
Malam ditaburi bintang. Kerlap kerlip lampu diKota Paris menambah keindahannya. Menara Eiffel menjulang terlihat menawan. Membayangkan panorama itu membuat Keysara tersenyum puas.
Semenjak kakinya menginjak bumi Paris, ia belum menikmati segala keindahan ciptaan sang kuasa. Saat ini, aktivitasnya masih sama. Menonton film yang ada di televisi. Sesekali, ia mengamati sekitar tempat duduknya.
Bukan maksud tertentu, tapi Keysara merasa ada yang mengawasi gerak - geriknya selama dua hari. Mata indah itu tertuju pada sebuah benda besi kecil yang berukuran mini.
Benar, meskipun tidak di sini. Dia mengawasiku. Untung aku tidak berbuat hal yang buruk.
Meskipun diam, Keysara masih memikirkan cara untuk keluar dari mansion. Siapa yang tahan dikurung sampai seminggu. Ia merasa seperti tahanan rumah.
Keysara menata ke arah pintu. Ia melihat Anastasya dan Mike yang tengah berjalan menuju lantai atas. Beberapa hari ini, keduanya mengabaikan gadis itu.
Pasti, ada yang disembunyikan oleh mereka.
Sehari ini, Keysara melihat mereka berdua bolak balik mansion selama lima kali. Bahkan, Dion juga tidak terlihat batang hidungnya. Gadis itu memilih beranjak dari sofa menuju kamar. Samar - samar, ia mendengar perkataan Anastasya dan Mike.
"Gerald ada di sana. Kita harus bergegas. Jangan lupa bawa berkas itu."
"Apakah kita tidak memberitahu Nona Keysara?"
"Ini permintaan Lando sendiri. Semuanya harus dirahasiakan. Lagi pula, pria itu sangat berbahaya. Lando tak ingin gadis itu terlibat lebih jauh."
Kenapa kau tidak mau terbuka padaku, Ana? Bukankah kita teman?
Keysara merasa kecewa karena Anastasya tidak memberitahunya. Ia kemudian berjalan menuju kamar lalu mengambil jaket hoodie dan memakai sepatu sneaker.
"Kali ini, aku akan mencari tahu." Keysara memakai masker lalu menggunakan tudung jaket itu. Ia keluar balkon melihat sekeliling dari atas. Karena tidak ada pengawal yang berkeliaran. Ia melompat ke dahan pohon. Lalu turun dengan pelan.
__ADS_1
Gadis itu sedikit menunduk berjalan melewati para penjaga. Ia keluar menuju mobil dengan perlahan Namun, saat akan keluar, Anastasya dan Mike sudah masuk mobil. Dengan berat hati, ia bersembunyi di balik tembok.
"Sial, kenapa mereka buru - buru." Keysara menatap kedua penjaga yang ada di pagar pintu. Ia mengambil batu kecil lalu melempar ke arah kanan sehingga menimbulkan suara.
"Siapa di sana?" Kedua penjaga bergegas menuju ke sumber suara. Hal itu di gunakan Keysara untuk keluar pagar mansion dengan mudah.
Gadis itu berlari menjauhi mansion. Ia menelusuri jalan raya yang sepi. Banyak pohon disekitar jalan itu.
"Mansion di tengah hutan. Bukanlah hal yang sulit," ujar Keysara sambil mengambil permen karet di sakunya lalu membuka bungkus itu kemudian mengunyahnya dengan santai.
Sesekali, Keysara melirik ponsel miliknya. "Pukul tujuh malam," desahnya sambil berjalan lurus ke depan. Dari jauh, gadis itu melihat sorot lampu kendaraan. Senyum cerah tercetak jelas di wajahnya.
Kendaraan itu pun berhenti tepat di samping Keysara. Orang itu membuka helm lalu tersenyum. "Kita bertemu lagi."
Keysara hanya diam menatap orang yang memakai baju serba putih itu. Dari sekian orang yang dikenalnya. Lelaki didepan itu mempunyai maksud tertentu. "Berhenti berpura - pura."
Reflek Keysara melepas pelukan lelaki itu dengan kasar sambil memegang lehernya bekas suntikan yang terasa nyeri. "Apa yang kau masukkan ke dalam tubuhku?" Mendadak, pandangan mata Keysara mulai mengabur. Namun, ia berusaha untuk tetap sadar.
