
*Melihatmu seperti ini membuatku sakit. Jika aku boleh memilih, biarlah aku yang berbaring di sini menggantikanmu menerima racun sialan itu.
Orlando Golden*
❤️❤️❤️❤️
Dion panik melihat Keysara di gendong oleh Orlando dengan tergesa - gesa. "Apa yang terjadi?" Lelaki itu mengikutinya dari belakang. Ia melihat bahwa gadis itu terlihat tidak berdaya.
"Ambil selimut!! Kita bungkus dia. Suhu tubuhnya sangat rendah!!" Dion langsung lari mengambil selimut. Sedangkan Orlando menggosok - gosok tangan Keysara. Gadis itu tidak boleh mati dan menghilang dari pandangannya.
"Tenanglah…, Lando," ucap Anastasya sambil bergerak melangkah ke dekat Orlando. Tentu ia cemas. Bagaimanapun, Keysara gadis yang baik.
"Kenapa dokter belum datang?" Tubuh Orlando bergetar. Ia tanpa sadar meneteskan air mata untuk pertama kali dalam hidupnya.
"Cepatlah sedikit!" teriak Kail dari luar. Kail dan dokter itu langsung masuk. Tanpa pikir panjang, ia memeriksa keadaan Keysara.
"Aku harus mengambil sampel darahnya untuk melihat racun jenis apa yang bersarang di tubuhnya."
"Kenapa bukan tua bangka itu yang datang?" Orlando tidak menyangka kalau anak itu yang datang memeriksa Keysara.
"Jangan pilah pilih, Lando. Kesehatan Keysara sangat penting." Anastasya sangat jengkel melihat sikap posesif Orlando.
"Butuh berapa lama hasilnya keluar. Aku tidak ingin melihatnya menderita." Orlando menunduk sambil menatap wajah Keysara.
"Secepatnya. Ambil selimut yang tebal agar suhu tubuhnya tetap stabil. Dia pasti sangat kedinginan. Antibodinya sekarang berusaha melawan racun itu. Semoga malam ini, dia bisa melewatinya. Aku akan menambah antibiotik untuk membantunya."
Dion berlari menuju ruangan Keysara dengan banyak tumpukan selimut dan sebuah kotak berwarna hitam. Ia masuk begitu saja. "Seseorang mengirim ini," ucapnya sambil memberikan kotak itu pada Orlando. Ia segera menyelimuti tubuh Keysara yang masih dingin.
"Ini mungkin adalah serum penawar racun," ujarnya.
__ADS_1
Orlando membuka kotak itu lalu melihat kertas putih yang ada di sana kemudian membuka perlahan.
Hidup gadis itu bergantung padaku. Lima jenis penawar harus diberikan dalam waktu tiga bulan. Hubungi aku, jika menginginkannya dia selamat.
Orlando meremas kuat kertas itu. Ia tidak bisa berpikir jernih dan hanya mengumpat tidak jelas. Lalu merosotkan tubuh itu ke bawah. Semua orang yang ada di sana hanya diam membeku.
"Jangan khawatir. Pasti ada jalan. Aku akan berusaha. Kita ambil darahnya lalu menguji bahan dari obat penawar itu."
Kail tidak tahan melihat Orlando seperti itu. Ia merebut kertas lalu membacanya. Matanya berkilat merah. "Penawarnya berkala. Kau tidak bisa menguji coba obat itu. Cari saja racun apa yang dibuat oleh bedebah tidak tahu diri itu, Steve." Kail bisa berpikir jernih di saat kondisinya panik. Inilah keunggulan darinya.
"Panggil perawat yang ada di luar. Dan kalian semua keluar! Kecuali kau, Lando." Semua orang keluar dengan hati yang berat. Steve pun mulai perawatan untuk Keysara. "Cepat, pasang infusnya." Dua orang suster dengan sigap melakukan perintah Steve.
"Aku tidak tahu efek seperti apa yang timbul dari penawar ini. Jika terjadi sesuatu pada tubuhnya. Kau harus bisa berlapang dada, Lando."
Mulut Orlando mengatup rapat sambil menatap nanar Keysara. Tubuhnya sangat gemetar sempurna. "Lakukan, aku tidak bisa membiarkan tubuhnya tersiksa"
Steve hanya menghela nafas menuruti keinginan Orlando. Sebenarnya, ia tidak yakin dengan penawar itu. Namun, mau bagaimana lagi. Semua tergantung keputusannya. Lelaki berjas coklat itu mengambil sampel darah lalu menaruhnya di wadah steril. Setelah itu, ia mengambil serum yang berada di dalam kotak itu. Ia menyutikan ke tubuh Keysara.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?!" Steve masih diam mengamati Keysara. "Jawab Steve!!" teriak Orlando sambil memeluk Keysara.
