Dambaan Kalbu

Dambaan Kalbu
episode 07


__ADS_3

🤗🤗🤗🤗🤗


.


.


.


.


.


"eh.... " rintih tamara


mendengar itu, garvi yang tengah tertidur disofa, langsung melihat ke arah tamara, gadis itu masih terlelap, tapi dari sudut matanya ada setetes air mata yang mengalir, entah apa yang dimimpikannya ?, sampai dia menangis seperti itu.


garvi menyuruh nanna yang juga tertidur di sofa disampingnya, untuk memeriksa tamara, nanna pun bangun lalu berjalan menuju ke arah tamara, nanna duduk disamping tempat tidur dan mengusap air mata tamara, lalu dia mencoba mengecek suhu tubuh tamara dengan tangannya, normal, tapi mengapa gadis itu begitu gelisah dalam tidurnya, apa sebenarnya yang terjadi pada gadis itu, bahkan didalam tidur sekalipun, dia tidak bisa mendapatkan ketenangan, nanna menggelengkan kepalanya kepada garvi sebagai kode bahwa gadis itu tidak demam.


garvi mendudukan tubuhnya yang merasa sakit karena tidur di sofa yang ukurannya jauh lebih pendek dari tubuhnya yang tinggi menjulang, dia merenggangkan sedikit otot-ototnya dengan mengangkat kedua tangannya ke atas agar tidak kaku, karena memang posisi tidurnya yang sangat tidak nyaman.


" jika tuan lelah, lebih baik kita pindahkan saja non tamara ke kamar tamu, biar tuan bisa istirahat disini " ujar nanna perhatian


" tidak usah nanna, percuma, karena aku juga sudah tidak bisa tidur di ranjang itu lagi, karena gadis itu sudah menidurinya, aku tidak suka ada bekas bau tubuh orang lain yang menempel diranjangku, sepertinya aku harus membuangnya dan menggantinya dengan yang baru, lagi pula, nanna tau sendiri aku tidak akan bisa tidur nyenyak dikamar manapun selain dikamar ini, karena hanya dikamar inilah, aku bisa merasakan kehadirannya " sahut garvi sambil memandang sendu ke depan, terlihat matanya yang sayu karena mengingat kembali kenangan yang kini membuatnya kesepian.


nanna kembali ke sofa yang ada disebelah garvi


" tenanglah tuan, dia pasti akan segera pulang, saat ini, mungkin dia sedang kehilangan arah, tapi itu tidak akan lama lagi, karena saya yakin, diapun pasti tengah berusaha mencari jalan untuk kembali, percayalah padanya, cintanya yang akan mengembalikkan semuanya ketempat semula, jangan kehilangan harapan tuan " ucap nanna


" aku tau itu " sahut garvi


" dia pasti akan kembali " sambungnya pasti


" apa nanna benar-benar sudah menyembunyikan semuanya, jangan sampai ada yang terlewat sedikitpun, aku tidak ingin orang lain mengetahuinya, itu adalah rahasia terbesarku, tidak ada yang boleh tau, selain kita " lanjut garvi lagi


" tenang saja tuan, saya tidak akan melewatkan apapun yang akan mengungkapkan rahasia tuan, oh ya... dari tadi tuan belum makan apapun, apa tuan ingin makan sesuatu ? " tanya nanna


garvi baru ingat kalo dia belum makan sama sekali dari tadi siang, gara-gara mengurusi tamara, dia jadi lupa dengan kondisi tubuhnya sendiri, gadis itu benar-benar menjadi beban dihidupnya.


" tidak, aku sudah tidak lapar, gara-gara dia, aku jadi kehilangan selera makan " jawab garvi


nanna tersenyum melihat tingkah laku asuhannya itu, tidak ada yang berubah dari pria dewasa didepannya ini, tetap saja gengsian bila harus jujur mengungkapan sesuatu, mengungkapkan apa yang tengah dirasakannya.


nanna tentu sudah cukup mengenal tamara, gadis itu sering datang ke mansion garvi untuk melakukan tugas yang sudah di perintahkan oleh garvi kepadanya, dan setiap harinyapun nanna sibuk menyembunyikan sesuatu yang garvi rahasiakan, dia tidak ingin orang lain mengetahuinya, termasuk tamara, meskipun cukup merepotkan, karena dia harus bongkar pasang tiap kali tamara datang ke sini, tapi...ya... yang namanya perintah atasan mah tetep kudu dipatuhi, walaupun merepotkan, suka-suka garvi lah ya !, namanya juga bos, bos mah bebas.


nanna mengenal tamara sebagai gadis yang hangat, dia selalu bisa membangun suasana ceria dimansion garvi, dia juga gadis yang ramah terhadap siapapun, karena seringnya tamara datang ke mansion garvi, membuat tamara akrab dengan para pegawai yang ada di mansion garvi.


