
Manusia adalah mahluk sempurna. Mereka di beri akal untuk memilih jalan terbaik dalam hidupnya. Namun, tidak ada manusia yang sangat sempurna. Pada dasarnya, mereka juga pernah berbuat salah.
❤️❤️❤️❤️
Genangan darah berwarna merah di tambah bau anyir sangat menusuk hidung. Pandangan itu, membuat para pengawal jijik. Namun, ditahan karena tidak ingin menjadi korban selanjutnya.
Jari - jari terpotong, wajah penuh goresan. Dan juga, luka tusukan di mana - mana. Ajaibnya, sang korban masih hidup meski nafasnya melemah. Sedangkan Rebeca hanya menahan isak tangis lantaran perih karena lukanya di siram dengan air garam.
Menyesal, sungguh menyesal. Ribuan kali ia mengutuk dirinya sendiri karena mengenal lelaki berwajah malaikat itu. Kini, nyawanya sudah berada di ujung tanduk. Siap tidak siap, ia akan menjadi menu untuk Orlando.
"Masih belum cukup!! teriak Orlando. Ia sangat marah ketika teringat kata - kata Keysara.
"Apanya yang belum cukup?!" Suara yang sangat familiar didengarnya. Pisau berlumuran darah jatuh di lantai begitu saja. Orlando takut bahwa suara itu milik Keysara. Ia tidak mau melihat kenyataanya yang sudah berada di depan mata. Tubuhnya menyimpan rasa takut kalau gadis itu berpaling dan pergi meninggalkannya.
"Barbaliklah…!" Perintah orang itu seakan membuat sang tirani menurut. Dengan ajaib, ia berbalik arah menatapnya. "Kemari!"
Orlando berjalan dengan tatapan kosong menuju ke arah orang itu. Dengan sigap, dia langsung memeluk. "Apakah kau begitu menderita?" Sontak lelaki itu melotot sempurna. Ia menatap mata indah itu dengan dalam. "Apakah sakit? Seperti apa sakitnya?"
"Jangan menatapku seperti itu, Key." Akhirnya, Orlando membuka suaranya dengan lembut. Amarahnya telah mereda.
"Lebih baik kita pergi." Orlando mengangguk setuju. Mereka berdua pergi ke ruangan lain. Dengan lembut, Keysara menuntun lelaki itu duduk di sofa.
"Sakitkah? Sepertinya, kau menyembunyikannya sudah lama, Lando. Kenapa tidak bercerita untuk mengurangi bebanmu?" Keysara berusaha membuat Orlando terbuka. Awalnya, gadis itu berniat jalan - jalan. Namun, entah dorongan dari mana langkah kaki itu mengarah ke dalam hutan. Samar - samar, ia mendengar suara teriakan seseorang.
Rasa ingin tahunya datang. Ia berjalan menuju ke arah sumber suara. Para pengawal hanya diam dan membiarkannya masuk. Betapa terkejutnya Keysara melihat Orlando tengah membab* buta menyiksa dua orang di sana. Raut wajah gadis itu langsung pucat pasi.
Ia ingin sekali mutah namun ditahannya. Butuh banyak keberanian untuk mengadapi hal demikian. Karena kejadian ini adalah pertama kali baginya.
__ADS_1
Sampai sekarang, jantungnya masih tidak beraturan. Berusaha tenang di hadapan Orlando. Ia tidak ingin menunjukkan rasa takutnya.
Okay, ini persis cerita psikopat. Dan seperti film luar negeri. Baku hantam, saling siksa dan menembak. Aku seperti masuk ke dalam dunia perfilman. Sungguh nasib yang membuatku semakin gila.
"Aku tidak akan melakukannya kepada orang yang tidak bersalah. Jangan berpikiran kalau aku psikopat."
What the hell. Pergilah ke neraka terdalam. Tebakan Orlando sangat tepat. Apa dia cenayang? Atau dia bisa membaca pikiran gadis itu.
Apa ini? Dia sungguh mengerikan. Aku ingin lari darinya. Kellano…, mana dia?
"Jangan perpikir kau akan lari dariku, Keysara. Meski mati aku tidak mengijinkannya."
Keysara menunduk ke bawah menyembunyikan wajahnya. Apakah ini alasan dia menyiksa seseorang.
Aku salah bicara. Dia peka.
