
Leo White adalah tangan kanan Dettian. Ia sangat setia kepada keluarga lelaki itu. Sepuluh tahun bersama sang tuan membuatnya paham betul watak dari malaikat yang tengah duduk di tepi ranjang itu. Namun, yang dilihatnya malam ini adalah perubahan dari sikap Dettian.
"Apakah kita tak akan keluar, Tuan." Leo sangat khawatir kalau rencana Dettian terbongkar. Ia tak habis pikir, hal gila yang tengah dilakukan junjungannya. Yaitu memporak porandakan hotel dengan cara seperti itu. Dan dia dengan tenang duduk menatap sang gadis yang tengah tertidur.
Aku semakin tidak mengerti jalan pikiranmu, Tuan. Kau sangat tenang seperti air. Sulit sekali ditebak.
Dettian adalah orang yang penuh perhitungan. Ia melakukan aksinya dengan matang dan sempurna. Orang seperti ini lebih sulit dihadapi. Jika tergesa - gesa melawan maka akan kalah sebelum berperang.
"Hotel ini tempat teraman. Setelah tenang, kita akan keluar," jelas Dettian dengan tersenyum lembut menatap gadis itu.
Tidak berapa lama kemudian, sang gadis itu tersadar. Pertama kali yang dilihatnya adalah orang asing dengan wajah tampan.
"Sudah bangun rupanya." Dettian mengambil air minum yang ada di nakas lalu memberikankanya kepada sang gadis yang tak lain adalah Keysara.
Gadis itu diam tidak bergeming. Ia menatap lekat gelas yang di sodorkan oleh lelaki asing itu. "Ini tak ada racunnya. Tenang saja."
Diraihnya gelas itu oleh jari lentik sambil menatap lekat orang asing itu.
"Dettian, panggil aku Dettian," ucap Dettian tersenyum lembut. Senyum itu mampu membuat para gadis teriak histeris. Keysara tidak bergeming. Ia memasang wajah dinginnya.
"Apa maumu?" Keysara tidaklah bodoh jika terhanyut pesona lelaki yang bernama Dettian.
"Tidak ada. Aku hanya menolongmu dari penjahat." Lagi - lagi, Dettian tersenyum mencoba merayu gadis itu.
"Alibi," ucap Keysara sambil menyibakkan selimut dengan kasar lalu menaruh gelas itu di meja nakas. Lelaki tampan bertopeng itu lebih berbahaya dari Orlando, pikirnya.
Menarik, batin Dettian sambil mempertahankan senyumnya yang menawan.
Gadis itu langsung berdiri lalu berjalan menuju keluar pintu. Leo yang berada di sana langsung menghadangnya. "Lebih baik, Nona tidak keluar ruangan."
Keysara menoleh sambil memicingkan mata. "Bersembunyi di dalam hotel mengecoh musuh adalah hal pengecut."
"Jaga mulut Anda, Nona!" teriak Leo geram.
Dettian masih tenang menghadapi Keysara. "Tebakanmu sangat akurat. Kau pintar, Keysara. Aku sepertinya berubah pikiran. Bagaimana kalau kau menjadi pendamping hidupku?"
__ADS_1
What the hell. Orang ini melamarku. Dia lebih gila dari Orlando itu. Aku ingin mencakar wajah sok polosnya.
Gadis itu mengepalkan tangannya kuat. Sejak ia bertemu dengan Orlando nasib sialnya semakin bertambah. Apakah ini hukuman dari Tuhan karena tidak menuruti keiingan sang Ayah?"
Tidak adil. Aku benci ini. Oh Tuhan….
Keysara masih sibuk dengan pemikirannya sambil mengembungkan pipinya. Segala ekspresi gadis itu terekam bebas di otaknya. Terus terang, jantungnya bertabuh saat menatap lekat dia.
Aku tak pernah merasakan hal ini. Aku punya penyakit jantung rupanya.
Bodoh, itulah kata yang tepat untuk Dettian saat ini. Ia tidak pernah mengenal indahnya cinta. "Tinggallah bersamaku. Akan aku berikan semua yang kau mau. Tas, perhiasan, rumah mewah dan status." Dettian mengira Keysara sama dengan gadis di luar sana. Hello bung, kau salah. Ia bukanlah gadis manja yang gila uang. Lagi pula, uang yang dihasilkan bisnisnya tidak akan habis meski tujuh turunan sekalipun.
Keysara memutar bola matanya malas. Ia berpikir logis mengenai kondisinya saat ini karena orang yang berada di hadapannya tidaklah mudah. Ibarat perumpamaan 'Air tenang menghanyutkan.'
