Dambaan Kalbu

Dambaan Kalbu
episode 08


__ADS_3

🤗🤗🤗🤗🤗


.


.


.


.


.


garvi masuk ke kamarnya, dia tidak peduli dengan darah yang menetes dari tangannya, dia sudah tidak merasakan rasa sakit di tangannya, ucapan tamara benar-benar telah menusuk hatinya, bagaimana bisa gadis itu tidak menghargai nyawanya sendiri, segampang itu dia menyerahkan nyawanya yang berharga kepada orang lain, dia sungguh tidak bisa menghargai kehidupan yang telah tuhan berikan kepadanya, memangnya gadis itu menganggap garvi sebejat apa, sampai dia bisa mengatakan kata-kata serendah itu kepadanya, garvi sangat tersinggung.


garvi mendekat ke arah lemari kecil yang banyak terpajang guci-guci antik, lalu dia memutar sebuah guci yang berwarna biru di deretan nomer tiga, akhirnya sebuah pintupun terbuka, pintu itu berbentuk seperti ukiran di dinding layaknya sebuah ornamen, sehingga tidak akan ada orang yang menyadari bahwa disitu ada sebuah ruang rahasia, karena memang tersamarkan dengan dinding disekitarnya.


garvi melangkah masuk, dengan emosinya yang bergejolak, dia berdiri mematung menatap ke luar jendela, mencoba menenangkan dirinya yang kacau, dia tidak bisa berpikir jernih.


" brengsek.... !!! " umpatnya sambil mengepalkan tangannya, menahan amukan didalam dirinya yang bergelora.


tidak ada yang istimewa didalam ruang rahasia itu, hanya ada sebuah ranjang besar yang sangat elegant, dan beberapa sofa dan juga beberapa lemari, layaknya seperti sebuah kamar pada umumnya, dan didepan ranjang terpajang sebuah foto yang begitu besar, foto dirinya bersama seseorang, seseorang yang sangat berarti didalam hidupnya.


garvi mendudukan tubuhnya diujung ranjang besar itu sambil memandangi potret itu, dia menghela napasnya yang terasa berat, matanya menyiratkan luka yang teramat dalam, kesedihan terlukis jelas dikedua bola matanya, dia menangis dalam diam, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisinya saat ini, dia harus kuat menghadapi semua ini, karena kekuatan hatinya akan mengembalikan sesuatu yang telah lama hilang dari kehidupannya.


setelah cukup lama memandangi potret itu, hatinya yang semula berkecamuk, perlahana semakin membaik, emosinya pun sudah mulai bisa dikendalikan, bahkan ada senyum kecil yang kini terukir diwajahnya, senyum bahagia yang bercampur dengan kesedihan, sedih karena meratapi nasibnya yang terpaksa menahan keinginannya untuk bersama dengan orang yang dicintainya, karena orang itu terlampau jauh untuk dijangkaunya.


" tuan ... " panggil nanna yang sudah berada diambang pintu ruang rahasia garvi.


garvi tidak menanggapinya, dia hanya terus menatap wajah yang ada difoto itu.


" maaf tuan, saya lancang masuk kemari, tadi saya sudah mengetuk pintu berkali-kali tapi tuan tidak menjawab, jadi saya langsung masuk kemari " lanjut nanna


" dia terlihat sangat bahagia di foto ini " ucap garvi yang sama sekali tidak menimpali perkataan nanna


nanna mendekati garvi sambil membawa kotak p3k, dia duduk disamping garvi yang sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari foto itu, nanna menatap sekilas foto yang terpampang jelas dihadapannya, lalu kemudian mengambil tangan garvi yang terluka tadi, dan mulai membersihkannya.


" tadi non tamara menyuruh saya mengobati tuan, makanya saya kemari " ujar nanna yang dengan teliti mengobati luka di tangan garvi


" jangan sebut nama gadis itu, aku tidak ingin mendengarnya " sahut garvi dingin


nanna mengerti, dan pada akhirnya mereka berduapun hanya diam, tak ada suara yang tercipta, hanya udara yang bertebaran memenuhi ruangan yang begitu dingin ini, keheningan yang memang selama ini senantiasa berada diruangan ini, karena sumber dari keceriaan kamar ini telah cukup lama meninggalkannya, cahaya yang dulu menyinari ruangan ini, kini meredup, terselip diantara ruang dan waktu, sehingga tidak ada lagi kehangatan yang menyelimutinya, rasa dingin dan sepi membelenggu setiap sudut dari kamar ini, kamar yang dulu menjadi tempat paling ternyaman bagi garvi, kini menjadi tempat yang paling membuatnya gelisah, tapi anehnya, garvi tidak pernah sanggup meninggalkan tempat ini, meskipun tempat ini adalah tempat yang selalu menyibakan luka lama baginya, tapi tempat ini pulalah yang menjadi obat paling mujarab bagi hatinya yang terasa pilu.