🤗🤗🤗🤗🤗


pagi pun menjelang dengan aura kedamaian yang bisa menyihir siapa saja untuk terlena dalam buaian keagungannya, menyinari seluruh alam dan siap untuk menjalankan tugasnya sebagai bagian penting dalam kelangsungan kehidupan didunia yang fana ini. cahaya hangat pagi menyelubungi sebuah kediaman yang terletak diantara hijaunya pepohonan pinus yang berbaris rapih di seluruh sisi bangunan.


perlahan-lahan tamara membukakan matanya, lalu dia mencoba bangkit, namun kepalanya terasa berat, dia pun mengurungkannya dan kembali merebahkan tubuhnya, dia memperhatikan sekelilingnya, lagi-lagi perasaan aneh itu muncul kembali dihatinya, dia mencoba mengingat sesuatu, namun rasa sakit dikepalanya kembali menderanya, rasa sakit yang sama setiap kali dia mencoba mengingat sesuatu, mungkin efek dari amnesia disosiatif yang dideritanya, dia memijit-mijit pelipisnya agar mengurangi rasa sakitnya, walaupun tidak ada efeknya sama sekali.


meski kepalanya terasa sedikit sakit, namun hal itu tak membuat matanya luput untuk menangkap sosok tubuh yang tengah tertidur dalam posisi duduk, mata tamara membulat, dia tidak percaya, dikuceknya berkali-kali matanya agar bisa melihat lebih jelas lagi, tapi tetap saja, apa yang tergambar dihadapannya tidak berubah sama sekali, memang di sofa yang kelihatan mahal itu ada seorang pria yang tengah tertidur pulas, dan dia sangat mengenal siapa sosok itu.


" anda sudah bangun nona ? " tanya nanna mengejutkan tamara yang tengah fokus menatap ke arah sofa


tamara pun berusaha bangkit dari rebahannnya, namun nanna menahannya.


" tidak usah, kalo nona masih merasa tidak enak badan, tidak usah dipaksakan " lanjut nanna

__ADS_1


" tidak apa nanna, aku sudah agak enakan " jawab tamara lemas sambil menurunkan kakinya ke lantai


nanna melirik ke arah garvi sebentar yang masih tertidur pulas, lalu kembali dia menatap tamara, nanna mengecek suhu tubuh tamara dengan termometer, syukurlah suhu tubuh tamara tetap normal.


" aku ada dimana nanna ? " tanya tamara


nanna tersenyum lembut sebelum menjawab


" masa tidak tau ?, nona kan sekarang ada di mansion tuan garvi " ujarnya


" bukan itu maksudku nanna, aku ada diruangan apa ya ? sepertinya aku belum pernah melihat ruangan ini sebelumnya, dan lagi pula, mengapa pria yang arogan itu malah tiduran disana ? " tanya tamara sambil berbisik


" nona ada dikamar pribadi tuan garvi " jawab nanna


" apa ⁉️ " pekik tamara yang dengan refleksnya menutup mulutnya, takut membangunkan garvi


" iya, tuan garvi sendiri yang membawa nona ke ruangan ini, ya...meskipun dia terlihat menyesal setelahnya, mungkin saat itu tuan sedang panik karena nona tiba-tiba berteriak histeris terus pingsan mendadak, jadinya tanpa sadar, tuan membawa nona ke kamarnya sendiri, karena memang kamar ini yang paling terdekat dari tempat non tamara pingsan semalam, padahal nona tau sendiri kan betapa marahnya tuan, waktu dulu nona hampir masuk ke kamar ini " lanjut nanna


