
Kedua orang yang ada di dekat gadis bergetar hebat lantaran sang tuan tengah berada tepat di depan mereka. Bahkan, bekas darah yang belum kering itu masih tercium bau anyirnya.
Keysara hanya menatap lalu memutar bola matanya jengah. Ia tidak peduli dengan sekitar. Gadis itu terlalu dingin dan cuek. Ya, itulah sifat Keysara, ia akan berlunak hati dengan orang yang ada di sayanginya saja. Di dalam hatinya hanya ada Kellano dan juga Kaylo.
Lelaki itu mendekat lalu menatap air yang ada di lantai. Kemudian beralih ke gadis yang sedang duduk dengan tenang itu.
"Sebaiknya, Nona membersihkan air itu sebelum pergi. Karena, bisa mencelakai pengunjung."
Keysara melirik sekilas lalu menatap bartender dan lelaki yang berada di belakangnya. Ia kemudian berjalan tenang sambil meraih gelas. Gelas itu di sodorkan ke arah lelaki yang baru datang tadi.
Lelaki itu meraih gelas tersebut dan menghirup aroma yang tampak familiar. Seketika, gelas itu dilempar ke arah sang bartender.
"Aku tak pernah mengajarimu bertindak seperti itu!!! Semuanya keluar!!! Sekarang...!!!"
Bunyi musik yang menggema kini berubah menjadi jeritan para wanita karena mendengar amukan dari pemilik klub tersebut. Sedangkan kedua lelaki yang berada di depan sang pemilik hanya diam tidak berkutik.
"Nona, tunggulah sebentar. Saya akan membereskan kedua orang tidak berguna itu."
Keysara hanya diam lalu duduk di sofa tak jauh dari sana. Ia makan cemilan sambil menonton adegan nyata.
Aku tidak akan melewatkan kesempatan ini. Film action yang menarik.
Mereka berdua di pukul habis - habisan oleh pemilik klub itu. Dia sungguh tidak terima karena klub sudah kotor.
"Aku sudah katakan berulang kali. Jangan menjebak seorang gadis atau pun wanita. Jika Tuan tahu, kita bisa mati," ucapnya penuh penekanan.
"Bos, berarti dia bukan pemilik asli. Kurang menarik," ujar Keysara.
"Maafkan aku, Bi. Dia terlalu cantik untuk dilewatkan. Kita bisa menghadiahkannya kepada Tuan.
"Nico! Jaga batasanmu."
Jadi, namanya Nico.
Keysara masih mengamati sambil makan kacang dengan gratis. Lumayan, untuk mengisi perutnya yang keroncongan.
"Dan kau, Johan. Jangan berlagak. Bersihkan lukamu," titahnya dengan penuh intimidasi."
"Baik, Tuan Mike," ucap mereka serempak sambil pergi meninggalkan tempat.
Segitu saja. Aku kira menarik. Rugi aku melihatnya. Lebih baik aku pergi. Tunggu…, sayang kalau tidak dihabiskan.
Keysara masih betah makan sambil menatap orang yang bernama Mike itu. Hingga tak menyadari ada seseorang yang berada di sampingnya menatap lekat wajahnya lalu bersemirik.
__ADS_1
Tangan kekar itu terukur hendak mengambil camilan yang ada di meja. Tangan mereka bersenggolan. Sontak Keysara kaget lalu memutar kepalanya tiga puluh derajat.
"Hai, Nona."
Keysara mengerutkan dahi tanda heran karena tidak menyadari keberadaan lelaki itu.
"Sudah puas menontonnya," ucapnya sambil menyeringai.
Tidak ada ekspresi di wajah Keysara. Ia hanya menatap dengan pandangan dingin lalu beranjak dari sofa.
"Mike!!" teriak orang itu. Mike langsung mendekat. "Jangan biarkan dia melangkah keluar dari sini." perintahnya masih di dengar oleh Keysara.
Gadis itu tampak gelisah. Ia mencoba menenangkan diri.
Shitt! Lapar tidak bisa berpikir jernih. Salah mengambil tindakan.
Keysara mencoba melangkahkan kakinya. Setelah tiga langkah, Mike menghadangnya dengan cepat.
"Maaf, Nona. Anda tidak bisa keluar." Gadis itu mengepalkan tangannya kuat.
"Minggir," ucap Keysara dengan penuh penekanan.
"Saya mohon, Anda tetap tinggal di sini. Karena Tuan meminta Anda tetap tinggal."
Keysara tidak mendengarkan permintaan Mike yang sedang memohon di depannya. Ia terus berjalan sambil menyeret kopernya. Karena dengan cara halus tidak di respon. Lelaki itu langsung menyerang si gadis.
Satu pukulan melayang di wajah Keysara. Dengan sigap ia menghindar lalu gadis itu menendang perut Mike hingga mundur selangkah. Lelaki itu tentu tak menyangka kalau gadis rumahan yang terlihat manja itu mampu menghindar pukulannya dengan gesit.
