Dambaan Kalbu

Dambaan Kalbu
episode 17


__ADS_3

🤗🤗🤗🤗🤗


.


.


.


.


.


garvi sudah sampai di paris, tanpa menunggu lama, dia langsung pergi ke tempat orang yang memang ingin ditemuinya di paris, dia sudah tidak sabar ingin menemui orang itu.


ghibran pun tak kalah antusiasnya, karena sudah lama sekali dia tidak melakukan hal menarik seperti ini, dia begitu bersemangat.


meskipun waktu perjalanan dari milan ke paris kurang lebih 1 jam 30 menit, tapi hal itu tidak membuat mereka jetlag, mereka justru terlihat segar bugar bagaikan habis berolah raga.


dengan mobil range rover nya, garvi dan ghibran diantar oleh supir menuju sebuah gudang yang jaraknya tak jauh dari tempatnya menginap, tadinya ghibran menawarkan garvi untuk ke hotel dulu, tapi garvi tidak mau menundanya lagi, dia meminta ghibran untuk langsung mengantarnya menemui orang itu.


garvi pun sampai ditempat tujuannya, dia turun dari mobilnya dan langsung masuk ke dalam gudang, anak buahnya membukakan pintu gudang, garvi masuk ditemani ghibran, didalam sudah ada seorang pria yang bertato, duduk terikat dikursi kayu, matanya nyalang menantang garvi, tentu saja dia beringas seperti itu, namanya juga penjahat, pasti sangar lah ya.


garvi menelisik wajah penjahat itu dengan teliti, dia tidak mengenalnya sama sekali, dan penjahat itu pun tak gentar kendati ditatap dengan sorotan menusuk oleh garvi.


" cih... kalau kau jantan, mari kita berduel " oceh pria itu


" kurang ajar, berani-beraninya kau berkata seperti itu kepada bos garvi " hardik ghibran yang sudah siap mendaratkan tinju nya di wajah penjahat yang tengil itu, dia sudah lama sekali tidak memukuli orang, ini adalah hal yang menyenangkan baginya, sebagai orang kepercayaan garvi, ghibran bukan hanya mengurusi masalah pekerjaan kantor saja tapi juga urusan yang lainnya, salah satunya adalah menyingkirkan orang-orang yang berani mencari masalah dengan garvi, dengan cara apapun juga, keselamatan garvi adalah yang utama, dia tidak akan membiarkan satu orangpun bisa menyentuh bos nya itu.


" hentikan ghibran, buka ikatannya, aku ingin lihat seberapa kuat dia " titah garvi, tanpa banyak omong ghibran melepas ikatan orang itu.


garvi membuka jasnya dan juga dasinya, tak lupa juga dia melinting kemejanya agar tidak mengganggunya ketika dia berkelahi nanti, lalu menitipkannya kepada salah satu anak buahnya yang ada disitu, dan itu adalah ritual rutin bagi garvi, sebelum dia menghajar seseorang.


" ayo maju " tantang garvi


pria itu langsung saja maju, melayangkan pukulannya ke arah garvi, namun dengan sigap garvi menangkisnya, dengan keterampilan muai thai nya, garvi menghadapi lawannya itu tanpa ada keraguan sedikitpun, garvi menangkap tangan lawannya itu dan memelintirnya, pria itu meringis kesakitan.


" hanya ini kemampuanmu " remeh garvi


pria itu memutar badannya dan berhasil melepaskan diri dari garvi, dia kembali menghujamkan pukulan demi pukulan ke arah garvi, meski garvi berhasil mengelak namun ada juga beberapa pukulannya yang mengenai garvi, darah keluar dari sudut bibir garvi, tapi pria itupun mendapat banyak pukulan dari garvi, dia sudah terlihat babak belur, darah pun berceceran di hampir semua bagian tubuhnya yang luka, dengan matanya yang bengkak, hingga akhirnya garvi berhasil mengunci pria itu dan menjatuhkannya ke lantai, pria itu sudah tidak bisa bangun lagi, dia sudah kehabisan tenaga.


" kenapa ? apa kau sudah menyerah ? " ledek garvi.


pria itu tak menjawab, garvi menyuruh anak buahnya untuk membantu pria itu berdiri dan kembali mengikatnya di kursi, garvi mengambil jasnya yang dipegang oleh salah satu anak buahnya, dan memakainya kembali, lalu dia mendekat ke arah pria itu.


" siapa yang menyruhmu ? " tanya garvi to the point

__ADS_1


pria itu tetap bungkam


" ayo bicara, keparat ! " teriak garvi yang mulai tidak sabaran


" meski kau membunuhku, aku tidak akan pernah mengatakannya " sahut pria itu


garvi memukul pria itu lagi, kemudian dia menyuruh anak buahnya melakukan sesuatu untuknya.


" baiklah, kalau kau tidak ingin bicara, bagaimana kalau mereka yang jadi jaminannya, apa kau masih bisa bungkam " ujar garvi


garvi mengarahkan pandangan pria itu ke suatu ruangan yang bersekat kaca, lampu pun dinyalakan di ruangan itu, dari sana bisa dilihat ada satu orang wanita dewasa dan seorang anak laki-laki sekitaran umur sepuluh tahunan, mata keduanya ditutup, tangan mereka juga diikat, dan disana juga ada beberapa anak buah garvi yang menjaga mereka agar tidak bisa kabur.


pria itu langsung membelalakan matanya, dia terkejut melihat siapa yang ada disana, dia langsung emosi melihat itu.


