
Jangan pergi dariku. Aku tak sanggup bila harus hidup tanpamu. Hanya kau yang mampu membuat aku keluar dari lembah terkutuk ini.
Orlando Golden
❤️❤️❤️❤️
Orlando masih setia menemani Keysara yang tengah tidur di ranjang miliknya. Bahkan, ia sendiri telah mengganti semua baju kotor yang melekat di tubuh gadis itu. Sesekali, ia mengecup bibir manis yang sudah menjadi candunya.
Dua jam berlalu, kucing kecil yang biasa berubah menjadi singa betina belum ada tanda - tanda membuka kedua matanya. Semua gerak - gerik Orlando tak luput dari Anastasya. Jujur saja, ia jengah melihat tingkah lelaki itu.
"Sampai kapan kau akan terus di sini? Aku sudah muak melihat wajahmu itu. Lebih baik, kau pergi ke kantor. Urusi perusahaanmu."
Orlando hanya diam seakan tuli tanpa menggubris ucapan Anastasya. Gadis itu tentu jengkel karena tidak berhasil mengusir si muka datar itu.
"Jika kau ingin dia di sisimu. Beri kelonggaran untuknya. Setidaknya buat kesepakatan untuk tetap berhubungan dengan keluarganya."
Kali ini, Orlando menoleh karena mendengar kata 'kesepakatan'. Ia jadi berpikir mengenai kontrak kerja. Lelaki itu mengambil ponsel di nakas lalu mengetik sesuatu yang ditujukan kepada seseorang.
Tiba - tiba, mata Keysara perlahan terbuka. Ia mengedarkan seluruh pandangannya. Mata cantik itu membulat sempurna kala melihat Orlando sedang duduk di tepi ranjang dengan bermain ponsel. Gadis itu langsung duduk dengan cepat.
Pergerakan yang dilakukan Keysara tentu membuat Orlando beralih kepadanya. Ia tersenyum lembut menatap gadis itu. Sedangkan Keysara hanya mengernyitkan dahi keheranan.
Aku belum mati, batin Keysara
"Kau sudah sadar?" tanya Anastasya sambil mendekat ke arah ranjang. "Aku Anastasya, panggil Ana," ujarnya penuh ceria.
"Kenapa kau tak membunuhku?" tanya Keysara pada Orlando. Lelaki itu tersenyum kecut menatap manik biru Keysara.
"Kau tak akan mati. Kalau pun mati. Harus tetap di sisiku. Karena kau milikku," ucap Orlando penuh penekanan."
Anastasya langsung berteriak, "Kau gila! Aku sudah bilang. Bersikaplah manis."
"Diam, Ana!!" teriak Orlando menggema sambil mengusap rambutnya kasar. Ia memegang kedua bahu Keysara. "Jangan kau lagi pergi. Aku akan meratakan semua keluarga Barren sampai akarnya. Termasuk semua yang berhubungan denganmu. Ingat itu, Keysara."
Ucapan lelaki itu penuh penekanan dan intimidasi yang sempurna. Keysara hanya mengangguk tak berani mengeluarkan sepatah kata satu pun. Tenggorokannya tercekat. Bahkan, lidahnya juga kelu.
"Bagus, aku suka kucing penurut. Mulai saat ini, Anastasya yang akan menjagamu. Dan untuk ponsel sekaligus identitasmu masih aku sita." Orlando bangkit dari ranjang lalu pergi meninggalkan keduanya sendirian. Setelah lelaki itu benar - benar hilang di balik pintu. Anastasya langsung duduk di samping Keysara sambil memegang tangan kanannya.
"Dengar, kau turuti dulu kemauannya. Setelah dia lengah, kau boleh pergi."
__ADS_1
Sungguh Anastasya tidak mau gadis secantik Keysara masuk ke dalam keluarga besar Golden yang penuh dengan darah.
"Apakah masih ada kesempatan?" tanya Keysara lembut.
"Aku yang akan membantumu keluar dari sini."
Perkataan Anastasya seperti mantra yang membuat hati Keysara tenang.
"Namaku Keysara. Kita berteman." Anastasya mengangguk tanda setuju.
"Kau pasti lapar. Kita turun ke bawah untuk makan. Kebetulan aku juga lapar." Keysara tersenyum melihat tingkah Anastasya yang perhatian kepadanya. Padahal, ia baru saja kenal. Teman pertama di Paris sungguh menyenangkan.
Mereka berdua langsung beranjak dari ranjang menuju ke ruang makan. Di meja makan sudah tersedia berbagai menu seperti restoran elit.
"Wah… sepertinya, Lando sedang pesta. Ayo kita makan sampai puas," kata Anastasya sambil menuntun Keysara yang masih terlihat pucat.
Mereka berdua langsung menyantap makanan yang ada di meja. Orlando hanya melihat dari jauh lalu tersenyum melihat Keysara yang mudah akrab dengan Anastasya. Bahkan, keduanya terlihat seperti saudara.
"Tuan," sapa Mike. Orlando menoleh dingin karena kesenangannya di ganggu.
"Katakan, awas saja kalau tidak penting," ucap Orlando sambil melipat kedua tangan.
"Jangan setengah - setengah." Mike menganguk sedikit maju ke depan.