"Tidak ada untungnya kau membawaku kemari, Tuan." Keysara berkata sehalus mungkin sambil berbalik arah melipat kedua tangannya dengan tenang.
Jika gadis di luar sana akan bergelayut manja merangsang Dettian. Maka, Keysara tidak akan pernah melakukan itu. Kehormatan seorang gadis adalah segala - galanya. Ayolah, negaranya mengajarkan tentang moral dan harga diri kawan.
Dettian berdiri berjalan menuju Keysara dengan seribu pesona. Keysara ingin muntah melihat hal itu. Namun, ia tetap memasang wajah dingin dan datar.
Sinting
Keysara tidak habis pikir, kenarsisan tingkat dewa melekat pada wajah malaikat berhati iblis di depannya. Ada apa dengan dunia? Kenapa ada orang yang memiliki harga tinggi selangit. Uang bukan segalanya, Bung. Masih banyak yang lebih berharga dari uang. Pikiran gadis itu mengarah ke sana.
"Percaya diri membuat seseorang jatuh ke dasar jurang."
Dettian semakin menyukai cara berpikir Keysara. Pasangan seperti inilah yang cocok untuknya. Tangan lelaki itu terulur untuk mengelus pipi sang gadis yang menatapnya tajam. Namun, sebelum tangan itu mendarat sempurna, Keysara mundur dua langkah ke belakang.
"Wow! aku di tolak rupanya."
Keysara sungguh tidak tahan dengan permainan konyol Dettian. Ia berbalik arah menuju pintu keluar.
"Kau tak akan kemana - mana, Sayang." Dettian memberi isyarat kepada Leo.
"Nona, kami akan memberi hak istimewa kepada Anda."
__ADS_1
Gadis itu tidak bergeming sama sekali. Ia mengepalkan tangannya kuat lalu berbalik arah dan langsung meninju rahang Leo dengan keras hingga tersungkur ke lantai karena kurangnya persiapan.
"Jangan bandingkan aku dengan jal*ng!" Keysara sudah tidak bisa membendung kemarahannya. Sementara Dettian semakin kagum dengan gadis itu.
Brak!!
Tiba - tiba, pintu kamar di buka kasar oleh seaeorang. Orang yang tidak di kenal oleh kedua lelaki yang ada di ruangan itu.
"Keysara. Are you okay?" Gadis itu menoleh lalu berlari menuju lelaki itu dan memeluk erat tubuhnya.
"Lama sekali," rajuk Keysara dengan manja. Leo langsung bangkit. "Beraninya masuk tanpa permisi!!"
"Berhenti, Leo! Perhatikan posisimu." Dettian menatap kedua manusia beda kelamin itu dengan seksama. Ia tersenyum lembut. "Aku tak menyangka saudara ipar akan datang begitu cepat. Selamat datang."
Kellano menatap tajam Dettian kemudian beralih ke arah Leo. Kedua orang itu tidak sederhana yang terlihat. "Biarkan kami pergi."
"Tidak akan. Sebelum aku menikah dengan saudarimu."
What!!! Makhluk asing dari mana ini? Kenapa tergoda oleh Keysara? Pesona apa yang dimainkan oleh gadis itu?
"Tuan, kami tidak mengenal Anda. Mengenai pernikahan, jangan main - main. Karena altar suci adalah tempat untuk mengikat janji seumur hidup semati." Kellano menolak Dettian dengan halus. Berharap lelaki itu mau mengerti.
Tangan Dettian mengepal. Bagaimana pun caranya, mendapatkan Keysara adalah tujuan utama saat ini. Gadis itu dengan tanpa permisi sudah masuk kedalam hati lelaki itu.
"Dia bisa jadi ratuku. Aku akan memberikan segalanya."
Keysara melepas pelukan Kellano. "Aku bukan barang. Jangan memaksakan kehendak."
Sudah habis kesabaran Dettian. Cara halus tidak berhasil. Maka, cara kasar yang akan maju. Ekspresi wajah lelaki itu yang semula lembut kini berubah menjadi dingin. Kellano dan Leo merasa tertekan oleh auranya. Berbeda dengan Keysara, gadis itu sangat acuh terhadap sekitar. Ia bahkan sangat tenang.
"Leo!!" Mendengar panggilan keras Dettian. Leo bergegas mengambil ponsel di sakunya untuk menghubungi seseorang. Namun, dari ujung pintu ada suara peluru yang diarahkan ke tangan Leo
Dorr!
Semua orang menatap ke ujung pintu. Beda halnya dengan Leo, ia meringis kesakitan.
__ADS_1
"Syukurlah, kau cepat datang," ucap Kellano tersenyum simpul.