Dangerous Mafia

Dangerous Mafia
DM 13: Penyelamatan


__ADS_3

Wajah muram menatap tajam orang yang berada di dalam sana. Sudah lama mereka berdua tidak bertemu. Tidak ada rasa saling menyukai. Yang ada adalah rasa kebencian membara di setiap tulang dan darah mereka. keysara menyadari sorot tajam keduanya. Ia kemudian melepas pelukan dari Kellano. 


Diantara semua orang, kenapa orang dingin itu yang datang? Seharusnya, Dion yang berada di sana. Kellano hanya pasrah saja. Memang big boss selalu benar dan tidak terbantahkan. Sekarang yang lebih utama adalah menyelamatkan Keysara.


Keysara mencoba berkomunikasi dengan Kellano. Namun, lelaki itu hanya mengedikkan bahu aduh. Siapa pun yang datang tidak masalah baginya.  


Ini gawat, keheningan yang biasa kini mulai masuk ke kedalam pori - pori Keysara. Gadis itu mulai tidak nyaman karena tatapan mereka berdua. Bisa dikatakan kalau keduanya adalah musuh abadi. 


Kalau boleh, Keysara ingin lari menjauh. Bukan berarti ia pengecut. Tapi, semua situasi bukan salahnya. Mata cantik itu menoleh ke arah lelaki itu. Andai saja ia tidak masuk ke bar pasti keadaan tidak serumit ini. 


Menyebalkan, aku terjebak. 


Dari pada pusing, Keysara memilih keluar ruangan dengan tenang. 


"Mau kemana, Sayang." Menurut Keysara suara itu merupakan sebuah ancaman. Pundak gadis itu sempat menegang. 


"Jaga mulut kotormu!" Lelaki itu menarik Keysara dengan kasar ke dalam pelukkannya. 


"Aku akan menikah dengannya, Lando. Kau jangan memegang tubuhnya." Wajah Dettian menghitam sambil mengepalkan tangannya kuat. Ia maju ke depan hendak merebut Keysara. Sementara Kellano hanya acuh saja. 


"Bawa gadisku," titah Orlando. Tanpa di tunggu, Kellano langsung merangkul Keysara. Mereka berjalan keluar ruangan. 


"Jika kau keluar sekarang, Aku pastikan kau menyesal!" Urat Dettian sudah mencuat. Kemarahannya tidak bisa terbendung. "Leo!!" 


Leo yang dipanggil langsung mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang. Belum sempat panggilan itu di terima. Orlando sudah menembak lelaki itu. Bunyi tembakan dua kali, pertama ke arah Leo, kedua ke arah Dettian. Mereka sama - sama menghindar. 


"Pengecut!!!" teriak Dettian.


Ejekan Dettian tidak digubris Orlando. Malam ini bukan waktunya bermain dengan lelaki itu. Ia harus segera membereskan mereka. 


Derap langkah beberapa orang datang ke kamar itu. Keysara dan Kellano segera lari bersembunyi. Namun, nasib mereka tidak mujur. 


"Kep*rat! Brengs*k kau Orlando!!" teriak Kellano sekeras mungkin. Orlando hanya tersenyum saat mendengar suara lelaki itu. 


Dettian tidak tinggal diam. Ia mengambil pistol di meja nakas lalu menembak Orlando dengan brutal.


Brak!! 


Orlando menutup pintu kamar dengan kasar lalu menguncinya. Sementara Dettian berteriak memaki lelaki itu. Leo membuka pintu itu dengan tendangan kakinya. Namun, hasilnya nihil. Sebab, pintu itu berasal dari kayu jati. 


Beralih ke saudara kembar, mereka dikepung oleh para anak buah Dettian. 


"Kalian sudah terkepung," ucap salah satu dari mereka. Kellano habis kesabaran. Ia langsung melayangkan tinju ke arah para anak buah Dettian. Sementara Keysara memasang kuda - kuda untuk siap menyerang. 


"Menyerahlah, Nona. Kami tak akan menyakitimu." 


Dor!

__ADS_1


Orlando menembak kepala salah satu anak buah yang berbicara dengan Keysara. "Tak akan aku ijinkan kau berbicara pada gadisku!!" Lelaki itu membuang pistol sembarang tempat, lalu memukul para anak buah Dettian dengan memb*bi buta. 


"Jangan memandang milikku, Bajingan…!" 


Perkelahian sangat sengit. Kedua lelaki itu bekerja sama menghajar mereka. Sedangkan Keysara meninggalkan keduanya begitu saja. Terus terang, gadis itu sangat lelah. Ia begitu mengantuk, jalannya pun sempoyongan. Karena tidak bisa menahannya, ia bersandar di tembok lalu merosotkan tubuhnya hingga mata indah itu terpejam sempurna. 


Beda halnya dengan Dettian. Ia melempar kursi ke pintu itu berulang kali. Hingga akhirnya, ada seseorang yang membuka pintu itu. 


"Dari mana saja kau, Ad! Lama sekali!!"


"Tenanglah, Bung. Aku harus berputar arah untuk menghindari musuh bebuyutan yang memb*bi buta itu."


"Cih!! Alasan!" Lelaki itu memakai jasnya lalu berjalan angkuh ke arah perkelahian itu. Matanya berkilat merah saat melihat semua anak buahnya terkapar di lantai. 


