
🤗🤗🤗🤗🤗
.
.
.
.
.
Garvi memperhatikan semuanya dari dalam ruang kerjanya, dia bukannya tidak ingin ikut campur dalam urusan ini, tapi sepertinya, tamara lebih berhak untuk menghakimi kekasihnya itu terlebih dahulu, dibandingkan dirinya, meskipun dia juga merasa terhina dengan kata-kata vandra, tapi biarlah dia mengurus masalah itu nanti.
setitik demi setitik, rintik hujan kembali mengguyur kota venice yang indah ini, vandra yang masih terduduk dihalaman mansion garvi, hanya meringis merasai setiap luka yang ada ditubuhnya, meskipun hatinya jauh lebih terluka, dia merasa semua yang telah dilakukannya untuk tamara itu sia-sia, cinta yang telah dibangunnya bertahun-tahun, tetap saja tidak ada artinya dibandingkan harta yang melimpah, mengapa gadisnya yang sederhana itu, bisa tergoda oleh silaunya harta, padahal vandra sudah melakukan segalanya untuk tamara, tapi dia tetap kalah, kalah oleh kemewahan yang dimiliki garvi.
kalila yang masih ada disitu, segera menghampiri vandra yang masih terduduk lesu, dia seperti orang yang sudah kehilangan harapan hidup, matanya sudah tidak ada cahaya, redup, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan.
" ini yang kedua kalinya, aku masih diam karena menghormati tamara, kita berdua sama-sama tau kejadian yang sesungguhnya, dulu kamu melakukan kesalahan dan hari ini pun kamu tetap melakukan kesalahan, meskipun berbeda, namun keduanya mempunyai kesamaan, sama-sama menyakitkan bagi tamara,
tamara memang telah kehilangan sebagian ingatannya, tapi itu bukan untuk selamanya, aku tidak tau apa rencana tuhan dibalik semua ini, dan kamu telah menyia-nyiakan kesempatan yang tuhan berikan untukmu, tamara itu gadis yang baik, bahkan dia terlalu baik untukmu,
oh ya, kalau masalah tamara bisa tinggal di rumah pak garvi, itu bukan kesalahannya, karena waktu itu, dia dan pak garvi pernah di kejar oleh seseorang, dan demi keselamatan tamara dan perusahaan, pak garvi meminta tamara untuk tinggal sementara dirumahnya, bukan sebagai simpanannya, dia tidak sendirian, dirumah ini ada begitu banyak orang, dan juga ada aku yang akan selalu mendampinginya,
dan jika kamu butuh alasan mengapa tamara tidak berterus terang kepadamu, itu karena kamu sangat berarti baginya, dia butuh waktu untuk bisa mengatakannya padamu, karena dia tidak ingin melukai harga dirimu, dia tidak ingin kamu salah paham dan meninggalkan dirinya, aku akui tamara juga bersalah dalam hal ini, tapi seharusnya, sebelum kamu menuduh tamara yang bukan-bukan, ada baiknya kamu bertanya terlebih dahulu, agar semuanya jelas, dan tidak akan sekacau ini,
kamu menuduhnya menyembunyikan sesuatu darimu padahal kamu sendiri yang melakukan itu, kamu tau apa yang aku maksud, dan apakah kamu sanggup mengatakan yang sejujurnya tentang peristiwa lima tahun lalu, aku yakin kamu tidak akan berani " kata kalila
__ADS_1
sejurus kemudian, kalila pun pergi meninggalkan vandra yang penuh dengan penyesalan, dia memang bodoh, hanya karena emosi, hanya karena kecemburuannya, dia melupakan semuanya, melupakan cintanya pada tamara, melupakan bahwa gadis itu adalah dunianya, mengapa dia masih saja sama seperti dulu, selalu cepat bertindak tanpa berpikir terlebih dulu, dia telah melukai tamara, bahkan menghinanya dihadapan orang lain, entah bagaimana caranya bisa memperbaiki hal ini, yang pasti saat ini, vandra sangat menyesali semua yang telah dituduhkannya kepada tamara.
hujan mengguyur tubuhnya yang penuh luka, namun airnya tak mampu melunturkan semua dosanya terhadap gadisnya, Tamara Hazeena, dia sudah terlanjur mengatakan hal yang buruk tentang tamara, sekali lagi dia kalah oleh kecemburuannya, matanya dibutakan oleh cintanya yang begitu menggelora untuk tamara, karena saking cintanya, dia tidak bisa berpikir jernih, dan karena cinta yang mendalam itu pula, kemungkinan dia akan kehilangan tamara untuk selamanya.
