
Seberapa besarkah kau mencintainya? Jika kau menyakiti hati bintangku. Aku tidak akan memaafkanmu. Dekat denganmu membuatnya terluka berulang kali. Kau berjanji padaku untuk melindunginya. Tapi, kenyataanya semua palsu. Dia tetap terluka. Sepertinya, aku harus membawanya lari jauh dari dunia terkutukmu.
Kellano Alexander Beltran
❤️❤️❤️❤️
Pagi yang cerah di sambut oleh mentari bersinar terang. Hati yang dingin mulai menghangat. Tapi, tidak dengan hati lelaki yang tengah duduk di tepi ranjang. Semalam, ia kehilangan pondasi untuk mencegah Orlando menempel pada Keysara.
Tapi, tidak dengan hari ini. Ia akan memisahkan Orlando dari bintangnya. Menjauhkan dirinya sebisa mungkin. Untuk menghilangkan racun, lelaki itu masih punya banyak cara.
Suara gaduh di depan kamar membuatnya beranjak dari ranjang. Ia membuka handle pintu dengan gaya khas orang malas pada umumnya. Wajahnya tidak ramah sekali. Raut muka menunjukkan ketidaksenangan atas apa yang dilihatnya.
"Kenapa kau kemari, Dion?" tanyanya dengan cuek. Dion menghela nafas panjang. "Biarkan aku masuk dulu." Ia menerobos masuk begitu saja merebahkan tubuhnya keatas ranjang. Malam yang panjang membuatnya kurang tidur.
Tadi malam, Dion mencari keberadaan Bryan dengan beberapa anak buahnya. Matanya menangkap hal aneh karena Dettian berada di sana. Lelaki itu pun menyuruh salah satu bawahannya untuk menyelinap sebagai anggota Bryan.
"Aku sudah bertemu dengan Steve. Dokter yang menangani Keysara. Racun itu tidak bisa disembuhkan kecuali penawar dari Bryan. Steve sudah menguji berbagai jenis penawar. Tapi, semuanya nihil. Dia bahkan tidak tidur semalam."
Kellano menghela nafas panjang. Ia merasa gagal menjadi saudara Keysara. Sebesar ini, ia tidak bisa melindungi gadis itu. "Aku akan membawanya ke USA untuk berobat."
Dion langsung duduk. "Jangan gegabah, Kel. Kau tidak bisa pergi begitu saja. Keluarga Golden akan mencari kalian. Kau tidak tahu seberapa kuasanya mereka."
"Lantas, aku harus bagaimana? Menunggu dia berakhir? Membayangkan hal itu saja membuatku tak berdaya. Aku tidak bisa tinggal diam. Aku sangat menyayanginya." Kellano merosot ke bawah sambil memegang dadanya. "Rasanya aku ikut tercekik jika Keysara benar - benar pergi meninggalkan aku dan Daddy. Aku tidak ingin kehilangan dia, Dion."
Dion menghampiri Kellano lalu memeluknya erat. "Orlando tidak akan membiarkan Keysara pergi begitu saja. Aku sudah hafal betul sifatnya. Buanglah pikiran negatif yang ada di kepalamu."
__ADS_1
Anastasya yang tanpa sengaja mendengar itu hanya bisa diam. Ia tidak bisa menghibur mereka. Gadis itu memilih pergi untuk melihat keadaan Keysara. Ia berjalan menuju kamar Orlando.
Dari jauh, Anastasya melihat Orlando keluar kamar. Ia datang menghampirinya. "Apakah kau tidak akan membiarkan pergi?"
Orlando menoleh memasang wajah dingin. "Kau tidak perlu mengurusi urusan pribadiku, Ana."
Anastasya menghela nafas panjang. "Kau hanya bisa membuatnya dalam bahaya. Biarkan dia pergi. Aku yang akan mengurusnya dan meminta penawar kepada Bryan. Jika kau terus berada di dekatnya, aku yakin bajing*n itu akan terus menyiksa Keysara. Sebab, dia berharga untukmu."
Ekspresi wajah Orlando berubah. Semua yang dikatakan Anastasya benar adanya. Tidak bisa dipungkiri, semakin Keysara dekat dengannya. Maka, Bryan akan terus menerus menyakiti gadis itu.
"Lepaskan dia, Lando." Kali ini, Anastasya memohon kepada Orlando dengan mata penuh harap.