"F*ck!!" umpat Dettian keras. Lelaki yang berada di samping Dettian hanya menghela nafas panjang.


"Kendalikan emosimu. Kau di luar kendali, Det," ucapnya sambil menepuk bahu. 


Dettian menepis kasar tangan itu. "Aku sangat menginginkan dia, Adwin. Kau tak paham."


"Aku bisa mencarikan gadis di luar sana untukmu. Masih banyak gadis seperti dia."


Dettian berhenti, "Dia tidak sama dengan gadis di luar sana. Dia berbeda. Kau tidak tahu itu."


Adwin menoleh ke arah Leo karena penasaran dengan gadis yang di maksud oleh Dettian. Ia penasaran dengan sosok itu. 


Mansion Golden


Orlando dan Kellano berjalan keluar mobil. Tidak lupa, Keysara tengah digendong oleh orang bermarga Golden itu. 


"Biarkan aku yang menggendongnya." Jujur, Kellano tidak terima jika Keysara digendong oleh Orlando. 


"Jangan membantah. Dia milikku." 


Kellano jengah mendengar perkataan Orlando. Ia menarik kasar kerah lelaki itu dari belakang. Ditatapnya tajam hingga menusuk. 


"Kau tak berhak memilikinya. Dia bukan barang. Hargai Keysaraku. Statusmu tidak lebih dari orang asing, Bung." Mata Orlando berkelilat merah. Kalau bukan saudara gadisnya, mungkin Kellano tinggal nama. 


Anastasya melihat mereka dari jauh. Merasa ada yang salah, Ia berlari menghampiri mereka lalu melerainya. "Apa - apaan kalian. Cepat masuk! Kasihan Keysara. Dia pasti lelah."


Orlando hanya diam dan meninggalkan mereka dalam diam.


"Abaikan kutub es itu. Mari masuk dulu!" ajak Anastasya dengan lembut. Mau tidak mau, Kellano mengikuti gadis berambut pirang itu dari belakang.


"Duduklah…, aku panggilkan Kelvin."


"Biar aku yang mengurusnya," ucap Dion sambil menghampiri mereka berdua. 

__ADS_1


"Okay." Anastasya duduk dengan kasar di sofa. Ia melirik ke arah Kellano. "Kalian sedikit mirip." 


"Perkataan konyol." Dion duduk di samping Kellano. Anastasya mendengus kesal. "Tutup mulutmu!"


Kellano menatap Anastasya dengan seksama. Ada rasa aneh di dalam dadanya.


"Jadi, kau akan tinggal di sini?" tanya Dion.


"Sepertinya, aku akan ke Jerman. Aku harap, kau menjaga Keysara dengan baik." Kellano mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang melalui video call.


"Ada apa?" tanya seseorang di ujung sana. 


"Aku butuh bantuanmu, Uncle."


Dion hanya tersenyum mendengar panggilan 'Uncle' kepada orang itu. 


"Dasar! Jangan panggil aku dengan sebutan itu."


"Oke. Daniel…." Block semua data keluarga kita agar tidak bocor.


"Aku sudah melakukannya. Tapi, untuk data di Jerman belum."


"Block yang di Jerman. Aku juga minta tolong padamu untuk menjaga Daddy karena aku masih ada urusan di Paris."


"Cih!"


Daniel memutuskan panggilan itu sepihak. Kellano hanya menghela nafas kasar melihat kelakuan pamannya. 


"Dia masih saja sama," ucap Dion sambil bermain ponsel. 


"Aku tidak ingin membahas tentang dia. Jadi, jangan membicarakannya." Anastasya merasa seperti nyamuk karena tidak diajak bicara. Ia menatap kedua orang itu dengan helaan nafas yang panjang. 


"Jangan mengeluh!" ucap seseorang dari arah tangga. Semua mendongak ke atas. "Kenapa menatapku?" 


Lelaki itu mendaratkan bok*ngnya di atas sofa."Kenapa melihatku seperti itu?" 


Kellano sungguh ingin menonjok lelaki sombong itu. Semenit kemudian, matanya beralih ke arah Dion. "Kau penghianat. Bukankah aku bilang padamu, kalau kau yang harus datang menyelamatkan Keysara. Kenapa jadi dia?" 


Dion menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Aku hanya melakukan tugasku." 


"Sialan kau, aku membencimu!" Maki Kellano dengan keras. 


Orlando memasang wajah hitam. Ia menatap tajam ke arah mereka berdua. Terutama Kellano. Lelaki itu harus diwaspadai karena menjadi penghalang untuk mendapatkan Keysara. Merasa ada hawa dingin yang membuat mereka bertiga meremang. Semuanya langsung menundukkan kepala lalu menelan ludahnya dengan kepayahan. 


Aku tidak bisa berada di dalam ruangan ini! Jerit Anastasya di dalam hati. 


Singa yang sedang meraung itu kenapa menyeramkan sekali? Sepertinya, aku lelah. 

__ADS_1


Astaga…, apa yang membuat Orlando seperti itu? Lebih baik aku berkelahi dari pada melihat tampangnya itu. Dion mengalihkan perhatiannya ke arah ponsel.


__ADS_2