
Ketakutan akan kehilangan ada hal yang paling dihindari manusia. Namun, jika memiliki manusia sebagai barang bukankah menjadi obsesi semata? Dia hidup, berhak untuk lari menjauh. Kita tak bisa mengekang untuk memilikinya.
❤️❤️❤️❤️
Nasib para pengawal yang menjadi amukan Orlando sudah jelas. Lima orang tergeletak tak bernyawa di sana. Tidak ada yang berani menghentikan tiran yang sedang tersulut emosi. Bahkan Dion sekalipun. Ia hanya menatap nanar jasad tak bernyawa itu.
Orlando mengusap kasar wajahnya. "Cari dia!!" teriaknya memenuhi ruangan. Lelaki itu melirik Dion dengan tajam. "Jika kau terlibat. Aku akan menghukummu lebih dari meminta kematian."
Ancaman Orlando sukses membuat Dion gemetar hebat. Ia menundukkan kepala memikirkan nasib Keysara. Kalau pun dirinya mati nantinya. Kerelaan adalah pilihan yang bijak sebagai balas budi keluarga Barren. Karena berkat Kaylo lelaki itu bisa merasakan kasih sayang seorang ayah meskipun hanya sebentar. Namun, jika dia mati sekarang, bagaimana dengan kondisi gadis itu?
Sial, batin Dion berteriak
"Kenapa masih di sini!?" teriak Orlando lagi sehingga membuat para pengawal lari mencari keberadaan Keysara.
Sementara gadis itu terus berjalan tanpa diawasi. Ia sampai di gerbang menuju hutan. Tanpa basa basi, ia melangkahkan kaki melirik kesana kemari mengandalkan instingnya untuk meningkatkan kewaspadaan. Matanya tertuju pada orang yang dj gantung di atas kolam buaya. Para buaya meloncat - loncat ke atas ingin mengoyak daging segar itu. Peluh di campur darah menetes membuat sang buaya semakin buas.
Gadis itu bergidik ngeri. Terbesit di otak kecilnya untuk mengurungkan aksi kabur. Ia takut kalau disiksa seperti itu. Mengingat kondisi korban yang berantakan dan berdarah di mana - mana. Namun, kepalanya menggeleng kuat memaksa melawan rasa takut itu.
"Aku harus keluar dari sini." Keysara bermonolog pada dirinya sendiri dengan semangat. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam hutan. Semakin berjalan masuk ke dalam jantung hutan, maka semakin keheningan yang mencekam. Apalagi, perutnya sedari tadi demo minta di isi.
Keysara menajamkan pendengarannya. Ternyata, suara arus sungai tak jauh dari tempatnya berada. Dengan langkah cepat, gadis itu mencari sumber suara. Matanya berbinar saat menemukan air yang jernih dan segar.
Bibirnya tersenyum simpul karena mendapatkan ide mencari ikan untuk dimakan. Namun, arus air sangatlah deras. Ia menghela nafas panjang lalu memilih untuk mencuci muka dan minum.
Tiba - tiba, terdengar gonggongan anjing. Keysara tersentak. Ia langsung lari menjauh dari suara itu. Gadis itu yakin kalau Orlando melacaknya dengan membawa anjin*. Ada gurat kecemasan di wajahnya kala suara anjin* semakin mendekat. Padahal, ia sudah lari sejauh mungkin. Goresan - goresan ranting pun mengenai kulit putihnya. Meski hoodie yang dipakai tebal. Namun, karena gesekan kecepatan lari saat ini jadi menimbulkan ke robekan di sana sini hingga ada sedikit noda merah yang tampak.
Karena terlalu fokus berlari, Keysara menebak sesuatu di depannya. Sontak langkahnya terhenti. Mata indah itu menatap yang ditabrak. Ia menutup mulut dengan kedua tangan lalu mundur pelan ke belakang.
"Mau kabur? Tak akan bisa. Sepertinya aku terlalu lunak padamu." Gadis itu menggeleng. Padahal, ia harus bertahan kurang lebih sekitar dua puluh jam.
__ADS_1
"Kau tahu, membuatku marah akan berakibat fatal." Orlando semakin mendekat ke arah Keysara. Ia sangat murka saat ini karena gadis itu berniat lari.
"Apakah aku harus membunuh seseorang yang kau sayangi? Agar kau bisa patuh padaku." Kabut amarah kian menebal seiring berjalannya waktu. Orlando mengeluarkan belati lalu menaikannya di depan Keysara.
"Mom," ucap Keysara lirih berharap arwah Angel membantunya. Mata cantik itu terpejam. Ia harus kuat melawan rasa takut lalu menyerangnya.
Tubuh gadis itu berdiri tegak mengontrol rasa takut yang di dera. Ia tersenyum menatap Orlando. "Kau bisa melakukan itu. Membuat maha karya di tubuhku."
