Dangerous Mafia

Dangerous Mafia
DM 19: Reuni


__ADS_3

Ketiga orang yang ada di dalam ruangan itu hanya saling memandang satu sama lain. Tidak ada suara yang keluar. Mereka sibuk dengan kegiatan masing - masing seakan melupakan kejadian yang baru saja di lakukan. Karena tidak tahan, orang yang mempergoki itu langsung angkat bicara. 


"Jadi, kalian sudah dalam tahap ciuman." Suara santai dengan tatapan lembut mengarah kedua sejoli itu. 


Orlando terbatuk kecil. "Seperti yang kau pikirkan, Ana." Sudah Keysara duga. Lelaki itu mencari kesempatan dalam kesempitan. Memang benar, ino adalah kesalahannya. Bisa - bisanya terbuai dengan ciuman erotis itu. Gadis itu bukanlah seorang yang munafik. Jadi, tanpa sadar ia menikmatinya. 


"Jangan bicara omong kosong, Lando! Kau yang melakukannya padaku!" Keysara ingin membela diri. Kenyataannya kan memang begitu. Orlando sendiri yang berinisiatif menciumnya.


"Tapi, kau menikmatinya, Bukan?" Keysara ingin sekali mencakar wajah Orlando yang tampan itu. 


"Sudah, jangan bertengkar. Kalian tidak cocok bertengkar. Kalau nanti ada adegan ciuman, di lanjutkan dengan adegan lainnya saja. Aku ingin cepat menimang keponakan."


Wajah keduanya memerah. Anastsya pintar menggoda di setiap perkataannya. 


Bilang saja cinta. Kenapa di buat susah oleh perjanjian bodoh? Dasar tidak peka dan keras kepala!! 


Anastasya menatap lengan Keysara. Ia menghela nafas panjang. Rubah itu ternyata sudah bertindak jauh. Tidak aman kalau Keysara berada di tempat Orlando. 


"Kau harus memikirkan kejadian ini dengan bijak, Lando." Anastasya menyesap teh yang ada di cangkirnya. Ia melirik Orlando yang tengah gelisah. "Bagaimanapun, kau tidak akan bisa lepas darinya? Jangan membuat semuanya jadi rumit." 


"Aku tidak akan lari. Dia milikku, Ana." Nada dingin dan dendam tercetak jelas di setiap perkataannya. 


"Aku sudah memperingatimu. Kau tahu siapa dia. Iblis rubah yang mencintaimu yang tidak membedakan jenis kelamin." 


Keysara mendengarkan dengan seksama pembicaraan mereka. Ia pun angkat bicara. "Pria yang berubah menjadi wanita."


Semua mata tertuju padanya. Perkataan Keysara barusan seratus persen benar. 


"Kau di sukai pria?" tanya Keysara dengan nada tidak percaya. Mata Orlando melotot. Kenapa gadis itu sangat pintar? Ia pun tersenyum mengelak perkataan gadisnya. 


"Dari mana kau menyimpulkan hal itu? Jangan menyimpulkan tanpa bukti." Keysara menghela nafas panjang. "Jangan lari dari masalah. Pasti ada alasan kenapa dia menyukaimu, Lando?" 


Keysara berdiri meninggalkan keduanya dengan cepat karena rasa tidak nyaman yang bersarang di hatinya. Mungkin, ia cemburu. Gadis itu menepis pemikiran yang menyulitkan dirinya.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Orlando sambil berdiri hendak mengejar. 


"Dia butuh sendiri, Lando. Kau tanpa sadar telah memasukkan kehidupanmu kedalam kehidupan Keysara. Jangan melibatkan gadis itu." Bukan tanpa alasan Anastasya memperingati Orlando. Tapi, ini kenyataan yang harus di terima oleh lelaki itu. 


Beralih ke sisi Keysara yang berjalan melewati koridor. Dari jauh, ia melihat wanita berambut pirang berjalan kearahnya. Gadis itu berhenti lalu tersenyum. Mereka berpapasan kemudian saling menatap satu sama lain. 


"Cinta tidak akan hadir dalam kekerasan. Jika kau mencintainya, bertindaklah dengan lembut." Ucapan tulus Keysara membuat wanita itu tersentak kemudian, ia menetralkan perasaannya kembali. 


"Tahu apa kau tentang cinta? Kau tidak menjadi diriku. Aku melakukan semua untuknya. Tapi, dia tetap tidak menerimaku."


"Kau disini seakan menderita. Ayolah…, itu semua adalah pilihanmu," ucap Keysara sambil menepuk bahu. "Selesaikan masalah kalian. Aku yakin, kau orang baik. Pasti ada alasan kenapa kau bertindak demikian? Orang kejam tidak selamanya kejam." Gadis itu meninggalkan sang wanita dengan tersenyum. Tidak ada dendam di hatinya. Entah apa yang dipikirkan olehnya. 


"Dia memang berbeda," ucap wanita itu sambil memegang jantungnya. Pantas saja, Orlando mati - matian melindungi gadis itu. Bahkan, ia menjeratnya dengan perjanjian. 


"Sial*n," umpatnya berjalan mengejar Keysara yang tengah berjalan santai meninggalkannya. Ia benci ada gadis yang sangat bijak seperti Keysara. Tanpa pikir panjang lagi, wanita itu mengeluarkan pisau lalu menyeret tangan gadis itu. 