tamara mengingat kejadian itu, hal itu terjadi saat dia belum lama bekerja di keluarga Akhilendra, dan itu untuk pertama kalinya juga tamara menginjakkan kakinya di mansion garvi, dan pada hari itu pula adalah hari dimana dia memasak untuk garvi pertama kalinya, karena memang itu adalah perintah garvi, setelah dia selesai masak, tiba-tiba garvi menyuruhnya untuk mengambilkan jas di walk in closet, meskipun waktu itu garvi sudah memberi tau jalan ke ruang ganti pakaian garvi, tapi karena rumah itu begitu luasnya, tamara jadi nyasar deh, akhirnya dia putuskan saja untk membuka satu per satu ruangan yang ada disitu, dan ketika dia berusaha membuka ruangan yang ada didekat ruang tamu, tiba-tiba pria itu langsung mencengkram tangannya, dan dengan kasarnya menepis tangan tamara, kontan saja tamara kaget bukan main, mengapa pria itu begitu kasar kepadanya, padahal kan dia tidak salah apa-apa.


" ini kamarku, kamu tidak boleh memasukinya, hari ini aku mema'afkanmu karena kamu belum tau tentang seluk beluk rumah ini, tapi, ini adalah kesalahan pertama dan terakhir kalinya buat kamu, lain kali, tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu dari amarahku " ancam garvi


tamara tak menyahut, dia takut kena semprot lagi, maklum, anak baru, jadi dia memilih untuk menganggukan kepalanya saja, pertanda dia mengerti.


" ruang ganti pakaianku ada disampingnya, ingat, jangan sampai kamu ulangi lagi kesalahan ini " tegas garvi yang langsung masuk kedalam kamarnya tanpa mendengarkan jawaban apapun dari tamara.


semenjak itu tamara tidak berani lagi mendekati kamar itu, meskipun dia sangat penasaran dengan kamar bos kece nya itu, ada apa sebenarnya didalam kamar garvi, sehingga pria itu sebegitunya, padahal kan didalam kamar paling cuma ada tempat tidur, samalah ya kayak normalnya kamar tidur, tapi justru itulah, entah karena tamara penasaran atau memang ada keterkaitan antara dirinya dengan kamar itu, sehingga tamara begitu kepo nya dengan kamar pribadi garvi, bahkan garvi kerap kali memergoki tamara yang sedang terpaku menatap pintu kamar pribadinya, dan sejak saat itu juga, garvi selalu menyuruh nanna untuk menyingkirkan semua hal yang berkaitan dengan rahasia yang disimpannya didalam kamar itu, dia takut jika sewaktu-waktu tamara nekat menerobos masuk ke kamarnya itu, disaat dirinya lengah.


mengingat akan hal itu, wajah tamara mendadak pucat, dia tau betul bahwa garvi sangat melarang keras siapapun untuk masuk kedalam kamarnya, karena sebelum masuk ke mansion garvi, garvi sudah memperingatkannya, tapi kini, dia sedang berada dikamar garvi, bahkan tidur disinggasananya, tamara pasrah, dia hanya tinggal menunggu hukuman apa yang akan diberikan garvi kepadanya, tapi tunggu dulu, kenapa dia mesti takut, kan garvi sendiri yang mambawanya ke kamar ini, kalo seandainya tamara tau, dia juga tidak sudi berada disini.


aha...‼️, tamara jadi dapet ide, mumpung dia di kamar garvi, dia coba menatap dengan seksama seluk beluk ruangan itu, siapa tau dia menemukan sesuatu yang garvi rahasiakan selama ini, dia penasaran sekali, dan setelah kepalanya berkali-kali memutari seisi kamar itu, dia tidak menemukan ada hal yang ganjal, jadi, ada rahasia apa yang disembunyikan garvi selama ini, sampai-sampai tidak ada yang boleh mengetahuinya, bahkan para pegawai dirumahnya saja, tidak ada yang tau, jika saja dia bisa mengetahuinya, mungkin dia bisa terbebas dari garvi tanpa harus membayar denda lima milyar itu.


sebenarnya tamara yakin sekali kalo nanna pasti mengetahui rahasia garvi, tapi dia kan orang terpercaya garvi, ditambah perempuan separuh baya itu sangat menyayangi garvi, jadi tidak mungkinlah dia mau membongkar rahasia garvi, meskipun orang yang bertanya itu adalah tamara.


" tidak, tidak apa-apa nanna, aku hanya menyiapkan mental untuk menerima hukuman yang akan diberikan pak garvi kepadaku, aku yakin dia pasti tidak akan melewatkan kesempatan untuk menyiksaku, seperti yang sudah-sudah " jawab tamara lesu karena tak berhasil menemukan apapun dikamar itu.


nanna tersenyum kecil melihat tingkah lucu tamara yang sedang menanti hukuman dari garvi, seolah dia mengharapkan hal itu terjadi.


