
🤗🤗🤗🤗🤗
.
.
.
.
.
Matahari mulai turun dari peraduannya, memberikan cahaya jingganya yang mempesona, menandakan hari yang mulai merambah malam, nuansa keemasannya memenuhi setiap sudut kota milan, salah satu kota yang paling menakjubkan di negara italia, dan menjadi salah satu destinasi wajib bagi para turis untuk berkunjung ke kota yang ajaib ini, dan disini pulalah tempat dimana semua kisah ini bermula.
Perjalanan dari kebun binatang lumayan memakan waktu, entah apa yang ada diotak bos nya itu, sampai-sampai dia mau menghampiri tamara yang tengah berkencan, ada hal sepenting apa yang membuat pria itu rela menempuh jarak sejauh itu untuk bertemu dengan sekretarisnya itu, padahal kan karyawannya banyak ❔, mengapa dia tidak meminta bantuan karyawan lainnya saja, mengapa dia harus repot-repot mencari tamara ❔ sepertinya dia suka sekali menjadi duri didalam kehidupan tamara, dia tidak bosan-bosannya menganggu tamara, dan ajaibnya lagi, itu si bos kok bisa tau ya kalo tamara ada di kebun binatang, apa jangan-jangan selama ini dia memata-matainya, tapi untuk apa ❔, ah... mikir apa sih dia, buat apa coba pria nggak jelas itu membuntutinya, kurang kerjaan aja.
tamara sebenarnya penasaran dengan sikap garvi yang tak bisa ditebak itu, ada alasan apa yang membuat pria itu harus menemuinya, seingat dia hari ini tidak ada jadwal meeting apapun, atau jangan-jangan tuh cowok cuma iseng aja kali ya ❕, ingin mempermainkan tamara, entahlah, tamara tidak mau ambil pusing, tapi yang pasti, garvi itu adalah bosnya diperusahaan, dan apapun yang diperintahkan garvi padanya, tamara wajib melakukannya, mau tidak mau, suka tidak suka, tamara harus menelannya mentah-mentah, dikarenakan perjanjian kerja yang sudah mengikat dirinya dengan garvi, tamara tidak bisa mengabaikannya.
sempat disuatu waktu vandra menawarakan bantuan kepadanya, bahwa vandra bersedia membayarkan ganti rugi untuk perusahaan akhilendra, jika tamara ingin keluar dari perusahaan itu, tanpa syarat apapun, vandra tak tega melihat gadisnya yang diperlakukan tidak adil oleh garvi, sebagai kekasihnya, dia ingin melindungi tamara sebagai lelaki sejati, karena saat itu vandra melihat tamara yang sepertinya sudah tidak kuat lagi menghadapi kelakuan bosnya itu, dia ingin membebaskan tamara dari semua beban yang dipikulnya, namun tamara menolaknya, dengan alasan bahwa semua yang terjadi adalah kesalahannya, jadi dia ingin bertanggung jawab, tamara bukanlah tipikal orang yang suka menyusahkan orang lain, dia tidak ingin berhutang budi, meskipun itu pada kekasihnya sendiri, dan pada akhirnya dia pun tetap menjalankan kewajibannya hingga saat ini.
tiga tahun adalah kontrak yang tertera di surat perjanjian itu, kalau tamara menjalankannya dengan sepenuh hati, sepertinya tidak akan lama, jadi itulah kini yang coba dijalankan oleh tamara, meskipun berat, namun dia yakin, dia bisa melaluinya, dan semua akan berlalu tanpa disadarinya.
🤗🤗🤗🤗🤗
Garvi menunggu tamara dimobilnya, dia tidak ingin gadis itu melihat dirinya saat ini, wajahnya yang memerah menahan malu, tamara tidak boleh melihatnya, dia harus bisa menyembunyikan rasa malunya dihadapan gadis itu, bisa besar kepala tuh perempuan kalo sampe dia tau keadaan garvi saat ini, dia memukul perutnya sendiri karena tak percaya dengan apa yang telah terjadi barusan, sungguh ini adalah aib baginya.
" sial..sial...sial..... ‼️ " umpatnya sambil memukuli perutnya berkali-kali ( jaim banget nih pak bos garvi 🤭 ).
__ADS_1
tak lama kemudian, tamarapun keluar dari restoran dan segera menuju mobil garvi yang terparkir dihalaman restoran.
tamara membuka pintu mobil dan segera duduk disebelah garvi, dia tidak mengatakan hal apapun demi menjaga martabat bosnya itu, meskipun dia ingin sekali meledek garvi, tapi dia tak sampai hati melakukannya, dia yakin dengan peristiwa yang memalukan itu, sudah cukup memberi pria itu pelajaran.
