
Keheningan menjadi topik utama saat ini. Kedua lelaki muda dan satu lelaki tua. Nah, dia adalah sumber masalah menurut dua lelaki muda itu. Akar dari segala kehancuran keluarga. Dan lebih parahnya, mereka berhadapan seperti musuh di tengah ketenangan.
Dia si orang terkutuk yang melakukan segala cara merenggut kebebasan Orlando. Menjadikan si kecil menggemaskan menjadi tirani tanpa cinta dan kasih sayang.
Orlando tidak memandang orang itu dengan hormat. Ia hanya membuang muka muak atas wajah keturunan yang tercetak jelas di wajahnya juga.
Sialan terkutuk. Aku tidak ingin memiliki wajah ini. Bagai pinang dibelah dua, meski Orlando adalah cucunya, terlihat seperti anak baginya. Pahatan wajah itu telah menandakan bahwa dia adalah keturunan sah Golden.
Fine, Orlando menerima itu. Sebab, darahnya memang dari keluarga sah. Tapi, bukan itu sekarang yang harus dipikirkan. Tapi, mengenai gadisnya. Bagaimana kondisi gadis itu? Apakah dia baik - baik saja.
Bryan menatap Orlando dengan khas semiriknya. Melihat kekhawatiran lelaki itu adalah sebuah berkah tidak terhingga. Untuk saat ini, kehadiran orang tua itu tidaklah berpengaruh banyak. Ya, meskipun begitu, ia adalah cucunya.
"Aku tidak akan bicara banyak." Lelaki tua itu mulai membuka keheningan ruangan. "Sudahi semua konflik ini."
Mata kedua pemuda itu membulat sempurna. Ini sejenis permohonan. Orang tua yang terkenal angkuh merendahkan diri untuk perdamaian.
Bulshit, pasti ada udang di balik batu. Alih - alih menyesal. Semua hanya topeng tanpa dosa.
"Kalian tidak percaya padaku. Aku akan memasukkan Bryan dan Dettian ke dalam anggota keluarga kita."
Perkataan itu sontak membuat darah Orlando mendidih. Itu artinya, kedua lelaki itu mempunyai peluang dalam tahta Golden. Cih, ini namanya persaingan dalam keluarga. Alih - alih menghilangkan konflik. Tapi, malah menambah mala petaka.
"Dettian pasti setuju jika namanya menyandang Golden. Bukankah ini yang kalian berdua inginkan. Lebih dihargai dan masuk keluarga sah Golden."
Bryan mengepalkan tangan kuat. Setelah semua penderitaan bertahun - tahun, si tua bangka dengan mudah merangkulnya. Jangan harap, sampai mati pun, ia tidak akan berada di bawah kaki dia.
Aku ingin keluarga itu hancur.
"Dan kau, Lando. Untuk gadis itu. Aku yang akan mengurusnya."
Tangan Orlando mengepal sampai berdarah. Ekspresi wajah tidak bisa digambarkan hanya suram dan dingin. Tampak memendam sesuatu tapi tidak bisa meledaknya. Dia, Keysara, gadisnya akan dibawah oleh tua bangka. Jangan harap, tidak akan semudah itu.
__ADS_1
"Bunuh aku sebelum membawanya!" Orlando terlihat emosional saat ini. Ia tidak bisa berpikir jernih kalau menyangkut Keysara.
"Kau begitu tidak sopan. Setidaknya panggil aku Sandres."
Orlando berdecih, lelaki tua itu ingin di panggil nama. Dia terlalu banyak berharap.
Tiba - tiba, Dokter Xander tergopoh - gopoh menghampiri Bryan tanpa melihat situasi. "Tuan, Nona itu mu-." Ia langsung menutup mulutnya ketika melihat Orlando.
"Katakan," ucap Bryan santai. "Tapi, Tuan." Nampak jelas bahwa Dokter Xander ragu - ragu. "Dia kritis," katanya lirih.
Orlando langsung berdiri memegang kerah Dokter Xander. "Antar aku kesana!" teriaknya. Dokter itu melirik Bryan meminta persetujuan. Dia pun mengangguk tanda memperbolehkan.
"Tolong, lepaskan. Saya akan mengantar Anda." Orlando melepaskan kerah Dokter Xander. Dia mulai mengikuti sang dokter dari belakang meninggalkan orang tua dan cucu tidak sahnya.
"Cepat,!!" teriak Orlando. Dokter Xander berjalan cepat. Terlihat dua petugas kesehatan disana. "Dokter!!"
Raut wajah Dokter Xander terlihat cemas. Orlando mendiamkan lalu memilih masuk ruangan. Lelaki itu terkejut melihat Keysara dan noda darah di mana - mana. Ia langsung memeluk gadis itu.
"Kau baik - baik saja?" tanya Orlando mempererat pelukannya. Gadis itu, Keysara tengah tertidur. Maka pertanyaan lelaki itu tidak dijawab olehnya.
Gadis itu terus terbatuk hingga darah keluar dari mulutnya. Orlando panik langsung mengusap darah itu dengan sapu tangan miliknya.