Keysara masih bingung dibuatnya. Jatuh terlalu dalam. Apa maksud dari perkataan Orlando? Benar - benar penuh teka teki.
Buta perasaan, itulah kata yang cocok untuk Keysara. Orang jenius tapi lemah dalam hal cinta. Wajar saja, selama hidupnya, ia sangat acuh mengenai perasaan. Berbeda dengan Kellano yang senang bermain dengan para gadis.
Lelaki itu cenderung memiliki sifat ceria dan humoris yang tinggi. Sehingga, banyak kaum hawa dengan mudah melekat padanya. Bukan sebagai pacar. Untuk memilih kekasih, Orlando tidak ingin terburu - buru. Mencari yang cocok untuknya. Kalau masalah seksual, ia tidak ingin bermain - main. Menaruh benih di mana - mana. Itulah ajaran dari sang ayah tercinta.
Hidup di negara Kepulauan yang menjujung tinggi martabat tentu membuat mereka menghargai segala apa pun tindakannya. Memikirkan kedepan konsekuensi yang di ambil.
"Jangan memikirkan hal yang tidak perlu. Fokuslah kepada pengobatanmu." Mengingat hal itu, membuat Keysara amarahnya memuncak. Jika nanti bertemu dengan lelaki berbaju putih itu, hal pertama yang dilakukan adalah menonjok wajah tampannya. Yang benar saja, dia tidak menghargai nyawa orang lain.
"Aku akan membuatnya habis." Ekspresi marah Keysara terlihat lucu di depan Orlando. Lelaki itu mengacak rambutnya dengan gemas.
__ADS_1
"Terlalu gegabah tidak baik. Kau masih perlu penawarnya." Wajah Keysara mendadak sedih. "Apakah aku akan mati jika tidak mendapatkan penawar itu?"
"Tidak akan. Aku berjanji padamu." Orlando bagaikan superhero di mata Keysara. Bagaimana tidak jatuh cinta dengan sikap dan sifat seperti itu. Semakin jatuh saja hatinya Jantung bodohnya juga tidak bisa diajak kompromi. Berdebar dan berdebar seperti gong yang di tabuh.
Mungkin kalau itu gong, pasti suaranya sudah menggema di luar sana. Dan pastinya, Keysara akan malu.
"Aku… aku," ucap Keysara terbata - bata sambil menautkan semua jarinya. Ia bingung harus mengucapkan apa. Di hadapan Orlando, gadis itu seperti anjing penurut. Gemas ingin mencubit pipi chubynya.
"Tidak usah berkata apapun. Aku tahu kau ingin mengucapkan terimakasih dan memujiku." Runtuh sudah keinganan Keysara. Kenarsisan tingkat dewa yang dimiliki Orlando membuatnya ingin mencakar seperti anjing yang penuh dendam.
"Ya, diriku memang patut di banggakan." Semakin gelap pula wajah Keysara. Kepercayaan diri Orlando terlalu besar.
"Kenapa diam?" tanya Orlando." Keysara hanya menghela nafas sepanjang - panjangnya mengontrol emosi yang sudah mencapai level sembilan. Sebentar lagi akan jebol ke level sepuluh. Artinya, akan ada boom mendadak yang meledak.
"Bisa tidak kau lebih sedikit rendah," ucap Keysara dengan jengkel.
"Rendah, maksudnya? Aku bukan seorang yang rendah. Kedudukanku tinggi. Dan juga apa yang aku inginkan pasti terpenuhi." Orlando mengoceh panjang lebar seperti jalan tol. Keysara sungguh tidak tahan. Ia memilih keluar ruangan.
Bicaralah sampai berbusa.
Orlando berteriak keras memanggil Keysara. Memang di depan gadis itu segala kehormatan yang dibangun runtuh seketika.
"Jangan keluar!!" teriak Orlando sampai membuat para pengawalnya mendekat lalu menghadang langkah Keysara.
"Nona, Anda tidak diijinkan pergi." Bagus sekali. Dengan adanya sumber tonjokkan, Keysara bisa merenggangkan semua ototnya.
"Maaf, kami bertindak kasar." Para pengawal memegang tangan Keysara. Kaki gadis itu langsung melayang ke arah ************ pengawal di depannya. Kasihan sekali, sakit banget asetnya di tendang. Meringkuk kesakitan persis seperti cacing kepananasan.
__ADS_1