
🤗🤗🤗🤗🤗
.
.
.
.
.
vandra berjalan sempoyongan, dengan tampangnya yang berantakan, garvi pulang membawa hatinya yang hampa, apa yang telah dilakukannya, dia telah menghancurkan mimpinya sendiri, mimpi untuk hidup bersama tamara, entah masih adakah jalan untuk bisa kembali atau tidak.
" wah...ada mangsa nih " ujar seorang preman yang tengah minum di pinggir jalan
vandra tidak memperdulikannya,merasa diacuhkan mereka pun segera mengerumuninya, bahkan beberapa dari mereka mulai berani menyentuhnya.
" ambil saja apa yang kalian inginkan, dan biarkan aku lewat " ujar vandra yang memang sudah tidak memikirkan apapun lagi selain dari rasa bersalahnya pada tamara.
sesampainya dirumah vandra langsung mengurung diri dikamar, dia membiarkan semua lukanya kering dengan sendirinya, saat ini yang dia pikirkan hanya tamara, mengapa ?, mengapa dia harus berkata sekasar itu kepada tamara ?, dia itu kan kekasihnya, seharusnya dia bisa lebih tenang dalam menyingkapi masalah ini, vandra memeluk lututnya sambil menyembunyikan kepalanya disana, dia tidak siap jika harus kehilangan tamara, apapun yang terjadi, dia harus bisa membuat tamara kembali ke pelukannya, bagaimanapun caranya, dengan perasaan cinta yang ada dihatinya, vandra yakin dia bisa mendapatkan maaf dari tamara.
bahkan bila perlu dia akan berlutut dihadapan tamara, dia tau semua ini tidak semudah yang dipikirkannya, untuk meyakinkan hati yang sudah terluka, dibutuhkan kesabaran yang ekstra dan perjuangan yang gigih, karena meskipun luka itu sembuh, tetap akan meninggalkan bekas, tapi dia harus mencobanya, atau dia akan benar-benar kehilangan tamara.
🤗🤗🤗🤗🤗
__ADS_1
Garvi sudah bersiap dengan rapih, saat ini dia berada diruang rahasianya, dia sedang duduk di pinggir ranjangnya, sambil memegang potret yang tadi diambilnya dari atas nakas, dia mengusap lembut wajah wanitanya.
" maafkan aku, aku telah menyakitimu, aku tidak mampu menjagamu, seandainya hal itu tidak terjadi, saat ini, kita pasti bahagia bersama, maafkan aku karena telah menyembunyikanmu dari dunia ini, aku hanya mencoba melindungimu, aku menyimpan semua kenangan tentang kita, karena ini semua demi dirimu, tapi ternyata itu semua tidak cukup, justru semuanya bertambah buruk, apapun yang aku lakukan, tidak bisa membawamu kepadaku, mengapa ?, mengapa kamu melupakanku, melupakan cinta kita, dan semua hal yang telah kita lakukan selama ini
apakah aku tidak ada dihatimu, sampai kamu tidak bisa menemukanku, apakah aku sebegitu tidak berartinya bagimu ?, hingga sampai selama ini, kamu tidak berniat ingin pulang kemari, bersamaku.
andai saja semuanya seperti dulu, tentu aku bisa melindungimu dari orang-orang yang ingin menyakitimu, it's been to long baby, ataukah memang kita tidak bisa bersama lagi ? " ujar garvi getir
diq menaruh kembali foto gadisnya di atas nakas, kemudian dia membuka laci dan mengambil kotak perhiasan, dibukanya kotak itu, ada dua buah cincin disana, sepasang cincin yang terukir dengan indah, terpahat namanya dan nama orang terkasihnya.
" kamu ingat cincin ini sayang ?, saat itu aku ingin membelikanmu cincin yang bermahkotakan berlian, namun kamu menolaknya, kamu lebih suka bentuk cincin yang simple, cincin yang ada ukirannya, dari pada yang bermahkotakan berlian, seleramu memang unik, dan justru itulah yang membuatmu istimewa dibandingkan wanita manapaun, sampai aku sendiri tidak percaya, bahwa aku bisa melakukan hal sejauh ini hanya untuk dirimu
apa kau juga tau ?, aku sangat kesepian disini, tanpa dirimu, tanpa senyuman hangatmu, tanpa sentuhan jemarimu yang dulu selalu menemani hari-hariku, aku harap, kamu bisa secepatnya kembali kesini, karena aku selalu setia disini, menunggumu, sampai nanti waktu yang akan mengembalikanmu padaku, dan ketika hal itu terjadi, aku tidak akan pernah melepaskanmu untuk selamanya, karena aku hanya ingin kamu, itu saja " celoteh garvi
di ruangan itu memang tidak ada hal yang istimewa, namun yang membuatnya berharga adalah setiap kenangan yang tergambar jelas dari setiap perabotan yang ada disana, garvi sengaja menyembunyikan semuanya, bukan karena berlebihan atau bagaimana, tapi itu semua dia lakukan demi untuk melindungi gadisnya itu.
garvi kembali ke kamarnya, dan merapihkan semua barang yang akan dibawanya ke paris, ya.. hari ini dia akan pergi ke negara tersebut, untuk menyelesaikan sesuatu.
