Dangerous Mafia

Dangerous Mafia
DM 34: Titik Terang


__ADS_3

Orlando merangkak tertatih karena cambukan dari seseorang. Darah segar merembes keluar dari bajunya. Orang yang bertanggung jawab hanya duduk menyilangkan kaki dengan anggun di kursi. Memakai baju terbuka, wajahnya mulus dan sangat cantik. Tubuhnya begitu seksi dan indah. Dialah Clarisa, ibu dari Orlando. 


Cambuk terus dilayangkan berulang kali sampai dia puas. Sungguh miris nasib pria kecil berusia sepuluh tahun itu. Tidak ada tempat baginya untuk kasih sayang yamg sempurna. 


Cerutu yang dipegang berulang kali di tusukkan ke bagian kulit Orlando hingga berteriak nyaring. 


"Aarrrggggg… hentikan, Mom." Isak tangis Orlando terdengar jelas. "Aku tidak akan berhenti, karena kau mirip dengannya. Orang yang aku benci. Dengar, Baj*ngan. Setiap melihat wajahmu rasanya dadaku sesak. Kau harus terus mengingat rasa sakit ini. Tidak akan ada orang yang memncintaimu!! Karena ku tidak diharapkan. 


Tidak diharapkan


Tidak diharapkan


Bulir keringat keluar begitu saha di pelipis Olrando. Wajahnyan menggeleng kesana kemari berusaha untuk bangun. Berkat tepukan dari seseorang akhirnya dia bangun juga. 


"Mimpi buruk, lagi..?" Anastasya memberi tisu kepada Orlando yang masih terengah - engah lantaran mimpi tersebut. Sial, karena Keysara tidak ada, mimpi itu menyerang lagi. Ia tidak ingin tidurnya terganggu karena wanita itu. 


"Kita akan mendarat, Lando." Jet yang sedang mengambang diudara turun perlahan dilapangan. Ada dua buah mobil yang sedang bersiap disana. 


Orlando berharap Dion yang datang. Nyatanya, pria itu tidak ada. Kemana dia pergi? Kep*rat itu harus bertanggung jawab dengan semua penghianatannya. 


Jet mendarat sempura di lapangan. Orlando dan Anastasya turun lalu disambut oleh anak buah pria itu. 


"Selamat datang, Tuan," ucapnya membungkuk hormat serempak. Tangan Orlando terangkat tanda menerima sambutan. Mereka lalu berdiri tegak. 


"Alan!!" teriak Orlando. Alan yang dipanggil maju ke depan. "Dimana dia?" tanyanya sambil berjalan menuju mobil dan Anastasya sudah masuk ke mobil satunya lagi. 


"Dion sedang rapat, Tuan. Para tetua itu mempersulitnya." Masih dalam kondisi diam. Orlando masuk mobil bersama Alan. 

__ADS_1


"Kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi?" Alan kelagapan, pasalnya sejak rapat memang ponsel Dion tidak bisa dihubungi. Ia juga tidak tinggal diam mendeteksinya. 


Bunyi ketukan pintu mobil membuat Orlando menoleh ke arah sana. Terdapat Kelvin yang tengah berdiri sambil tersenyum. 


"Suruh dia masuk di depan!" Alan keluar mobil memberi tahu Kelvin untuk masuk ke dalam. "Deteksi ponsel Dion. Kelvin langsung melaksanakan tugas dari Orlando. Tiba - tiba, ponsel pria itu berbunyi. Ia langsung mengangkatnya. 


"Katakan, Mike."


"Tuan, Dion ada di Lyon. Sepertinya, urusan di sana sudah selesai." Mendengar informasi itu membuat darah Orlando mendidih. Ia kemudian mematikan ponselnya. "Putar balik, siapkan jet. Kita ke Lyon sekarang."


Muka masam Orlando tercetak jelas di sana. Dion benar - benar mempermainkannya. Kenapa dia tidak bilang kalau urusannya sudah selesai? Dan untuk apa dia berada di Lyon tempat transaksi senjata? 


Sementara itu, Dion tengah berdiri tepi Shungai Rhone menatap keindahan kota tua di sana. Ia mengeluarkan ponsel pribadi mengecek pesan yang masuk. Namun, tidak ada satu pun notifikasi yang tertera di sana. Pria itu yakin bahwa Daniel sukses membawa mereka berdua pergi. Dan Orlando pasti sudah menyadarinya. 


