Dangerous Mafia

Dangerous Mafia
DM 14: Rencana Balas Dendam


__ADS_3

Bagi Dettian dan Orlando cinta hanyalah sebuah ungkapan omong kosong. Mereka dengan mudahnya menutup perasaan karena kehidupan yang keras di sekitarnya. Karena bagi mereka, mengenal cinta adalah hal tabu. 


❤️❤️❤️❤️


Pada dasarnya, rasa cinta bisa timbul seiring berjalannya waktu. Ketika cinta datang, seseorang belum tentu mengetahuinya. Rasa yang berkedok warna pink merona itu membuat siapa saja terbuai. Termasuk lelaki arrogant satu ini. 


Dengan senyum merekah seperti orang jatuh cinta pada umumnya menatap seseorang yang tengah tertidur di ranjang miliknya. Perdebatannya dengan Kellano membuat emosinya memuncak. Ia dengan tergesa - gesa diliputi amarah pergi dari ruangan itu dengan kasar. 


Akhirnya, Lelaki itu memilih duduk memandangi bidadarinya. Tangan kekar itu berjalan menyentuh jantung yang tengah berdetak kencang. 


"Jantung bodoh, berhentilah…."


"Jika kau bersama dirinya terus. Jantungmu akan tambah menggila." Suara seseorang yang familiar terdengar oleh lelaki itu. "Kau sedang jatuh cinta, Lando," imbuhnya sambil berjalan.


"Jangan kemari! Keluar dari kamarku, Ana." Orlando tanpa menoleh sedikit berteriak kepada Anastasya. 


"Buat dia nyaman disisimu," ucap Anastasya lalu beranjak pergi. 


Orlando mengusap kasar wajahnya. Di dalam hidupnya, tidak ada yang namanya cinta. Sampai kapanpun, ia akan membuang perasaan laknat itu. 


"Aku benci hal ini." Jika Orlando memberi kelonggaran hal ini, pasti Keysara akan pergi darinya. Menjauh dari jangkauan mata elang miliknya. 


"Dengar, aku tidak akan membiarkanmu menjadi milik pria lain." Orlando masih mengingat betul ucapan - ucapan yang keluar dari mulut kotot Dettian. Ia mengepalkan kuat tangannya. Kemudian, mata itu beralih memandang wajah polos Keysara. Hatinya menghangat. Amarah yang tadinya berada di puncak hilang entah kemana. 


"Kau canduku. Kau malaikatku. Kau matahariku," ucap Orlando sambil menggeram masuk ke dalam selimut sambil membisikkan kata - kata itu berulang kali di telinga Keysara. Sesekali, ia menghirup aroma tubuh gadis itu. Indra penciuman yang mengendus merasa nyaman hingga tanpa sadar masuk ke alam mimpi dengan tenang.


Di sisi lain, Dettian sedang melakukan aktivitas panasnya. Namun, ketika masih pemanasan. Wajah Keysara selalu muncul di dalam pikirannya. Hasilnya, seorang wanita yang menjadi pemuas nafsu itu terkapar lemah karena ditembak olehnya. 


"Leo!! Seret jal*ng ini!" teriak Dettian sambil mengusap kasar wajahnya. Leo langsung masuk dan membereskan kekacauan yang telah dilakukan oleh lelaki itu. 


Semenjak bertemu dengan Keysara, Dettian tidak bisa mengalihkan pikirannya dari gadis itu. Ia kemudian duduk di sofa dengan kasar. Adwin yang melihat itu hanya diam dan berjalan mendekatinya. 


"Kenapa tubuhmu menolak gadis lain? Padahal, sebelumnya tidak."

__ADS_1


Dettian mengambil gelas yang berisi anggur dengan kasar lalu meminumnya sampai tandas. "Aku tidak tahu."


Benar, Dettian tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Perasaan asing yang kian bertambah disaat menjauh dari Keysara. "Aku merindukannya." Terlihat wajah frustasi lelaki itu. 


"Kau, jatuh cinta padanya," ucap Adwin frontal."


Mata Dettian membulat sempurna. Cinta itu adalah hal mustahil baginya. Di dalam kehidupannya rasa itu adalah rasa yang terlarang. Lagi pula, tidak mungkin ia jatuh cinta dengan gadis itu. 


"Kau jangan bercanda!" teriak Dettian sedikit emosi.


"Aku tahu kau seperti apa, Dettian. Coba pikir, kau merindukannya. Dan pasti, jantungmu berdetak kencang karenanya."


Wow! Tebakkan Adwin benar adanya. Namun, karena Dettian keras kepala. Ia tentu akan mengelak jika memiliki rasa itu. 


"Keluar!! Jangan bicara omong kosong!!" Dengan cepat, Adwin keluar ruangan tanpa suara. Ia tidak mau mengganggu Dettian yang sedang dilema. 


