
Sebuah ruangan mewah tampak dua pasangan beda jenis sedang bergulat mencapai titik kenikmatan. Bunyi desahan dan erangan saling bersahutan. Peluh keringat membasahi keduanya. Namun, saat mereka berada di titik puncak. Ada orang tanpa tahu malu masuk dengan tergesa - gesa.
"Maafkan saya, Tuan Dettian. Tapi, ini mendesak." Lelaki yang masuk itu tak berani menatap sang tuan. Sementara orang yang bernama Dettian mengumpat dengan keras.
"Keluar sekarang, ambil uangmu." Dettian melepaskan penyatuannya lalu melempar cek yang ada di nakas kepada wanita itu.
Dengan berat hati, sang wanita memakai pakaiannya lalu berlari keluar ruangan. Setelah wanita itu keluar, Dettian turun dari ranjang mengambil jubah mandinya dengan kasar lalu berjalan melewati orang yang tengah menunduk itu.
Dettian duduk di sofa dengan gaya angkuhnya meraih anggur lalu menikmati sambil memejamkan mata.
"Katakan!" perintah Dettian. Orang itu berjalan sambil merogoh sesuatu yang ada di sakunya. Ia memberikan selembar foto kepada Dettian.
Lelaki itu meraih foto itu lalu menatap tajam seperti elang yang tengah memindai mangsanya.
"Cantik." Ucapan kekagamuman keluar dari mulut lelaki gagah itu. "Siapa dia?" tanyanya penuh penasaran.
"Dia yang telah membantu kita merebut senjata itu, Tuan."
Dettian mengerutkan dahi. Bagaimana bisa gadis yang itu membantunya merebut senjata milik anggota Dragon. Merasa ada yang janggal, lelaki itu menatap tajam orang di depannya.
"Jangan memberiku informasi setengah - setengah, Leo."
Leo terkesiap. Ia menghela nafas panjang. "Para anak buah Orlando terpesona oleh kecantikannya sehingga mereka lengah."
Dettian tersenyum menatap foto itu. "Kau mencari informasi gadis ini."
"Sudah, Tuan. Namanya Keysara Alexa Beltran. Pernah terjun di dunia permodelan. Dua hari yang lalu datang ke Paris. Tepat kita mengambil alih senjata itu. Dan selebihnya, datanya di sembunyikan oleh pemerintah, Tuan. Bisa dipastikan bahwa gadis itu adalah orang yang sangat penting."
Dettian mengangguk. "Dia keturunan Beltran. Kau bisa cari informasi di Jerman. Siapa yang tidak kenal keluarga Beltran yang terhormat? Huh... aku tak menyangka, ada gadis secantik ini di keluarga Beltran."
Dettian sangat penasaran dengan gadis itu. Ia ingin bertemu dan mengenalnya. Lelaki itu berbeda dengan Orlando. Ia terlihat tenang, sabar dan juga lebih berekspresi. Kadar ketampanannya pun setara dengan Orlando. Namun, umurnya lebih tua tiga tahun dari lelaki itu.
"Ada yang akan kau sampaikan lagi?" tanya Dettian kepada Leo.
"Orlando dan gadis itu sekarang berada di Hotel XX tanpa penjagaan, Tuan."
Dettian langsung berdiri menuju lemari lalu mengambil baju dan memakainya dengan cepat. "Kita kesana sekarang. Aku ingin berpesta."
__ADS_1
Sementara itu, di kamar Hotel XX kedua saudara itu masih terus berdebat. Waktu yang tersisa tinggal lima belas menit lagi.
"Syarat apa yang akan kau ajukan? Kenapa tak memberitahuku?"
Keysara menggeleng. "Cukup aku dan dia."
Lagi - lagi, Kellano mendengus kesal. Ia ingin tahu permainan apa yang di rencanakan oleh Keysara.
"Jangan cemberut. Aku tidak suka," kata Keysara dingin. Bukannya beralih ekspresi, Kellano malah semakin menekuk wajahnya. Ia membuang muka layaknya anak kecil yang merajuk.
"Kau sudah besar. Jangan konyol." Inilah sifat Kellano. Bermanja dan bersikap layaknya bocah kecil. Dengan tak tahu malunya di tampak kepada Keysara.
"Tak akan ada gadis yang menyukaimu."
Kellano memeluk erat Keysara sambil mencari kehangatan. "Tenang saja, aku hanya seperti ini di depanmu."
Keysara menggelengkan kepala melihat tingkah Kellano. Ia membalas pelukan lelaki itu.