"Kali ini, mereka mengirim seorang wanita. Dia sangat tangguh. Untung kami sudah menangkapnya."
Raut wajah Orlando berubah. Ia tersenyum menyeringai seperti iblis. Dengan aura yang mencengkam, lelaki itu berjalan menuju keluar mansion. Mike hanya diam mengikuti dari belakang.
Keduanya masuk ke dalam mobil menuju markas di perbatasan hutan. Orlando tahu, bahwa markasnya akan menjadi buruan anggota Black Hole lantaran ada tambang emas di dekat markas itu.
Sejam kemudian, mereka sampai di tempat. Semua anggota hormat kepadanya. Wajah datar terpasang di sana. Perjalanan menuju ruang dimana gadis itu disekap menjadi sangat lama. Mike hanya mengeluarkan keringat dingin saja.
Saat pintu terbuka. Di lihat sosok gadis yang tengah melipat kedua tangannya dengan angkuh. Mata gadis itu berbinar cerah melihat Orlando yang tengah datang.
"Orlando, kau datang. Keluarkan aku dari sini," ucapnya manja. Lelaki itu tersenyum lembut menatap gadis itu.
"Berapa banyak orang yang kau hajar, Rebeca?" tanya Orlando sambil menghampiri gadis itu.
"Sepuluh orang. Mereka jahat karena menghalangiku masuk. Padahal, aku rindu padamu."
__ADS_1
Bagus sekali kalau Orlando percaya padaku.
Nikmati waktumu, jalan*
Orlando semakin tersenyum lebar lalu duduk di tepi ranjang. Sontak gadis itu langsung menghamburkan diri ke badan kekar milik sang lelaki. "Kau terlihat menawan, Lando," ucap Rebeca sambil mengelus dada bidang lelaki itu.
"Kau pasti haus," ucap Orlando sambil tersenyum licik. "Mike, berikan Rebeca minuman spesial plus yang ada di gudang." Orlando memberi kode kepada Mike untuk melaksanakan rencananya.
Mike mengangguk lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Ia paham betul gelegat sang tuan. "Dasar jalan*! Mau menggoda Tuan Lando. Tak akan mempan." Sepanjang jalan, lelaki itu mengumpat tak jelas. Ia masuk gudang mengambil anggur lalu memasukkan bubuk ke dalam botol itu.
Setelah pekerjaannya selesai, Mike bergegas menuju ruangan di mana mereka berada. Ia menghela nafas panjang melihat Rebeca bergelayut manja. Bahkan, berani menggoda Orlando.
"Kau sudah datang. Kemarilah…." Mike berjalan menuju ke arah mereka. Memberikan botol anggur kepada Orlando. "Keluarlah…, Mike. Aku akan bersenang - senang dengan Rebeca." Lelaki itu mengangguk hormat lalu pergi.
"Minumlah ini dulu," setelah itu aku akan menyiksamu, imbuhnya di dalam hati. Tanpa ada curiga sedikitpun, Rebeca langsung meneguk anggur itu.
"Aku tidak kuat minum sebotol anggur ini," ucap Rebeca mulai mabuk.
"Kau bisa menaruhnya di nakas." Orlando bangkit menjauh dan memilih duduk di sofa.
"Aku merasa panas. Kau panas apa tidak?" Rebeca mulai terlihat cemas karena kepanasan. Ia mulai menggeliat tidak nyaman. "Apa yang kau masukkan ke dalam minuman itu?" tanyanya sambil bergerak kesana kemari.
Orlando mengangkat bahu acuh. "Hanya sebotol anggur."
Bajinga* itu pasti memasukkan obat perangsang. Aku butuh pelepasan.
Rebeca mulai mendekat ke arah Orlando. Tiba - tiba saja, ada empat lelaki datang menyergap gadis itu.
"Lepaskan aku, brengse*." Gadis itu terus meronta. "Panas…, tolong bantu aku, Lando." Kesadarannya mulai menipis. Namun, ia mengontrol dirinya dengan baik.
Rebeca sudah tidak tahan. Birahinya sudah memuncak. Ia melihat ke empat pengawal dengan tatapan penuh nafsu.
"Lakukan!!" teriak Orlando. Rebeca yang masih setengah sadar meronta dengan sekuat tenaga. "Jangan dekati aku. Menjauh…, dasar terkutuk!! Dengan kasar, salah satu pengawal merobek baju Rebeca.
Orlando tersenyum puas lalu meminta Mike merekam adegan yang ada di ruangan itu. Ia berjalan menuju salah satu kamar lalu masuk ke dalam kamar mandi. Sungguh sangat jijik bersentuhan dengan gadis jalan* seperti Rebeca. Baginya, yang diijinkan untuk menyentuh lebih dalam adalah miliknya, Keysara seorang.
Tanpa pikir panjang, Orlando mengguyur badannya. Bahkan, baju yang dikenakan juga basah. Dengan kasar, ia melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya.
Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri, Orlando keluar kamar mandi lalu mengambil baju yang ada di ranjang. Ia kemudian tersenyum devil sambil memakai pakainya.
__ADS_1
"Waktunya bersenang - senang. Aku sudah tidak sabar melihat jalan* itu."