Tentu Mike tak terima. Ia melayangkan pukulannya berkali - kali. Dengan mudahnya, keysara menangkis pukulan itu. Namun tiba - tiba, tubuhnya terasa lemas sehingga membuatnya limbung ke lantai. Sebelum gadis itu terjatuh, tangan kekar berhasil menangkapnya.
"Tu… Tuan," ucap Mike terbata - bata.
"Bawa koper itu. Kita ke mansion. Pastikan semua benda yang dibawa gadis itu ada bersamamu."
Lelaki itu menggendong Keysara dengan gaya bidal style. Ia berjalan keluar klub sambil tersenyum. Entah malaikat mana yang merasuk ke tubuh iblis itu. Senyuman yang biasa terukir jahat kini berubah menjadi senyuman tulus dan selembut sutera.
"You are my mine," ucapnya seraya masuk ke mobil lamborgininya.
Nasib Keysara sungguh tidak mujur. Baru saja keluar dari perjodohan. Malah masuk kedalam kandang raja hutan. Seperti apa nanti yang dilakukan gadis itu untuk keluar dari sana. Tidak ada yang tahu.
Sampai di mansion, lelaki itu keluar dari mobil. Jangan lupa, Keysara yang tengah pingsan itu berada di gendongannya. Ia masuk lalu menaiki tangga demi tangga menuju ruangan pribadi miliknya.
Dengan hati - hati, lelaki itu menaruh tubuh Keysara bak berlian yang sangat berharga. Rambutnya yang menutupi wajah diselipkan ke belakang telinga. Tangan kekar itu mengelus lembut hingga sampai ke bibir pink alami yang menggoda.
__ADS_1
"Cantik," ujarnya. "Kau akan aku jadikan ratu," imbuhnya sambil mengecup pipi Keysara.
Suara ketokan pintu mengalihkan pandangannya. "Masuk!"
Seseorang dengan balutan jas rapi masuk ke dalam membungkuk hormat. "Tuan, ini berkas yang Anda minta," ucapnya seraya menyodorkan amplop berwarna coklat.
"Kau yakin, semuanya lengkap."
"Le… lengkap, Tuan," ucapnya dengan gugup.
"Berapa tahun kau bekerja padaku, Jack?"
"Tiga puluh tahun, Tuan Orlando," jawabnya cepat.
Tiga puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Jack tahu betul sifat Orlando Golden. Dari kecil, ia telah bersamanya. Lelaki itu tidak menyia - nyiakan pertumbuhan Orlando. Meski umurnya tidak lagi muda. Tapi, kesetiannya cukup di acungi jempol.
"Pulanglah…, temui anak dan istrimu. Kau kuliburkan. Jangan membantah. Aku bisa mengurus diriku sendiri."
Jack sedikit tersentak. Ia sungguh tidak tega meninggalkan Orlando sendirian. Karena ia tahu betul, seperti apa masa lalu lelaki berumur dua puluh lima tahun itu.
"Aku bisa berdiri di bawah kakiku, Jack."
Jack mengangguk, "Jika Tuan butuh saya. Jangan sungkan." Lelaki paruh baya itu pun pamit undur diri. Sementara Orlando membuka berkas itu lalu membaca dengan teliti.
"Keparat," geramnya tertahan. "Awas saja, kau Dettian Franko!"
Berkas yang ada di tangan Orlando adalah bukti pengkhianatan anak buahnya dengan dirinya. Mereka bersekongkol dengan ketua mafia Black Hole.
Karena merasa terusik, gadis yang tengah pingsan itu kemudian membuka kedua matanya. Ia langsung duduk menatap lelaki yang tengah duduk membelakangi dirinya.
"Siapa kau?" tanya Keysara.
Orlando menoleh, "Kau bangun rupanya. Mulai besok. Kau bekerja denganku. Tidak ada bantahan."
Orlando langsung berdiri lalu beranjak dari ranjang. Kakinya melangkah keluar dari ruangan.
"Jangan berani kabur dari sini. Kau punya hutang padaku. Dan kau harus bekerja untukku untuk menebus hutangmu."
Keysara masih bingung menerka ucapan lelaki yang tidak dikenalnya. Hutang apa yang di maksudnya? Ia merasa tidak punya hutang. Namun, lamunannya terhenti saat seseorang masuk ke dalam kamarnya dengan sedikit berlari lalu menyambar bibirnya untuk di kecup.
Gadis itu diam membeku tidak merespon tindakan lelaki itu. Ia hanya mengedipkan matanya berulang kali. Kesempatan itu digunakan orlando untuk menyesap lebih dalam bibir itu.
"Manis," gumam Orlando sambil melepas ciumannya lalu beranjak meninggalkan ruangan itu. Jantungnya berdetak kencang. Ia menutup pintu perlahan lalu bersandar di depan pintu sambil menyentuh jantungnya yang kian merontak.
__ADS_1
"Ciuman pertamaku!!" teriak Keysara menggema di seluruh ruangan hingga terdengar di telinga Orlando. Lelaki itu hanya tersenyum tipis lalu beranjak pergi tempat itu.
"Menarik," gumam Orlando