" maaf pak, apa anda tidak melupakan sesuatu ? rasa-rasanya tidak mungkin kan anda datang ke restoran ini hanya untuk sekedar mengajak saya makan ? " tanya tamara yang sudah berhasil mengontrol dirinya sendiri.
garvi tak langsung menyahut, apa yang dikatakan tamara benar, dia memang ke restoran itu untuk meeting dengan kliennya, namun dia jadi lupa gara-gara kejadian yang sangat mempermalukannya itu.
" telpon pak Barry, bilang padanya meeting hari ini dibatalkan, nanti kamu atur lagi schedulenya " sahut garvi tanpa melihat ke arah tamara
tamara segera melakukan apa yang diperintahkan bos nya itu, dia memang sangat cekatan dalam urusan ini, ya...memang sudah tugasnya kan !.
garvi melirik kaca spion dalam, dari tadi garvi memperhatikan mobil yang ada dibelakangnya, sepertinya mobil itu terus mengikuti mereka, namun garvi berusaha untuk tenang, dia tidak ingin tamara panik, dia berusaha sebisa mungkin menghindar dari mobil itu, hingga akhirnya " braaak...!!! " , mobil yang ditumpangi garvi dan tamara ditabrak dari belakang, kontan saja hal itu membuat tamara jadi kalang kabut.
" pak garvi, ada apa ini ? " tanya tamara bergetar karena merasa takut
tamara tidak langsung menuruti perkataan garvi, peristiwa barusan membuatnya syok, dia hanya terpaku menatap wajah garvi, bibirnya terasa kelu, tak mampu mengatakan apa-apa.
" cepat tamara ! atau kita berdua bisa celaka ! " titah garvi sedikit membentak, membuat tamara sadar akan situasinya, dia pun langsung mengencangkan sabuk pengamannya.
tamara berpegangan pada hand grip, dia begitu ketakutan, seumur-umur baru kali ini dia berada disituasi yang mengerikan seperti ini, ada orang jahat yang tengah mengejar dirinya dan garvi, penjahat itu bahkan langsung menabrak mobil yang ditumpanginya, apa sebenarnya yang diinginkannya, apapun itu pastilah berhubungan dengan si garvi itu, mana mungkin dia ? memangnya dia punya apa yang bisa membuat orang lain harus mencelakainya, kalau garvi kan cocok, secara dia kan sukses dan punya segala-gala, otomatis banyak orang yang iri akan kesuksesannya itu, pasti banyak saingan bisnisnya yang berusaha menjatuhkannya, tidak salah lagi, orang itu pasti mengincar garvi, bukan dirinya, ternyata memang benar apa yang dipikirkannya selama ini, semenjak garvi ada dalam kehidupannya, hidupnya jadi penuh masalah, pria itu menjadi petaka dalam hidupnya.
disaat tamara sibuk dengan pikirannya yang penuh kemelut, garvi tengah berusaha sebisa mungkin melarikan diri dari orang yang tengah mengejarnya, dia tidak ingin melibatkan tamara dalam masalah ini, bukan hanya tamara, tapi siapapun yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya, meskipun dia bukan tipe orang yang perhatian, tapi dia juga tidak ingin melibatkan orang lain dalam masalahnya, itulah mengapa, sebisa mungkin garvi lebih memilih menghindari mobil itu dari pada meladeninya, meskipun dia penasaran dengan orang yang mengejarnya, namun hal itu dikesampingkannya, saat ini, keselamatan tamara adalah prioritasnya, ini masalahnya, jadi dia tidak perlu melibatkan orang lain.
disisi lain, tamara begitu tegang, wajahnya yang putih menjadi pucat seketika, sepertinya aliran darahnya tersumbat, air matanya tak henti-hentinya berderai meski tak ada suara rintihan dibibirnya, dia hanya terpaku menatap jalanan dengan tubuhnya yang bergetar.
garvi melirik ke arah tamara, dia agak cemas melihat kondisi tamara yang terlihat sangat berantakan, di genggamnya tangan tamara yang ada di sampingnya, tamara tak bergeming, dia hanya terus diam tanpa memperdulikan sekitarnya.
__ADS_1
" tamara, tamara... !!! " panggil garvi dengan sedikit mengguncangkan tubuh tamara, dan itu berhasil membuatnya menoleh kearahnya, meskipun tatapan matanya kosong.
" jangan khawatir, kita pasti akan selamat, aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikitpun, kamu percayakan padaku " ujar garvi menenangkan
tamara hanya menatap mata garvi, mencoba mencari keyakinan disana, jiwanya yang terguncang membuatnya tidak bisa berkata-kata, semua insiden ini membuat jantungnya berdegup kencang seperti mau meledak, namun dengan secuil keberanian yang tersisa, dia pun menganggukan kepalanya, melihat hal itu, garvi langsung menancap gas lebih kencang lagi agar dia bisa menghindari mobil dibelakangnya, dia tidak ingin membuang-buang waktu lagi, dia tidak ingin memberikan kesempatan kepada orang itu untuk mencelakai dirinya dan tamara.
untungnya garvi berhasil meloloskan diri dengan segera, dia merasa lega setelah melalui ketegangan tadi, dia bersyukur dirinya dan tamara tidak apa-apa, dia memberhentikan mobilnya dipinggir jalan untuk sekedar menghirup udara segar, mencoba menghilangkan ketegangan yang baru saja terjadi.