" aaaahhhhhh....... !!!!!! " vandra berteriak menumpahkan segala penyesalannya dibawah guyuran air hujan
Garvi bergeming, dia masih mengepalkan tangannya, dengan tatapan matanya yang masih penuh dengan bara api yang berkobar, tidak ada yang bisa dilakukannya saat ini, selain hanya memperhatikan gerak gerik vandra, dia belum sempat menjelaskan semuanya kepada vandra, tapi sudahlah, toh... pria itu juga sudah mendapatkan pukulan telak dari tamara, jadi dia tidak perlu repot-repot mengotori tangannya untuk memberi pelajaran pada pemuda itu.
tok...tok...tok...
pintu ruang kerja garvi diketuk seseorang
" pak garvi, apa saya boleh masuk " pinta tamara
garvi sedikit bimbang, sebelum akhirnya mempersilahkan tamara masuk
tamara masuk, lalu menutup pintunya kembali
" ada apa ? " tanya garvi tanpa menoleh ke arah tamara
tamara tak menjawab, dia malah menarik tangan garvi agar mengikutinya, garvi terperanjat mendapat perlakuan seperti itu dari tamara, tadinya ingin protes, namun melihat aura yang tidak enak dihadirkan oleh tamara, membuatnya kehilangan suaranya.
tamara mengajak garvi untuk duduk disofa yang ada diruang kerjanya, garvi menurut saja, dia duduk dipinggir, tamarapun ikut duduk disamping garvi, kemudian tamara membuka kotak obat yang di bawanya, tanpa terdengar suara apapun, tamara membersihkan semua luka yang ada ditubuh garvi.
mereka berdua hanya diam seribu bahasa, entah mengapa garvi yang biasanya tidak suka disentuh oleh wanita manapun, kali ini dia membiarkan tamara mengobati semua lukanya tanpa bisa menolaknya sama sekali, agak kaget juga garvi melihat sikap tamara, dia pikir gadis itu datang pasti ingin memarahinya, tapi justru kebalikannya, gadis itu malah mengobati lukanya yang dia sendiri sudah tidak merasa kesakitan.
tamara menempelkan plester pada luka goresan yang diakibatkan oleh benturan fisik yang baru saja terjadi diantara garvi dan vandra, tidak ada yang mereka bicarakan, hanya hening yang mengisi ruangan yang cukup besar ini.
__ADS_1
selesai tamara mengobati luka garvi, dia langsung membersihkan semua bekas kapas yang berlumuran darah garvi, tanpa memperdulikan bahwa pria itu tengah memperhatikannya dalam, dan ketika tamara sudah memegang handle pintu hendak keluar, garvi menghentikannya.
" tunggu... " ujarnya
tamara menoleh
" maaf " lanjut garvi
tamara mematung, seumur-umur dia kerja dengan garvi, baru kali ini pria itu meminta maaf padanya, membuat tamara bingung harus menjawab apa, karena saat ini hatinyapun tengah berkecamuk, akhirnya dia putuskan untuk menganggukan kepalanya saja, tanpa ekspresi, dan tanpa mengatakan apapun, kemudian dia pergi meninggalkan garvi.
garvi sendiri bingung dengan dirinya, kata maaf itu keluar begitu saja dari mulutnya, tanpa dikomandoi, bahkan dia sendiri tidak tau, untuk apa sebenarnya kata maaf itu dia ucapkan, apakah saat ini dia tengah merasa bersalah ?, atau memang dia hanya terbawa suasana ?.
🤗🤗🤗🤗🤗
jam sudah menunjukan pukul dua pagi waktu setempat, namun itu tak membuat tamara mengantuk sama sekali, dia duduk diruangan piano, dalam keadaan gelap, hanya ada titik cahaya yang masuk melalui celah jendela kaca rumah, tamara membuka piano itu dan mulai memainkan jemarinya diatas tuts piano yang sepertinya sudah lama tidak dimainkan.
dikeheningan malam yang sunyi, tamara memainkan sebuah lagu klasik " kiss the rain, karya : Yiruma ", tak terasa air matanya mengalir, meresapi setiap lirik lagu yang kembali membawanya ke dalam kesedihan.
namun siapa sangka dan tanpa disadarinya, didalam kegelapan itu, ada sepasang mata yang memperhatikannya dengan lekat, memandang sendu ke wajah yang telah dibanjiri air mata, meski tak mengurangi kecantikan wajahnya yang berpendar diterpa sinar cahaya yang berasal dari lampu luar, sangat berkilau bak bintang yang berbinar dimalam bulan purnama.
tamara begitu terhanyut dalam perasaannya, bibirnya melantunkan lagu dengan penuh penghayatan, sambil memejamkan matanya, tamara terus bersenandung dengan merdu, lagu indah yang telah membawanya masuk ke dunia yang berbeda, dunia yang melambungkan daya khayalnya, menyusuri jalanan yang pernah dilaluinya dalam kenangan.
hatinya begitu hancur, inikah akhir dari segalanya, yang selama ini diperjuangkannya, haruskah dia merelakannya, melepaskan pria yang sangat dicintainya itu, haruskah dia menyerah saat ini juga ?, sementara hatinya masih begitu mencinta, ini bukan hanya sekedar kata-kata, tapi ini adalah sebuah fakta.
fakta bahwa meski vandra sudah mencemooh dirinya, tapi tidak bisa menutupi kenyataan bahwa dihatinya masih ada tempat untuk vandra, cintanya begitu kuat, sampai tamara tidak bisa membuangnya, entah apa yang akan terjadi nanti, yang tamara tau hanyalah hatinya yang kini remuk redam dicampakan oleh orang yang paling dikasihinya, Kivandra Guadhya.
🤗🤗🤗🤗🤗
__ADS_1