Dangerous Mafia

Dangerous Mafia
DM 6: Kabur


__ADS_3

Jika manusia bisa memilih, mereka pasti ingin dilahirkan dengan lingkungan penuh kasih sayang serta kebahagian yang melimpah. Namun, lagi - lagi takdir itu tidak bisa di ubah kalau sudah menjadi ketetapan sang kuasa. 


❤️❤️❤️❤️


Suara burung mulai bersahutan satu sama lain. Pertanda mentari akan bekerja untuk memberi penerangan. Seorang lelaki tersenyum simpul penuh dengan energi lantaran tidurnya malam ini nyaman dan tak terganggu sama sekali. 


Mimpi yang selalu menghantuinya selama sepuluh tahun terakhir sudah lenyap. Padahal, ia selalu dirundung gelisah saat akan tidur. Namun, tadi malam dengan pulasnya dirinya bisa tidur nyenyak. Semua berkat kehadiran gadis yang tengah tidur di sampingnya. 


Tangan kekar miliknya terulur untuk melihat wajah gadis itu. Wajah rupawan itu mendekat untuk mencium kening sang gadis. Ia kemudian bangkit dari ranjang menuju kamar mandi. Dilaksakannya aktivitas itu selama lima belas menit. 


Kali ini, lelaki itu keluar dengan menggunakan handuk. Ia langsung menuju kamar ganti dan mengambil asal baju gantinya.


"Aku akan memberi pelajaran pada penghianat itu," gumamnya sambil memakai baju secepat kilat. Sesudah selesai, lelaki itu keluar dari ruangan. Namun sebelum itu, ia berhenti untuk menatap si gadis dari jauh. 


"Kucing kecil," ucapnya lirih lalu keluar kamar. Lelaki yang tak lain adalah Orlando berjalan menuruni tangga hendak keluar rumah. Ia terus melangkahkan kakinya ke belakang rumah menuju hutan. Di bukanya gerbang oleh pengawal sambil membungkuk menyambutnya. 


Suasana yang masih berkabut dan belum tampak cahaya yang menerangi hutan itu membuat siapa saja berfikir horor. Sejenak, lelaki itu berhenti menatap langit yang masih berbintang. 


"Sebelum matahari muncul. Aku harus menyelesaikannya," ucap Orlando sambil menyeringai devil. Sampailah kaki itu di depan rumah yang tak terawat. Ia masuk mengambil belati dan juga cambuk kuda yang tak jauh dari pintu masuk. 


"Selamat pagi, Tuan," sapa Mike sambil membungkuk hormat.


Orlando hanya diam tak berekspresi. Ia terus berjalan menuju sebuah ruangan. Tanpa perintah, Mike membuka pintu itu. Di lihatnya seorang lelaki yang tengah terlentang di tembok dengan kedua tangan dan kakinya di rantai. 


"Bangunkan dia, Mike."


Mike mengambil air lalu mengguyur lelaki itu hingga gelagapan sampai bangun. Mata itu terbuka seketika meronta - ronta. 


"Tu… Tuan," ucapnya dengan bibir bergetar. Tubuhnya langsung menegang hebat lantaran melihat alat yang ada di tangan Orlando. 

__ADS_1


Tanpa basi - basi, Orlando mengayunkan cambuk ke tubuh lelaki itu berulang kali. Teriakan dan bunyi cambukan menjadi satu menggema di seluruh ruangan. Semua orang seakan tuli mendengar auman kesakitan itu. Mike hanya diam tak ingin melihat adegan mengerikan yang sedang live saat ini. 


"Aaaaahgg…, Tuan… ampuni saya." Orlando membuang cambuk itu dengan kasar. Jangan lupa, ekspresi dingin yang terlihat dari wajahnya. 


"Penghianat, pantas mati."


Tidak ada pilihan lain karena lelaki itu sudah mengambil keputusan yang salah. Menyesal pun tiada guna. Ia hanya meratap penuh pilu. Goresan bekas cambukan pun tercetak jelas di sana. Darah merah yang merembes di kemeja putihnya menjadi saksi atas tindakan Orlando. 


Lelaki itu berjalan mendekati lalu menancapkan pisau di paha kanan orang itu. Dia hanya berteriak nyaring sambil meminta untuk dibunu*. Namun, Orlando hanya menanggapi dengan senyum semiriknya. Tidak hanya itu, pisau yang sudah menancap itu diputar 360° berulang kali hingga membuat korban pingsan karena kesakitan. 


Mike hanya menatap nanar kosong. Penyiksaan yang menyakitkan lebih kejam dari pembunuhan. 


"Kau gantung dia di atas kolam buaya." Ucapan Orlando tidak bisa dibantah. Mike hanya mengangguk saja dengan perintah sang iblis itu. 


