
Berkali - kali, gadis itu mengumpat di dalam hati. Merutuki takdir yang di dapatnya saat ini. Bayangkan saja, ia tanpa sengaja melihat pusaka sempurna milik seorang lelaki dan jangan lupa belahan itu. Disamping itu, ia terjebak tak bisa keluar. Pasalnya ketika dirinya mau keluar dari ruangan, Orlando keluar dari kamar ganti.
"Kau tahu apa kesalahanmu?" Pertanyaan pertama Orlando saat ini mampu membuat ruangan semakin dingin dan mencengkam."
Flashback On
Kyaaa…..," jerit Keysara sambil menutup kedua bola mata indahnya.
Mata suciku ternodai. Tuhan, bawa aku lari.
"Apa yang kau lakukan di sana?!" teriak Orlando ketika melihat seseorang berada di depan pintu coklat.
Sial, maki Orlando di dalam hati. Lelaki itu langsung lari ke dalam pintu berwarna hitam untuk mengambil bajunya di ruang ganti.
"Jangan kau melangkahkan kaki keluar dari kamar ini!" teriak Orlando di dalam ruangan. Lelaki itu mengusap rambutnya kasar. Kebiasaannya yang dilakukan setelah mandi adalah berjalan telanjan* ke dalam ruang ganti. Baginya, memakai handuk hanya akan mengurangi kadar keseksiannya. Ia lebih suka berkaca di depan lemari memuji bentuk tubuhnya.
"Seharusnya, aku tadi langsung masuk ke ruangan ini. Tidak seharusnya aku berkaca di sana. Sungguh memalukan. Sialan…, aku tak punya muka bertemu dengannya," ucap Orlando sambil mengerang frustasi.
Lelaki itu berjalan mondar mandir sambil memakai baju dengan kasar. Semenit kemudian, sudut bibirnya terangkat. Entah apa yang direncanakan kali ini. Bisa dipastikan akan ada hal menarik yang akan terjadi.
Flashback of
Orlando sengaja memojokkan Keysara karena masuk kamarnya tanpa ijin. Ia sedikit memberikan tekanan mental berharap gadis di depannya terprovokasi. Menanti dengan gelisah sambil mengangkat alis disertai dahi yang berkerut mencoba menebak ekspresi gadis itu.
Di luar ekspektasi.
Keysara hanya menunduk bukan karena takut. Lantaran menahan malu melihat aset berharga milik Orlando. Terus terang, ia baru pertama kali melihatnya. Namun, gadis itu harus menutupinya dengan rapat.
"Jawab!!" teriak Orlando sedikit keras hingga suaranya berdengung merusak telinga Keysara.
Tidak ada perubahan dari gadis itu. Keysara mendongak ke atas menatap tajam seperti singa betina yang ingin menyantap buruannya. Sudut bibir menyungging disertai dengan khas meremehkan.
Shitt, maki Orlando dalam hati sambil menggertakkan giginya. Tak lupa tangannya mengepal kuat karena merasa tak di hargai.
"Aku bukan orang yang berbelas kasihan, Keysara." Lelaki itu memberi peringatan di setiap kata yang keluar dari bibir seksi miliknya.
"Hal biasa, harusnya tak masalah," ucap Keysara enteng. Mereka hidup di negara bebas. Tentunya melihat bagian pribadi adalah lumrah. Kenapa lelaki itu membesar - besarkannya?
__ADS_1
Jangan - jangan….
Keysara tertawa terbahak - bahak sambil menutup mulutnya. Ia tidak menyangka bahwa Orlando adalah lelaki yang masih suci. Belum terjamah oleh kaum yang namanya wanita.
"Kau masih perjaka?" tanya Keysara sambil menunjuk ke arah Orlando sembari menahan tawa.
Mata Orlando membulat sempurna. Ia merasa dipermainkan oleh Keysara. Tubuhnya mendadak kaku. Label perkasa tentu akan dipertanyakan karena tebakan gadis itu benar adanya.
"Tebakan aku benar 'kan. Aku akan tutup mulut. Asal kau membebaskanku."
Orlando langsung berdiri menghampiri Keysara karena berani bernegosiasi dengannya. Mungkin, dirinya terlalu lembut pada gadis itu.
Alis Keysara terangkat mencoba menerka tindakan yang akan dilakukan oleh Orlando. Merasa dalam keadaan yang kurang menguntungkan, ia langsung berdiri dengan sigap mencoba melarikan diri.
"Kau tak bisa kabur."
Keysara berjalan menuju pintu kamar. Ia membuka handle pintu namun tak kunjung terbuka.
