
Aku hanya ingin kembali bersama keluargaku. Karena mereka segalanya bagiku. Cinta dan kasih sayang yang tulus adalah kekuatanku untuk bertahan di dunia hitam milikmu
Keysara Alexa Beltran
❤️❤️❤️❤️
Malam yang di tabur bintang mendadak tertutup oleh gumpalan awan hitam. Suara petir mulai terdengar menggelegar di langit. Gadis yang tengah duduk di ranjang berjalan menuju balkon untuk menatap perubahan cuaca saat ini.
Tangannya bertautan pertanda kecemasan timbul. Ia memikirkan saudara kembarnya yang telah menempuh perjalan ke Paris. Apakah dia sudah sampai? Atau masih berada di dalam pesawat. Mengingat kalau saudaranya itu takut dengan petir dan hanya akan tenang jika berada di pelukkannya.
"Semoga ada orang yang memberi kehangatan padanya," gumam Keysara sambil melipat kedua tangannya.
Sementara itu, orang yang tengah dikhawatirkan sudah berada di Paris. Ia meringkuk ketakutan di hotel bersama seseorang.
"Kenapa kau tak membawanya kemari? Aku takut," ucapnya sambil bergetar hebat.
"Penjagaan sangat ketat. Aku tak bisa membawanya. Tenanglah…, Kel." Ucapan orang yang tengah bersamanya tidak membuatnya tenang. Ia malah semakin ketakutan ketika petir mulai menyahut.
"Aku ingin dia, Keysara. Tolonglah…," ucap Kellano di balik selimut yang membungkus dirinya.
Lelaki berwajah tampan yang di gandrungi banyak kaum hawa takut dengan petir. Mungkin, jika orang tahu pasti akan ditertawakan habis - habisan. Namun, ia tak akan malu jika kelemahan yang di miliki di ketahui semua orang.
"Aku akan meminta Anastasya untuk membawanya kemari. Bersabarlah…." Ada kelegaan di hati Kellano saat mendapatkan apa yang di inginkan.
"Cepat hubungi dia, Dion." Lelaki itu mengambil benda pipih untuk menghubungi Anastasya.
"Halo."
"Berangkat ke Hotel XX. Ajaklah Keysara. Aku bersama saudaranya."
"Tidak semudah itu. Banyak penjaga di sini. Bawa saja dia kemari."
Kellano tersentak mendengar ucapan Anastasya. Apa yang sebenarnya terjadi? Pada saat Dion mengabari dirinya perihal Keysara. Dia tidak mengatakan bahwa gadis itu berurusan dengan orang berpengaruh. Dengan gerakkan kasar membuka selimut, ia merebut ponsel itu.
"Bagaimana keadaanya? Berikan ponsel itu kepadanya!"
"Hei, jangan memerintahku seenaknya."
"Tenanglah, Kel. Jangan membentaknya."
"Aku tidak bisa tenang. Kenapa kau tidak jujur padaku? Kita kesana sekarang. Aku harus bertemu dengannya."
Suara petir menyambar lagi. Kellano kembali ke dalam selimut sambil bergetar. Detak jantungnya tidak beraturan. Ia butuh Keysara saat ini. Dion mengambil ponsel yang di tangan lelaki itu.
__ADS_1
"Bawalah Keysara kemari, Ana. Aku minta tolong padamu."
"Akan aku usahakan."
Anastasya menghela nafas lalu menutup ponselnya. Diluar hujan sangat deras. Di tambah dengan petir yang menyambar. Gadis itu berjalan menuju ruangan di mana Keysara berada. Ia membuka pelan pintu berwarna coklat itu.
"Di luar dingin. Masuklah…!" perintah Anastasya.
Keysara berbalik arah menuju ranjang. Ia duduk dengan kasar menghela nafas berkali - kali.
"Dion menghubungiku. Kita kesana sekarang. Lagi pula, si kutub utara itu tidak ada. Jadi, kau bisa keluar dan bertemu dengan saudaramu."
Mata Keysara berbinar. Ia langsung memeluk Anastasya sambil mengucapkan terimakasih. Keduanya langsung bergegas keluar ruangan menuju pintu utama. Kelvin yang melihat itu merentangkan kedua tangannya mencegah kepergian mereka.
"Anda tidak boleh pergi, Nona."
Anastasya memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Malas sekali ia berdebat dengan tikus pengganggu. "Kau boleh ikut. Lagi pula, aku tidak mau menyembunyikan ini dari siapapun. Jika aku berbohong, pasti dia akan menggantungku."
Kelvin mengambil ponselnya yang ada di saku. Ia melirik Keysara lalu mengetik pesan singkat kepada seseorang. "Baiklah, aku akan mengantar kalian.
Mata cantik Keysara yang berwarna biru berbinar. Kelvin terhanyut akan pancaran itu.
"Jaga matamu, Kelvin! Atau kau akan aku tendang ke dalam kolam buaya!" Kelvin pun gelagapan. Pantas saja Mike selalu memuji gadis yang bernama Keysara itu. Ternyata, dia sangat mengagumkan.
Keysara menatap Kelvin dingin. Kalau bukan karena Kellano membutuhkan dirinya saat ini. Pasti ia akan menghajar Kelvin habis - habisan.
"Silahkan masuk, Nona," ucap Kelvin dengan bibir bergetar menahan detak jantungnya yang tidak beraturan.
Tidak ada suara yang keluar dari mulut keduanya. Mereka memilih untuk diam lalu masuk ke dalam mobil begitu saja.
