Dangerous Mafia

Dangerous Mafia
DM 36: Melumpuhkan


__ADS_3

Masih dalam posisi yang menegangkan saat posisi Bryan terancam dibawah kendali Orlando. Pria itu terlihat santai dengan situasi saat ini. Mungkin, hidupnya sudah tidak berarti. Tujuannya adalah menghancurkan keluarga Golden sampai ke akarnya. Berkorban sedikit tidaklah masalah. Jika dia mati hari ini. Maka, itu sebuah bentuk pengorbanan dari apa yang dilakukannya.


Mengingat semua itu, sungguh miris hidupnya, membuat Bryan tidak pernah bahagia sedikitpun. Kebencian yang dipupuk terlalu dalam sehingga ia rela bertindak ekstrim. Baginya, hidupnya tidak berarti sama sekali. 


Dendam, bisa membuat pria cantik itu bertahan sampai sekarang. Andai saja ia tidak dipungut oleh seseorang. Pastinya, hanya nama yang tertera di batu nisan sejak bayi. 


Keluarga Smith adalah salah satu keluarga tersohor yang sudah dibantai habis oleh mafia Dragon. Sebagai bentuk pengabdian Bryan, ia menggunakan nama keluarga itu untuk mengendalikan tahta Smith. Walaupun ia bukan dari pewaris sah. Para tetua memberi kepercayaan penuh padanya sebelum meninggal. 


"Pengecut," ejek Bryan dengan semirik kas memprovokasi Orlando. Namun, pria itu tidak bergeming dan tetap menodong pistol ke arah pelipisnya. 


Anastasya merasa ada yang tidak beres dari arah depan. Insting gadis itu terlalu tajam. "Berlindung!!" teriaknya dengan keras. 


Granat kecil dilempar ke arah mereka. Semuanya lari mencari perlindungan. Orlando menyeret Bryan menjauh dari sana. Ketikan benda berbentuk seperti telur itu menyentuh lantai, ledakan yang tidak besar tapi sukses membuat ruangan itu berantaran terjadi. Tidak ada korban jiwa. Namun, cukup membuat pemilik markas rugi besar. 


"F*ck!! Siapa yang melempar granat? Dia ingin kita mati!!" teriak Orlando menggema di samping telinga Bryan membuat telinga pria itu sedikit berdengung. 


"Jangan teriak di depan telingaku, dasar brengs*k!" maki Bryan dengan cukup keras. 


Kabut yang masih menyelimuti bekas puing - puing yang berserakan masih belum hilang. Dia benci kalau ada yang mengusik dirinya. Bunyi batuk dari seseorang yang dikenal membuat mereka mengerutkan dahi heran. 


"Itu adalah sambutanku," ucapnya sedikit berteriak. Kabut perlahan menghilang. Sosok yang berbicara tadi sudah terlihat jelas. Ya, siapa lagi kalau bukan si tua bangka dan para anteknya mencari sensasi di antara penerus kaum adam. 


"Keluarlah… kalian tidak menyambutku." Orlando ingin sekali menyumpal mulut orang tua itu dengan granat. Agar tidak selalu mengoceh. 


Dua hari yang lalu, tepat saat mereka berkumpul di mansion Bryan, mereka melakukan diskusi besar - besaran menyangkut tahta golden. Sebagai pewaris utama, Orlando menyerahkan kepemilikan kepada cucu Sandres yang lain. Namun, permintaannya ditolak oleh orang itu. 


Akhirnya, kesepakatan terjadi. Nama Bryan dan Dettian dimasukkan ke dalam keluarga asalkan Orlando mau menjadi penerus Golden. Pria itu tetap menolak. Tapi, karena ancaman dari Sandres ia mau menerimanya. 


Akses yang dimiliki keluarga Golden sangatlah luas. Menyandang nama kebesaran itu membuat Bryan dan Dettian bebas bergerak untuk mencapai tujuan mereka. Tapi, mereka tidak tahu bahwa di belakang itu semua. Sandres selalu mengawasi kegiatan cucu - cucunya. 