" sepertinya keadaanku sudah membaik, kalau begitu, aku mau pulang saja, lagi pula sebentar lagi aku harus pergi bekerja, aku harus bersiap-siap " lanjut tamara


" tidak, nona tidak akan kemana-mana sampai tuan garvi bangun, itu pesannya " ujar nanna


" tapi kalo aku nggak kerja, dia nanti malah lebih marah lagi sama aku " sahut tamara


" tidak non, justru jika nona ngotot dan mengabaikan perintahnya, dia mungkin akan lebih murka lagi " sambung nanna


tamara berpikir sejenak sebelum akhirnya mengiyakan pernyataan nanna.


" tapi aku ingin keluar dari sini, aku takut melihat ekspresinya nanti, jika dia bangun trus ngeliat aku ada di tempat tidurnya, jangan-jangan nanti aku malah dikuburnya hidup-hidup " ucap tanara berbisik


disaat mereka berdua sedang serius mengobrol tiba-tiba....


" tidak baik menjelek-jelekan orang dibelakang, apa lagi orang itu atasanmu sendiri " sebuah suara bariton mengejutkan tamara, hampir saja dia terjatuh karena saking kagetnya.


mampus dah, gumamnya, entah sejak kapan garvi sudah berada dibelakang dirinya dan nanna, maklum mereka mengobrol dengan posisi membelakangi garvi yang tengah tertidur.


" e..itu...aku... " tamara jadi tergagap seketika karena ke gap sedang mengata-ngatai garvi


" apa kamu sudah baikan ? " tanya garvi, tanpa memperdulikan ke gagapannya tamara

__ADS_1


oh my god, ada angin apa tuh si bos garvi ampe nanyain kabar dia segala, sepertinya dia masih linglung.


" sudah, jadi apa boleh aku pulang sekarang ? " tanya tamara was was, dia seperti anak kucing yang kehilangan taringnya dihadapan seekor macan.


" tidak " jawab garvi singkat


" tapi kenapa ? saya kan sudah sehat, saya juga bisa berdiri dengan tegap, jadi mengapa pak garvi melarang saya ? " tanya tamara sambil memperlihatkan dirinya yang sudah bisa berdiri dengan tegap


" mengapa kamu tidak pernah langsung menuruti perkataanku ?, mengapa kamu suka sekali membantah ?, kamu senang ya jika aku marah ?, aku bilang tidak, ya tidak, mengerti ? " tekan garvi


" tapi aku ini harus bekerja, aku juga harus ganti baju, siapa kamu berani melarangku ? " tanya tamara meskipun dengan perasaan takut


" aku adalah atasanmu, majikanmu, bosmu dan orang yang mempekerjakanmu, jelas ? " sahut garvi


" tapi saya ini manusia, bukan hewan atau barang yang bisa anda perlakukan semaunya " ujar tamara lagi


" bagus kalo kamu sadar, bahwa kamu itu manusia, manusia itu punya akal pikiran, jadi kalo ada orang yang mengatakan sesuatu kepadanya, pasti dia akan mengerti, paham kamu " lanjut garvi


tamara menelan ludahnya getir, mengapa perkataannya malah membuatnya jadi terpojok begini, sial, dasar cowok yang pinter berkelit, ada saja akalnya untuk bisa menyudutkan orang lain.


" kenapa diam, kalo kamu udah ngerti, sekarang ikut aku ! " titah garvi


tamara dengan berat hati mengikuti garvi yang sudah lebih dulu meninggalkan kamar itu, mereka menuju ke suatu ruangan yang sepertinya sebuah kamar juga, garvi tanpa mengetuk, langsung saja membuka handle pintu ruangan itu.


" tamara ! " teriak kalila sambil berlari memeluk sahabatnya itu


" lila " sambut tamara


" aku khawatir sekali padamu " ujar kalila


" tapi mengapa kamu ada disini lil, dari mana kamu tau kalo aku ada disini ? " tanya tamara


" asisten pak garvi tiba-tiba saja menelponku, dia juga sudah menjelaskan semuanya kepadaku, lalu dia memintaku untuk mengemas barang-barangmu, kemudian mereka membawaku kemari, ternyata kamu ada disini " jawab kalila


tamara semakin bingung dengan semuanya ini, dia pun langsung mengarahkan pandangannya kepada garvi, meminta penjelasan untuk apa yang tejadi saat ini.


