
Aku tidak akan membiarkan kau pergi. Bagaimanapun, perjanjian itu harus tetap berjalan. Meski hanya formalitas saja.
Orlando Golden
❤️❤️❤️❤️
Berbicara tentang cinta adalah hal yang begitu indah. Awal mula mencintai, akan berada di dalam musim semi. Dimana semua pohon yang berbunga mekar. Ketika berdua, dunia seperti milik sendiri. Kebahagian meradang jadi satu. Di dalam tubuh masing - masing mengeluarkan feromon untuk mengikat satu sama lain.
Hati yang kejam berubah jadi lembut seperti kapas. Hal itu dirasakan oleh Orlando. Lelaki berdarah dingin. Tirani terkejam tapi mempunyai sisi manusiawi. Ia terus saja menatap Keysara yang tengah mengigau berulang kali.
"Jangan pergi," ucap Keysara dalam tidurnya. Orlando semakin erat memegang pergelangan tangan seraya berkata, "Tenanglah…, aku di sini."
Ucapan itu seperti mantra membuat Keysara tenang. Raut wajah gadis itu berubah. Air matanya keluar memancarkan kesedihan. Orlando mengusap lembut air mata itu.
"Masa kritisnya telah usai. Kenapa kau tidak istirahat, Lando? Tubuhmu belum pulih benar." Wajah pucat Orlando hanya diam tanpa mengeluarkan ekspresi. Ia hanya menatap Keysara.
"Setidaknya, demi gadis itu. Ketika dia bangun nanti, cahaya wajahmu sudah menunjukkan kesehatan." Steve masih berusaha membujuk lelaki itu untuk beristirahat. Orlando kemudian berdiri lalu merangkak keranjang. Ia memeluk erat Keysara dengan posesif.
"Baiklah, aku akan pergi. Istirahatlah…." Steve meninggalkan mereka berdua. Ia berjalan keluar lalu bersandar di tembok mengingat kejadian tadi. "Ian, kau keterlaluan," ucapnya penuh penekanan.
Di sisi lain, Bryan sedang menyesap kopi miliknya. Lelaki itu tersedak saat minum. Ia terbatuk - batuk lalu melempar cangkir yang masih panas itu. Salah satu dari orang kepercayaannya datang melihat kondisinya.
"Tuan baik - baik saja?" tanyanya penuh khawatir. Bryan mengusap kasar rambut panjangnya. "Pecat pelayan yang membuat kopi," ucap Bryan tenang.
__ADS_1
Lelaki itu mengambil foto di laci. Menatap setiap gambar lalu melempar foto itu begitu saja. Tatapan dari seseorang mengingatkan pada gadis itu. Ia benci mata yang tidak kenal takut. Ingin sekali tangan ini membunuh gadis itu.
"Keysara, dari sekian banyak gadis. Kenapa kau mirip sekali dengannya? Sayang sekali, gadis sepertimu akan hidup sia - sia." Bryan menggerakkan jarinya berulang kali diatas meja.
Raut wajah tenang seperti air tanpa adanya arus. Ekspresinya yang lembut mampu membuat kaum hawa meleleh. Bryan pintar menyembunyikan segala ekspresi wajahnya. Tidak ada yang bisa menebak apa yang ada di otak jenius itu.
"Tuan, apakah Anda akan menggunakan Nona itu?" Bryan hanya menatap lelaki di depannya. "Kau terlalu ikut campur, Robert."
Robert menunduk, "Maaf, Tuanku. Saya hanya berpikir untuk memanfaatkan Nona Keysara saja. Bukan membuatnya menderita seperti ini."
Bryan diam dalam ketermenungannya. Menatap foto itu dengan penuh arti. Namun, tatapannya tetap tenang. Jika Dettian akan mempunyai banyak ekspresi wajah dan terbuka. Tapi, tidak dengan Bryan. Lelaki itu cenderung bungkam, tenang dan kelihatan sabar. Segala tindakannya akan diperhitungkan. Setiap langkahnya akurat. Prediksi pun tidak pernah meleset.
Bryan adalah tirani di atas tirani. Iblis di atas iblis. Tangannya mampu menghanguskan segala orang yang menghalanginya. Hatinya sudah beku dan mati.
"Tuanku, sudah malam. Saya akan mengunjungi laboratorium." Bryan mengangguk, "pergilah…."