Selama perjalanan, ketiganya duduk tanpa bersuara. Sesekali, Kelvin menatap cermin di depannya untuk melihat Keysara. Wajah cantik yang acuh menatap ke arah jendela. Tenggorokan lelaki itu mendadak kering. Ia mengambil botol minuman lalu meneguknya hingga tandas.
Terlintas di otaknya ingin memiliki gadis itu. Namun, perasaannya segera di tepis lantaran siapa yang menjadi penghalang di depannya.
Kendalikan dirimu, Kelvin. Sialan…, aku butuh pelepasan. Hanya dengan melihatnya saja membuat kebanggaanku sesak. Mantra apa yang di gunakan gadis itu?
Anastasya melirik ke arah Kelvin. Ia menghela nafas kasar. Kalau di lihat, Keysara memang mempesona. Wajah mungil, bibir tipis, hidung, mancung. Jangan lupa, kedua lesung pipi yang menambah kaum hawa diabetes akut. Andai saja Keysara laki - laki. Ia pasti akan jatuh hati.
"Jika kau tidak fokus. Aku akan melemparmu keluar, Kelvin," ucap Anastasya dingin. Kelvin mengangguk patuh memilih untuk diam dalam gelombang hasrat yang tertekan.
Satu jam perjalanan pun berlalu. Akhirnya, mereka sampai meski harus menerobos derasnya hujan. Mereka langsung menuju kamar di mana Kellano berada. Sampai di depan pintu, Keysara mengetuk dengan tidak sabaran. Sementara Anastasya dan Kelvin memandang keheranan.
Tak lama kemudian, pintu itu terbuka. Keysara tidak memperdulikan orang itu. Ia berlari menuju seseorang yang tengah meringkuk diatas ranjang dan langsung memeluknya.
__ADS_1
"Tenang…, aku di sini," ucap Keysara sambil menyibakkan selimut itu lalu mengelus pelan kepala Kellano.
"Kau datang. Peluk aku dengan erat!" perintah Kellano dengan manja sambil mencari kehangatan. Rasa takut menghilang perlahan saat gadis itu memeluknya.
Mereka berdua yang masih berada di ambang pintu menjatuhkan rahangnya ke bawah. Sedangkan Dion hanya mengangkat bahu acuh lalu duduk di sofa.
"Sampai kapan kalian akan berdiri di sana?" Masuklah."
Anastasya menyeret tangan Kelvin untuk duduk di sofa. Gadis itu menatap heran ke arah Keysara meminta penjelasan kepadanya.
"Dia saudara. Namanya Kellano."
Tuhan memang baik karena mengabulkan keinginanku.
Kelvin melirik Dion lalu menatapnya dengan tajam. "Kenapa kau tidak memberitahu Tuan tentang masalah ini? Aku tak menyangka kau kenal dengan Nona."
"Terlalu banyak tahu adalah hak buruk, Kelvin. Lebih baik kau diam. Biarkan mereka melepas rindu. Urusan Lando, biarlah menjadi tanggung jawabku."
Kelvin mengepalkan tangannya kuat. Ia ingin sekali memukul wajah Dion. Sayangnya, niat itu d ikuburnya jauh - jauh karena kedekatan lelaki itu dengan Orlando.
Di sisi lain, Orlando membanting ponselnya. Ia baru saja melihat pesan Kelvin yang diterima satu jam yang lalu. "Beraninya dia keluar! Bangsa* itu harus di hukum karena membiarkan gadisku keluar!!" teriak Orlando menggema di seluruh ruangan.
Lelaki itu langsung menyambar jaket lalu menuju mobilnya. Ia bergegas menuju ke Hotel XX di mana Kelvin berada. Sampai di sana, Orlando segera masuk ke dalam hotel berlari seperti orang kesetanan menuju kamar tempat Kellano menginap.
Tanpa pikir panjang, Orlando menendang pintu berwaran coklat itu dengan keras. Semua orang yang berada di dalam langsung berjingkat kaget. Kellano yang baru saja tertidur dengan nyaman terbangun begitu saja.
"Lando," panggil Anastasya lirih.
Suasana mendadak dingin. Kelvin menundukkan kepala lantaran takut akan ekspresi wajah Orlando. Sementara Dion berjalan menuju lelaki itu. "Jangan emosi."
Perkataan Dion tak digubris oleh Orlando karena matanya terfokus pada Keysara yang tengah memeluk seseorang. Sedangkan Keysara hanya acuh saat mata tajam itu menatap dirinya.
"Lepaskan pelukanmu, Keysara," geram Orlando berjalan pelan menuju ranjang dengan tangan terkepal.
Kellano mempertajam telinganya. Petir di luar sana sudah berhenti. Ia tersenyum lebar lalu memeluk erat Keysara sambil mencium pipinya.
Mata Orlando memanas dan berkilat merah. Rahangnya mengeras. Tangan kekar itu semakin mengepal hingga jari kukunya memutih.
"Lepaskan tangan kotormu, Brengse*." Orlando langsung menyeret Keysara lalu memeluknya erat.
"Kau yang harus melepaskan aku!!" teriak Keysara sambil meronta. Kellano berdiri turun dari ranjang.
"Kau mau membunuh saudaraku. Lepaskan dia!!"
__ADS_1
Suasana mendadak hening. Orlando menatap lekat Kellano lalu melepas Keysara. Keduanya berdiri sejajar. Sementara Anastasya hanya terbengong saja.
Mereka kembar. batin Orlando dan Anastasya bersama.