Dangerous Mafia

Dangerous Mafia
DM 30: Belas Kasih dan Cinta


__ADS_3

Setelah Dokter Xavier pergi, Bryan masih menunggu Keysara sambil menatapnya. Ia melihat berkas sampel darah yang ada di tangan. Penawar itu ternyata gagal, kondisi gadis itu bahkan menurun drastis. 


Tapi, bukankah ini yang diinginkan Bryan. Membunuh Keysara perlahan tapi pasti. Ia tidak perlu risau akan gadis itu. Ya, ini adalah pilihannya. 


Dengan kematian Keysara, pasti Orlando akan menangis darah dan memohon di kakinya. Namun, jika dipikir lagi, kenapa tidak ada kebahagian setelah melakukan ini? Apakah ini bentuk dari simpati? Bryan tidak mengerti sama sekali. Ia sudah membuang sisi manusianya untuk mencapai tahap ini. 


"Tuan," panggil Robert lirih. Bryan mengangkat tangan agar lelaki di sampingnya diam. 


"Maaf, Tuan. Tapi, bisakah kita tidak melibatkan orang yang tidak bersalah." Sejak kapan Robert jadi memiliki belas kasihan. Bryan menatap tajam lelaki itu. 


"Hatimu mulai melunak karena rubah itu, Robert." Bryan berdiri membenahi jasnya berjalan ke arah ranjang. "Dia sumber malapetaka dan harus disingkirkan." Tangan kekarnya mengelus surai hitam milik Keysara. 


Robert menatap iba Keysara. Ia tidak ingin gadis itu terlibat dalam pusaran keluarga Golden. "Tuan, identitas gadis ini tidak sederhana. Jika dia tiada, pasti keluarganya tidak tinggal diam." Lelaki itu berusaha menyakinkan Bryan. 


"Sehebat apapun keluarganya, aku bisa mengatasi." Bryan menjawab dengan santai. "Kau sudah memeriksa ponselnya?" 


Robert mengangguk, "Nona sepertinya mencari info tentang anda. Entah siapa yang telah membantunya. Di ponsel ini, tertulis nama Daniel, Tuan." 


Identitas Bryan sangat rahasia. Karena merupakan cucu dari si tua bangka Golden. Bisa dibilang cucu tidak sah yang sialnya hanya bisa memakai nama keluarga sang ibu. 


Tiba - tiba, ponsel Keysara bergetar. "Tuan, orang yang namanya Daniel menghubungi Nona Keysara."


"Angkat, aku ingin mendengar apa yang dikatakannya." 


Robert menekan tombol hijau lalu melospaker suara panggilan tersebut. 


"Kenapa lama sekali tidak kau angkat, Key? Aku beritahu, jangan berhubungan dengan orang bernama Bryan. Dia berbahaya, keluarga Maheswari tidak bisa membantu banyak. Karena pergerakanku dibatasi oleh dua keluarga." 


Hening tidak ada jawaban. 


"Sial, awas saja kalau kalian macam - macam dengan gadis itu. Akan aku buru sampai belahan dunia."


Sambungan terputus, Bryan tersenyum puas mendengar perkataan orang bernama Daniel itu. 


"Ternyata, Keysara mempunyai banyak pendukung." Bryan bersemirik devil sambil menatap Keysara. Entah apa yang direncanakan kali ini. Tirani terkuat tanpa belas kasihan merupakan lawan yang sepadan buat Orlando.

__ADS_1


Sementara itu, Orlando tengah berada di markas pusat duduk menyilangkan kakinya di depan Rebeca. Wanita itu masih hidup. Namun, tubuhnya mengenaskan. Darah tercecer di mana - mana.  


"Kapan kau akan buka suara, Reb?" Orlando berdiri di depan Rebeca sambil memegang pisau. "Kau setia sekali dengan majikanmu." Tangan lelaki itu bergerak menuju wajah Rebeca. Ia menggores pelan sepanjang lima belas centimeter. Wanita itu hanya diam sambil meringis. 


"Bunuh aku!" teriak Rebeca. Ia sungguh tidak tahan dengan siksaan yang di lakukan Orlando. Padahal, selama seminggu ia bisa bernafas lega. Berharap tuannya datang menolong. Namun, semua hanya mimpi belaka. 


"Kau terlalu setia. Aku tidak mengerti, apa yang dijanjikan olehnya sampai kau mau mati sia - sia." Dering ponsel mengganggu aktivitas Orlando. Ia berjalan keluar ruangan menatap ponsel itu lalu menekan tombol hijau. 


"Ada apa?" tanya Orlando dingin.


"Keysara tidak ada. Dia ikut denganmu 'kan? Katanya dia akan kerja." 


Orlando tahu suara siapa itu. Tapi tunggu, Keysara ikut kerja. 