🤗🤗🤗🤗🤗


tamara masih sedikit terisak, meskipun kini dia sudah lebih tenang, kalila yang dari tadi bersamanya, masih setia mendampingi tamara.

__ADS_1


" ini, minumlah " ujar kalila sambil menyodorkan air putih kepada tamara


" makasih ya lil " sahut tamara dan langsung meminum air putih, setelah puas menangis sepertinya dia juga kehausan.


" oh ya lil, aku lupa mengabari vandra, tapi... ponselku dimana ya ? " tanyanya kemudian


" ini, tadi pak ghibran memberikannya padaku " jawab kalila


tamara segera menyambar ponselnya yang ada di tangan kalila, dia tau, vandra pasti mencarinya, pria itu pasti berkali-kali menghubunginya karena mengkhawatirkannya.


" ya... ponselku mati lil " sesal tamara


" charge dulu gih, tuh charge nya aku taro di pouch merah " kata kalila sambil menunjukan pouch merah yang ada di nakas


tanpa disuruh dua kali, tamara langsung men charge ponselnya, dia harus segera menghubungi vandra, kekasihnya, dia tidak mau vandra salah paham lagi padanya, setelah ponselnya bisa menyala, tamara langsung mengecek semua chat yang sudah banyak di notifikasi ponselnya, dan juga begitu banyak panggilan tak terjawab, dan semua itu dari vandra.


" hallo vandra !! " seru tamara, yang kini tengah menghubungi vandra


" tamara, kamu kemana aja sayang, aku khawatir banget sama kamu, kamu nggak ada kabar, ponselmu mati, aku tanya kalila, tapi dia bilang, dia nggak tau, aku sampai bingung harus menanyakan kabarmu pada siapa lagi, aku sampe nggak tenang nunggu kabar dari kamu, meski aku tau si garvi itu, nggak akan mungkin berbuat macam-macam sama kamu, tapi aku tetap saja khawatir " sahut vandra yang sangat mengkhawatirkan kondisi tamara.


" maksudmu ?, kamu tau dari mana kalo pak garvi nggak bakalan ngapa-ngapain aku ? " tanya tamara heran


" eh itu, maksudku gini sayang, ya...walaupun si garvi itu kelakuannya kayak gitu, tapi aku yakin dia pria yang terhormat, jadi dia nggak bakalan lah berbuat yang tidak seharusnya " jawab vandra kelabakan


" oh gitu, van..., maafkan aku ya, dah bikin kamu khawatir, tapi aku baik-baik aja kok, semalem ponselku mati dan aku lupa mau nge charge nya, maafin aku ya ? " sesal tamara


" nggak van, aku mohon, kita sudah membicarakan hal ini berkali-kali, dan jawabanku tetap sama, sudah ya, aku nggak mau ngebahasnya lagi, pokoknya kamu nggak usah khawatir ya van, aku bisa kok menangani si garvi itu, percaya deh " sahut tamara mencoba menenangkan vandra


" baiklah, apa sih yang nggak buat kamu, ngomong-ngomong kamu dimana sekarang?, tadi aku mampir ke apartemenmu, tapi sepertinya kamu nggak ada ? emangnya kamu lagi ada dimana ?, jangan nakal ya ? " tanya vandra posesif


" eh...itu, aku tadi ada urusan pagi-pagi banget, jadi, aku berangkat lebih awal dari biasanya " jawab tamara bohong, dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada vandra, dia takut vandra akan mendatangi mansion garvi dan melabraknya, saat ini garvi sedang emosi, dia tidak mau jika nanti mereka malah berkelahi gara-gara dirinya.


" ok honey, nanti siang kita makan bersama ya, aku akan menjemputmu " kata vandra


" tidak usah, kita ketemu di restoran aja ya " pinta tamara


" kamu tau kan, aku tidak mungkin bisa menolak permintaanmu itu, ya udah, terserah kamu aja, aku lanjut kerja dulu " pamit vandra


tamarapun segera mematikan ponselnya, dia sedikit merasa bersalah karena tadi dia bohong sama vandra, dia tidak terbiasa berbohong, tapi dia belum bisa mengatakan yang sebenarnya kepada vandra, dia butuh waktu, tamara sangat mengenal vandra, dia tau, jika sampai vandra tau, kalo dia sekarang tinggal dirumah garvi, bisa ngamuk besar dia.


