
Pagi yang cerah dihiasi dengan mentari menerobos masuk lewat jendela. Sinar itu mampu membuat siapa saja terusik dengan kehangatannya. Namun, realita yang dihadapi saat ini tidaklah demikian. Dua lelaki kutub yang tengah bersitegang saling melempar tatapan tajam tanpa ada yang mau mengalah satu sama lain. Sungguh Keysara sangat bosan melihat mereka.
Meskipun pagi yang cerah itu kurang menyenangkan untuk disambut, gadis itu tetap ceria seperti biasanya. Siapa yang tidak senang ketika ada seseorang yang tidur dengannya tanpa ikatan resmi. Ayolah, mata Keysara sudah ternodai dengan roti sobek khas milik Orlando. Yang lebih gilanya lagi, ia meraba - raba dada berbentuk kotak - kotak itu.
Nikmat mana yang engkau dustakan. Tentu sebagai gadis tulen pada umumnya, Keysara akan menyentuhnya dengan penuh semangat. Tapi, setelah tahu bahwa pemilik tubuh itu adalah Orlando, ia hanya mampu berteriak keras dan langsung lari ke dalam kamar mandi. Malu, iya sangat malu sampai enggan keluar. Bahkan, terjadi drama di pagi hari.
Namun, drama itu sudah usai saat Kellano membantu dirinya. Hasilnya, sekarang ia berada di ruang makan dengan tenang.
"Oke, kalian benar - benar cocok jadi pasangan " Keysara jengah melihat kelakuan mereka. Anastasya yang dari jauh hendak ingin mengisi perut kosongnya berbalik arah karena suasana tegang saat ini.
Kellano angkat bicara. "Aku akan mengajaknya pulang."
Orlando meremas sendoknya hingga membengkok. "Jangan harap."
"Tadi malam adalah yang pertama dan terakhir. Aku tidak ingin kehilangan Keysara. Lelaki yang menjadi musuhmu adalah orang berbahaya."
Masih dalam mode menguasai emosinya. Orlando menghirup nafas sebanyak - banyaknya. "Aku akan menjaganya."
"Keysara, kemasi barang - barangmu. Kita pulang sekarang."
BRAK!!
Orlando sudah habis kesabaran. Ia memukul meja hingga barang yang ada di meja itu berantakan. Keysara berdiri mulai melangkahkan kakinya untuk mengambil barangnya.
"Mike!!" teriak Orlando sekeras mungkin. Mike langsung tergopoh - gopoh menghampiri Orlando. "Urus dia!!"
Keysara merasa tidak aman. Ia berlari menuju keluar ruangan. Sementara Kellano dihadang oleh Mike. "Bangs*t!! Menyingkir!!
"Cegah gadisku!!" teriak Orlando. Keysara berhenti karena dikelilingi oleh para anak buah lelaki itu. Dion pun datang sambil mengatur nafasnya.
"Hentikan tindakan bodohmu, Orlando. Kita bisa bicara baik - baik."
"Baik - baik katamu. Dia mau membawa Keysara pergi. Aku tidak bisa tinggal diam."
Kellano mendengus kesal melempar tubuhnya ke sofa. Ia melirik Keysara sekilas. Gadis itu paham dan berjalan menuju sofa lalu duduk di samping saudaranya.
"Maaf," sesal Kellano sambil menunduk. Keysara hanya tersenyum. "Kau sangat konyol."
__ADS_1
Hati Orlando melembut melihat senyum Keysara. Ia duduk di sofa berhadapan dengan mereka berdua. "Mike, berikan surat perjanjian itu kepada gadisku."
Mike menyerahkan amplop coklat kepada Keysara. Ia menatap lekat amplop itu. Begitu takutkah Orlando sampai membuat surat perjanjian?
Dia sungguh menyebalkan. Mike, berikan surat perjanjian itu kepada gadisku. Mike, cegah gadisku. Kau gadisku. Gadisku…, gadisku…, aku lelah mendengarnya, gumam Keysara didalam hati.
Keysara membuka amplop itu dengan kasar. Ia melihat poin - poin surat perjanjian itu. Mata cantiknya mempertajam saat tidak ada hal menguntungkan. "Kau tak mau rugi."
Kellano merebut berkas itu lalu membacanya sekilas. "Mana ada perjanjian seperti ini?"
Orlando tersenyum sambil menatap kedua saudara itu. "Perjanjian itu akan terhapus. Asal kau mau menurut semua yang aku perintahkan. Lagi pula, disamping kau bekerja sebagai asistenku. Kau bisa hidup dengan tenang, Sayang. Ingat, orang tua kalian."
Ancaman sempurna menggunakan orang tersayang. Kellano melirik Keysara yang tenang menghadapi Orlando.
"Aku setuju dengan semua yang tertulis di sana. Tapi, aku ingin menambah poin di dalam perjanjian itu," ucap Keysara enteng.
