Dangerous Mafia

Dangerous Mafia
DM 2: Kucing kecil


__ADS_3

Sementara itu, di belahan bumi lain. Kaylo tak henti - hentinya mengumpat. Matahari penerang hidupnya memilih pergi. Tentu ia sangat murka merasa gagal menjadi sosok seorang ayah. Kellano yang melihat itu hanya menghela nafas sepanjang pengumpatan lelaki yang sudah beranjak tua itu. 


"Sudahlah…, Daddy. Jangan risau. Aku pusing." 


Kaylo duduk dengan kasar. "Kau sudah melacak ponselnya 'kan…?" 


Kellano mengangguk, "Dia ada di Paris. Aku akan menyusulnya."


"Ini semua salahku. Andai saja aku tidak mengikuti Max siala* itu. Pasti Keysara tidak akan pergi. Daddy terasa tercekik kalau tidak ada dia, Son."


Benar, semenjak Angel meninggal, Keysara menjadi penerang bagi Kaylo. Berkat gadis kecilnya yang sudah beranjak dewasa itu ia bisa naik merangkak mencari celah cahaya. 


"Aku sangat menyayanginya," gumam Kaylo lirih. 


Wajah Keysara sangat mirip dengan Angel. Meskipun warna matanya berbeda. Tidak dapat dipungkiri sosok Keysara mampu membawa ketenangan dalam hidup lelaki itu.


Kellano tahu betul betapa pentingnya saudari kembarnya. Ia merasa bersalah karena membantu melarikan diri.


Flashback On


Kedua orang yang tengah duduk di gazebo sambil menikmati pemandangan luar tak luput dari perhatian Kellano. Ia segera menghampiri mereka berdua. 


"Sedang bersantai?" tanya Kellano sambil duduk. 


"Ya…, Daddy ingin bicara pada Keysara."


"Katakan, Dad." Kellano tentu penasaran apa yang akan disampaikan oleh ayahnya. Sedangkan gadis itu hanya diam acuh tak menanggapi. 


"Keysara akan Daddy jodohkan dengan anak Uncle Max."


Perkataan Kaylo mampu membuat keduanya bungkam. Keysara langsung menjatuhkan ponselnya. Ia menatap ke arah Kaylo tanpa berkedip. 


"Kau mau 'kan, Sayang?" 


Gadis itu hanya diam tidak menjawab pertanyaan Kaylo. Jika ia membantah tentu ayahnya tidak akan bahagia. Namun, jika menerimanya ia juga tidak akan bahagia. Mengingat Alken yang sama persis tingkahnya dengan Max membuatnya ragu akan perjodohan itu.


Kellano menatap Kaylo dan Keysara secara bergantian. Keadaan canggung pun tercetak jelas di antara mereka. Gadis itu hanya tersenyum lalu beranjak pergi meninggalkan gazebo begitu saja. 


"Sayang…, Daddy belum selesai bicara!" teriak Kaylo menggema. 


"Sebaiknya, urungkan niat itu, Dad. Kesyara tidak akan setuju." 


"Tapi, Daddy sudah tidak muda lagi, Boy. Daddy ingin melihat anak - anak Daddy menikah. Termasuk dirimu," ujar Kaylo parau. 


"Kami sayang Daddy. Aku akan coba membicarakan hal ini kepada Keysara."


Raut ketengan sudah nampak di wajah Kaylo. Ia merasa senang sekarang. Kellano pun pamit untuk pergi membujuk Keysara. Lelaki itu menuju kamar si gadis dengan helaan panjang. 


"Aku tahu kau di dalam." 


"Masuklah…," jawab Keysara. 


Kellano terkejut saat Keysara memasukkan semua barangnya ke koper. 


"Apa yang kau lakukan, Sister?" 


"Kau bisa lihat," jawab Keysara acuh. 


"Kita bicarakan ini baik - baik. Daddy pasti tak akan marah."