" apa ? " bentak garvi


" harusnya saya yang bertanya seperti itu kepada bapak, apa semuanya ini ?, mengapa semua barang-barang saya ada disini ? " tamara balik bertanya


" untuk sementara waktu kamu harus tinggal disini, dan ini adalah kamarmu " jawab garvi, tepatnya lebih ke perintah dari pada sebuah jawaban


" aku tidak mau, pak garvi boleh menyuruh saya apa saja, tapi tidak untuk tinggal disini, itu sama saja dengan bapak mengambil kebebasan saya, pokoknya saya tidak terima " lanjut tamara


rahang garvi mengeras, menandakan emosinya yang mulai meluap, dia langsung menerjang tamara yang spontan mundur ke belakang karena takut akan tatapan tajam garvi yang seolah tengah menghunuskan pedang kepadanya, hingga akhirnya dia kini terhimpit diantara dinding dan garvi, garvi mengepalkan tangannya, dan memukul dinding disebelah tamara.


" apa kamu pikir aku mau melakukannya hah, jika bukan karena kamu tau semua rahasia perusahaanku, aku juga tidak sudi melihatmu berkeliaran dirumahku sepanjang waktu, itu mengganggu ketenanganku, jadi kamu jangan kegeeran, kamu pikir kamu siapa, aku melakukan semua ini demi perusahaanku, bukan untukmu " ujar garvi sambil menahan amarahnya


" kalo memang pak garvi takut saya akan membocorkan rahasia perusahaan bapak, kenapa bapak tidak bunuh saya saja sekalian, beres kan " tantang tamara meskipun dengan suara bergetar


garvi makin kalap mendengar ucapan tamara, lalu dengan penuh kemarahan dia langsung memukul kaca meja rias yang tak jauh dari tempatnya berdiri, kaca itu pun berhamburan kemana-mana, dan darah segar keluar dari permukaan kulit garvi yang terluka, melihat garvi yang seperti itu, membuat tamara dan kalila histeris dibuatnya, mereka tak menyangka garvi akan semurka ini.


" membunuhmu ?, apa kamu pikir semudah itu aku mengambil nyawa seseorang, kamu pikir aku manusia macam apa ❔ yang dengan gampangnya main asal bunuh saja, kamu belum pernah kan, merasakan bagaimana rasanya melihat orang yang kita sayangi bertaruh nyawa demi untuk bertahan hidup ?, kamu juga belum pernah kan, merasakan bagaimana sedihnya ketika orang yang kita cintai sudah kembali bernyawa, namun kita terpaksa kehilangan dirinya demi untuk kehidupannya, kamu tidak pernah merasakan itu tamara, jadi jangan pernah lagi kamu memintaku untuk menghilangkan nyawamu itu, kamu harusnya bersyukur, sampai hari ini , kamu masih bernyawa, karena nyawamu itu, mungkin saja sangat berharga bagi orang lain " kata garvi panjang lebar, dia segera meninggalkan kamar itu, tanpa memperdulikan tamara dan kalila yang masih kebingungan dengan kata-kata garvi, ada perasaan perih yang begitu mendalam yang tersirat dari kata-kata garvi barusan.


tamara teduduk lesu, dan tanpa menunggu lama, air matanya pun segera menyusul, kalila mendekati tamara dan memeluk sahabatnya itu.


" aku nggak ngerti dengan semua ini " ucap tamara di sela- sela tangisnya.


" sudah tamara, kamu tenang ya, aku juga bingung dengan semua ini, tapi lebih baik kamu ikutin aja maunya pak garvi, apa yang dikatakannya ada benarnya, aku rasa kamu lebih aman disini, aku juga khawatir jika kamu sendirian di apartemenmu, aku takut terjadi sesuatu padamu, kamu harus sabar ya, tunggu sampai dia tenang, baru kamu bicarakan lagi dengannya " sahut kalila sambil mengelus sayang punggung tamara.

__ADS_1


pagi itu, bukan matahari yang cerah, yang menyinari mansion garvi, namun sekumpulan awan gelap yang berarak mengelilinginya, warna kuning keemasan berganti dengan abu yang kelabu, dan menyisakan pilu dihati yang sendu.


🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2