" apa kamu sudah siap vi ? " tanya ghibran dari balik pintu
" ya, sebentar " jawab garvi
" ok, aku tunggu di ruang tamu " timpal ghibran
garvi membawa kopernya keluar dari kamar, lalu bergabung dengan ghibran yang sudah menunggunya.
__ADS_1
" ayo " ajak ghibran
garvi diam, membuat ghibran jadi ikut diam
" ada apa ? " tanya ghibran khawatir
" kamu bawa koperku dulu, nanti aku menyusul, ada sesuatu yang harus aku lakukan " jawab garvi
ghibran hanya menurut saja, meskipun garvi itu temannya, tapi dia juga merupakan atasannya, jadi dia tetap profesional walau garvi tidak pernah menganggapnya sebagai bawahan, dan hal itulah yang menjadi nilai plus untuk garvi , garvi tidak pernah membedakan status orang, meski kadang sikapnya angkuh dihadapan lawannya, namun dia juga orang yang sangat setia kawan.
garvi melangkah agak ragu, namun kakinya tetap mengayun menuju ke sebuah kamar, hatinya berkecamuk dengan apa yang akan dilakukannya nanti setelah dia sampai disana, karena saking seriusnya berpikir, garvi sampai tidak sadar kalau dia sudah sampai ditujuannya, kamar tamara, tangannya terayun ingin mengetuk pintu itu, namun dia mengurungkannya.
cukup lama dia mematung didepan kamar tamara, tanpa ada keinginan untuk mengetuk atau beranjak dari tempat itu, setelah terjadi pergolakan batin yang cukup alot, dia pun memutuskan untuk pergi saja dari situ, tanpa menemui tamara, garvi merasa perlu bicara dengan tamara soal kejadian semalam, garvi belum sempat membahasnya dengan tamara, karena melihat tamara yang diam saja, membuat garvi segan untuk membahasnya malam itu.
garvi menoleh ke arah pintu sekali lagi, sebelum akhirnya dia benar-benar pergi meninggalkan kamar tamara, dan rupanya ditempat uang tak jauh dari sana, ada seseorang yang tengah mengamati tingkah laku garvi, orang itu bersandar pada dinding, dia adalah kalila, tadinya dia mau mengecek apakah tamara sudah bangun apa belum ?, namun dia tak jadi melakukannya karena melihat garvi yang sudah lebih dulu berdiri didepan kamar tamara, tak ada kata yang terucap dari mulutnya, hanya tatapan penuh selidik yang ditujukannya untuk garvi, dia menatap tajam ke arah garvi pergi.
mobil garvi melaju menuju bandara, dia tidak bisa menunda urusannya lagi, ini sangat penting baginya, karena di paris dia akan menemui seseorang, dan dari sana semua pertanyaannya akan mendapatkan jawaban, dan mungkin hal itu bisa menjadi petunjuk untuk bisa membawa orang yang dicintainya kembali padanya.
sementara itu, tamara hanya tiduran di ranjangnya, matanya lekat menatap layar ponsel yang sedari tadi di genggamnya, dia melihat wallpaper ponselnya, disana ada foto dirinya dan vandra, disaat mereka bersama dulu, dan kini semuanya hanya akan menjadi kenangan.
dia tau vandra berkata begitu karena dia sedang marah dan cemburu, tapi tetap saja tak mengurangi rasa sakit yang ada didadanya, vandra telah menghancurkan hati tamara oleh perkataannya, bagaimana mungkin vandra bisa berkata demikian, apakah harus se frontal itu vandra menuduh dirinya, dengan kata-kata yang tak pantas diucapkan oleh orang yang berpendidikan sepertinya.
kemanakah hatinya yang lembut selama ini, apa dia sudah tidak mencintai tamara hingga dia tega meluruhkan perasaan cintanya selama ini, sekali lagi air mata lolos dari kelopaknya, kali ini, bukan hanya hatinya yang terluka, pun harga dirinya, bahkan tamara sendiri tidak tau, apakah dia masih bisa memaafkan vandra, jika pria itu datang kehadapannya dengan perasaan bersalahnya, karena tamara yakin, saat ini pun vandra pasti tengah menyesali semua perbuatannya.
🤗🤗🤗🤗🤗
__ADS_1