
🤗🤗🤗🤗🤗
.
.
.
.
.
tamara menghampiri ghibran yang tengah duduk di bangku taman rumah sakit, seprtinya dia sudah lebih tenang dibanding sebelumnya, meski ragu namun tamara tetap mencoba mendekati ghibran yang duduk membelakanginya, dia terlihat frustasi walau dari luar terlihat begitu tenang.
dia menyodorkan air minum kepada ghibran, membuat pria berambut hitam itu mendongak ke arah tamara, ghibranpun mengambil minuman itu dan menenggaknya dengan kasar, dia masih kesal dengan semua peristiwa ini.
" are you okay ? " tanya tamara khawatir
" mulai hari ini, tidak akan ada yang baik-baik saja tamara, semuanya jadi kacau, harusnya aku tadi tidak meninggalkan garvi sendirian, jika saja aku tadi ada disana, si vandra itu tidak akan berani menampakan batang hidungnya dihadapanku, dia benar-benar memanfaatkan kelengahannku " sesal ghibran
" aku tidak tau harus berkata apa untuk menenangkanmu , tapi mungkin ini sudah takdirnya bran, kita tidak bisa menolaknya, kamu jangan menyalahkan dirimu terus, itu tidak akan membantu " nasehat tamara
ghibran mengusap wajahnya yang kusut
" tenanglah bran, aku yakin pak garvi pasti akan mengerti " lanjut tamara
ghibran melihat tamara yang mencoba menghiburnya
" bukan itu yang aku khawatirkan tamara, tapi sesuatu yang lain, garvi memang pasti akan mengerti dengan situasi ini, namun aku dan garvi pun tau sesuatu yang tidak kamu ketahui tentang vandra " batin ghibran berucap meski tidak akan didengar oleh tamara
" ya.. kamu benar ra, garvi pasti akan mengerti " ucap ghibran getir
hening melingkupi mereka sejenak, sebelum akhirnya tamara membuka suara dengan hati-hati, takut jikalau apa yang akan dikatakannya nanti, bisa mengusik perasaan ghibran, dan membuat pria itu marah lagi.
" sebenarnya..., ada yang ingin aku tanyakan padamu, tapi aku takut jika apa yang akan aku tanyakan nanti bisa membuatmu tersinggung ? " tanya tamara
" kenapa begitu ? " heran ghibran
" karena apa yang akan aku tanyakan ini, agak sensitif, meskipun aku tidak bermaksud mencampuri urusanmu " sahut tamara
" katakan saja ra, bukankah kita sekarang berteman ?, meski mungkin nanti aku akan tersinggung, tapi aku akan sebisa mungkin menjawab pertanyaanmu itu " tegas ghibran
tamara menggigit bibir bawahnya
__ADS_1
" sebenarnya aku sudah pernah menanyakan hal ini kepada vandra dan pak garvi, tapi aku tidak pernah mendapatkan jawaban apapun dari mereka, padahal jelas sekali kalau diantara mereka ada sesuatu yang membuat keduanya selalu saja bertengkar setiap kali bertemu, tapi sepertinya mereka enggan memberitaukannya padaku,
dan aku yakin kamu pasti tau sesuatu, karena tadi kamu begitu menentang ketika vandra mendonorkan darahnya untuk pak garvi, sebenarnya ada masalah apa diantara kalian dan vandra ?, tapi kalau kamu tidak merasa nyaman untuk menjawab pertanyaanku ini, abaikan saja, anggap saja kamu tidak mendengar apa-apa " ujar tamara
ghibran tertawa kecil, membuat tamara mengernyitkan dahinya, karena bingung dengan reaksi ghibran.