Sepeninggalan Adwin, Dettian terus berpikir mengenai dirinya. Hidup dari bawah, merangkak berusaha mencapai tingkat tertinggi. Ia kemudian beralih kepada pigura yang berada ditangannya. Entah sejak kapan pigura itu ada. Yang jelas, sekarang pandangannya teralih pada foto itu. 


Dettian tanpa sadar meneteskan matanya. Begitu kejam seorang ibu yang tega membuang anaknya. Bahkan, menyiksa hingga sekarat. Cap haram pun melekat padanya. Tidak jarang, banyak yang menghujat dan mengoloknya. Apa salahnya? Ia hanya makhluk yang tidak berdosa. Salahkan kedua orang beda jenis kelamin itu yang telah melakukan hal nista hingga berbuah dirinya. 


"Kau, bukanlah seseorang yang buruk. Aku akan balas dendam atas apa yang terjadi di kehidupanku. Keluarga Golden harus membayarnya. Karena mereka pantas mati."


Kebangkitan Dettian dari keterpurukan yang dialami bertujuan untuk membalas dendam kepada keluarga Golden. Masih ingat jelas di benaknya saat petinggi keluarga itu datang menyeret dan menyiksa dirinya. 


"Aku akan merebut milikmu yang berharga!!" Tawanya menggelegar di seluruh ruangan. Para penjaga yang di ada di sana hanya bergidik ngeri mendengar suaranya itu. 


Sementara Adwin yang mendengar tawa kesetanan Dettian hanya menghela nafas berulang kali. Ia tidak ingin temannya itu jatuh terlalu dalam mengenai balas dendamnya. 


"Apakah kau akan membiarkannya masuk ke dalam pusaran hitam?" Adwin menyedot cerutunya. 


"Aku mulai bingung dengan sikapnya, Tuan." Jujur, Leo mulai tidak bisa memahami Dettian. "Mungkin, hanya Nona Keysara satu - satunya jalan untuk membuatnya berubah."


Sebenarnya, Adwin sangat penasaran dengan sosok Keysara. Ia menatap Leo dengan seksama. "Seperti apa gadis itu?" 

__ADS_1


Leo mengambil sesuatu di balik jasnya. Ia menyorkan kertas itu kepada Adwin. Bola mata lelaki itu membulat sempurna. Keindahan yang berada di depannya adalah nyata. 


"Ba… bagaimana bisa Dettian kenal dengannya?" Mata Leo memicing melihat tingkah Adwin yang tengah gugup. 


"Tuan Adwin kenal dengannya?" 


Gelagat aneh nampak jelas di hadapan Leo. Ia menaruh curiga kepadanya. "Tuan Adwin Lamos," panggilnya lengkap berulang kali tidak membuat Adwin membuka suara. 


"Tuan!!" panggil Leo dengan nada meninggi sehingga Adwin tersentak. 


"Maafkan aku," ucap Adwin sambil mengusap kasar wajahnya. Ia terlihat cemas di lain sisi. Kaysara, gadis itu adalah malaikat baginya. Dunia benar - benar sempit. Takdir yang sempat terputus kini terikat kembali. 


"Bisakah aku mengalihkan perhatiannya mengenai Keysara." Ucapan itu tanpa sadar telah terlontar keluar. Leo semakin penasaran dengan hubungan Adwin dengan gadis itu. 


"Tuan, katakan yang sejujurnya kepadaku." Adwin mendesah enggan menceritakan hal pribadi kepada Leo. 


"Dia penolongku. Aku tidak ingin ada orang yang menyakitinya." Leo mengangguk membenarkan perkataan Adwin. 


"Dia gadis baik. Bukan tempatnya berada di dunia bawah." 


"Tapi, Tuan Dettian pasti akan melakukan segala cara untuk balas dendam. Termasuk menggunakan Nona Keysara."


Adwin mengepalkan tangannya kuat. "Kau benar. Pasti dia akan melakukan itu." Tidak bisa dipungkiri, bahwa rencana Dettian sudah bisa ditebak oleh keduanya. Lantas, bagaimana rencana itu akan dijalankan? Mereka belum bisa menebaknya. 


"Apakah ada cara lain? Kau punya rencana untuk membuat Dettian melupakan Keysara." 


Leo menggeleng, "Jika Tuan ingin melindungi Nona Keysara satu - satunya cara adalah menjauhkan keduanya. Tapi, resikonya sangat besar. Tuan harus siap bermusuhan dengan Black Hole dan Dragon."


Adwin meremas rambutnya kasar. Memusuhi mereka adalah jalan menuju neraka. Satu - satunya cara adalah melindungi Keysara dari jauh dan sembunyi - sembunyi. 


Aku tidak akan membiarkan Dettian terlalu kalut dengan balas dendamnya. 


 

__ADS_1


__ADS_2