
Gadis itu menatap gusar ke arah cermin. Ia mengacak rambutnya frustasi. Seharusnya, ia kabur dengan pakaian yang memadai. Namun, kalau di lihat sekarang seperti seorang pengemis jalanan.
Keysara mendesah kesal menggigit bibirnya. Hal itu, tak luput dari pandangan Orlando. Ia tak kuasa menahan gejolak birahi karena melihat gadis itu. Baginya, dia sang gadis menggodanya.
Tiba - tiba, Orlando menarik kasar lengan Keysara sehingga duduk di pangkuannya. Bau harum tubuh gadis itu mampu membuat lelaki itu mengerang tertahan. Nafasnya mulai memburu. Merasa dalam keadaan bahaya, dengan sigap Keysara berdiri lalu berbalik arah.
"Jangan macam - macam."
Orlando mengusap wajahnya sambil menetralkan pusaka yang tengah reaksi di dalam sana. Ia mengambil nafas dalam - dalam lalu berdiri.
"Besok, jangan lupa mulai bekerja. Aku akan menyiapkan segala kebutuhanmu. Ingat…, jangan kabur. Atau keluargamu dalam bahaya," ancam Orlando lalu beranjak pergi dengan menutup pintu kamar dengan kasar.
"Sialan!!" maki Keysara. Bagaimana bisa ia keluar dari kandang singa. Andai saja tidak gegabah, pasti masih di dalam rengkuhan ayahnya.
"Daddy…, i miss you." Keysara membuang tubuhnya kesal di atas ranjang sambil menatap langit kamar. Ia sangat merindukan Kaylo dan juga Kellano. Mau menghubungi pun juga sulit. Barang berharganya di sita oleh Orlando.
"Nanti tengah malam, aku akan mencari ponselku."
Sementara itu, di ruangan yang besar. Tampak seorang lelaki yang tengah mengotak atik ponsel bersama temannya.
"Bagaimana? Bisa di buka?"
"Tenanglah, Lando. Kau membuatku tak bisa melakukan pekerjaanku. Lagi pula, kenapa harus membuka sandi tanpa menggores benda siala* ini?"
"Diamlah…, kerjakan tugasmu, Dion."
"Kalau kau bukan temanku. Aku tak mau membuang waktuku hanya untuk ponsel butut ini. Selera rendah."
"Tutup mulut, Dion. Jangan membuatku jengkel."
Setelah beberapa menit. Akhirnya Dion berhasil membuka ponsel itu. Ia menatap lekat wallpaper yang ada di benda pipih.
"Gadis ini," gumam Dion lirih didengar oleh Orlando.
"Sudah berhasil." Orlando mendekat ke arah Dion lalu merebut ponsel itu.
"Dari mana kau mendapatkan ponsel itu?" tanya Dion penasaran.
"Kenapa? Jangan bilang kau tertarik."
Dion mengepalkan tangannya kuat. Jika temannya tahu, pasti dia akan marah.
__ADS_1
"Kembalikan dia ke negaranya. Dia bukan orang seperti kita, Lando."
"Sejak kapan kau peduli? Dia sudah membuatku rugi. Jadi, dia harus bertanggung jawab."
Dion mengusap wajahnya kasar. Ucapan Orlando adalah titah yang tidak bisa di bantah. Sepertinya, teman tersayang harus diberi tahu.
"Jika kau mengenalnya. Jangan beritahu keluarganya."
"Tapi, dia harus tahu kalau saudaranya ada di sini."
"Dion!!" teriak Orlando penuh emosi
Dion langsung keluar begitu saja. Ia tidak mau berurusan dengan Orlando yang tengah emosi. Lelaki itu memilih menelusuri setiap ruangan guna mencari gadis yang ada di foto. Ia harus memastikan betul kebenaran mengenai gadis itu.
Matanya membulat sempurna ketika melihat ada dua penjaga yang bertugas di depan ruangan tak jauh dari kamar Orlando. Dion yakin, bahwa gadis itu pasti di sekap di sana. Langkahnya semakin lebar untuk menuju ke kesana. Kedua pengawal itu menunduk hormat kepadanya.
"Aku ingin menemuinya."
Kedua pengawal itu saling memandang terlihat ragu akan perkataan Dion.
"Apa kalian tuli?!" teriak Dion.
Merasa ada yang masuk ke kamarnya, Keysara langsung duduk menatap lekat seseorang. Bola matanya melotot saat tahu siapa yang datang.
"Dion!!" teriak Keysara sambil berlari menuju ke arah Dion. Lelaki itu langsung menegang kala bukit tursina itu menempel sempurna di dadanya. Rasanya kenyal, lembut, dan menggoda.