" kenapa kamu tertawa ?, memangnya ada yang lucu dengan pertanyaanku ini, aku serius tau " kesal tamara
" sorry... sorry..., aku tidak bermaksud mengejekmu, aku hanya lucu saja mendengarmu memanggil garvi dengan sebutan pak, padahal kan dia tidak disini, sepertinya kamu sangat menghormati garvi ya " ledek ghibran lagi, tamara hanya mendengus kesal
" ya udah, jawab dulu pertanyaanku tadi " desak tamara
" ok, untuk jawaban itu, aku cuma bisa bilang padamu kalau aku memang tau apa alasan vandra dan garvi bermusuhan, tapi aku tidak bisa mengatakannya padamu karena memang belum saatnya kamu tau, suatu saat nanti kamu pasti akan tau, dan semoga semuanya belum terlambat " timpal ghibran
" terlambat untuk apa ? " tanya tamara lagi
" ah... syukurlah anda ada disini pak ghibran " ujar seorang perawat yang tiba-tiba saja ada disitu, sepertinya dia sudah mencari ghibran kemana-mana, terlihat dari napasnya yang tersengal, dan pada akhirnya memotong pembicaraan serius diantara ghibran dan tamara
" ada apa sus ? " tanya ghibran
" saya cuma mau menyampaikan kalau anda dipanggil dokter ke ruangannya, ini tentang pak garvi, dokter sudah selesai mengoperasinya " jawab perawat
" baiklah " balas ghibran
merekapun menuju ke ruangan dokter
tok...tok...tok....
" iya, silahkan masuk " ucap dokter dari dalam
" maaf dok, saya kesini mengantarkan pak ghibran " lapor perawat
" oh iya, makasih ya sus " ujar dokter
perawat itupun pergi meninggalkan ruangan dokter, dan menyisakan ghibran dan tamara.
" kalau begitu saya juga pamit, sepertinya saya tidak pantas berada disini " kata tamara
tapi ghibran menghalanginya, dia memberikan kode kepada tamara agar tetap ada disini.
" tidak apa tamara, kamu kan sekretarisnya, kamu berhak disini, siapa tau nanti ada sesuatu yang harus kamu perhatikan tentang kesehatan garvi ketika nanti dia berada dikantor " sergah ghibran
tamara mengangguk, lalu ghibran mengalihkan pandangannya kepada dokter yang tengah duduk dihadapannya.
__ADS_1
" mengapa anda memberikan darah pria itu kepada pak garvi tanpa seijin saya " geram ghibran, dia tidak bisa menahannya lagi
" maaf pak ghibran sebagai dokter, saya harus mengambil tindakan terbaik untuk pasien saya, saat itu pak garvi sudah sangat sekarat, dan saya tidak bisa menemukan opsi lain selain menerima bantuan dari pak vandra, pak garvi tidak bisa menunggu lebih lama lagi, sementara saya tidak mendapatkan kabar apapun dari anda, saya tidak bisa mempertaruhkan nyawa pasien saya, lagi pula anda tidak memberitau saya jika saya tidak boleh menerima bantuan dari pak vandra, dan memang apa salahnya menerima donor darah dari pak vandra ?, toh ini semua demi kebaikan pak garvi, kesembuhan pak garvi adalah yang utama " tukas dokter
" tentu ini salah dokter, semua ini salah, apa anda tau siapa pria itu, dia pria yang sangat licik, dia tidak mungkin memberikan darahnya itu secara cuma-cuma, dia pasti punya tujuan tertentu, aku hapal betul tabiatnya " sambung ghibran
tamara meremat jemarinya, dia agak tersinggung ketika ghibran mengatakan hal buruk tentang vandra, bagaimanapun pria itu pernah singgah dihatinya, pernah dicintainya, tentu dia tidak suka jika ada yang menjelek-jelekan vandra dihadapannya, karena yang dia tau vandra tidaklah seburuk yang dibicarakan ghibran, dan justru karena itulah, dia sangat penasaran tentang masa lalu vandra, garvi dan ghibran, apa sebenarnya yang mereka sembunyikan dibelakang tamara.
mengapa misterius sekali, bahkan baik vandra, garvi dan ghibran, kompak menyimpan erat rahasia tentang hubungan diantara mereka, tidak ada satupun diantara mereka yang mau membuka suaranya.
