Dangerous Mafia

Dangerous Mafia
DM 17: Kejengkelan Berbuah Manis


__ADS_3

Wanita itu berjalan mendekat ke arah Orlando dengan percaya diri yang tinggi. Ia sengaja memperlihatkan body yang menggairahkan itu kepadanya. Oke, Keysara tahu itu. Tidak baik bagi gadis yang masih remaja polos menonton adegan yang merusak kedua matanya. Tanpa sepatah kata satupun, gadis itu berjalan cepat keluar ruangan. 


"Berhenti!! Kalau kau keluar dari ruangan ini, mala kau tidak akan mendapatkan benda yang aku pegang." Sebuah ancaman yang membuat Keysara berhenti lalu menoleh. Karena merasa tidak diperhatikan, wanita itu dengan sengaja menjatuhkan dirinya kepada Orlando. 


Haiya, tontonan menarik.


Pikiran Gerald mengacu kepada ketiga orang yang terlibat di dalam sebuah drama yang berjudul 'Percintaan'. 


Orlando tidak menolak ketika wanita itu bersandar di dada bidangnya. Ia malah mendekap erat sang wanita. Di atas awan wajahnya sehingga terbang ke langit tertinggi. Dengan gaya centilnya yang menggoda diiringi suara serak - serak menjijikkan. Katakanlah, itu asumsi Keysara. Ia benar dan sangat tidak tahan. 


"Ma… maaf, Tuna. Lina tidak sengaja," ucap Lina dengan nada manja. Lelaki itu tuli dan lebih menatap reaksi Keysara. Ia ingin melihat sejauh mana gadis itu bisa bertahan dalam kondisi seperti saat ini. 


"Bye," pamit Keysara dingin sambil melengos pergi. Memang benar, kalau gadis itu berbeda dengan gadis lainya di luar sana. Bisa di lihat, kalau dia acuh dengan lelaki berkarismatik seperti Orlando. Padahal, lelaki itu berharap kalau gadis itu sama dengan wanita yang tengah bersandar di dadanya. 


Dengan kasar, Orlando menghempaskan tubuh Lina hingga tersungkur di lantai. "Murahan," ucapanya yang pedas tidak menyurutkan rasa ingin memiliki lelaki itu. Ia tanpa tahu malu bangkit dan memeluknya lagi. 


Karena keras kepala, Orlando harus menggunakan cara kasar untuk membuat Lina jera. Ia menendang perut wanita itu tanpa ampun. 


"Apa salahku? Aku mencintaimu, Tuan." Ungkapan cinta diiringi isak tangis sesenggukan. Gerald yang melihat itu hanya tersenyum simpul. 


"Urus dia!" teriak Orlando sambil pergi mencari Keysara. "Sial! Kalau sampai gadisku pergi, aku akan membunuhmu." 


Tubuh Lina gemetar. Apakah lelaki yang dicintainya adalah seorang monster? Hidupnya pasti akan sulit setelah ini. Gerald mendekati wanita itu sambil membungkuk. "Kau membangunkan singa yang tengah tidur, Lina. Pekerjaanmu selama lima tahun di sini sudah hancur. Berdoalah, hidupmu selamat dari kematian."


Sungguh gila! Jika boleh memilih, Lina tidak akan melakukan hal itu. "Aku ingin lari," ucapnya dengan nada bergetar. 


"Percuma kau lari. Tidak akan mudah keluar dari sarang singa itu." Wanita itu menunduk merutuki kebodohannya dalam ruangan itu.


Sementara Keysara berjalan bebas di dalam kantor Orlando. Hari pertama kerja sungguh membuatnya tidak nyaman. Pekerjaan ini, bukanlah bidangnya. Dan ia tidak mau melakukan pekerjaan yang tidak disukai. 


Sepanjang perjalanan, banyak mata memandangnya. Hujatan dan pujian jadi satu menggema di telinga Keysara. Biarlah, mungkin mereka iri. Gadis itu hanya acuh saja pura - pura tidak mendengar kata - kata mereka. 


Ketika gadis itu berhenti, ada seseorang yang menghampirinya. "Anda pegawai baru?" tanyanya penuh antusias. Keysara menatap lelaki itu. Ia kemudian melihat sekitarnya. Lihat saja, semua melihatnya. Para lelaki itu. Apakah ada yang salah dengan penampilannya? Gadis itu semakin tidak mengerti.

__ADS_1


"Kenapa Anda tidak menjawab pertanyaanku, Nona?" tanyanya lagi dengan gugup.


Keysara memperhatikan tingkah lelaki di depannya. "Iya, aku pegawai baru." Suara lembut dan merdu masuk ke dalam telinga lelaki itu. Jantungnya pun berdetak kencang tidak karuan. 


"Jaga pandangan mata kalian!!" teriak Orlando menggema hingga Keysara menoleh ke arahnya. Dari jauh, sudah terlihat bahwa lelaki itu tengah berada di dalam mode iblis yang siap menyerang siapa saja. Para karyawan langsung menunduk takut. 


Orlando menghampiri Keysara dengan emosi meluap. Ia berjalan sedikit cepat hendak melayangkan tinju ke arah lelaki di depan gadisnya. Namun, siapa sangka. Gadis itu menarik tangannya lalu membanting tubuhnya ke lantai. 


"Sial, sakit sekali. Punggungku bisa patah," ucap Orlando sambil mengerang kesakitan. Para karyawan hanya memekik kaget melihat kejadian itu. 


"Pergi lah…, sebelum dia meraung." Semua orang langsung kocar kacir pergi meninggalkan mereka berdua sendirian. 