"Sudah aku katakan. Sesama saudara dilarang keras untuk saling menodongkan pistol." Meskipun terlihat tua, tapi tidaklah terlihat bahwa ia sakit - sakitan. 


"Cih, bukan urusanmu. Kepar*t!" teriak Orlando. "Kau lupa, Lando. Bahwa ada sesuatu yang berharga di tanganku."


Orlando mati kutu dan tidak bergerak seperti patuh hidup. Ancaman itu sukses membuat Bryan diatas awan. "Kalian juga sama! Bawa mereka berdua ke mansionku!!" teriak Sandres dengan keras. 

__ADS_1


Ini gawat, jika orang tua itu bertindak sekarang. Mereka berdua tidak ada celah lagi untuk bebas. Yang dilakukan saat ini adalah melarikan diri. 


"Tembak!!! teriak Sandres dengan lantang. Bunyi tembakan menggema dari sisi depan dan belakang tepat mengenai lutut mereka berdua. 


"Sial!!" umpat mereka berulang kali. "Bawa keduanya!!" Kedua pria itu berusaha untuk tidak menutup mata lantaran tembakan bius tersebut. 


"Tidurlah dengan damai," ucap Sandres berdiri di hadapan mereka yang masih tegak lurus. Tangan pria itu menyentil dahi mereka hingga akhirnya pertahanan runtuh dan jatuh ke lantai. 


"Masukkan mereka ke mobil," perintahnya pada Leon." Dan kau, Robert. Cari Mike bawa dia pulang ke rumah." 


Sandres berbalik arah kemudian berhenti menatap Anastasya. "Kembalilah ke rumah ibumu. Dia pasti merindukanmu. Aku akan mengundangnya ke mansion. Kita makan malam bersama." Tangan pria itu mengelus rambut Anastasya. "Kakek…," ucapnya sambil berpelukan manja. 


Hanya Anastasya yang selalu bersikap seperti ini tanpa pandang buluh. Dari kecil, kasih sayangnya kepada gadis itu tidaklah luntur. "Kau bisa menginap di mansionku. Karena ada Keysara di sana." Bola mata gadis itu membulat. "Kakek benar - benar menuruti keinginanku."


Anastasya sangat senang mendengar hal itu. Ia tersenyum sepanjang perjalanan menuju mobil. Bahkan, bernyanyi dengan riang. Sandres hanya melihat tingkah lakunya dengan senyum. 


"Kau suka dengan pemuda Beltran itu," celutuk Sandres tiba - tiba membuatnya salah tingkah. Ya, sebenarnya itu juga tujuan dari Anastasya membantu Keysara sekuat tenaga. 


"Aku tahu semua tentangmu, Ana." Muka gadis itu memerah seperti tomat. "Meskipun pemuda itu tidak layak. Dan harus di uju coba." Nyut, baru saja dia terbang ke atas awan. Sedetik kemudian sudah jatuh ke tanah dengan keras. 


Mansion Utama Golden


Tidak banyak yang dilakukan Keysara semenjak ia bangun. Seperti sekarang, bermalas - malasan sambil menikmati manisnya teh. Gadis itu menatap hamparan bunga yang di tanam di samping mansion. Ia kemudian beralih menatap awan dengan banyak warna biru dilangit. 


Suasana hatinya tenang tapi entah kenapa ada hal yang kurang. Mungkinkah ia sudah mulai mencintai Orlando? Gadis itu tidak tahu, dari awal ada yang salah dengan hatinya. 


Tepukan bahu dari seseorang menyadarkan Keysara. Gadis itu menoleh ke belakang tersenyum masam. "Cih, pengganggu." 


Pria itu tersenyum lembut lalu duduk disamping Keysara. "Hidupku yang ceria akan berakhir sebentar lagi." 


Keysara memutar bola matanya jengah lantaran perkataan itu terus berulang - ulang. Ia tentu bosan mendengarnya. 


"Daniel… Sayang….!" Suara itu jelas sekali di dengar oleh Daniel. Dia terlihat sangat gelisah. Keysara tersenyum puas. 