"Sial," umpat Orlando menutup ponselnya. Ia berjalan menuju ke ruangan samping. "Mike!!" teriaknya. Mike gelagapan dan langsung berdiri. "Ya, Tuan." 


"Suruh orangmu untuk melacak ponsel Keysara. Sekarang!!" Mike langsung menghubungi seseorang untuk melacak ponsel Keysara. Tidak butuh waktu lama, suruhan Mike sudah menemukan keberadaan gadis itu. 


"Tuan," panggil Mike. "Katakan." Mike menelan gugup ludahnya. "Mansion Bryan." 


Mike membuka pintu mobil lalu bergegas masuk bersama Orlando. Mereka mengemudikan mobil dengan kecepatan diatas rata - rata. Mengingat jarak dari markas dan mansion milik Bryan cukup jauh. 


Ponsel Orlando berbunyi lagi. Kali ini, bukan nomor Dion. Melainkan nomor asing. Tanpa ragu - ragu, lelaki itu mengangkatnya. 


"Siapa?" tanya Orlando tanpa basa - basi. 


"Bagaimana kabarmu, Lando?"


Mata Orlando semakin berkilat merah. Disaat keadaannya tidak setabil. Orang tua itu malah menghubunginya. Dia si pembawa masalah dalam hidupnya. Dan yang lebih sialnya adalah kakek satu - satunya. 


"Jangan menghubungiku." Lando langsung mematikan ponselnya. Ia tidak ingin berurusan dengan tua bangka bau tanah itu. 


Ponsel Orlando berbunyi lagi. Ia melirik malas lalu menekan tombol hijau yang ada di layar. 


"Aku bilang jangan menggangguku!!" teriak Orlando. 

__ADS_1


"Hei, bajing*n. Kenapa teriak kepadaku?" 


Orlando mengusap wajahnya dengan kasar. 


"Katakan apa maumu!" 


"Pokoknya, kau harus menemukan saudariku. Aku punya firasat buruk."


Orlando memutuskan panggilan itu sepihak. Firasat saudara kembar tidak pernah salah. Tubuh lelaki itu semakin bergetar. Perasaan cemas semakin menghantuinya. Ia tidak tahan untuk merasakan sakit yang tidak terlihat itu. 


"Mike, cepatlah sedikit!!" teriak Orlando tidak sabaran. 


Mike semakin melajukan kendaraannya. Mereka pun sampai di mansion milik Bryan. Para penjaga langsung keluar memburu kendaraan itu. 


"Cepat keluar!!" teriak salah satu anak buah Bryan. Orlando dan Mike langsung keluar. Semua orang kaget melihat kedatangan mereka. 


"Suruh Tuanmu keluar!!" teriak Orlando keras hingga Bryan dan Robert mendengar mereka. Kedua orang itu melihat ke arah balkon kamar. 


"Tamu tidak diundang datang. Ternyata cepat sekali." Bryan berjalan keluar ruangan sambil berkata. "Kau harus menyelesaikan dengan cepat Dokter Xavier." 


Bryan berlalu begitu saja setelah berkata demikian. Suasana hatinya senang karena Orlando datang ke mansionnya. Situasi saat ini membuatnya semakin diatas awan karena berhasil membuat dia goyah. 


"Selamat datang, Lando." Bryan mendekat ke arah Orlando yang masih berdiri di depan mansion. 


"Mana dia?" Wajah tidak sabaran tercetak jelas pada Orlando. Ia berjalan ke arah Bryan namun dihalangi oleh para penjaga. 


"Ikat mereka berdua!!" teriak Bryan dengan keras. Para pengawal berbondong - bondong meringkus keduanya. 


"Brengs*k!! Lepaskan Tuanku." Pukulan melayang di wajah Mike. 


"Bangs*t!! Kau pengecut, Ian!!" Biarlah Bryan jadi pengecut. Yang terpenting melihat Orlando menderita merupakan kesenangan baginya. Lihatlah dia, tampang yang dijaga menjadi berantakan hanya karena seorang gadis tidak jelas. 


"Bawa mereka!!" Orlando dan Mike meronta berteriak, mengumpat, memaki dengan keras tidak terima atas perilaku Bryan. Andai saja Keysara tidak ditangan lelaki bajing*n itu, pasti dengan mudah ia menghajarnya. Meluluh lantahkan mansion kebesaran keluarga Smith. 


Ini semua karena hati yang mulai terisi. Memiliki belas kasih dan cinta. Keysara adalah segala - galanya. Meski nyawa menjadi taruhan hidup saat ini. Ia rela memberikan dengan percuma. Hanya satu hal yang diinginkan Orlando, melihat senyum milik gadis itu. 

__ADS_1


"Hentikan ini semua!!" teriak seseorang diujung pintu dengan tiba - tiba. 


__ADS_2