Wanita itu memojokkanya di tembok dengan cepat dan menaruh pisau dileher Keysara. "Apa yang kau lakukan?" pekik Keysara. Ia tidak menyangka wanita di depannya akan nekat seperti ini. 


"Aku muak dengan gadis sepertimu. Aku yakin, kau hanya akan mempersulit Orlando." Keysara murka, ia mendorong keras wanita itu. "Bilang padanya, kalau aku tidak ingin dekat denganya. Dia yang memaksaku." 


"Kau mau mengambilnya. Ambil saja. Aku lebih suka bebas. Jangan menggangguku!" teriak Keysara keras sambil menunjuk wanita itu lalu pergi. Karena kesal, sang wanita menarik kasar rambut gadis itu. 


"Sakit!!! Lepaskan!! teriak Keysara sambil meringis kesakitan. Rambutnya yang berharga pasti akan rontok. 


Aku sudah tidak tahan!!


Keysara memegang kuat tangan wanita itu lalu menancapkan kukunya. "Jal*ng kepar*t! Kau merusak kulitku!!" 


Dor


Suara tembakan menggema. Seseorang meleskan tembakkan ke langit atap. "Lepaskan dia, Kail!!" Wanita itu mendorong Keysara dengan kasar. Ia menatap sengit ke arah lelaki itu. 


"Jangan campuri urusanku, Dettian." Kail sangat benci jika Dettian terlalu masuk ke dalam kehidupannya. Apalagi mengatur sedemikian rupa. 

__ADS_1


"Kau seharusnya tidak keluar dari sarang rubahmu," ucap Dettian sambil membantu Keysara berdiri. "Kau tidak apa - apa?" 


"Rambutku seperti ingin lepas dari kepala." Keysara menyentuh kepalanya. Ia menggelengkan kepala berulang kali mencoba mengusir rasa nyeri yang berdenyut. 


Disisi lain, Anastasya dan Orlando berlari keluar ruangan karena mendengar suara tembakan. Mata Orlando memanas melihat Keysara disentuh oleh Dettian. 


"Jangan menyentuhnya!!" teriak Orlando berlari menghampiri mereka berdua. Ia menghiraukan wanita bernama Kail itu. Keysara hanya pasrah saat ditarik ke pelukan lelaki itu.


"Baru saja kau keluar. Sudah bersama pria lain," ucap Orlando dengan mata berapi - api. Mata lelaki itu tertuju pada goresan sepanjang sepuluh centi meter yang berada di leher putih gadis itu. Warna merah jelas membentang di sana. 


Pandangannya beralih pada pisau di lantai dan Kail. "Kau melukainya?" tanya Orlando dengan emosi. 


"Dia pantas mendapatkannya. Karena dia merusak hubungan kita," ujar Kail santai. 


Orlando memberikan Keysara pada Dettian. Ia lebih percaya pada lelaki itu saat ini. "Jaga dia untukku." Lelaki itu menghampiri Kail lalu memukulnya. 


"Dia lebih pantas dari pada dirimu! Aku miris melihatmu seperti ini. Kau berubah banyak, Kail. Mana Kail yang dulu. Kenapa kau seperti ini?"


Orlando tidak mengka bahwa Kail telah mengubah dirinya menjadi wanita. Meskipun hanya rumor, lelaki itu tidak percaya. Pantas saja dia menghilang selama tiga tahun.


"Ini semua untukmu!!" teriak Kail. 


"Cukup!!!" Anastasya lebih berteriak keras lagi. "Kau berubah, Kak. Bagaimana bisa kau benar - benar melakukan itu?" Anastasya menangis keras. Ia pikir, lelaki yang di maksud Orlando adalah temannya. Tapi, fakta yang di dapat adalah kakaknya sendiri. Wanita di depannya adalah Kail.


Keysara tidak bisa berbuat banyak melihat Anastasya menangis. Ia menatap Kail dengan penuh iba. "jangan menghakiminya. Tidak ada yang salah dengan cinta. Kemana cinta berlabuh. Kita sendiri tidak tahu." 


Semua orang yang ada di sana tertegun. Terlebih lagi Kail. Ia pikir, tidak ada yang menerima kondisinya. Tapi, Keysara berbeda. 


"Aku tidak akan memperpanjang masalah ini. Sebaiknya, kalian reuni. Bukankah kalian adalah teman?" Keysara bisa membaca situasi. Dapat dilihat bahwa mereka dulu adalah teman dekat. 


"Ana, sebaiknya kita pergi. Kurasa, mereka butuh waktu banyak untuk bernostalgia." Anastasya mengangguk lalu berjalan menghampiri Keysara. Ia berhenti di depan Kail. "Pulanglah, Mom rindu padamu." Setelah mengucapkan perkataan itu, ia menjauh dan merangkul bahu gadis yang tengah berdiri di samping Dettian. 


Mereka bertiga melihat kepergian kedua gadis itu sampai punggungnya benar - benar menghilang. Setelah itu, mereka saling menatap satu sama lain dengan pandangan yang sulit diartikan. 

__ADS_1


"Wow, cinta segitiga," ucap seseorang yang tidak jauh dari sana. 


__ADS_2