
Ketika membuka mata, hal yang di lihat pertama kali oleh Keysara adalah birunya langit. Kecerahan dan keindahan luasnya langit tampak jelas di kedua mata gadis itu. Ia bangkit dari tidurnya lalu duduk melihat hamparan Bunga Matahari di sekitarnya.
Angin berhembus sepoi - sepoi menyejukkan tubuh Keysara. Ia melihat seorang wanita berbaju putih berdiri diantara bunga itu. Wanita itu menoleh dan tersenyum.
"Mom," panggil Keysara lirih namun terdengar oleh gadis itu. Wanita tersebut menghampiri lalu duduk di depannya.
Keysara langsung memeluk dengan erat. "Aku merindukanmu, Mom," ucapnya sambil meneteskan air mata.
"Bukankah kemarin kita bertemu. Kau seharusnya kembali. Tidak kesini lagi." Keysara menggeleng kuat. "Aku tidak mau. Aku ingin di sini."
Wanita itu adalah Angel, ibu Keysara. Ia masih saja cantik dan lembut. Bahkan, terlihat seumuran dengan gadis itu.
Keysara melepas pelukannya lalu menatap lembut ke arah Angel. Tangan gadis itu meraba wajahnya untuk memastikan bahwa wanita di depannya adalah sang ibu tercinta.
"Benar kata, Daddy. Mom begitu cantik." Keysara terlihat senang menyentuh wajah Angel. "Berbaringlah di pangkuanku, Key."
Keysara mengangguk setuju. Ia langsung merebahkan diri di pangkuan Angel sambil menatap birunya langit yang cerah. Gadis itu sungguh ingin tinggal di sisi ibunya.
"Terkadang, semua perkiraanmu tidak sesuatu dengan takdir yang kau jalani." Angel membuka suara sambil mengelus surai hitam milik anaknya.
"Apakah Mom bahagia di sini?" tanya Keysara. "Tentu, aku sangat bahagia. Tuhan sangat baik padaku."
Keysara hanya diam menatap langit yang tiba - tiba mendung. "Kenapa cuaca cerah tiba - tiba mendung?"
Angel tersenyum lalu mencubit hidup Keysara. "Inilah perasaan seorang manusia, Key." Gadis itu berpikir mengenai awan hitam diatas. Ia mulai menyadari sesuatu.
"Ingat, mendung tidak berarti hujan." Benar saja, awan kembali cerah dan langit biru nampak di sana. "Semua berkat matahari. Dan kau bisa menjadi matahari semua orang."
Keysara masih belum bisa mencerna perkataan Angel. Ia terlihat bingung dan memilih diam. "Kembali adalah hal yang tepat. Karena tempatmu bukan di sini. Masih banyak orang yang menunggumu di sana, Sayang."
Gadis itu hanya diam dan diam. Padang bunga yang semula indah menjadi layu dan berubah kering. Suasana menjadi kian panas. Keysara merasa kehausan. Ia pun menatap Angel yang mulai menghilang.
"Berjuanglah…!" Tubuh Angel menghilang seiring dengan ucapan terakhir yang keluar dari bibirnya.
"Mom!!" teriak Keysara berulang kali. Ia berlari menjauhi hamparan Bunga Matahari itu menuju ke padang pasir.
__ADS_1
Nafasnya semakin sesak seakan panas yang menyengat. Peluh keringat semakin menetes kian deras. Langkah kakinya terasa berat.
"Butuh bantuan," ucap seseorang yang familiar. Gadis itu mendongak ke atas lalu menangis keras sambil menghamburkan diri ke dalam pelukan orang tersebut.
"Kellano," isak Laura lirih terdengar oleh Kellano.
"Apa yang kau impikan, Keysara." Genggaman erat dari Keysara membuat Kellano meringis. Ia kemudian mengelus rambut saudarinya agar melonggarkan genggaman tersebut.
"Tidurlah dengan nyaman. Terimakasih sudah melewati semua ini." Kellano merogoh ponselnya yang bergetar dan langsung memasang earphone tanpa kabel di telinganya.
"Aku sudah sampai. Sebentar lagi aku akan menerobos keamanan mereka."
"Bukannya kau membawa helikopter? Kemana perginya benda itu." Kellano berbalik arah sedikit menjauh dari Keysara.
"Apakah kau bodoh? Jika aku terang - terangan. Nyawaku melayang."
