Dambaan Kalbu

Dambaan Kalbu
episode 30


__ADS_3

🤗🤗🤗🤗🤗


.


.


.


.


.


darah bercucuran hampir diseluruh tubuh garvi, bagaimana tidak , para penjahat itu memukuli garvi seakan mereka sedang memukuli samsak, tanpa ampun, tanpa rasa iba, mereka menghajar garvi dengan tangan dan kayu, sementara garvi sendiri tidak bisa membalasnya karena dirinya tengah melindungi tamara yang hampir saja dipukul oleh salah seorang dari mereka.


dengan tatapan ketakutan, tamara menatap mata garvi yang berusaha memberinya kedamaian, dia tersenyum hangat kepada tamara, mencoba menenangkan tamara, namun sebuah pukulan menghantam tepat ke kepala garvi, darah segar pun keluar dari kepala garvi dan menetes ke wajah tamara yang ada dibawahnya, pukulan tadi berhasil membuat garvi pingsan seketika, tamara hanya menangis histeris melihat garvi tumbang dihadapannya, pria itu sudah tidak bergerak sama sekali, bahkan napasnya pun sudah tidak beraturan.


tamara bangkit dan berusaha membalik tubuh garvi yang jangkung itu, dengan sekuat tenaga akhirnya tamara mampu membalik tubuh garvi, kini kepala garvi berada dipangkuannya, dan dengan kesedihan yang mendalam karena melihat garvi yang tak berdaya, tamara refleks memeluk tubuh besar garvi, sambil mengguncangkan tubuhnya, mencoba menyadarkannya.


" pak, pak garvi bangun pak, pak garvi " panggil tamara


namun garvi diam tak bergerak, tamara terus memangku kepala garvi dan mengusapi wajah garvi untuk menyadarkan pria itu, namun garvi bergeming, dia sudah sepenuhnya kehilangan kesadarannya.


" mampus juga tuh orang, ayo kita tarik saja wanita itu " ujar salah seorang bandit


" jangan, ingat pesan bos kita " jawab yang satunya lagi


" halah persetan dengan itu semua, paling kita cuma kena omel saja, kan yang penting kita berhasil membawa gadis itu kepadanya " sambung yang lainnya


mendengar pembicaraan mereka, tamara menatap nyalang ke arah mereka, dia begitu marah melihat kelakuan para penculiknya yang tak punya rasa peri kemanusiaan.

__ADS_1


" kenapa manis, pahlawan kesianganmu itu sudah KO ya, kasian , tidak ada lagi yang bisa menyelamatkanmu sekarang, sudah menyerah saja, jangan membuang tenagamu, karena itu semua percuma, kau tidak mungkin bisa lari dari sini " ledeknya


" siapa ?, siapa yang menyuruh kalian melakukan ini semua ?, mengapa kalian jahat sekali ?, apa salah kami kepada kalian ? " marah tamara


" kami ini penjahat nona, kami tidak perlu punya alasan untuk menyakiti orang lain, asal ada yang membayar kami, kami siap melakukan apapun, bahkan membunuh orang sekalipun " timpal bandit itu


dia memberi kode kepada temannya untuk membawa tamara sesegera mungkin, sebelum nanti ada yang datang lagi untuk menyelamatkan mereka, dan tentunya mereka juga tidak ingin jika orang yang menyuruh mereka marah karena keterlambatan mereka membawa tamara kehadapannya.


dengan kasar pria itu menarik tamara dari tubuh garvi, dia menendang tubuh garvi dengan sembarang, seolah dia benda mati yang tidak ada harganya, tamara memberontak, dia mencoba melawannya dengan memukuli tangan pria itu yang sedang menarik lengannya, akan tetapi, lagi-lagi usahanya gagal.


" baiklah, aku akan ikut dengan kalian tanpa perlawanan, tapi kumohon, tolong panggilkan ambulance, tolong selamatkan pak garvi, kumohon " tamara memohon dengan berlinang air mata, dia sudah tidak peduli dengan nyawanya sendiri, saat ini menyelamatkan nyawa garvi adalah hal utama baginya.


" dia bukan urusan kami " jawabnya singkat


" tolong jangan begitu, pak garvi tidak bersalah, dia hanya berusaha untuk menyelamatkanku, jadi kumohon, tolong selamatkan dia " rengek tamara lagi


" sudah, jangan dengarkan dia, cepat naikan dia ke mobil, sepertinya tempat ini sudah tidak aman lagi, kita harus segera pergi dari sini " ucap penculik itu


" tolong.... , siapa saja tolong kami... tolong... !!! " teriak tamara parau


penculik itu membekap mulut tamara, agar gadis itu tidak bisa berteriak lagi, namun tamara tetap berusaha berteriak, meski pun tamara tau, sekeras apapun dia berteriak, itu semua percuma saja, tempat itu sangat sepi, jauh dari pemukiman warga, tapi tamara tidak berputus asa, dia tetap berharap, semoga saja ada seseorang yang akan menolong mereka, terutama garvi, karena sepertinya pria itulah yang paling membutuhkan pertolongan saat ini.


