Dangerous Mafia

Dangerous Mafia
DM 35: Permintaan Sandres


__ADS_3

Biola yang terus digesek berulang - ulang dalam ruangan yang hening tidaklah mengusik dua sosok yang tidur dalam satu ranjang. Berbalut piama gambar boneka cople membuat mereka terlihat manis. 


Kerutan dahi dari salah satu orang yang tengah berbaring seakan terusik dengan suara yang terus berbunyi. Tangan itu meraba sesuatu hendak ingin melemparnya ke arah sumber kebisingan itu. 


Karena tidak ada benda yang dicari disekitarnya, dia meraih bantalnya sendiri lalu berteriak nyaring. "Berhenti!!! Berisik!!" 


Orang yang duduk di sofa hanya terkekeh geli lalu menaruh biolanya. "Dasar, tukang tidur!" ejeknya lirih. 


"Shit!! Kau menganggu tidurku, Daniel!" Ya, siapa lagi kalau bukan Kellano Alexander Beltran berteriak di pagi hari hanya karena suara dari gesekan biola. 


"Kita dirumah orang. Jaga sikapmu, Kel." Daya ingatan Kellano masih diatas kepala. Belum turun sempurna di otaknya. Pria itu kemudian duduk tegak mengingat kejadian reka ulang kemarin. 


"Gawat! Kita tidak sedang disandera kan?" Daniel terkekeh geli mendegar ocehan ngawur Kellano. "Iya, kita dibawa paksa. Tapi, tidak diculik." 


Masih lambat dalam menerima inti dari ucapan Daniel, Kellano menoleh ke arah samping lalu mentoel pipi Keysara beberapa kali. 


"Dia masih belum sadar," ucap Kellano sedih. "Siapa penculik kita, Daniel?" 


Daniel jengah mendengar hal itu. Ia mengeram kesal. "Kita tidak di culik, Kel." 


"Lebih tepatnya, aku membantu kalian pergi," ucap seseorang di ujung pintu. Mata Kellano menatap orang yang beridiri di sana. Ekspresi kaget sambil menunjuk. Bagaimana bisa orang tua itu yang membawa mereka kesini? Ini buruk. Seorang kakek Golden lebih sulit dari pada anak Golden.


"Kau percaya padanya, Daniel?" tanya Kellano sambil melompat dari ranjang. Ia memang selalu bersikap seperti itu, seenaknya sendiri tanpa memandang status orang. 


Daniel diam, awalnya ia juga ragu terhadap si tua itu. Pria itu sekarang mencoba percaya dengan rencananya. "Mom akan kesini. Jadi, tak perlu risau."


Kellano mengusap rambutnya kasar. Ditengah kegentingan seperti ini, nenek itu akan datang. Andai saja dia nenek tua reot. Pasti mudah untuk ditipu. "Jangan mengundangnya!!" ucap Kellano sedikit berteriak. Jika nenek itu datang, kebahagiannya akan sirna. Masih ingat betul sikap bar - barnya seperti anak muda yang mengajaknya kencan. Dia selalu bilang kalau ia adalah tipenya.

__ADS_1


Dasar nenek - nenek tidak tahu diri


Umpatnya keras di dalam hati lalu menatap si tua itu dengan tajam. "Apa yang kau inginkan? Pasti tidaklah gratis?" 


Sandres menaruh tanganya di depan berjalan dengan angkuh lalu duduk di sofa. "Aku hanya ingin kalian tinggal di sini sementara. Jika kalian bersama Orlando, keselamatan kalian tentu tidak akan terjamin." Ini merupakan bentuk dari tembusan dosa yang telah dibuatnya di masa lalu. 


"Jika kalian bersikeras pergi dari sini, maka mereka bertiga akan memburu kalian. Termasuk kedua cucu tengikku itu." 


Kellano berpikir keras atas ucapan Sandres mengenai tawaran tersebut. Dibawah kekauasaannya, mereka pasti akan selamat dari ketiga monster itu. 


"Aku harap, kalian mau memenui permintaan kakek tua ini." Perkataan itu merupakan bentuk permohonan. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang sayu. "Itu saja, aku akan pergi. Pikirkan baik - baik. Jika sudah selesai, kalian bisa menemuiku. Dan jenguk Dion." 


Sandres pergi meninggalkan mereka untuk memberi peluang dalam berpikir. Kellano menghela nafas panjang lalu membanting tubuhnya di ranjang. 


"Terima saja permintaanya," ucap seorang gadis yang tengah tidur di ranjang. Daniel dan Kellano langsung menuju ke gadis itu guna mengecek keadaanya. "Kau sudah sadar, Key!" teriak mereka bersamaan. 