terkadang tamara heran, mengapa vandra selalu emosi tiap kali bertemu dengan garvi, meskipun vandra selalu beralasan, bahwa dia tidak bisa terima kalo garvi selalu memperlakukan tamara dengan buruk selama ini, tapi percikan emosi yang ada diantara keduanya, terlihat sangat berbeda, sepertinya ada hal yang lebih mendalam lagi dibandingkan itu, vandra seolah menyembunyikan sesuatu darinya, karena setiap kali tamara meminta penjelasan lebih jauh, vandra pasti akan mengalihkan pembicaraannya, dia menghindarinya, entah mengapa tamara merasa ada sesuatu yang terjadi diantara kedua pria handsome itu di masa lalu, meskipun itu belum tentu benar, tapi tamara yakin bahwa keduanya sedang terlibat perang dingin yang tamara sendiri tidak tau untuk tujuan apa, mungkin masalah bisnis kali ya, karena kalo untuk memperebutkan dirinya, kayaknya nggak mungkin.


" kok bengong ? " tanya kalila yang membuyarkan lamunan tamara


" ah, enggak lil, aku cuma lagi mikirin sesuatu " jawab tamara

__ADS_1


" mikirin apa ? " tanya kalila


tok...tok...tok....‼️


belum sempat tamara menjawab, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk seseorang, tamarapun membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk.


" nanna, ada apa? kalo ada perlu sama aku, kan tinggal panggil aja lewat telpon, aku pasti kesana, nggak usah repot-repot kayak gini " celoteh tamara yang melihat nanna masuk kedalam kamarnya


" tidak apa non, saya cuma mau menyampaikan pesan tuan garvi, kata tuan garvi, non tamara tidak usah berangkat kerja dulu " sahut nanna


" tidak bisa nanna, aku banyak kerjaan di kantor, aku harus menyelesaikan beberapa laporan yang masih belum selesai, nanti kalo aku telat ngasih ke pak garvi laporannya, kena marah lagi deh " timpal tamara


" tapi itu adalah pesan tuan garvi non, saya hanya menyampaikannya " ucap nanna


" biar nanti aku yang ngomong langsung ama dia " lanjut tamara yang hendak pergi menemui garvi, tapi nanna menghalanginya dengan memegangi tangan tamara, sontak saja tamara melihat kearah nanna dengan keheranan, tidak biasanya nanna seperti itu, biasanya perempuan itu tidak pernah melarangnya.


" jangan sekarang non, tolong...turuti perkataan tuan garvi kali ini saja, saya mohon " ucap nanna dengan memelas, dari matanya tersirat bahwa perempuan itu benar-benar sangat memohon hal itu kepada tamara


" baiklah, tapi ini demi nanna loh ya " sahut tamara mengalah, dia tidak tega melihat nanna yang sangat memohon kepadanya


" terima kasih non, saya sangat menghargainya " sambung nanna


" kalau begitu, saya permisi " lanjutnya kemudian


nanna meninggalkan tamara dan kalila, dia kembali melakukan pekerjaannya sperti biasa


" aku merasa aneh sekali deh lil dengan nanna " kata tamara yang ikut menghamburkan dirinya dikasur bersama kalila


" aneh gimana maksudmu ? " heran kalila


" pandangannya itu loh, kayak gimana gitu, pokoknya aneh deh " ujar tamara


kalila yang sedari tadi memainkan ponselnya jadi memberhentikan kegiatannya itu dan fokus pada tamara


" itu perasaan kamu aja kali ra " sahut kalila


" enggak deh, ini tuh beda banget, kayaknya emang dirumah ini ada rahasia deh, sepertinya aku harus mencari tau itu tuh apa, biar aku nggak penasaran lagi " lanjut tamara


" udah deh ra, jangan sok-sok an jadi detektif, kamu ini, udah berkali-kali dimarahin pak garvi, kagak ada kapok-kapoknya " nasehat kalila


" nggak, aku beneran mau cari tau, siapa tau rahasia itu bisa ngebebasin aku dari garvi " sambungnya


" terserah kamu aja deh ra, kamu kan keras kepala, susah dibilanginnya, tapi nanti, kalo ada apa-apa, jangan salahin aku ya, aku kan udah memperingatkanmu " omel kalila


" nggak akan, aku yakin pasti akan menemukan rahasia yang selama ada di mansion ini " gumam tamara.

__ADS_1


kalila hanya geleng-geleng kepala melihat kenekatan tamara, dengan berbekal keyakinan yang ada dihatinya, tamara bertekad akan membongkar apa yang selama ini di sembunyikan garvi, dia harus melakukannya, bukan untuk mencelakai garvi, tapi untuk membebaskan dirinya, tamara berharap, apapun nanti yang akan ditemukannya di mansion ini, semoga saja bisa menjadi alat untuk memerdekakan dirinya dari jeratan garvi, semoga saja, pintanya.


🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2