"Lakukan sesuatu?! Kenapa hanya diam saja!" Dokter Xander hanya diam menunduk. Ia tidak berani mengangkat wajahnya saat ini.
"Keysara, Sayang…." Tetesan air mata mulai jatuh di pipi. Ingin rasanya ia mati melihat Keysara seperti itu. Tidak berdaya diambang nyawa. Andai saja gadis itu tidak direngkuh dari awal. Pasti kejadian ini tak akan terjadi.
"Tolong…, kembalilah padaku. Aku akan menghapus perjanjian itu. Jangan buat aku seperti ini." Runtuh sudah segala pertahanan Orlando. Sambil memegang tangan Keysara menciumnya berulang kali. Ia tidak peduli lagi kalau dianggap lemah. Lagi pula, gadis itu adalah segala - galanya. Dan ia harus hidup.
Dari ujung pintu, Bryan dan Sandres menatap Orlando dengan tatapan berbeda - beda. Bryan tersenyum puas di bibir. Namun, ada rasa aneh di hatinya. Seperti rasa bersalah. Sementara Sandres menatap nanar seolah juga merasakan kesakitan. Sepertinya, ia harus bertindak. Dan menunggu lelaki muda itu datang bersama saudara gadis itu. Tapi, kenapa lama sekali?
Sandres keluar kamar menuju ke lantai bawah. Ia melihat dua orang lelaki muda yang tengah dihadang oleh anak buah Bryan.
__ADS_1
"Biarkan mereka masuk!" perintah Sandres. Mata lelaki tua itu menyipit mendapati Dettian telah keluar mobil dengan tergesa - gesa lalu lari melewatinya. Begitu juga dengan dua pemuda itu.
"Salah satu pemuda berhenti lalu membungkuk hormat. "Salam, Tuan Sandres. Saya Steven."
"Cepat, pergi ke sana. Beri penawar itu. Waktunya tidak banyak." Steven bergegas masuk ke dalam mansion. Ia berlari menuju ruangan Keysara.
Steven melihat Kellano yang memeluk tubuh Keysara. Sementara Orlando hanya meringkuk di lantai. Dettian hanya diam dalam kesedihan.
"Kellano, jangan memeluknya erat. Beri aku ruang. " Steven mendekat ke samping Keysara.
"Kau harus menyelamatkannya!" Isak Kellano. Ia tidak peduli lagi kalau menangis di depan semua orang. Steve mengangguk lalu mengambil serum lalu menyuntikkan ke lengan Keysara.
"Kita tunggu hasilnya." Steve yakin mengenai penawar ini. Ia diam - diam meminta bantuan ayahnya untuk membuatnya. Tentu sang ayah pasti bercerita kepada Sandres. Karena, ayahnya adalah dokter pribadi lelaki tua itu.
Kellano menatap perubahan Keysara setelah lima menit. Dia sudah tidak batuk lagi. Ia pun bernafas lega. Sementara Orlando diam - diam melirik tidak berani bertatap muka dengan Kellano. Bukan karena takut. Tapi, karena merasa bersalah. Ia kemudian berdiri melihat gadis itu.
"Keluarlah…, Lando! Kalian semua keluar!!" Orlando menahan emosi karena di usir oleh Kellano. Padahal, bukan hanya dia, melainkan semua orang yang ada di ruangan itu.
Kellano tidak peduli dengan tatapan tajam. Meskipun bukan tempatnya. Tapi, saudarinya ada disini. Ia tak harus takut dengan pemilik mansion.
"Kellano Alexander Beltran. Ini adalah mansionku. Dan aku tuan rumahnya." Bryan masih bicara dengan santai di tengah situasi yang menegangkan.
"Sialan!! Bags*t!! Aku akan membuatmu mati mengenaskan!!" teriak Kellano diliputi api amarah. "Keluar!!" Setengah jam lagi, Daniel datang. Untung saja, dia sedang perjalanan bisnis di Perancis.
"Tidak tahu tempat!!" Tangkap dia!!" Bryan berteriak keras memanggil bawahannya. Orlando dan Dettian pun bersiap menyerang.
"Berkelahi di luar!! Keluar!! teriak Kellano lagi. Pengawal Sandres langsung menyeret ketiga cucunya keluar dari ruangan. Begitu juga Steve dan juga Dokter Xander.
"Maafkan kelakuan cucuku. Kami akan keluar." Mereka pun diseret dengan paksa. Orlando menolak keras berteriak dan memaki Sandres.
Setelah semuanya keluar, Kellano menatap Keysara dengan nanar dipenuhi kesedihan yang mendalam. Tetesan air mata tidak berhenti menetes. Ia menyesal karena tidak melarang Keysara.
__ADS_1
"Kita akan pergi dari sini. Sebentar lagi, Daniel datang menjemput kita berdua." Hidup Keysara sudah terancam. Tidak baik jika terus - terusan bersama keluarga Golden yang penuh konflik. Ini merupakan saran dari Dion. Dia telah mengatur semuanya. Menghubungi Daniel dengan persiapan matang.
"Maafkan aku, Dion."