"Dia ada di Ukraina. Aku yakin sebentar lagi akan menghampiriku. Dion sengaja membuat Orlando mengalihkan perhatiaannya. Ia sudah memikirkan hal ini. Transaksi senjata dan juga kepergian si kembar. 


Pria itu pasti akan mengutamakan Keysara dari pada yang lain. Dan ia yakin kalau masalah transaksi senjata akan di tangani oleh Mike atau Anastasya. 


"So, kau bersembunyi di sini, Dion." Ucapan seseorang sukses membuatnya menoleh. Ia mendapati Mike yang sedang berdiri di sana dengan beberapa anak buah. 


"Ponselmu tidak bisa dihubungi. Dan Tuan mencarimu. Kau sudah pulang tapi tidak memberitahunya." 


Dion tidak menyangka bahwa Mike akan menemukannya terlebih dahulu. Padahal transaksi senjata letaknya sangat jauh dari tempat keberadaanya saat ini. 


"Ya, hanya ingin jalan - jalan. Bagaimana proses transaksi senjatanya?" tanya Dion dengan tenang. 


"Berkat seseorang. Kami jadi berurusan dengan polisi. Untung saja, mereka bisa diajak kerja sama." Perkataan Mike merupakan sindiran untuk Dion. "Ayo kita pulang, Dion," ajak pria itu sambil berjalan ke arahnya. 

__ADS_1


Sejauh Dion lari, pasti Orlando akan menemukannya. Kalau dia kabur sekarang, tentunya akan mempersulut keadaan. "Kenapa diam?" tanya Mike menatap pria itu dengan lekat. 


Dion tersenyum, "Kita pergi bersama." Mike sedikit tersentak. Andai saja Dion menolak pasti peluru sudah bersarang ditubuhnya. 


Terlihat jelas bahwa pria itu sangat tenang membuat Mike geram. Suara tembakan dari jauh mengenai bahu Dion tiba - tiba hingga mundur ke belakang lalu terjun bebas ke bawah. 


Mike berteriak nyaring ingin menggapai Dion. "Cari siapa yang menembaknya? Dan juga hubungi tim penyelamat."


Susah - susah Mike mendapatkan informasi keberadaan Dion. Dan sekarang, sudah hilang begitu saja di depan matanya. 


"Tuan, kami sudah membawa orang yang sudah menembak Tuan Dion," ucap salah satu bawahan Mike yang menyeret seseorang. 


"Kau!!" pekik Mike. Tidak mungkin orang dihdapannya tertangkap dengan mudah. "F*ck, apa yang Tuanmu inginkan?" tanyanya sambil menarik kerah orang itu. 


"Well, aku hanya perlu menembaknya saja. Dia jatuh dan hanyut. Lalu… mati," ucapnya enteng. 


"Kau tidak pernah berubah, Robert. Sungguh menyebalkan… datang mengantarkan nyawa begitu mudah. Apa tujuanmu?" Mike sangat mengenal Robert karena mereka tumbuh bersama. Meskipun tuan mereka bermusuhan, tapi sejujurnya hati keduanya enggan untuk mengikuti arus permainan sang bos. 


Salah seorang anak buah Mike lari tergopoh - gopoh. "Tuan, kami tidak menemukannya." 


Mike mengusap kasar rambutnya menatap Robert yang menyeringai. "Tinggalkan kami sendiri. Aku ingin bicara dengannya." Sesuai perintah atasan, semuanya pergi meninggalkan mereka berdua. 


"Katakan, Robert." Mike tidak bisa menahan rasa penasarannya terhadap tujuan dari pria itu. 


Robert berjalan maju ke depan berhadapan dengan Mike. "Dia ingin Tuanmu menderita dengan perginya gadis itu. Dia sudah maju selangkah ke depan, Mike." 


"Seharusnya, kau tidak menembaknya. Sebenarnya, kau bekerja dengan siapa? Orang tua itu?" Robert tersenyum menyeringi menatap Mike dengan pandangan dingin. "Dia sudah aman. Tuanmu akan mendapatkan hadiah yang besar. Asalkan mau bersabar." 

__ADS_1


Ayolah, ocehan Robert penuh teka - teki membuatnya muak. Kehilangan Dion saat ini pasti akan terkena kambing hitam. Ia harus siap disiksa. 


Robert pergi meninggalkan Mike sendirian yang penuh tanda tanya. Ia harus memberi tahu Orlando mengenai kejadian ini. Entah apa nanti rekasinya, pria itu pun tak tahu. Ya sudahlah, sekarang waktunya kembali untuk melapor kepada tirani itu. 


__ADS_2