Orlando keluar ruangan menuju kamar mandi yang ada di sebelahnya. Ia harus mandi lagi untuk menyingkirkan bau anyir darah yang melekat di tangannya. Sesekali, ia tersenyum lantaran hasil karya yang telah dilakukan. Gila memang, namun itu adalah kesenangan yang tiada tara. Menyiksa sebelum membunuh. 


"Ughhh…, aku rindu bau harum kucing kecilku."


Sementara itu, Keysara bangun karena silaunya mentari yang mulai masuk ke dalam ruangan. Ia mengerjapkan mata perlahan menatap langit kamar. Bola matanya membulat sempurna kala mengingat kejadian tadi malam. Gadis itu langsung bangkit menatap diri di cermin. 


Kelegaan dari wajahnya pun terlihat saat pakaiannya masih utuh. Gadis itu menengok kesana kemari mencari Orlando. Merasa aman, ia langsung menuju kamar mandi. Secepat kilat dirinya membersihkan diri. 


"Segarnya…, Keysara, kau harus keluar dari kamar ini," ucapnya dengan semangat tinggi.


Keysara mengencangkan jubah mandinya menuju ke balkon. Kedua tangan direntangkan guna menghirup udara pagi. Matanya membulat sempurna saat di sekeliling mansion hanya ada hutan. 


"Tak apa. Aku masih punya seribu cara. Sekarang, aku harus mencari ponsel dan identitasku." Keysara melihat balkon lain yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia kemudian meloncat ke balkon itu dengan sempurna. Gadis itu berjalan menuju jendela lalu menggesernya dari luar. Setelah itu masuk tanpa halangan apa pun. 


Sebuah ruangan dengan gaya Eropa dengan berbagai fitur koleksi lukisan di berbagai negara. Di tambah dengan guci - guci berharga. Di samping kanan ada rak foto. Bisa dipastikan itu adalah foto keluarga. 

__ADS_1


Mata gadis itu pun tertuju pada satu titik. Koper berwarna coklat miliknya. Ia langsung berlari kemudian membuka koper itu. Keysara bernafas lega karena berkas identitasnya masih ada di sana. Diambilnya kaos berwarna putih, topi dan juga celana jins. Secepat kilat ia berganti pakaian. 


Setelah usai, Keysara memasukan identitasnya ke dalam saku miliknya. Tak lupa mengambil jaket hoodie lalu berjalan menuju laci. Dibukanya semua laci namun benda pipih yang di cari nihil. Pandangannya jatuh ke dalam sebuah kotak berwarna ungu di atas meja. Karena penasaran, ia langsung membuka kotak itu. 


"Tuhan masih berpihak padaku," gumam Keysara sambil menyalakan ponselnya lalu menghubungi seseorang. 


"Halo, Key. Aku senang kau menghubungiku. Kenapa kau tidak mengangkat ponselmu."


"Aku tak bisa bicara banyak. Intinya, aku mencari cara untuk keluar dari sini."


"Tenang, aku akan menjemputmu. Dion sudah memberitahuku. Bertahanlah, Key."


Tiba - tiba, terdengar suara langkah kaki beberapa orang yang sedang buru - buru. 


"Dengar, Kel. Aku tak bisa lama - lama. Ponsel sementara aku matikan. Kau harus segera menemukanku."


Keysara langsung menutup ponselnya. Ia menggulung rambut kemudian menutup kepala dengan jaket hoodie miliknya. Gadis itu berjalan menuju balkon. Nampak banyak orang meningkatkan kewaspadaannya. 


"Cari dia sampai ketemu!" teriak seseorang. Keysara tahu kalau yang sedang berteriak adalah Orlando. Terbesit di otaknya untuk bersembunyi dengan di atas pohon. Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu langsung meraih ranting yang kuat guna menopang berat badannya. 


"Sial," umpat Keysara kesal. Andai saja malam hari pasti akan lebih leluasa. Nyatanya, ini adalah pagi hari. Jika kabur di pagi hari pasti akan mudah ditemukan. 


"Perseta*." Gadis itu tak akan menyerah begitu saja. Sifat keras kepala dan pantang menyerah telah mendarah daging. 


"Mom, lindungi aku." Keysara menatap sekeliling sambil bertengger manis di atas pohon. Merasa aman, ia turun ke bawah, nampak dua pengawal yang di pukulnya tadi malam baru bangun. Gadis itu menyelinap ke semak - semak. 


"Sepertinya, kita diperdaya. Kegaduhan apa lagi ini," ucap salah satu pengawal. Pengawal satunya mengangguk.


"Kenapa kalian berdiri saja? Cari Nona Keysara, pasti dia masih berada di sekitar mansion!" teriak Mike menggema di seluruh mansion. 

__ADS_1


Sedangkan Orlando sudah sedang memukuli beberapa anak buahnya hingga terkapar. Emosinya memuncak kala Keysara tidak ada di mansion. Lelaki itu bahkan memporak porandakan semua ruangan. Ia semakin menjadi - jadi saat tahu kalau ponsel beserta identitas gadis itu raib 


__ADS_2