Keysara kemudian melepaskan pelukannya. "Aku tak menyangka kau ada di sini?"
Dion masih termenung linglung karena pelukan Keysara.
"Dion!!" teriak Keysara. Lelaki itu tersentak membuyarkan fantasi liarnya. Ia menatap lekat Keysara. Saudara kembar sahabatnya. Ya, Dion adalah sahabat dekat Kellano. Semenjak lima tahun lalu, Dion memutuskan untuk pergi ke Paris demi merubah nasibnya. Dion adalah seorang yatim piatu yang sangat di sayangi oleh Kaylo. Bahkan, lelaki itu menganggap Dion adalah putranya.
"Kenapa bisa di sini?"
Keysara menghela nafas panjang. Ia enggan untuk bercerita dengan Dion.
"Aku tidak bisa membantumu keluar dari tempat ini. Kau terjebak selamanya, Key." Ada gurat kesedihan nampak jelas di wajah Dion. Ia tidak bisa mengeluarkan Keysara di dunia hitam ini.
"Lantas, kenapa kau bisa mengenalnya?"
Dion membuang muka. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jika saja, ia tidak terlibat hutang budi. Pasti kehidupannya akan normal. Nyatanya kepergiannya ke Paris membawanya masuk ke lingkaran hitam berbaya hanya demi wasiat dari Neneknya. Sungguh kehidupan penuh ironis dan drama.
__ADS_1
Neneknya meminta Dion untuk mengabdi ke keluarga Golden. Ia pikir hidup di keluarga golden akan baik - baik saja. Namun, pada kenyataanya hidupnya selalu dibayangi rasa khawatir. 'Membunuh sebelum dibunuh' kata itu selalu terngiang di telinga Dion.
"Istirahlah…, aku akan membujuknya." Lelaki itu memilih pergi bersama dengan detak jantungnya yang masih berdetak keras. Ia keluar pintu sambil menyentuh jantungnya.
"Anda baik - baik saja."
Dion mengangkat tangan kanannya menandakan dirinya baik - baik saja. Ia kemudian berjalan menuju ruangan dimana Orlando berada. Lelaki itu melangkahkan kaki masuk ke ruangan itu.
"Jangan libatkan dia, Lando. Aku akan mengganti rugi uangmu."
Orlando yang sedang asyik membuka album foto ponsel milik Keysara memasang muka datar. Ia beralih menatap Dion dengan ekspresi dingin.
"Dia milikku. Aku tidak akan melepaskannya."
Orlando tidak pernah tertarik dengan wanita atau gadis manapun. Baginya, mereka adalah hal yang paling merepotkan. Dion melangkah maju lalu duduk dengan kasar di sofa tak jauh dari tempat duduk Orlando.
"Aku tidak pernah meminta apapun. Tuan Barren berjasa besar padaku. Aku tidak ingin melukai hatinya. Aku ingin kau melepaskannya." Ekspresi Dion terlihat menyedihkan. Ia sungguh tidak ingin Keysara berada di lingkaran hitam yang kejam seperti ini.
"Apa kau lupa? Siapa kakeknya?"
Dion membuang muka. Ia tahu betul siapa orang yang di maksud. "Dia tidak menjadi pembunuh seperti kita. Meskipun siksaannya sangat kejam."
Orlando menaruh ponsel itu dengan pelan seperti benda berharga. Tangannya dilipat sempurna sambil tersenyum simpul. "Jangan membuatku melakukan sesuatu padamu, Dion. Kau tahu, seperti apa diriku."
Seringaian menusuk dan penuh misteri membuat orang di dalamnya merinding seketika. Dengan cepat, tangan Orlando melempar belati tepat di samping kanan tubuh Dion hingga menancap di pintu.
Mata Dion membulat sempurna karena kaget saat benda tajam menggores pipi mulusnya. Darah merah pun menetes perlahan.
"Itu adalah peringatanku untukmu. Kau memang orang kepercayaanku. Tapi, jika kau berkhianat tentu mati tak mudah untukmu."
Dia gila. Seperti psikopat. Bagaimana aku bisa membantu Keysara kabur dari sini?
❤️❤️❤️
Hai, hai, hai...
Udah tiga episode berjalan. Author sangat butuh dukungan dari kalian.
Dan maaf yang kemarin salah update episode. Dan sekarang udah author perbaiki. Jangan lupa tabur like sama komentar. Perlu author kabari, novel ini update setiap hari. Dari pada nanti bingung kalau mau baca. Bisa klik ❤️ agar masuk ke library/favorit.
Selamat membaca, Readers Sayang. I love you 😘❤️🤭
__ADS_1