" sekali lagi saya meminta maaf pak ghibran, saya tidak tau ada masalah apa diantara kalian, saat itu prioritas saya hanyalah keselamatan pak garvi, bagaimana saya bisa mengoperasi pak garvi sesegera mungkin, mengingat beliau mengalami pendarahan dan sangat membahayakan jiwanya, jadi inilah pilihan terbaik yang bisa saya ambil, meski mungkin pak ghibran tidak menyukainya " timpal dokter
" sudahlah ghibran, kamu tidak perlu marah lagi, dokter sudah melakukan kewajibannya dengan benar, percayalah, pak garvi pasti akan mengerti, yang penting sekarang pak garvi sudah baik-baik saja " balas tamara
" justru itu masalahnya, meskipun kami sudah berhasil mengoperasi pak garvi, namun itu tidak menjamin keselamatan pak garvi, beliau masih dalam keadaan kritis "
" anda jangan bercanda dokter " tekan ghibran
" mana berani saya bercanda untuk urusan ini, kami tidak bisa menjamin apa-apa, semuanya tergantung pak garvi sendiri, sebesar apa keinginannya untuk hidup, tidak ada yang bisa kita lakukan, selain mempercayakan semuanya kepada perjuangan pak garvi, kita hanya bisa berdoa, tapi semuanya, kembali lagi kepada pak garvi " jelas dokter
" tidak, anda pasti bohong dokter " elak ghibran
" begini pak ghibran, saya memang sudah berhasil mengoperasi pak garvi, tapi 48 jam pertama setelah operasi inilah justru masa yang paling kritis bagi pasien, ada banyak hal yang bisa terjadi dalam kurun waktu ini, bisa terjadi pendarahan atau bahkan infeksi, semoga saja itu tidak terjadi pada pak garvi dan kami juga berharap agar pak garvi bisa melewati masa kritis ini, dan segera sadar " ujar dokter
tamara tidak bisa menerima kata-kata dari dokter barusan, garvi adalah pria yang kuat, dia pasti bisa melewati masa sulit ini.
" kalau begitu apakah saya bisa menemuinya dokter ? " tamara berusaha tegar
" maaf nona, pak garvi belum bisa dijenguk sekarang, tapi beliau sudah kami pindahkan ke ruang ICU, kalian hanya bisa menunggunya diluar ruangan " sahut dokter
lagi tamara dan ghibran sangat terguncang mendapat kabar ini, setelah semua kekacauan ini, kini merekapun harus menghadapi kenyataan pahit lainnya.
mereka meninggalkan ruangan dokter dengan perasaan hancur, sudah sejauh ini dan garvi belum terlepas dari bayang-bayang kematian.
tamara langsung berlari menuju ke ruang ICU, tempat dimana garvi berada kini, dia tidak peduli dengan ghibran yang menyusulnya dibelakang, hatinya pedih karena untuk kesekian kalinya dia harus menghadapi situasi yang menegangkan seperti ini, meski kali ini bukan tentang dirinya, tapi justru kondisi ini malah membuatnya makin tak karuan, dia lebih mengkhawatirkan garvi, dibandingkan keselamatannya sendiri, bahkan luka bekas dia diculik tadi, sudah tak dirasakannya lagi, garvi telah mengalihkan semua atensinya.
tamara mematung didepan dinding kaca yang memberinya jarak dengan garvi, pria itu tampak tertidur lelap meski banyak selang yang menempel ditubuhnya, dia terlihat begitu damai, tidak tampak kesakitan.
air matanya mengalir lagi untuk seorang garvi, pria penyelamat hidupnya dan sepertinya lebih dari sekedar itu, kali ini, tamara tidak bisa mengelak lagi dari perasaannya, dia harus mengakui bahwa semua yang dirasakannya selama ini kepada garvi, itu bukan hanya sekedar perasaan khawatirnya saja, tapi disana juga terdapat perasaan yang tak biasa, sebuah perasaan yang menuntut lebih dari itu, menuntutnya untuk mengakui, jikalau dihatinya tersimpan sebuah rasa yang mendalam untuk garvi.
entah sejak kapan perasaan itu ada dihati tamara, namun tanpa disadarinya, hatinya menuntunnya untuk menemukan sebuah arti dari kebersamaannya selama ini dengan garvi, bahwa cinta telah mengikatnya untuk terus terbelenggu didalam bayangan seorang pria bernama Garvi Akhilendra.
🤗🤗🤗🤗🤗
__ADS_1