"Dari tadi. Aku hanya malas membuka mata." Keysara duduk perlahan menatap kedua kerabatnya sambil tersenyum. "Aku rindu kalian." Ia memeluk mereka dengan erat. Seolah tidak ada hari esok.


"Tapi, aku masih bingung. Setelah kita masuk ke helikopter itu, seseorang menyemprotkan sesuatu sehingga kita pingsan." Kellano masih berpikir keras hingga tepukan keras dibahunya menyadarkannya. 


"Bodoh! Dari awal, Dion sudah bekerja sama dengan orang tua itu. Jadi, kita keluar dari lubang singa masuk ke kandang buaya." Keysara menganggukkan kepala yakin atas pemikirannya.


"Sudah, aku pusing. Bukan itu yang aku pikirkan saat ini. Bagaimana cara mengatasi Mom? Bantu aku, Keponakanku." Daniel memohon pada Kellano sambil menyatukan tangan. 


Keysara jengah dengan drama itu. Ia memilih beranjak dari ranjang menuju kamar mandi dalam diam tanpa mendengar panggilan dari kedua kerabatnya. 


Sementara itu, Orlando tengah memukul Mike dengan membab* buta. Ia menyalurkan segala amarahnya. Sudah dua hari lamanya, pria itu masih terus di dalam mode singa ganas. Siapapun yang mengusiknya berakhir dalam kematian. 

__ADS_1


Selama dua hari pula, Orlando tidak tidur dengan baik. Semua pekerjaannya hampir berantakan. Bahkan, yang sekarang dilakukannya adalah hanya menyiksa dan menyiksa bagi yang melakukan kesalahan. 


"Lando," panggil Anastasya di ujung pintu. Matanya nanar melihat Mike yang tergeletak lemah tidak berdaya. Bekas sayatan di mana- mana. Darah yang keluar pun berceceran di lantai. "Hentikan, dia orang yang setia." Anastasya menasehti pria itu, berharap dia berhenti. 


Tidak ada ucapan dari Orlando. Ia telihat dingin dan lebih dingin dari biasanya. Andai saja, Keysara ada disini. Pasti monster itu masih punya hati nurani. 


"Obati dia," perintah Orlando berlalu meninggalkan ruangan itu. Tiba - tiba saja, bunyi tembakan menggema di udara. Markas di serang oleh seseorang. Pria itu berguling mencari perlindungan.


"Sembunyi!!" teriak Orlando sambil memegang pistol. Anastasya menutup pintu dengan rapat lalu keluar ruangan. Ia melihat beberapa orang berbaju hitam lari mengepung markas. 


Wuss


Granat terlempar di udara hendak masuk ke dalam ruangan. Sebelum menyentuh lantai, Anastasya mendengnya ke arah luar jendela. 


Bomm


Ledakan dahsyat terjadi di luar markas. Markas selamat berkat tindakan gadis itu. "Well, aku tidak pernah meragukan tindakanmu itu, Ana. Bergabunglah denganku," ucap seseorang dari belakang."


"Bryan," panggil Anastasya lirih. "Mau apa kau kemari!" teriaknya keras sambil mengarahkan pistol ke Bryan. 


Pria itu mengangkat tangan, "Markas ini aku tahlukan dan akan menjadi milikku."


"Jangan mimpi!!" Orlando melempar pisau ke arah Bryan dari atas hingga menggores wajah tampannya. Ternyata, pria itu bersembunyi di atap. Ia turun dengan sempurna tanpa celah sedikitpun. 


"Sungguh buruk. Kadar ketampananmu menurun," ejek Bryan dengan tenang. Ia mengangkat tangan meminta semua anak buahnya masuk ke dalam markas Orlando. "Kau sudah terkepung, Lando." 


Orlando tertawa dengan keras sampai memegang perutnya sendiri. Bryan ternyata sungguh berani menyerang markasnya. 

__ADS_1


"Meskipun aku kehilangan Dion. Tapi, aku masih bisa mengatasimu, Ian." Orlando bersemirik seperti devil. Ia bergerak cepat berada di belakang Bryan sambil menodongkan kepala ke pelipis pria itu. 


"Lepaskan Tuanku!" teriak Robert dengan nyaring. Orlando hanya terkekeh geli. "Kau hebat dalam segala hal. Tapi, fisikmu lemah. Lebih lemah dari Dettian." Ejekan itu sukses membuat Bryan tersulut emosi. Ia memikirkan cara untuk lepas dari todongan Orlando. 


__ADS_2