" kamu tidak apa-apa kan tamara ? " tanya garvi tanpa menoleh ke arah tamara.
tamara diam saja, garvi pun segera menolehkan wajahnya ke samping karena tak mendapatkan jawaban dari gadis itu, dia melihat tamara yang hanya diam terpaku, dia seperti patung yang tak bernyawa, tangannya terus gemetar sambil memegang hand grip, bahkan bibirnyapun masih bergetar karena menahan rasa takut yang ada didalam dirinya, garvi mengguncangkan tubuh tamara untuk menyadarkannya, namun gadis itu tetap bungkam, tak bergeming sama sekali.
melihat kondisi tamara yang seperti itu, membuat garvi sedikit bingung, dia tidak mungkin mengantarkan tamara ke apartemennya, terlalu riskan, toh dia sendiri juga tidak tau tempat tinggal tamara, ditambah gadis itu yang karena saking syoknya tidak bisa diajak bicara sama sekali, garvi tidak boleh gegabah, terlalu beresiko jika dia harus membiarkan tamara sendirian saat ini, garvi sedikit khawatir kalau-kalau orang itu masih membuntuti mereka berdua, tamara adalah sekretarisnya, salah satu orang yang tau semua rahasia perusahaannya, bisa saja penjahat itupun mengincar tamara, tentu saja mereka bisa mengorek informasi dari gadis itu jika mereka berhasil menculiknya, garvi tidak ingin mempertaruhkan nasib perusahaannya.
" sial ! " umpatnya lagi, dia merasa kesal karena harus terlibat dalam masalah ini, merepotkan sekali, dia tidak suka ini.
gadis ini jadi menyusahkannya, menambah bebannya saja, karena kondisi tamara yang sebegitu terguncangnya, dia jadi harus melindungi tamara juga, meskipun terpaksa, bukan karena dia khawatir dengan gadis itu, melainkan dia hanya takut jika gadis itu akan membocorkan rahasia perusahaannya sewaktu-waktu, bisa runyam nanti urusannya, kesuksesan yang sudah dibangunnya selama ini, bisa hancur dalam seketika.
dan sialnya lagi gadis ini pun tidak bisa membantunya sama sekali, dia mengepalkan tangannya dan melajukan kembali kendaraannya menuju ke kekediamannya, mau bagaimana lagi, terpaksa dia harus membawa tamara ke mansionnya, meskipun ini bukan yang pertama kali bagi tamara ke mansionnya, karena memang tiap pagi gadis itu selalu ke mansionnya untuk menyiapkan sarapan untuknya dan keperluan lainnya, sebelum gadis itu pergi bekerja, sesuai dengan apa yang diperintahkannya, namun kali ini berbeda, biasanya tamara hanya akan ada dimansionnya kurang lebih dua jam an, namun sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang untuknya, dengan enggan garvi membawa tamara untuk beristirahat dimansionnya malam ini, dengan keadaan tamara yang begitu tertekan, tidak mungkin garvi akan meninggalkannya sendirian.
garvi tidak bisa membayangkan, akan melewati malam ini dengan orang lain yang ada dirumahnya, itu sangat meresahkannya, membuatnya tidak nyaman, bukan karena dia mau berbuat yang macem-macem loh ya ⁉️ tapi karena memang dia tidak terbiasa ada orang lain di rumahnya, selama ini dia lebih senang berada dirumahnya sendirian, tenang dan damai, bahkan dari keluarganya sendiripun, garvi selalu menutup diri, dia memang terlahir dari keluarga besar, namun dia lebih suka menyendiri, seluruh keluarganya tinggal di inggris, kebetulan memang induk perusahaan Akhilendra group berpusat dinegara tersebut, itulah mengapa dia lebih memilih tinggal sendirian di milan, dia bisa menjadi dirinya sendiri, dan tidak akan ada yang mengganggu kehidupannya.
" nanna, tolong singkirkan semuanya, jangan sampai ada yang tersisa, sebentar lagi aku sampai " ujar garvi ketika menelpon art nya.
entah apa yang tengah direncanakan garvi ❔ sehingga dia menyuruh art nya untuk menyingkirkan sesuatu yang ada dimansionnya itu, kira-kira ada rahasia apa yang tersembunyi di kediaman garvi ❔, apakah itu ada hubungannya dengan tamara ❔, yuk...ikutin terus kisahnya ❕ jangan ampe bosen ‼️.
🤗🤗🤗🤗🤗
__ADS_1