
Orlando menghela nafas panjang meninggalkan Keysara sendirian. Ia pergi keluar rumah dengan tatapan dingin. Hatinya masih dilema, antara melepaskan atau mengikat dia. Pilihan yang sangat sulit.
Jika Orlando bertindak egois lagi, nyawa Keysara pasti dalam bahaya. Memikirkan hal itu membuat hati lelaki itu sakit sekali. Ia terhuyung ke depan sambil meremas jantungnya.
"Tuan," panggil Mike sambil memegang lengan Orlando. Wajah lelaki itu tampak sangat lelah. Mungkin karena beban yang bertumpu pada pundaknya. "Aku tidak apa - apa. Hanya lelah," ucapnya sambil masuk mobil. Mereka berdua pun pergi meninggalkan mansion.
Keysara menatap kepergian mereka dengan keheranan. Sepertinya, ia harus bertindak. Satu - satunya jalan adalah datang ke iblis yang telah memberinya racun.
"Ini hidupku. Aku tidak akan menyerah sebelum mendapatkan penawar itu. Aku tidak akan bergantung pada Orlando. Bagaimana pun, ini adalah buah dari kecerobohanku." Keysara berjalan keluar mansion tanpa penjagaan. Mungkin, Orlando mengira kalau gadis itu akan berdiam diri di rumah.
Keysara berjalan dengan santai sambil menghubungi seseorang. Setelah selesai, ia menerima beberapa informasi mengenai Bryan. Ternyata, mansion lelaki itu tidak jauh dari mansion Orlando. Kalau menempuh dengan jalan kaki mungkin sekitar tiga jam. Sial, itu terlalu lama. Jika lelaki itu mengetahui bahwa ia tidak ada di mansion maka akan repot nantinya.
Dari jauh, Keysara melihat kendaraan yang tengah berhenti dipinggir jalan. Ia langsung menghampirinya perpalaha.
"Kenapa ban mobil bisa bocor? Kita harus bergegas ke mansion Tuan Bryan," ucap orang itu.
"Dari pada banyak omong, mendingan kau ikut membantu memasang ban mobil ini."
Keysara tersenyum mendengar perkataan kedua orang itu. Ternyata, Tuhan masih berpihak padanya. Ia pun masuk ke dalam mobil lalu duduk di belakang kemudi sambil meringkuk.
"Akhirnya sudah selesai." Mereka berdua masuk ke dalam mobil tanpa menyadari keberadaan Keysara. Sampai di mansion, mobil itu langsung menuju ke taman belakang. Mereka pun langsung keluar.
"Huft…, sejauh ini berjalan lancar." Keysara menatap sekitar mansion di dalam mobil. Ia harus keluar secepatnya dari sini.
Perlahan, tangannya membuka pintu mobil. Persis seperti pencuri, mengendap - endap dengan lincah menghindar para pengawal.
"Efek racun itu sangat luar biasa. Kita harus menguji pada simpanse," ucap salah satu orang berjanggut putih.
"Kau benar Dokter Xander. Tidak heran bahwa Tuan Bryan sangat menjaga racun itu dengan hati - hati."
Dokter Xander menghentikan langkahnya. "Aku tidak tahu, kenapa Tuan Bryan meminta penawar itu secepatnya, Matt." Lelaki bernama Matt itu menepuk bahu Dokter Xander. "Lebih baik, kita tidak mengerti rencana Tuan Bryan."
Mereka kemudian berjalan bersama menuju salah satu ruangan. Keysara yang mendengar perbincangan mereka hanya diam dan mengikuti keduanya. Gadis itu berhenti di salah satu ruangan. Jika masuk sekarang, tentu akan ketahuan. Ia tidak mau dicincang oleh lelaki berbaju serba putih itu.
__ADS_1
Ngomong - ngomong, mengenai lelaki berbaju putih seperti malaikat tanpa sayap. Namun, berhati iblis. Keysara tidak mengerti, mengapa lelaki itu ingin sekali membuatnya menderita. Sepertinya, ia harus mencari tahu alasan dibalik itu semua.
Aku tidak mau mati sia - sia.
Keysara meninggalkan ruangan itu. Ia berjalan menelusuri lorong hening tanpa penjagaan. Mata cantiknya, tertuju pada pintu berwarna merah. Dari sekian pintu, hanya pintu itu yang mencolok. Gadis itu pun masuk ke dalam. Betapa terkejutnya saat melihat banyak foto seorang gadis di sana.
Dan lebih parahnya, gadis itu mirip dengan Keysara. Meski ada perbedaan di rambut. Rambutnya bergelombang dan warna matanya hijau.
"Atau mungkin karena ini?" Keysara mendekat ke arah meja lalu menatap foto itu. "Kenapa fotoku juga ada di sana?" Gadis itu meraih fotonya, lalu dibaliknya foto tersebut. "She must die" gumamnya.
Kaki Keysara lemas seketika. Hanya alasan sepele, ia harus mati ditangan lelaki berbaju putih itu. "Sialan…, aku ingin memukul wajah tampannya."
Keysara meremas kuat fotonya lalu membuang ke sembarang tempat. Emosinya memuncak. Persetan dengan semuanya. Ia harus mencari lelaki itu dan mendapatkan jawaban atas apa yang tertulis di foto.