Bunyi sirine kebakaran terdengar jelas di telinga Kellano. Ia pun bersiap - siap menggendong Keysara.
"Tunggu selama satu menit. Para anak buah Bryan sedang menuju ke pusat kebakaran."
"Jangan banyak omong. Aku hanya membunyikan sirine agar mereka kalang kabut."
Benar saja, suara langkah kaki tergopoh - gopoh mencari sumber kebakaran. Salah satu anak buah Bryan masuk. "Anda tenang saja, kami akan menyelesaikan ini dengan cepat." Kellano hanya mengangguk patuh sambil bersikap normal.
"Bagian lorong sudah sepi. Kau keluar dari ruangan itu."
Kellano langsung keluar dari ruangan menuju ke arah timur.
"Belok ke kanan. Sebentar lagi dari arahmu akan ada orang."
"Jangan mendadak, aku jadi kesusahan." Kellano sedikit terengah - engah karena menggendong Keysara.
"Okay, maafkan aku. Kau jalan terus maju ada pertigaan lorong belok ke kiri."
Seseorang dari arah berlawanan tiba - tiba muncul lagi. "Ini pasti di sabotase," ucap seorang gadis. Kellano tahu suara siapa itu.
__ADS_1
"Masuk ke dalam ruangan sebelahmu sekarang!!" teriak Daniel di ujung sana.
Sial, kenapa susah sekali menghindar dari orang - orang yang mempunyai analisis tajam?
"Lando, kita harus ke ruangan Keysara. Pasti ada sesuatu. Dia merencanakan sesuatu." Gadis itu terus saja berkata demikian.
"Hentikan ocehanmu, Ana. Kita kesana sekarang!" Mereka berdua lari menuju ke arah selatan. Kellano menghela nafas panjang dan keluar dari ruangan itu.
"Belok ke kanan, Kel. Kau akan menemukan pintu keluar di sana." Karena tidak sabar, Kellano lari dengan cepat. Ia harus keluar dari mansion ini secepatnya.
"Aku di depanmu. Dekat semak - semak." Daniel melambaikan tangan dengan tersenyum.
Kellano pun terengah - engah mengatur nafasnya. "Aku lelah, makan apa dia sehingga sangat berat," keluhnya sambil duduk.
"Kita tidak punya waktu. Sebentar lagi mereka menyadarinya. Biar aku yang menggendongnya sekarang." Daniel mengangkat Keysara lalu menggendongnya ala bridal style. "Tuan putri kita sangat pucat," ucapnya dengan lesu. Bisanya gadis itu selalu nampak ceria.
"Ini gara - gara si bangs*t Bryan." Kellano berdiri bersejajar dengan Daniel. "Ikuti aku, Kel," ucap Daniel berjalan duluan.
Mereka berdua masuk ke dalam semak - semak dan melihat sebuha pintu berwarna coklat. "Kau, sejak kapan tahu ada pintu ini."
Daniel tersenyum, "Sejak aku meretas tempat ini." Kellano membuang muka acuh sambil membuka pintu. " Mana mobilmu?"
Tidak jauh dari sana, ada mobil yang menyala. Mereka langsung menuju ke arah mobil tersebut. Kellano membuka pintu agar Daniel masuk duluan.
Sementara, ia duduk di kursi depan. "Apa kabar Alfred?" tanya Kellano. "Baik, Tuan."
"Seperti biasa, Alfred. Kecepatan penuh." Mendengar titah dari Daniel. Alfred langsung menginjak gasnya dan melaju dengan kecepatan tinggi
Tidak lama kemudian, mereka sudah sampai di lapangan yang sangat luas. Di tengahnya, ada helikopter yang sudah menunggu. Mereka pun turun dan naik ke helikopter tersebut.
Selamat tinggal Paris
Batin Kellano sambil menatap tanah yang kian jauh. Helikopter itu terbang di udara dengan bebas. Kelegaan hati pria itu terlihat jelas di raut wajahnya. Ia berjanji akan berjuang untuk Keysara dan ayahnya. Semoga, ini awal dari kebaikan untuk semua orang.
Sebagai langkah hidup baru, di negara lain dengan status berbeda dan berbaur dengan masyarakat perdesaan.
__ADS_1
"Maafkan aku, Keysara. Tapi, inilah yang terbaik untuk kita. Meninggalkan semua yang ada." Kellano melemparkan semua barang yang menempel padanya. Termasuk ponsel dan kartu akses lainnya.