"Seberapa keras kau mencoba membujukku. Aku tidak akan melepaskannya," ujar Orlando dingin sambil meninggalkan Anastasya sendirian. Biarlah ia egois dalam bertindak. Namun, jika melepaskan Keysara adalah pilihannya. Lebih baik gadis itu mati di depan matanya.
Keysara mendengar semua pembicaraan mereka berdua. Ia hanya menghela nafas berulang kali. Ditatapnya tangan mungil sambil tersenyum. Jika ini adalah akhir, hal yang dilakukan saat ini membuat orang lain disampingnya bahagia.
"Aku akan memberikan kenangan terindah untuk kalian," ucap Keysara penuh semangat. Ia siap jika harus pergi. Lagi pula, ibunya menunggu. Namun, sebelum menghilang dari dunia ini. Gadis itu akan menyelesaikan segala permasalahan yang ada.
Dengan semangat, Keysara beranjak dari ranjang untuk keluar ruangan. Keadaan di sekitar ruangan itu kosong. Ia berjalan menuju kamar Kellano. Diintipnya kamar itu. Hatinya tersayat saat melihat saudaranya melamun dalam ke pedihan.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Keysara memasang wajah ceria. Kellano terperanjak kaget dari lamunannya. "Aku hanya rindu dengan Daddy."
Keysara tahu kalau Kellano sedang berbohong padanya. Tapi, ia memasang wajah polos dan pura - pura tidak tahu. "Aku akan berangkat kerja."
Kellano menoleh, "Kau baru saja sembuh. Jangan bekerja. Aku akan bicara dengan Lando." Gadis itu menggeleng lemah. "Aku sehat, tubuhku sudah tidak apa - apa. Kau terlalu khawatir, Kel."
__ADS_1
Keysara tersenyum sambil berlalu. "Aku berangkat." Gadis itu menghilang dari pandangan Kellano. Ingin rasanya mencegah kepergian Keysara. Namun, ia tak mampu. "Aku saudara yang bodoh."
Keysara keluar dari kamar Kellano dengan wajah tenang. Mata cantiknya terkejut saat melihat lelaki berbaju putih tengah duduk di sofa bersama Orlando. Gadis itu bersembunyi di belakang tembok.
"Kenapa kau datang kesini tanpa di undang?" tanya Orlando acuh. Bryan hanya tersenyum dalam tenang. "Butuh empat suntikan racun lagi selama tiga bulan. Aku akan memberikan penawarnya secara cuma - cuma."
Orlando menatap tajam Bryan. Pasti ada udang di balik batu. Tidak mungkin Bryan akan memberikan penawar itu secara gratis.
"Aku ingin Keysara tinggal dimansionku." Perkataan Orlando sontak membuat darahnya memanas. "Kau!!" teriaknya keras.
"Ya, hanya selama pengobatan. Lagipula, racun itu bisa menghilang dalam waktu singkat. Aku harus menguji perkembangan penawar dalam tubuh gadis itu. Mengingat racun itu belum pernah di uji coba."
Emosi Orlando tidak bisa terbendung lagi. "Kau menjadikannya bahan uji coba. Kau gila!!" Lelaki itu melayangkan pukulan ke wajah Bryan. Namun, ditangkis oleh pengawal Bryan.
"Jangan memancing emosiku, Lando. Aku bisa membuat gadis itu mati detik ini juga."
Mendadak, lutut Orlando melemas. Ia merenung dan merenung. Kalau begini, apa yang harus dilakukannya? Keysara tidak akan aman berada di dekatnya. Terlebih lagi, si brengs*k itu telah menargetkan Keysara. Sungguh pilihan yang sangat sulit.
"Aku akan pulang. Pikirkan baik - baik." Bryan beranjak dari sofa lalu pergi meninggalkan Orlando sendirian. Ia berdiri dengan pandangan kosong menatap kedepan. Matanya mengarah ke Keysara tepat di hadapannya. Lelaki itu pun terkejut namun bersikap biasa.
"Kau mendengar semuanya." Keysara tidak akan berbohong kali ini. Ia memang mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut Bryan.
Apa yang harus aku lakukan untukmu Keysara? Aku telah mengikatmu dengan egois sehingga kau menderita sedemikian rupa. Hatiku tersayat oleh ribuan pisau.
Keparat itu hanya berani mengancam. Aku harus bertindak. Cih, pasti ada sesuatu dibalik rencananya.
__ADS_1