"Ternyata, kau terlalu kuat. Hipnotisku bahkan tidak berpengaruh. Padahal, aku ingin kau bekerja sama denganku untuk menggulingkan Lando. Dengan racun itu, kau akan tergantung padaku, Keysara. Sekarang, kau pilih nyawamu atau nyawa Lando."
Di tengah kesadarannya, Keysara malah tertawa. Lelaki di depannya sungguh membuat nyawa sebagai permainan. Tidak menghargai jerih payah Tuhan. Sungguh manusia serakah penuh ambisius.
"Meski matipun aku tidak akan mengorbankan orang lain." Tubuh gadis itu tidak bisa menopang berat badannya. Ia langsung lemas lunglai ambruk. Namun, lelaki itu menangkapnya dengan sigap.
"Kau akan mati dengan penuh siksaan. Padahal, kau diambang kematian. Tapi, kenapa tidak takut sama sekali? Gadis yang unik."
Lelaki berbaju putih itu menghubungi seseorang. Tidak lama kemudian, ada mobil datang. Ia masuk bersama Keysara. Awalnya, ia ingin sekali bekerja sama dengan gadis itu. Sekarang, rencananya berubah.
__ADS_1
"Jika kau seperti harta baginya. Tentu dia akan memberikan segalanya untuk kesembuhanmu."
Mobil itu melaju dengan cepat menuju Mansion Golden. Ia berencana mengembalikan Keysara dengan utuh. Sampai di sana, semua orang kalang kabut. Orlando sendiri sudah berada di mansion. Ia melihat mobil putih milik seseorang. Orang itu pun keluar sambil menggendong Keysara.
"Brengs*k!! Lepaskan dia?" Orlando tidak bisa lagi membendung amarahnya. Dengan santai, lelaki berbaju putih itu berjalan menuju ke arahnya.
"Aku hanya mengantarnya saja. Lagi pula, dia sudah tidak berguna."
Kening Orlando berkerut. Ia menatap wajah Keysara yang kian memucat. "Apa yang kau lakukan padanya, Ian?" Ah…, nama itu. Sudah lama tidak didengar oleh lelaki berbaju putih. Ada rasa senang karena nama itu terpanggil dari bibir Orlando.
Merasa ada yang salah, Anastasya dan Kail keluar menuju halaman depan. Mereka melotot melihat seseorang yang dikenalnya.
"Hai, apa kabar, Kail?" tanyanya mengawali pembicaraan. Kail menatap Keysara dengan penuh iba. Ia kemudian beralih ke Orlando yang terlihat masih kurang sehat.
"Berikan dia padaku." Kail menawarkan diri. Tanpa persetujuan dari lelaki berbaju putih, ia meraih paksa tubuh Keysara.
"Aku harap, kau mempertimbangkan nyawanya untuk semua yang kau miliki, Lando."
"Bryan Scott!!" geram Orlando menahan amarah. Bryan tertawa renyah. Ia menatap ke arah Orlando dan Kail bergantian seperti menghina.
"Kau bodoh, Kail. Bisa - bisa mempunyai rasa seperti itu kepada Lando." Kail membuang muka. Ia tidak akan malu mengakui kalau mencintai Orlando. Cinta adalah anugerah bukan dosa.
Para anak buah Orlando pun mengelilingi Bryan sambil mengacungkan pistol. Lelaki itu hanya menganggapnya santai. "Tidak ada yang lebih baik dari mati. Daripada tersiksa. Racun itu akan menggerogoti tubuhnya perlahan. Awalnya lumpuh, lambat laun menjadi buta, lalu merujuk pada sarafnya."
Orlando mengepalkan tangannya kuat menatap Bryan penuh dengan emosi. Sementara Anastasya hanya bisa menutup mulutnya tidak percaya.
"Waktumu tidak banyak, Lando. Kau tidak bisa memikirkan solusi dari produk itu. Sejauh kau melangkah, maka aku akan satu langkah di depanmu. Pikirkan baik - baik." Bryan beranjak pergi meninggalkan kediaman Golden begitu saja.
__ADS_1
Orlando langsung berbalik arah mengambil paksa Keysara pada gendongan Kali. "Panggil dokter sekarang!!" teriaknya dengan nada penuh gemetar. Gadisnya lemah tidak berdaya dengan wajah memucat. Ia berlari menuju ke dalam mansion. Suhu tubuh Keysara semakin dingin seperti es.