Awal mula Bryan bertemu dengan Keysara memiliki kesan yang mendalam. Tingkah berani dan pantang menyerah membuatnya salut. Bahkan, dia tidak terhipnotis oleh pesona lelaki itu. Sungguh gadis yang unik. Batinnya berulang kali tanpa mengenal lelah.
"Kau tidak akan mati dengan mudah." Bryan berbalik arah lalu keluar ruangan menuju kamar miliknya. Di buka handle pintu perlahan. Mata elang itu tertuju pada pigura besar yang ada di sana.
"Lihatlah, kau menginginkan ini, bukan?" ucap Bryan lalu berbaring di atas ranjang. Perjalanannya menuju neraka masih panjang. Ia harus bekerja keras untuk mendapatkan semuanya. Termasuk membuat pewaris sah mati. Dan menyingkirkan tikus - tikus yang menghalangi jalannya.
Sementara itu, Kellano menyeret kopernya dengan tergesa - gesa. Ia memencet ponsel lalu menghubungi seseorang. "Brengs*k!" umpatnya dengan nada tinggi khas orang Indonesia. Lelaki itu marah lantaran Dion tidak bisa dihubungi. Ia harus bersusah payah mencari kendaraan menuju mansion milik Orlando.
__ADS_1
Dari jauh, Kellano melihat Anastasya yang tengah mengendarai sepeda motor. Ia yakin kalau gadis itu disuruh oleh Dion untuk menjemputnya.
"Kenapa lama sekali?" tanya Kellano sambil merebut motor itu lalu memberikan koper kepada Anastasya. "Aku menyesal membawa koper," ujarnya sambil melajukan motor itu dengan kecepatan tinggi.
Anastasya tersentak lalu mencengkeram baju Kellano dengan erat. "Pelan - pelan, aku tidak mau mati muda!!" teriaknya sambil menutup mata. Sungguh Kellano seperti pembalap liar. Mendahului banyak kendaraan. Tubuhnya sangat lihai menguasai motor itu.
Tidak lama kemudian, mereka sudah sampai di mansion. Tanpa bicara, Kellano langsung lari menuju kamar tempat Keysara berada. Ia melihat kedua pengawal berdiri disana.
"Menyingkir!!" teriak Kellano. Pengawal itu menghalanginya. "Maaf, Tuan. Tapi, Tuanku sedang ada di dalam. Anda tidak boleh masuk begitu saja."
"Sialan…!" Kellano tidak terima karena dihalangi untuk menemui Keysara. Ia memukul kedua pengawal itu tanpa ampun. "Pergi!!" teriaknya sambil membuka pintu.
Kellano diam mematung melihat pemandangan yang ada di depannya. Keysara tergeletak lemah di sana dengan wajah yang pucat. Tubuh lelaki itu bergetar hebat.
Orlando perlahan membuka matanya karena mendengar suara pintu dibuka. Ia menatap Kellano dengan dingin. "Kau datang." Lelaki itu bersikap biasa seolah tidak terjadi apa - apa.
"Kenapa dia jadi seperti ini? Kau bilang, kau akan menjaganya. Mana janjimu!" ucap Kellano parau sambil menahan rasa bersalah. Ia berjalan mendekati Keysara.
"Keysara, bangunlah…, maafkan aku. Jangan seperti ini. Mom meninggalkan kita. Jika kau terbaring seperti ini, bagaimana Mom akan bahagia?" Lelaki itu menggenggam erat tangan Keysara lalu mengusap rambutnya.
"Aku tidak butuh perjanjian yang ada di Jerman. Aku tidak peduli lagi. Bagiku, Keysara adalah segalanya. Lando, kita batalkan perjanjian itu." Kellano berbicara tanpa menatap Orlando.
Orlando pun tercengang. Perjanjian batal, maka gadis itu akan lari darinya. "Kau tidak bisa membatalkan sepihak."
__ADS_1
"Apa maksudmu? Apa matamu buta? Kau tidak melihat bagaimana kondisi Keysara. Kau tidak punya perasaan. Dia hanya gadis mantan model. Hidupnya hanya untuk kecerian. Bukan di dalam lingkaran terkutuk kehidupanmu. Jika dia disini, dia akan semakin menderita." Kellano harus bersikeras untuk membujuknya. Namun, Orlando menatap tajam seakan ingin melahabnya.
Lelaki itu menarik kasar kerah Kellano hingga terbentuk di tembok. "Perjanjian tetap berjalan. Jika dia ingin hidup, maka harus bersamaku. Kita masih butuh penawarnya. Dan barang itu hanya ada di tangan musuhku. Pikirkan baik - baik, Kellano."