pria itu mempermainkan kehidupannya, tapi tidak kali ini.
tamarapun langsung saja masuk ke dalam kamar garvi, tanpa menunggu pria itu mengijinkannya untuk masuk, bodo amat dah kalo pun si garvi murka, salah sendiri, kenapa dia nggak mau bukain pintu, jadi cowok kok ja'im banget.
tamara melangkah dengan perlahan, dia sudah bersiap-siap jika nanti tiba-tiba garvi muncul dihadapannya, dan menyemprot dirinya dengan suaranya yang memekan gendang telinga, pria itu pasti akan langsung meneriakinya dengan kata-kata makian yang mungkin memang sudah menjadi hobinya selama ini, tapi sepertinya memang tidak ada siapapun di kamar ini, hanya ruang kosong yang menyambut dirinya dikamar mewah ini, dia melihat ranjang yang sudah di bungkus plastik, itu adalah ranjang yang waktu itu tamara tiduri, agak heran juga sih tamara melihat itu, tapi ya sudahlah ... memang si garvi kan rada-rada aneh kelakuannya.
tamara berkeliling melihat satu persatu keseluruhan benda yang ada dikamar luas itu, kamar yang bergaya ala klasik eropa itu sangat memukau mata tamara, terdapat banyak pahatan yang sangat indah di sekeliling dindingnya, yang membuat kamar itu terlihat sangat berkelas, begitu memanjakan mata, seolah kita berada didalam istana raja eropa tempo dahulu, tamara sangat mengagumi setiap lekuk ukiran yang terpahat sangat indah disetiap dinding kamar, maklum, tamara juga sangat menyukai rumah-rumah bertema klasik eropa seperti ini, terlihat sangat megah, dan membuatnya merasa bagaikan seorang putri raja.
gadis itu meraba setiap guratan yang telah dipahat sempurna oleh sang pemahatnya, sangat teliti sampai tidak ada retakan sekecil apapun yang dapat mengurangi nilai estetika dari karya seni tersebut, tamara begitu terpukau memandangi segala yang ada di kamar itu, sambil terus derdecak kagum dibuatnya, baru kali ini tamara benar-benar meneliti setiap sudut kamar ini dengan seksama, waktu kemarin dia ada dikamar ini, dia ridak terlalu memperhatikannya, karena saat itu, kondisinya tidak memungkinkan dirinya untuk menelisik lebih dalam setiap detail guratan yang ada di kamar mewah ini.
mata tamara begitu terpesona melihat keajaiban ini, dia pun tak bosan-bosannya memandangi semua ornamen yang ada dikamar big bosnya itu, ternyata... pria rese itu punya selera yang cukup bagus, namun tiba-tiba matanya menangkap sekumpulan guci-guci antik yang tersusun rapih di rak yang ada di samping rak tv, dia pun langsung menuju ke arah guci-guci antik itu, wah... gucinya sangat unik dan begitu fantastik, tamara sampai lupa kalo tujuannya masuk ke kamar ini untuk menemui garvi, ah terserahlah... saat ini dia hanya ingin menikmati semua pemandangan yang sangat menakjubkan ini, dia begitu terlena dengan semua hal yang disuguhkan kamar ini, seandainya saja ini adalah kamarnya, wah .... dia pasti nggak akan pernah keluar kamar sama sekali saking betahnya, hehehehe.... tamara belum tau aja kalo diruangan rahasia garvi, semua ornamenya jauh lebih indah dari pada yang saat ini tengah dia pantengin, kalau sampai dia tau, bisa-bisa dia merasa kakinya sudah tidak menapak lagi di bumi.
tamara menyentuh setiap guci yang ada di rak itu, dan ketika tangannya hendak menyentuh guci yang berwarna biru, tiba-tiba satu suara mengejutkannya.
" non tamara, ngapain disini ? " teriak nanna yang sangat panik melihat tamara yang berdiri tepat menghadap rak guci kesayangan garvi, tamarapun tak kalah kagetnya, hampir saja dia menjatuhkan salah satu guci, karena kesenggol tangannya.