Gadis itu keluar dari ruangan dengan emosi yang meluap. Hidupnya adalah miliknya, hidup untuk keluarga tersayang. Hidup untuk ayahnya dan juga saudaranya. Dengan mudah, lelaki itu merenggutnya. Sebelum mati, setidaknya Keysara harus memukulnya.
Keluarnya Keysara dari ruangan, membuat salah satu orang yang melintas di sana terkejut. "Siapa kau?!" teriaknya dengan keras. Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya diam menatap orang itu dengan tajam hingga lututnya melemas.
"Kau tahu di mana orang berbaju putih itu." Ekspresi seperti iblis menatap orang itu.
Seperti perintah seorang ratu, orang itu langsung menurutinya. Dia ikut dengan Keysara berjalan menuju ruangan yang tidak jauh dari ruangan tadi.
Keysara langsung membuka pintu itu dengan tenang. Matanya tertuju pada orang yang tengah berkutat dengan berkasnya.
"Sudah aku bilang. Aku tidak ingin di ganggu, Leon."
Tidak ada respon dari orang yang membuka pintu. Biasanya, Robert atau pengawalnya segera minta maaf kepadanya. Merasa ada yang salah, ia mengangkat kepalanya.
Mata mereka pun langsung bertemu. Keysara berada di ujung pintu. Bryan hanya menatap tidak percaya atas apa yang dilihatnya.
Gadis itu berjalan ke arah Bryan tanpa ekpresi apa pun. Aura dingin dan mencekam timbul ke dalam ruangan itu.
"Rupanya ada tamu tidak diundang." Bryan tidak mengira bahwa Keysara akan datang seorang diri. Kalau dilihat, gadis itu sangat berbeda jauh dengan dia. Meski wajahnya sama, tapi sifatnya berbeda.
__ADS_1
"Aku datang bukan untuk basa basi." Keysara duduk tepat di depan Bryan. Meskipun terhalang meja, jaranya lumayan dekat. Karena meja itu sangat kecil.
"Katakan, apa yang kau inginkan?" Bryan tersenyum manis sambil menata Keysara. Gadis itu ingin muntah melihat senyum tidak tulus dibuat - buat oleh lelaki itu.
Karena mendapatkan lampu hijau, Keysara langsung menerjang Bryan dan memukulnya. Lelaki itu kaget ingin melawan namun tidak bisa sebab tenaga gadis itu sangat kuat.
Dua kali bogem di wajah hingga sudut bibirnya berdarah. Tidak berhenti di sana, Keysara memukul perut Bryan. Lelaki itu langsung mendorong Keysara dengan kuat - kuat.
"Cih, memukul wajahku berarti mati." Masih dalam kondisi tenang meskipun jiwanya meronta ingin menghabisi Keysara.
"Aku belum puas. Itu tidak sepadan dengan penderitaan yang aku dapatkan." Keysara kembali melayangkan tinjunya namun ditangkis oleh Bryan.
"Jangan meremehkanku." Bryan menampar kuat Keysara hingga bibirnya sobek. Gadis itu hanya diam lalu tertawa. "Kenapa kau tidak menembakku sekalian? Biar kau puas."
Bryan diam di tempat. Keysara tidak takut dengan dirinya. Kalau gadis di luar sana akan memohon belas kasihan. Tapi, gadis di depannya ingin di tembak.
"Kau tidak akan mati dengan mudah." Bryan mengingatkan Keysara bahwa hidupnya ada di tangannya.
"Dan kau tidak akan mendapatkan kebahagian dengan membunuhku." Keysara masih berdiri dengan tenang. Pandangan matanya sedikit mengabur. Keringat dingin keluar begitu saja dari tubuhnya. Apakah ini efek dari racun itu? Kenapa tubuhnya menjadi lemah?
Keysara menggelengkan kepalanya sambil menatap Bryan. Ia sungguh tidak tahan ingin sekali menutup mata. Tubuhnya tidak kuasa menahan beban lagi. Hasilnya, gadis itu langsung ambruk seketika.
Bryan hanya diam dengan senyum meremehkan. "Baru saja kau memukulku. Jangan pura - pura pingsan." Perkataan lelaki itu tidak di tanggapi oleh Keysara.
"Cih, kau hanya jal*ng yang memainkan trik lama." Bryan berjalan mendekati ke arah Keysara. Ia jongkok melihat kondisi tubuh gadis itu.
Ketika tangan Bryan menyentuh pipi Keysara. Ia langsung tersentak kemudian berteriak keras hingga Leon datang.
"Cari Dokter Xander, sekarang!!" teriak Bryan menggendong Keysara keluar ruangan. Leon hanya mengangguk.
Bryan berlari ke arah kamar miliknya. Ia langsung menyelimuti tubuh dingin Keysara dengan hanya selimut tebal. Tidak lama kemudian, Dokter Xander datang.
"Periksa dia!" titah Bryan. Dokter Xander memeriksa Keysara dengan hati - hati. Ia kemudian menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Tuan, apakah gadis ini yang telah anda beri racun itu?" Dokter Xander menoleh ke arah Bryan. "Aku tidak tahu, di mana letak kesalahan dari penawar itu.
Bryan hanya memandang Keysara dengan tatapan kosong dalam tenangnya.