"Bantu aku berdiri," pinta Orlando sambil berusaha bergerak. Tubuhnya sangat kaku sekali. Rasanya, ia akan menjadi kakek untuk sementara waktu. 


Bukannya membantu, Keysara dengan acuh pergi meninggalkan Orlando sendirian. Sepertinya, ia harus meminjam ponsel Anastasya dengan menyewanya. 


Kenapa aku tidak berpikir seperti itu? Dari pada berurusan dengannya. Membuat muak saja. 


Gadis itu pergi meninggalkan Orlando yang tengah berteriak memanggilnya. Ia sungguh malas melihat tampang lelaki itu. Tujuan utama saat ini adalah bertemu dengan Anastasya. 


"Maaf, Nona. Anda dilarang keluar dari gedung ini." Keysara memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Ia tidak akan kabur dari tanggung jawabnya. 


"Kau perlu di hukum, Sayang." Suara barinton khas milik Orlando menggema. Gadis itu dengan lesu berjalan ke arahnya. Ia menundukkan kepala lelah dengan semuanya. Cukup hari ini, ia berdebat dengan si pengatur itu. Tenaganya harus tersimpan rapat - rapat untuk berperang besok. 


Orlando mengambil sesuatu di sakunya lalu menyerahkan kepada Keysara. Gadis itu langsung menatap ke arahnya. "Kau memberikannya padaku. 


"Bukankah kau rindu dengan ayahmu?" ucap Orlando sambil memegang tangan Keysara lalu meletakkan benda pipih itu di telapak tangannya. 


"Benarkah…." Mata Keysara berbinar cerah. "Terimakasih," imbuhnya sambil tersenyum manis. Dua lesung pipi tercetak jelas di kedua pipinya. Senyum tulus mengembang tanpa paksaan membuat jantung Orlando berdetak kencang. Rona merah menjalar sampai telinga hingga ke leher. 


Sial, dia begitu manis. Aku sangat ingin dan ingin memakannya. 


Batin Orlando sambil membuang muka. Keysara menatap wajah lelaki itu dengan cermat. Meneliti tingkah lakunya yang sungguh aneh. "Kau sakit? Kenapa mukamu merah sekali?"

__ADS_1


Tiba - tiba, ada seseorang yang melempar shuriken ke arah Keysara dengan cepat sehingga tidak sempat mengelak. 


"Kepar*t!! Cari dia! Beraninya melukai gadisku!! Orlando berteriak sambil memegang lengan Keysara yang berdarah. Gadis itu meringis kesakitan. Sedangkan para anak buah lelaki itu berhamburan mencari keberadaan orang misterius itu. 


"Maaf, Tuan. Tidak ada jejak." Orlando langsung menembak kepala bawahannya. "Tidak becus! Cari lagi!!" 


Keysara melepas tangan Orlando sambil memegang tangannya yang kian menetes.


"Mau kemana? Kita pulang ke Mansion." Tidak ada jawaban dari gadis itu. Ia hanya berjalan menjauh. Sepertinya, banyak musuh yang mengincar nyawanya. 


"Jangan keras kepala, Keysara!!" Lagi - lagi, Orlando berteriak. Lelaki itu pasti akan cepat tua. Mengingat energinya untuk berteriak sebesar gunung everest. 


Keysara melepas shuriken itu lalu membuangnya dengan kasar. Sekarang, tubuh putih mulusnya sudah berbekas. Ini semua gara - gara bajing*n itu. 


Kenapa Tuhan memberiku kesialan seperti ini? 


Petir menyambar dengan cepat. Kilat halilintar di padu hujan lebat. Lengkap sudah, ia berhenti di teras kantor sambil menatap hujan. Helaan nafas keluar dari mulutnya seakan nasib sial selalu menghantuinya. Okay, ia salah karena durhaka kepada sang ayah. 


Dari belakang, Orlando memeluk tubuh Keysara. "Jangan pergi. Maafkan aku yang bodoh tidak bisa menjagamu sehingga tubuhmu tergores. Aku mohon…, jangan keras kepala seperti ini. Lukamu perlu diobati." 


Keysara bukan gadis lemah. Luka seperti ini tidak membuatnya menangis. "Kali ini, aku akan menurut padamu." 


Semburat senyum tipis tanpa sadar melengkung di sudut bibir Orlando. Ia mengusap - usap rambut Keysara dengan lembut lalu merangkul bahunya. "Aku akan memanggilkan dokter. Kita masuk ke ruanganku lagi."


"Tidak mau!!" tolak Keysara. Jika kesana, ia akan bertemu si dada besar. Tentu saja itu akan merusak matanya. 


"Kenapa? Kau cemburu?" Nada senang terletak di setiap kata Orlando. Ia seperti mimpi terbang hingga mencapai awan. 


"Dalam mimpimu!!" jawab sengit Keysara. Perdebatan kecil itu tidak luput dari senyum manis mereka. Betapa manisnya keduanya saat bertengkar mengenai hal kecil. Perasaan seperti itu mampu membuat hati kosong itu terisi kembali. 


Menyebalkan, seharusnya aku membunuhnya. 


Ada percikan cemburu di sudut tempatnya melihat kebersamaan mereka. Siapa lagi yang akan merusak momen indah keduanya? Tidak ada yang tahu. Tapi yang jelas, wanita cantik berhati iblis itu masih terus mengincar Keysara. 

__ADS_1


Tunggu saja, aku akan membuatmu mati mengenaskan. 


__ADS_2