Bajinga* tengik. Dia mengunci kamarnya.
Orlando menyentuh pundak gadis itu hingga tersentak. Keysara menegang lalu melepas kasar sentuhan itu. Dengan cepat, ia berbalik arah memutari tubuh Orlando lalu mendorongnya hingga menempel sempurna di pintu. Kedua tangannya dilipat kebelakang. Kuncian yang dilakukan mendadak membuat lelaki itu memekik tertahan.
"Tak akan. Dimana barang - barangku?"
Senyum tipis tercetak jelas di bibir Orlando. Ia mulai melemahkan rontaanya agar Keysara merasa menang. Setelah sedikit kendur, lelaki itu mendorong kuat tubuhnya ke belakang hingga gadis itu tersungkur di lantai.
"Kau!!" teriak Keysara sedikit murka. Kesempatan itu digunakan oleh Orlando untuk menerkam Keysara secepatnya. Ia langsung menindih gadis itu lalu menyangga kedua tangannya. Posisi yang sangat intim.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku?" teriak Keysara sambil menggeliat ke sana kemari seperti cacing kepanasan. Akibat gerakkan yang menimbulkan gesekan inti bagian tengah milih Orlando, lelaki itu mengerang tertahan.
"Aku bisa saja menerkammu sekarang juga. Patuhlah...." Ucapan dingin nan menusuk tak memberi pilihan bagi Keysara. Ia merasa terintimidasi dengan suasana yang alaminya saat ini.
"Pintar, aku suka kucing pintar."
Cih, enak saja. Aku bukan peliharaannya.
Tiba - tiba, Orlando mengangkat tubuh Keysara lalu membantingnya ke ranjang. Gadis itu langsung bangkit melayangkan pukulan. Namun, Orlando menghindar. Dengan sigap, ia bangkit dari ranjang mengambil posisi kuda - kuda siap untuk menyerang.
__ADS_1
"Menarik," gumam Orlando.
Sorot mata tajam seperti elang itu mengawasi tubuh Orlando. Gadis itu memasang wajah waspada.
"Kau tak akan bisa mengalahkanku," ujar Orlando sombong.
Bibir berwarna kemerahan seksi itu menyunggingkan senyum.
"Belum di coba. Aku tak akan menyerah."
Dengan cepat, Keysara melayangkan kakinya ke arah Orlando. Lelaki itu menangkis dengan tangannya. Gadis itu langsung memukul wajahnya namun lagi - lagi gagal. Berulang kali di lakukannya tak ada hasil yang memuaskan hingga dirinya kelelahan.
"Menyerah," ejek Orlando.
Keringat yang menetes di dahi tak lepas dari pandangan Orlando. Tanpa di sadari, air liur lelaki itu menetes.
Kenapa dia terlihat seksi dan menggoda? batin Orlando
Keysara menghela nafas panjang. Matanya sudah berat. Ia menatap lapar ranjang yang ada di sampingnya. Tubuhnya di lempar ke sana dengan cepat. Orlando hanya melongo sempurna menatap tindakan Keysara.
"Hei, kau tidur." Tak ada jawaban. Yang ada hanya dengkuran halus pertanda sang manusia itu sudah masuk ke dunia mimpi.
"Kurang waspada. Kau perlu dididik agar tidak tidur di sembarang tempat.
Orlando hanya menghela nafas kasar membenarkan posisi tidur Keysara yang terkesan kurang elit. Ia menatap lembut gadis itu lalu tidur di di sampingnya sambil memeluk dengan posesif.
"Kau membuatku tergila - gila, Keysara. Aku tak akan melepaskanmu," ucap Orlando sambil menghirup aroma tubuh Keysara yang sudah menjadi candunya.
Orlando sangat senang karena bertemu dengan Keysara. Ia yakin, gadis itu mampu membuatnya keluar dari garis kesialan yang telah didapatnya. Garis yang ditakdirkan sebagai pewaris tahta keluarga Golden yang gelap.
"You are my angel," gumam Orlando sembari menutup kedua bola matanya.
Sementara itu, Dion masih gelisah karena memikirkan Keysara. Ia tak ingin gadis itu masuk ke dalam lingkaran Golden.
"Apa aku harus menghubungi Kellano," ucap Dion sambil menatap ponselnya berulang kali.
Dion menatap langit kamar sambil mengingat kenangan saat bersama keluarga besar Barren. Ia kemudian mengambil ponselnya kembali menulis pesan yang ditujukan kepada seseorang.
__ADS_1
"Semoga, dia cepat datang," ucap Dion sambil menaruh ponsel di nakas lalu menutup bola matanya perlahan.