"Aku tak ingin menyakitinya jika menolak permintaan Daddy. Aku sayang padanya." Gadis itu sedikit tertunduk. Meskipun bersifat acuh dan dingin. Tapi, jika mengenalnya lebih dekat sifatnya sangat ramah dan hangat. Kedok dinginnya hanya sebuah tameng untuk melindungi diri. Karena Keysara pintar menutupi perasaannya. 

__ADS_1


"Kenapa tidak jujur. Jika kau pergi, Daddy akan terpukul."


Gadis itu menggeleng, "Aku pergi karena ingin berpetualang. Lagi pula, karirku sebagai model juga sudah redup. Butuh uang untuk membuka bisnis. Aku ingin lepas dari belenggu Daddy."


Keysara mempunyai keinginan untuk membuat butik sendiri. Dan ia akan berusaha mencari uang di luar sana. Dengan adanya alasan ini. Pasti, Kaylo akan mengerti. Secara tidak langsung. Ia memanfaatkan kondisinya untuk lepas dari Kaylo. 


Flashback Of


Lamunan Kellano dibuyarkan oleh Kaylo. Lelaki itu tersentak kaget saat bahunya disentuh oleh sang ayah. 


"Jangan melamun. Cari cara agar matahariku kembali." 


"Tenang saja, Dad. Keysara akan kembali. Tapi tidak sekarang. Berikan dia waktu. Aku akan ke Paris seminggu lagi."


"Andai saja gadis itu mau menolak. Aku Daddy tidak keberatan membatalkannya."


"Lebih baik, sekarang Daddy istirahat. Jangan terlalu dipikirkan. Keysara bukan gadis yang lemah."


Sementara itu di Mansion Golden tampak seorang gadis tengah menatap bintang yang berkelap kelip di langit. Ia mengusap perutnya yang tengah lapar. Sejenak, gadis itu berbalik arah menuju pintu keluar. 


Tiba - tiba, seseorang masuk begitu saja. Sontak gadis itu langsung berhenti menatap orang asing itu. 


"Siapa kau?" tanyanya penuh penasaran. 


"Tenanglah, Nona. Saya di sini hanya ingin memberikan tugas untukmu besok."


"Aku ingin pergi dari sini," ucapnya dinging.


"Nona Keysara tidak bisa pergi karena harus membayar hutang."


Keysara masih bingung. Perasaan ia tidak punya hutang. Lantas, hutang apa yang dimaksud. 


"Saya akan menjelaskannya. Anda membawa kerugian terbesar sepanjang abad karena berhasil membuat para pasukan dragon kalah. Karena Anda banyak anggota yang mati hari ini."


"Aku tidak tahu apa yang kau maksud? Berikan identitasku beserta uangku."


"Maaf, saya tidak bisa melakukannya. Anda harus di sini."


Jika saja energinya tidak lemah sekarang. Pasti orang yang bernama Mike sudah dipukuli habis - habis. Namun, karena kepalanya sangat pusing. Ia tidak bisa melakukan hal itu sekarang. Keysara tanpa sadar memijat kepalanya. Matanya berkunang - kunang hendak limbung lagi. Dengan sigap, Mike menangkapnya. 


"Anda baik - baik saja." Mike menatap lekat Keysara sambil meneguk ludahnya dengan kepayahan. Ia bisa melihat leher putih yang sangat menggiurkan. Mata api hasrat pun menggelora. 


"Tutup matamu, siala*!"


Perintah sedikit teriakan itu menggema di seluruh ruangan. Gadis itu mendorong pelan Mike lalu berusaha menguasai dirinya. 


"Keluar, Mike!!"


Mike tidak menunggu lagi. Ia memilih keluar ruangan agar bisa selamat dari amukan singa iblis. 


"Kau baik - baik saja."


Tidak ada respon dari gadis itu. Keysara hanya menutup mata sambil memijat kepalanya. Sesaat kemudian, pelayan membawa troli makanan lalu masuk ke dalam ruangan. 


"Duduklah," titah Orlando lembut sambil menuntun ke pinggir ranjang. Tak ada penolakan dari gadis itu. Sang pelayan pun segera menghampiri lalu memilih pergi. 