"Temui dia. Sudah lama kan kau tidak bertemu dengannya. Bukankah kau kesini untuk bertemu denganya."

__ADS_1


Tidak sepenuhnya benar. Daniel datang ke Negara Perancis untuk bisnis. Kebetulan saja tepatnya di Lyon. 


Suara langkah kaki terdengar jelas di telinga mereka berdua. "Daniel…!!" teriaknya dari ujung pintu. 


"Dasar anak durhaka! Mom sudah bilang kalau datang harus temui Mom dulu." Daniel kikuk tidak bergerak diam mematung. 


"Kenapa diam? Merasa bersalah?" Dialog bahasa Indonesia nyaring terdengar jelas di telinga Keysara. 


"Grandma… jangan berteriak," ucap Keysara sambil menoleh tanpa rasa bersalah. Wanita itu mengepalkan tangan kuat lantaran ucapan 'grandma' 


Dia jelas tidak menyukai kata itu. Benar - benar terlihat kuno. "Sepertinya, kau perlu diajari, Key. Aku sudah bilang berulang kali. Sebut Sky saja. Jangan ada embel - embel grandma."


"Mom!!" teriak Daniel dengan keras sehingga membuat wanita itu tersentak. "Jangan berteriak juga di rumah orang. Bikin malu!" 


Ya perdebatan kecil anak dan ibu yang membuat Keysara terkekeh geli. Sampai akhirnya deheman dari seseorang membuat mata mereka mengarah padanya. 


"Tuan sudah menunggu Anda, Nyonya." Wanita itu menghela nafas panjang. "Kalian ikut," perintahnya sambil berlalu."


Mereka berdua bangkit lalu mengikutinya dari belakang menuju ke ruang tamu. Terlihat bahwa orang tua itu duduk dan sedikit terkejut melihat kedatangan wanita itu. 


"Anda…, " ucap Sandres tidak percaya melihat penampilan wanita itu. Pria tua tersebut mengira bahwa ibu dari Daniel adalah wanita yang sedikit lebih tua. Nyatanya, dia sangat muda. Bahkan kalau dilihat seperti seumuran dengan putranya. Tampilannya yang tidak kalah modis pasti membuat semua orang salah mengira. 


"Silahkan duduk. Dan kalian juga." Sandres mengangkat tangan memberi isyarat kepada bawahannya. Ia kemudian tersenyum menatap wanita itu. 


"Nyonya Skylova selamat datang di Mansion Golden. Senang berkenalan dengan Anda." Sandres mengawali pembicaraannya dengan sejuta senyuman. 


"Si tua bangka tersenyum penuh siasat, Daniel. Aku enggak betah liatnya. Bikin mata sakit." Inilah Skylova dengan bahasa khas Indonesianya.


"Mom…, jaga ucapanmu. Lebih sopanlah sedikit. Kita di Negara orang." Daniel mendengus kesal lantaran sikap bar - bar Skylova.


Sandres mengernyitkan dahi keheranan karena tidak mengerti sama sekali tentang bahasa itu. "Apakah Anda merasa kurang nyaman?" tanya Sandres sambil menatapnya.


Skylova menyilangkan kakinya dengan elegan. "Dengar, Tuan Golden. Aku tidak ingin berbasa basi tidak jelas. Pertama, aku jangan memasang wajah topeng. Kedua, jelaskan tujuanmu mengundangku ke mari. Ke tiga, aku ingin putraku pindah dari tempat ini."


Sandres tertawa keras mendengar ucapan Skylova. Wanita itu tidak kenal takut akan dirinya. Okay, bisa dilanjutkan." Baiklah, aku juga tidak akan formal kepadamu. Aku ingin kau mengawasi ketiga cucuku di bawah naunganmu. Jika mereka bersalah, kau bisa menghukumnya."

__ADS_1


Keysara menganga tidak percaya mendengar perkataan Sandres yang tanpa segan meminta bantuan oada orang baru. "Apa jawabmu, Nyonya Skylova?" tanya pria tua itu dengan santai


__ADS_2