"Ini efek dari penawar itu. Pasti tidak akan lama. Kau tidak perlu risau." Jika tidak dalam situasi seperti ini, Orlando pasti sudah meninju wajah Steve.
Di dalam alam bawah sadarnya, Keysara melalang buana menatap hamparan tanaman soba. Tanaman penuh kasih yang menandakan cinta. Gadis itu seseorang yang dikenalnya. Ia berlari menuju kearah orang itu.
"Mom…," sapa Keysara lembut. Wanita itu langsung menoleh. "Kau sudah besar dan sangat cantik, Sayang."
Rasa rindu selama hidupnya tidak bisa dibendung lagi. Ia memeluk orang itu dengan kuat. "Kau benar Momku 'kan. Angelica Vanesa."
Keysara tidak percaya atas apa yang dilihatnya. Ia hanya bisa bertanya untuk memastikan sesuatu yang mengganggu perasaannya.
__ADS_1
Wanita itu langsung menganggu. Keysara tersenyum bahagia lalu memeluknya. "Aku merindukanmu, Mom. Kau pergi jauh dan tidak kembali. Aku sangat merindukanmu hingga ingin di pelukanmu. Biarlah seperti ini walaupun hanya mimpi. Jangan tinggalkan aku sendirian."
Angel mengelus rambut Keysara dengan lembut. "Aku selalu di sampingmu, Sayang. Selalu bersamamu. Tidak pernah sedikit pun aku melewati perkembanganmu dengan Kellano."
Keysara menangis sambil memeluk erat Angel. Ia sangat bahagia bisa bertemu dengannya.
"Cintaku begitu besar kepada kalian. Kalian tumbuh dengan baik."
Isakan Keysara semakin terdengar jelas. Ia merasakan pertemuan nyata dengan Angel. "Mom, Daddy juga merindukanmu."
Angel melepas pelukannya dari Keysara. Ia mengangguk lalu tersenyum. "Cintanya tidak pernah pudar meski aku sudah tidak di sampingnya. Dia pria yang hebat. Aku bersyukur dicintai olehnya."
"Dia pahlawan," ucap Keysara. Angel megenggam jemari gadis itu. Ia menuntunnya untuk duduk di bangku berwarna putih sambil menatap langit warna biru.
"Kau senang berada disini?" tanya Angel kepada Keysara.
"Aku sangat senang bisa bertemu denganmu, Mom." Tiba - tiba, hujan gerimis datang. Angel membuka payung berwarna putih lalu menatap ke arah Keysara.
"Dia menangis, menunggumu. Hujan ini adalah tangisannya. Disini, bukan tempatmu, Sayang. Banyak orang yang mencintaimu. Kembalilah, kita akan bertemu lagi." Angel memberikan payung itu lalu berjalan menjauh dan hilang begitu saja. Keysara tersidu teriak mencari keberadaannya.
"Mom!! Jangan pergi!! Kembalilah Mom." Keysara berlari kesana kemari mencari keberadaan Angel.
"Kembalilah, Sayang. Temui dia." Suara Angel menggema. "Tidak!!" teriak Keysara.
"Keysara, aku mohon kembalilah…, kembalilah…." Suara itu terdengar familiar di telinga Keysara. Ia berbalik arah. "Lando!!" teriaknya tidak percaya.
Di waktu yang sama, Orlando menatap kosong ke arah Keysara. Ia duduk di tepi ranjang sambil mengelus wajah gadis itu. Hatinya lemah, penyesalan masuk tanpa permisi. Jika saja, ia tidak mengikat perjanjian itu. Pasti, gadisnya masih baik - baik saja. Air mata terus mengalir tanpa henti. Tidak ada usapan dan dibiarkan begitu saja.
Siapa yang tidak di rendung duka saat melihat orang yang dicintai lemah tidak berdaya. Semuanya pasti merasakan hal demikian. Hatinya merasa sesak pilu ingin berteriak meminta pertolongan Tuhan. Jika diperkenankan, Orlando akan menggantikan rasa sakit itu.
__ADS_1
Setelah injeksi dari penawar racun pertama, wajah Keysara semakin membaik. Meski tadi sempat kejang - kejang, kini tubuhnya tidak lagi dingin. Ada rasa lega saat melihat gadis itu baik - baik saja. Namun, itu bukanlah kelegaan selamanya melainkan hanya sementara.
"Keysara, aku mohon kembalilah…, kembalilah…." Sudah sekian lama kalimat itu terulang dari mulut Orlando.