"Aku tahu kau belum makan." Dengan sigap, Orlando menyuapi Keysara. Gadis itu hanya menurut saja untuk mencari aman. Mengingat orang di depannya sangat berkuasa. 


"Kucing pintar. Aku sangat menyukai kucing penurut."


Tangan Keysara mengepal kuat. Jika saja tenaganya full, ia akan mencakar habis lelaki di depannya. 

__ADS_1


Setelah semuanya makanan habis. Orlando masih belum beranjak dari ranjang. Ia menatap Keysara yang tengah memejamkan matanya. 


"Bukalah matamu." 


Menjengkelkan. Kenapa dia tidak kunjung pergi?


"Jika kau menolak. Akan aku pastikan semua keluargamu akan kuhabisi."


Ancaman itu mampu membuat Keysara menurut. Ia membuka bola matanya. 


"Mereka tidak ada hubungannya."


"Keluarga Barren memang berkuasa. Namun, di Jerman dan Indonesia. Bukan di Paris."


Sontak mata biru itu membulat sempurna. Sejauh itukah orang itu menyelidiki keluarganya. 


"Siapa kau?" 


"Kau tahu mafia Dragon? Akulah pemimpinnya. Orlando Golden"


Keysara tidak pernah mengenal dunia tentang kekerasan. Ia tubuh di dalam lingkup kenyamanan dan juga kasih sayang. Meskipun begitu, ia mendidik dirinya dengan keras. 


"Aku penduduk biasa."


Perkataan itu tidak dipungkiri oleh Orlando. Keysara memang penduduk biasa tanpa mengenal mafia. Namun, keluarga memiliki status tinggi. 


"Tapi, kau kerabat Maheswari. Tentu kau tahu siapa dia."


Keysara hanya membuang muka. Ia tidak ingin mengingat tentang Maheswari. Bukan berarti benci. Tapi, karena kasih sayang lelaki Bali itu yang telah dicurahkan kepadanya. Andai saja lelaki itu masih hidup. Tentu ia akan bahagia. 


Bagaimana kabarnya Daniel? Aku rindu padanya. 


Daniel Maheswari adalah putra dari Baitu Maheswari dan Skylova Mahendra. Lelaki berumur dua puluh tahun. Pintar, tampan dan menjadi pujaan kaum hawa. Dia menggeluti bidang entertainment berprofesi sebagai penyanyi. 


"Jangan melamun," ucap Orlando sambil mengusap pipi Keysara.


Gadis mengepalkan tangannya kuat sampai kuku jarinya memutih. "Jangan menyentuhku."


"Aku akan selalu menyentuhmu. Karena kau kucing kecilku. Dengar, Keysara. Kau tidak bisa lari dariku. Sejauh kau lari. Aku akan mengejarmu. Kerugian yang kau timbulkan sampai membuat uang di brankasku habis. Kau harus membayarnya sejumlah dua kali lipat. Itu artinya, kau harus bekerja seumur hidup."


"Kau…," geram Keysara. Bagaimana bisa ia membayarnya seumur hidup? Itu artinya selamanya ia akan berada di bawah kuasa lelaki itu. 


"Apa kesalahanku?" 


"Karena kau, Black Hole berhasil mencuri semua senjata yang telah aku beli dengan harga miliaran dolar."


"Aku tidak bersalah."


"Pesonamu yang salah. Pesonamu itu di manfaatkan oleh mereka untuk mengambil barang miliku."


"Apa?!"


Keysara bingung dibuatnya. Pesona seperti apa? Alasan yang tidak masuk akal, pikirnya.


"Alasanmu tidak masuk akal."


Orlando mengusap kasar wajahnya. Ia menatap lekat tubuh Keysara lalu mendekat. 


"Kau memancing gairah para pasukanku. Apakah kau tidak sadar? Lihatlah pakaiannmu."


Keysara langsung berdiri menatap dirinya di cermin yang tak jauh dari sana. Matanya membulat sempurna. Ia hanya memakai celana pendek dan juga kaos besar rumahan. 

__ADS_1


Siala*. Aku tidak sadar kalau memakai baju seperti ini. 


 


__ADS_2