" eh...nanna, aku anu, bukan, bukan itu, maksudku, aku sedang mencari pak garvi " jawab tamara gugup
" non kan tidak boleh masuk kekamar ini " peringatan nanna
__ADS_1
" iya, aku tau nanna, habisnya tadi aku panggil-panggil pak garvi tapi tidak ada yang menyahut, jadi aku masuk aja, mau ngecek, apa ada orang didalam apa nggak " timpal tamara tak enak hati
" pak garvi memang tidak ada di rumah hari ini, dia tadi pergi, katanya ada urusan penting, memangnya nona tamara ada perlu apa dengan tuan garvi ? " tanya nanna sambil mendekati tamara dengan keramahannya
" aku cuma mau mengajukan sesuatu kepadanya " jawab tamara dengan serius
" sesuatu ? sesuatu apa yang nona maksud ? saya harap ini bukan hal yang buruk, masalahnya tadi saya lihat tuan sedang bad mood " jelas nanna yang berusaha memperingatkan tamara
" nggak janji ya nanna, yang pasti, kali ini dia tidak akan bisa mengelak, tapi nanna tenang saja, aku akan mengurus semuanya, ya udah kalo gitu, aku mau menelpon pak garvi dulu " sambung tamara
" tapi non .... "
" sudah nanna, jangan khawatir ya, ngomong-ngomong, kenapa ranjang itu diplastikin ? memangnya mau di apakan ?" tanya tamara
" tuan garvi yang menyuruh, katanya mau di buang " jawab nanna
raut muka tamara langsung berubah, dia merasa terhina, jangan-jangan itu karena dia yang sudah meniduri ranjangnya, makanya mau dibuang, emang dia se najis apa sih, sampai segitunya si garvi
" oh gitu, awas aja itu pak garvi, aku akan bikin perhitungan " ancam tamara
nanna geleng-geleng kepala melihat perilaku tamara dan bosnya , persis tom and jerry, dia hanya berharap, semoga apapun itu yang akan dikatakan tamara kepada garvi, tidak akan membuat pria kesayangannya itu marah.
π€π€π€π€π€
sementara itu, garvi tengah menghadiri sebuah rapat penting di perusahaannya, satu persatu para karyawannya mempresentasikan hasil laporan kerja mereka selama ini, namun sepertinya CEO kita itu tidak terlalu tertarik untuk mendengarkannya, ada hal lain yang mengalihkan perhatiannya saat ini, dia hanya fokus menatap layar laptopnya, yang mungkin orang lain mengira dia sedang serius melihat hasil laporan kerja bawahannya itu, nyatanya, bukan itu yang membuatnya begitu serius, dia hanya sedang memandangi wajah yang ada di sana, seorang potret wanita cantik yang tengah tersenyum manis sambil menggendong anak kecil.
zzzz....zzzz....zzzz....
ponsel garvi bergetar, ponselnya memang sengaja di mode getar, karena dia tidak ingin mengganggu jalannya rapat, hanya karena bunyi dering ponselnya, tapi siapa sangka disaat penting begini, malah ada orang yang menghubunginya, diliriknya sekilas kearah ponsel yang ada disamping laptopnya, tertera nama yang tak asing di layar ponselnya, Tamara, diacuhkannya telpon yang tidak penting itu, dan dia menekan tombol mati, agar sambungan ponsel itu terputus, dia sedang tidak ingin meladeni tamara, tapi memang dasarnya tamara gadis yang keras kepala, terus dan terus, tamara tak mau menyerah, dia tidak akan kalah, dia terus menghubungi garvi tanpa henti, sampai pria itu mau menjawab telponnya.
akhirnya dengan berang, garvi mau tak mau mengangkat telpon tamara, karena dia sendiripun tau bahwa gadis itu tidak akan menyerah, sampai garvi bersedia menerima panggilannya.
" permisi sebentar, saya harus menerima telpon dulu " ujar garvi menginterupsi karyawannya yang sedang presentasi.
garvi langsung keluar dari ruangan itu tanpa menunggu jawaban dari bawahannya, dia menerima telpon dari tamara diluar ruangan rapat, karena dia tidak ingin mengganggu yang lainnya.
" hallo, maaf ya pak garvi, saya ini nelpon bapak bukan karena saya suka melakukannya, tapi karena ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan bapak, kenapa bapak nggak mengangkat telpon dari saya " ucap tamara to the point
__ADS_1
" kamu itu ya, sudah salah, masih saja kasar sama orang, sejak kapan kamu berbicara tidak sopan begitu sama saya, kamu lupa siapa saya, apa kamu tidak tau kalau aku sedang meeting, dan sekarang, gara-gara kamu, aku harus meninggalkan meeting yang sangat penting itu " omel garvi
" pak garvi yang terhormat, asal pak garvi tau saja ya, mulai hari ini, saya nggak akan sungkan lagi sama bapak, jadi bapak terima saja perlakuan saya yang seperti ini, atau kalau memang bapak kesal dengan perilaku saya ini, bapak boleh kok memecat saya, saya akan terima dengan senang hati, dan maafkan saya, jika memang saya mengganggu acara bapak, mana saya tau kalau bapak sedang meeting sekarang, lagi pula salah bapak sendiri, kenapa saya nggak dibolehin masuk kerja oleh bapak " oceh tamara
" tuh kan, kamu itu sudah salah, masih nyolot aja, kamu minta maaf pada saya, tapi ujung-ujungnya, kamu nyalahin saya juga, saya ngelarang kamu kerja, itu karena saya tau kondisi mental kamu yang belum pulih, saya nggak mau kamu mengacaukan pekerjaan saya, kalau saya kasih ijin kamu buat masuk kerja, yang ada nanti kamu bikin kacau semua proyek saya, memangnya kamu sanggup mengganti semua kerugiaan perusahaan saya kalau sampai hal itu terjadi, sudah, tidak usah bertele-tele, kamu mau apa dari saya, to the point saja, nggak usah banyak drama, saya sibuk " sahut garvi panjang lebar.