"Kita bisa melaluinya, Key. Aku bisa menghadapi lelaki kejam itu."
Keysara masih belum memberitahu perihal Orlando sebenarnya. Makanya dengan santai Kellano mengatakan hal itu.
Keysara tidak mendengarkan ocehan Kellano. Ia sibuk dengan pemikirannya sendiri. Sampai akhirnya lelaki itu jengkel lalu memukul bahu gadis itu dengan keras.
"Sakit," ringis Keysara
"Maaf. Habisnya aku panggil tidak menyahut sama sekali. Apa yang kau pikirkan?"
Gadis itu menggeleng. "Lebih baik kita keluar. Waktunya sudah habis."
Kellano langsung berdiri mengambil koper. "Ayo, kita temui lelaki itu."
Dengan senyum tanpa beban, Kellano menggenggam tangan Keysara untuk keluar kamar. Namun tiba - tiba, lampu hotel mati.
"Sial, kenapa mati listrik?" umpat Kellano dengan keras.
"Keluarkan ponselmu," perintah Keysara. Genggaman tangan Kellano pun lepas. Ia mengeluarkan mencari ponsel di sakunya. Naasnya, ponsel itu tertinggal di dalam kamar.
__ADS_1
"Tunggu di sini. Aku masuk dulu ke dalam. Ponselnya di atas meja." Kellano masuk ke dalam kamar. Sementara Keysara menunggu di luar. Tiba - tiba, ada seseorang yang membekapnya dari belakang. Gadis itu meronta kuat hingga akhirnya pingsan.
Orlando yang tengah berada di Lobi langsung menuju kamar di hotel kedua saudara itu. Perasaan yang dirasakan sekarang campur aduk. Dengan tergesa - gesa. Ia berlari membelah kegelapan malam mengandalkan lampu ponsel.
Sampai di lorong kamar, lampu menyala. Kellano keluar ruangan. Matanya membulat sempurna saat Keysara tidak ada.
"Siala*," umpat Kellano keras hingga terdengar oleh Orlando.
"Dimana dia?" tanya Orlando dengan panik.
"Aku meminta dia menunggu di luar kamar. Dia hilang tidak ada. Bedebah mana yang menculiknya."
Orlando mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menghubungi seseorang dari ponselnya."
"Kesini sekarang! Bawa beberapa orang untuk mencari Keysara."
Kellano berlari ke arah Orlando dengan panik. "Kita cari dia. Aku yakin penculiknya tidak jauh."
Orlando mengangguk lalu berlari keluar hotel mencari keberadaan Keysara. Sementara Kellano menelusuri seluruh hotel. Namun tiba - tiba, ada ledakan di salah satu kamar hotel. Semua orang yang berada di dalam hotel keluar kamar dengan keadaan panik.
"Sialan, mereka sengaja mengalihkan perhatian," ucap Kellano diselimuti kabut amarah.
Dalam hitungan menit, hotel itu penuhi dengan orang yang ingin menyelamatkan diri. Tidak lama kemudian, disusul ledakan kedua yang lebih dahsyat lagi.
Booom!
Para tamu hotel teriak histeris dan berupaya menyelamatkan diri. Puing - puing bangunan berserakan memutuskan akses jalan keluar. Satu - satunya cara adalah lompat dari gedung. Para polisi dan juga pemadam kebakaran cepat tanggap. Mereka bahu membahu membantu para korban.
Karena terjebak, Kellano memutuskan untuk keluar hotel melalui tangga darurat. Namun, asap keluar saat menuruni tangga kesembilan. "Koper merepotkan." Kellano membuka koper itu mengambil barang penting lalu memasukkan ke dalam kaosnya kemudian membuang koper itu begitu saja.
"Sepertinya, saudaraku berurusan dengan mafia. Kepar*t!" umpat Kellano sambil menuruni tangga.
Di sisi lain, Orlando memerintahkan anak buahnya mencari jejak Keysara. Lelaki itu melihat mobil putih tanpa plat nomor menuju ke arah timur. Ia memutuskan menunggu kedatangan Kellano dengan cemas.
Beda halnya dengan seseorang yang tengah menatap seorang gadis yang tengah tidur dengan tenang di ranjang. Ia tersenyum penuh kemenangan lantaran rencana yang disusunnya sangat mulus tanpa celah.
"Kau terkecoh, Orlando. Dasar bodoh!" Meskipun ledakan - ledakan itu terjadi, namun tidak akan menelan korban jiwa. Bangunan hotel itu juga masih dalam tahap aman.
__ADS_1