" kurang ajar, jangan kau sakiti mereka " hardik pria itu


" ibu, kakak, jangan khawatir, jangan takut, ayah ada disini " lanjut pria itu, rupanya yang ada didalam sana adalah anak dan istrinya, keluarganya.


" percuma, mereka tidak akan mendengarmu, karena ruangan itu kedap suara, jadi bagaimana ?, apa kita sepakat ? " tanya garvi


pria itu mendengus kesal


" baiklah, aku akan mengatakannya, tapi lepaskan mereka " jawab pria itu


" kau pikir aku ini bodoh, kau katakan terlebih dulu, baru akan melepaskan anak dan istrimu itu, kau tidak usah khawatir, aku tidak akan mengingkari kata-kataku " ujar garvi


" sekarang kau harus menepati ucapanmu itu " sambungnya


garvi memberi kode kepada anak buahnya, agar membawa kedua orang itu pergi dan membebaskannya.


" sudah kuduga, pria itu, sudah bosan hidup rupanya " geram garvi


" sekarang, kau juga harus membebaskan aku, karena kau sudah mendapatkan apa yang kau mau " kata orang itu


" aku memang mengatakan akan melepaskan mereka, tapi aku tidak pernah mengatakan kalau aku akan membebaskanmu " sahut garvi


" brengsek... !!! " maki pria itu


namun garvi tak mendengarkannya, dia keluar meninggalkannya begitu saja, tanpa memperdulikan teriakan pria itu yang terus menerus memaki dirinya.


" lalu, mau kamu apakan dia, vi ? " tanya ghibran


" sepertinya badanmu mulai pegal-pegal ? malam ini kamu boleh olah raga sepuasnya, dia bagianmu, jangan sampai ada jejak, bereskan semuanya, serapih mungkin, dan untuk anak istrinya, mereka tidak bersalah, berikan sejumlah uang, agar mereka bisa menjalani hidup tanpa pria itu, dia tidak pantas menjadi suami apalagi seorang ayah " jawab garvi


" ok " sahut ghibran girang

__ADS_1


bagaimana tidak girang, ini adalah hal yang ditunggu-tunggunya dari tadi, dia begitu geregetan melihat garvi memukuli pria itu, dia tidak sabar ingin melakukannya juga, dan kini garvi memberikannya kuasa untuk melakukan olah raga favoritnya.


🤗🤗🤗🤗🤗


kalila mendekati tamara yang masih bermuram durja, wajahnya terlihat lusuh, sepertinya dia masih memikirkan kata-kata vandra waktu itu.


" ra " panggil kalila


" hemm " gumam tamara


" masih kepikiran ? " tanya kalila


" iya " jawab tamara


" terus hari ini kamu nggak masuk kerja ? " tanya kalila lagi


tamara tak langsung menyahut


" nggak tau lil, hari ini aku suntuk banget " jawab tamara lesu


" kalau kamu masih nggak enak hati, ambil cuti aja " saran kalila


" nggak taulah lil, lihat nanti aja " timpal tamara


" semalem, kamu nggak bisa tidur ya ? " tebak kalila


" he eh, aku gelisah banget lil, jadi nggak bisa tidur " aku tamara


" makanya kamu main piano semalem, lagunya sedih banget " ujar kalila


" kamu denger lil ?, maaf ya kalau aku jadi ganggu kamu " sesal tamara


" nggak kok ra, cuma aku heran aja, sejak kapan kamu bisa main piano, setauku, kamu nggak bisa main piano ? " tanya kalila heran


tamara jadi bingung, dia berusaha mengingat-ingat sesuatu


" kamu bener lil, aku kan nggak bisa main piano, kalau sekarang aku bisa, aku juga nggak tau kapan, kalaupun aku pernah belajar, kok aku nggak inget sama sekali kapan belajarnya " heran tamara


belum sempat kalila menanggapi perkataan tamara, tiba-tiba kepala tamara terasa sakit, begitulah, untuk kesekian kalinya tamara merasakan sakit dikepalanya, tiap kali dia mengingat sesuatu, dia memegangi kepalanya, dari raut wajahnya terlihat sekali jika tamara sedang merasakan sakit yang luar biasa, dia begitu tersiksa.


" ra, kamu kenapa " kalila panik


tamara tak mampu menjawab pertanyaan kalila, dia hanya terus mengerang sambil terus memegangi kepalanya, kalila terlihat bingung dan juga sangat panik melihat tamara, dia ingin membantu tamara, namun dia sendiri tak tau harus berbuat apa untuk meringankan sakit yang dirasakan tamara.


tamara tidak bisa mendengar suara kalila, bahkan bibirnyapun tak sanggup lagi digerakan, penglihatannya mulai gelap, dia mulai kehilangan kesadarannya, namun sebelum kesadarannya benar-benar menghilang, didalam alam bawah sadarnya, dia seperti melihat seseorang, tidak begitu jelas, karena bayangan itu terbias oleh cahaya, dan dia seperti mendengar orang itu membisikan sesuatu " it's been to long baby " , itulah kata yang didengarnya terakhir kali, setelahnya dia tidak tau apa-apa lagi, tamara sudah kehilangan kesadarannya sepenuhnya, dia terkapar tak berdaya di atas ranjangnya.

__ADS_1


🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2