🤗🤗🤗🤗🤗


ghibran membawa beberapa anak buahnya untuk menyusul garvi, dia begitu gelisah, dia tau garvi tidak akan berpikir panjang kalau sudah menyangkut urusan seperti ini.


untung saja hari sudah larut, jadi jalanan agak sepi, merekapun bisa mengebut dengan leluasa, tanpa ada hambatan sedikitpun, ghibran tidak ingin jika garvi, yang merupakan sahabat masa kecilnya itu berada didalam situasi yang membahayakan nyawanya.


ghibran sangat yakin, para penculik itu tidak mungkin sedikit, mereka pasti berjumlah banyak, sehebat apapun garvi berkelahi, tetap saja jika lawannya banyak, pasti akan kewalahan juga.

__ADS_1


ghibran mengendari mobilnya dengan sejuta kecemasan yang ada dipikirannya, dia menyayangi garvi seperti adik kandungnya sendiri, jika terjadi sesuatu kepada garvi, maka dia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.


ghibran hanya takut kalau ini semua hanya jebakan untuk garvi, dia yakin pelakunya adalah orang yang sama, orang yang mengetahui dengan jelas masa lalu garvi, dia pasti tau kelemahan garvi, dan tamara hanya dijadikan sebagai umpan untuk memancing kedatangan garvi.


sesampainya di tempat kejadian, ghibran mendengar teriakan tamara yang meminta tolong, diapun langsung menyuruh anak buahnya untuk segera menuju ke arah sumber suara tersebut.


ghibran berlari bersama anak buahnya, berhubung tempat kejadian itu diluar gedung, jadi mereka bisa mendengar jelas suara tamara, sehingga mereka tidak perlu bersusah payah untuk mencari keberadaan tamara.


ghibran kalap melihat garvi yang tergeletak ditanah dengan luka di sekujur tubuhnya, dia langsung menyuruh anak buahnya menghajar seluruh bandit yang ada disitu, dan tentunya diapun menyuruh anak buahnya untuk menyelamatkan tamara dari cengkraman mereka.


" vi, garvi, sial..... !!! " kesal ghibran pada dirinya sendiri, dia pun berusaha membangunkan garvi, tapi garvi tidak menanggapi sama sekali.


ghibran memeriksa denyut nadi garvi, masih teras meskipun denyutnya melemah, ghibran mengambil ponselnya dan langsung menelpon ambulance, garvi harus segera ditolong, tidak boleh terlambat, karena dia sudah kehilangan begitu banyak darah


ghibran pun berhasil menelpon ambulance dan memberikan lokasinya, agar ambulance itu segera sampai ditempat kejadian, dia memindahkan tubuh garvi ketempat yang lebih aman.


menyaksikan bosnya kolaps, ghibran pun menjadi berang, dia menghampiri para penjahat itu yang tengah berkelahi melawan anak buahnya, dengan ganasnya ghibran pun ikut ambil bagian dalam pertarungan itu, dia tidak terima sahabatnya dibuat babak belur seperti itu.


ghibran melampiaskan amarahnya dengan menghajar habis-habisan para penculik yang telah merobohkan bosnya, garvi adalah orang yang kuat, tapi sekuat apapun dia, tidak akan mungkin menang melawan orang sebanyak itu, ditambah dia harus melindungi tamara, otomatis konsentrasinya akan terpecah, dan hal itu bisa dimanfaatkan lawan untuk menjatuhkan garvi.


tamara yang sudah berhasil diselamatkan oleh anak buah ghibran, segera berlari menerjang garvi, dia mencari keberadaan garvi yang tadi sudah dipindahkan ghibran, setelah berkeliling, akhirnya dia menemukannya.


tamara mendekati tubuh garvi yang terbaring, dia menyobek dress yang dipakainya, lalu mengikatkannya di kepala garvi, untuk menghentikan pendarahaan di kepala garvi.


dia dengan gemetar mengikatkan kain itu dikepala garvi, dia takut garvi akan merasa kesakitan, meski pada kenyataannya garvi sendiri sudah pasti tidak bisa merasakan apapun .


" pak garvi, saya mohon bertahanlah, tolong jangan menyerah, saya akan merasa bersalah sekali jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap bapak, saya mohon pak garvi, bertahanlah " racau tamara


dia tak hentinya meratapi garvi, dia tidak menyangka, orang yang selama ini dia anggap sebagai orang yang selalu menyusahkannya, justru dia rela mengorbankan nyawanya hanya untuk melindungi dirinya, sungguh tamara merasa terharu sekali melihat perjuangan garvi, dan air matanya menitik untuk kesekian kalinya, air mata pertama dari tamara untuk garvi.

__ADS_1


🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2