Jangan salahkan Keysara kalau harus licik. Lagi pula, lelaki di depannya juga sama liciknya. Lihat, siapa nanti yang akan kalah di dalam permainan itu.
"Aku tidak setuju. Jika kau di sini, kau dalam bahaya, Key." Sungguh Kellano sangat khawatir tentang kondisi Keysara mengingat kejadian tadi malam.
"Jangan khawatir, aku akan memperketat keamanan." Orlando menatap Dion meminta bantuan.
"Katakan, Sayang." Orlando sangat penasaran dengan poin yang diajukan oleh Keysara.
Gadis itu menyunggingkan senyum semirik seperti iblis. "Tambah masa perjanjian menjadi dua bulan."
Orlando mengangguk, "Hanya itu."
"Siapa diantara kita yang jatuh cinta terlebih dahulu dalam waktu kurang dari dua bulan. Maka, dia akan kalah."
Orlando memikirkan poin yang diajukan oleh Keysara. "Lantas, apa keuntunganku jika aku menang?
"Semua yang kau inginkan. Termasuk diriku."
Sial, apa yang dipikirkan Keysara? Bukankah dia semakin masuk ke dalam kehidupan Lando? geram Dion di dalam hati sambil mengepalkan tanganya kuat.
Kellano tidak terima. "Kau gila! Jangan bodoh, Keysara!! Oh, shit! Di mana kewarasanmu?!" Lelaki itu murka melempar tatapan tajam kepada Keysara.
__ADS_1
"Tenanglah, Kel." Keysara mencoba mencairkan amarah Kellano.
"Tenang!! Aku tidak setuju. Jika kau kalah, aku tidak rela kalau kau dengan dia," ucap Kellano parau sedikit lesu.
Keysara menggenggam tangan Kellano yang gemetar. Ia tahu, langkah yang diambilnya pasti menyakiti saudaranya. "Jika kau kalah, maka kau harus melepaskanku dan tidak akan menggangguku selamanya, Lando."
Sebenarnya, poin perjanjian itu adalah hal yang paling sulit. Jika Orlando mencintai Keysara, ia akan kehilangan gadis itu. Satu - satunya cara membuat gadis itu menyatakan perasaanya dan bertahan dalam waktu dua bulan.
Aku tidak akan kalah. Dan kau akan jatuh ke dalam pesonaku, Keysara.
Aku harus membuat Orlando jatuh cinta padaku.
Kedua orang beda kelamin itu merasa diatas awan karena keras kepala akan hasil yang didapatnya. Mereka benar - benar percaya diri bisa melewati permainan itu dengan mudah. Sekali lagi, hanya sang pencipta yang bisa membalikkan keadaan.
"Aku setuju." Orlando yakin bisa membuat Keysara jatuh cinta padanya.
"Oke, deal." Keysara berdiri sambil mengulurkan tangan. Lelaki itu menyambutnya dengan baik. "Mike, tambahkan poin yang diucapkan gadisku. Serahkan padaku sore ini."
Mike mengangguk hormat lalu pergi dari ruangan itu. Sementara Dion masih menatap Keysara dengan lekat. Ia tidak ingin gadis itu salah jalan.
"Sekarang, kau harus pergi ke Jerman, Kellano." Orlando berbicara dengan nada sombong sebab merasa menang.
"Cih, kau mengusirku. Aku masih ingin disini." Kellano sungguh tidak terima jika diusir begitu saja oleh Orlando yang tengah menari diatas penderitaannya.
Keysara termenung, "Masih ada yang kurang. Jika kau kalah, jangan menggunakan keluargaku untuk mengancamku."
Orlando tersenyum lembut. "Tentu saja. Golden tidak mengingkari janjinya." Lelaki itu tidak tahu, bahwa omongan yang terlontar merupakan salah satu pisau yang akan menghujam dadanya.
"Pergilah ke Jerman, Kel," pinta Keysara. Bukannya ia mendorong Kellano untuk menjauhinya. Namun, ini adalah keputusan yang tepat. "Setelah kau melihat lokasi, kau bisa kembali melihatku." Senyum hangat nampak jelas di kedua sudut bibir gadis itu. Tidak lupa, kedua lesung pipi miliknya yang menambah kesan ayu.
Holly shitt! Dia sangat manis. Aku ingin menciumnya.
Orlando sudah merasa sesak dan panas. Bagian bawahnya semakin sesak. Sialnya, hanya melihat senyum gadis itu membuat hasratnya naik.
Kau bukan binatang, Lando. Jangan jadi binal.
Terkutuklah dengan sumpah serapah di dalam hati Orlando. Ia sungguh tidak bisa menahannya lagi. "Persiapkan dirimu. Kita ke kantor sekarang." Lelaki itu langsung beranjak pergi dari sofa dengan kepayahan.
__ADS_1
Ada apa dengan dirinya, batin Dion sambil melihat cara jalan Olando.