" ok, kalau begitu saya mau bikin kesepakatan sama bapak " tegas tamara
garvi mengernyitkan keningnya, kesepakatan apa lagi coba β, gadis ini memang benar ratu drama.
" apa ? " tanya garvi singkat
tamara agak ragu, tapi dikumpulkannya semua keberaniannya untuk mengatakannya pada garvi
" ok, saya bersedia tinggal sementara dirumah bapak, selama bapak mau, tapi saya juga meminta kepada bapak, kalau saya bebas menerima tamu siapapun, dan saya tetap bebas keluar masuk mansion bapak, dan bapak nggak boleh protes sama sekali, apapun yang saya lakukan, dan saya minta sama bapak juga kalau kalila juga boleh tinggal disini bersama saya, saya nggak mau kesepian karena harus tinggal di mansion bapak yang horor kayak kuburan ini, itu semua saya lakukan, karena saya takut bapak akan melecehkan saya nantinya, bapak juga tidak boleh melarang saya untuk bekerja, karena saya punya kewajiban disana, gimana pak garvi ?, bapak tidak keberatan kan ? " tanya tamara
sial, gadis ini kini tengah memanfa'atkan situasinya, membuat garvi jadi serba salah, bukan kemauan garvi untuk meminta gadis itu tinggal dirumahnya, tapi demi untuk menjaga keamanan perusahaannya, dan untuk kelangsungan hidup para pegawainya yang memang menggantungkan hidupnya diperusahaannya, dia harus melakukannya.
bisa saja sih garvi menyewa rumah lain untuk tempat tinggal tamara, dan menyuruh anak buahnya untuk mengawasinya, serta mengawal gadis itu kemanapun dia pergi, tapi jika itu dia lakukan, dia tidak bisa memantau gadis itu dengan leluasa, dia tidak mau ambil resiko, kapan saja penjahat itu mungkin bisa menculik tamara dan memaksanya untuk mengatakan rahasia perusahaan miliknya, apa lagi gadis itu sama sekali tidak bisa dipercaya, sepertinya tanpa dipaksapun, gadis itu pasti dengan suka rela akan membocorkan semua proyek penting yang kini tengah di tangani oleh perusahaanya, dan jika sampai itu terjadi, maka seluruh perusahaan Akhilendra beserta jajarannya terancam bangkrut, tentu garvi tidak akan membiarkan hal itu terjadi, jerih payahnya selama ini, untuk membangun perusahaan Akhilendra agar tetap berjaya, akan menjadi sia-sia belaka, garvi tidak akan membiarkan gadis itu menjadi penyebab kehancuran hidupnya.
" bagaimana ? " tantang tamara dengan sok jagonya
garvi mengendurkan dasinya dengan kasar, karena merasa gusar dengan perkataan tamara barusan, dia tidak punya pilihan
" baiklah, tapi iti semua tidak gratis, ada syarat yang harus kamu penuhi, aku akan mengabulkan permintaanmu, tapi kamu tidak boleh keluar rumah, kamu bebas menerima tamu siapapun, tapi tidak boleh melebihi dari jam sembilan malam" jawab garvi
" tidak bisa, anda tidak bisa melarang saya untuk keluar rumah, bagaimana kalau saya ada janji dengan seseorang, masa saya harus meng cancelnya gitu " protes tamara
" itu urusanmu, kamu terima, atau tidak sama sekali ? , dan aku tidak mau bernegosiasi lagi " celoteh garvi tegas
tamara berpikir sejenak, memang benar kan apa yang dikatakan tamara selama ini, bos garvi itu memang cowok super duper ngeselin sedunia, nggak mau ngalah sama sekali.
" baiklah, aku bersedia " jawab tamara.
untuk kali ini, tamara akan membiarkan garvi menang untuk kesekian kalinya, tapi tidak ada untuk lain kali, suatu saat nanti tamara pasti akan berhasil membongkar rahasia garvi, tamara yakin rahasia bosnya itu pasti sesuatu hal yang sangat intim baginya, sehingga dia menyimpan begitu rapatnya dari orang lain, dan dia akan mempermalukan garvi dengan mengungkapkan rahasianya ke punlik, dan itu adalah harga yang pantas untuk garvi bayar, atas semua perlakuannya ke tamara selama ini.
" tunggu saja pak garvi, hari ini anda boleh tertawa, tetapi nanti, jika saatnya telah tiba, anda pasti akan bertekuk lutut dihadapan saya, untuk memohon, agar saya tidak membuka kan aib yang selama ini anda rahasiakan dari orang-orang , dan saya akan sabar menantikannya " gumam tamara sambil tertawa penuh dengan kelicikan.
__ADS_1
π€π€π€π€π€