Gila? Diambang ketakutan, Keysara memilih untuk dijadikan mahakarya. Otaknya sudah beku, kemungkinan seperti itu. Namun, pada kenyataannya pemikiran gadis itu jauh. Jika dia mati, keluarga yang disayangi akan selamat. Kekuasaan yang dimiliki keluarga Barren tentu di bawah kekuasaan Orlando. Pengorbanan saat ini sebanding dengan rasa sayang mereka.
Andai saja waktu bisa diputar ulang. Tentu ia akan memilih untuk tetap dirumah memberi tahu Kaylo bahwa gadis itu tidak ingin dijodohkan. Jujur adalah pilihan terbaik. Daripada tidak sama sekali.
"Aku lelah. Kau bisa memulainya." Mata dingin menatap Orlando yang tengah berhadapan dengannya.
Ada sedikit rasa nyeri saat mata itu beradu dengan mata Orlando. Ia membuang belatinya lalu memeluk tubuh gadis itu.
"Jangan berpikir kau lari dariku." Pelukan erat membuat gadis itu keselulitan bernafas. Ia meronta - ronta minta dilepaskan. Hingga suaranya hilang di telan bumi. Tanpa pikir panjang, Orlando mengangkat tubuh gadis itu lalu berjalan keluar hutan. Ia akui, Keysara cukup cerdik lantaran tidak tersesat. Padahal, kurang beberapa mil lagi gadis itu bisa keluar hutan.
Mike hanya mengangguk lalu berjalan mendahului Orlando. Ia hanya bisa pasrah mencari gadis gila itu. Dari jauh, tampak Dion yang tengah belari menghampiri Orlando. Ia menghela nafas lega lalu berjalan menuju ke arah mereka.
"Biar aku yang menggendongnya." Dion menatap Keysara penuh rasa sayang. Hal itu membuat Orlando murka. Ia berjalan dalam diam tanpa menjawab Dion sama sekali.
Sesekali, Dion menghela nafas panjang berjalan mengikuti Orlando dari belakang. "Jika kau membiarkan dia di sisimu. Tolong…, jangan sakiti dia. Dia sangat berharga."
Bola mata Orlando berkilat merah. Andai saja ia tidak menggendong Keysara, pasti sudah di pukulnya habis - habisan. Perseta* dengan perjanjian konyol kakek mereka.
Setelah satu jam mereka sudah sampai di mansion. Terlihat seorang gadis tengah duduk di sofa. Ia memainkan ponsel miliknya.
"Lama sekali," ucap gadis itu tanpa melirik Orlando dan Dion. "Kenapa kau memintaku ke mari? Aku sibuk."
__ADS_1
Orlando tidak menggubris sama sekali. Ia memilih naik tangga menuju kamar.
"Dasar aneh," maki gadis itu pelan sambil menaruh ponselnya di tas. Ia mendongak menatap seseorang yang tengah berjalan menaiki tangga. "Yo, Dion. Kau kenapa? Loyo sekali."
Dion hanya menoleh tak berniat membuka suara. Kemudian lelaki itu memilih pergi begitu saja.
"Ada apa dengan mereka? Seperti perang dingin." Gadis itu beranjak dari sofa naik ke tangga menuju kamar Orlando. Ia manatap heran kepada dua penjaga di sana. Namun, ia memilih masuk begitu saja.
"Orlando," panggil gadis itu sedikit melotot karena memergoki Orlando tengah mencium seorang gadis. "Kau gila!" teriaknya sambil menghampiri.
"Diamlah…, Ana. Kau membuatku tambah pusing."
"Astaga…, dari mana kau mendapatkan putri tidur ini? Sangat cantik. Jika aku lelaki pasti sudah kutiduri."
Orlando menatap gadis yang bernama Ana dengan tajam."
"Anastasya!!" geram Orlando. Anastasya hanya mengedikkan bahu acuh melihat kemurkaan Orlando.
"Jangan kasar padanya. Kau mencintainya 'kan?"
"Tutup mulutmu! Aku tak mencintainya." Tapi aku hanya ingin memilikinya, tambah Orlando di dalam hati.
"Oh…, silaunya. Jangan menjadi budak cinta," ucap Anastasya sambil terkekeh.
"Aku tak ingin dia pergi."
"Biarkan dia terbang, Lando. Kau tak berhak mengurungnya. Dia pasti rindu keluarganya."
"Jika dia menggunakan sayapnya. Aku dengan senang hati akan memotong sayap itu," ujar Orlando dengan kilat mata yang tajam.
__ADS_1
Keinginan lelaki itu tak bisa di bantah. Anastasya hanya mengepalkan tangannya kuat. Ia sungguh muak berada di dalam keluarga ini. Andai saja keluarganya tidak terbunuh. Pasti ia akan bahagia. Semua ini gara - gara tradisi keluarga Golden.
I hate Golden," batin Anastasya menatap tajam Orlando.