
Desta yang tidak punya pilihan lain pada akhirnya mengiyakan Abraham. "Baik, aku bersedia tapi ada beberapa hal yang harus aku katakan dan kamu harus setuju," ucap Desta.
"Apa itu?" tanya Abraham dengan dahi yang mengkerut.
Desta menghela nafas sebelum wanita itu menyebutkan kalimat apa saja yang akan wanita itu sampaikan pada laki-laki yang saat ini sedang berdiri menatapnya.
"Pertama, aku ingin tetap bekerja menjadi model. Tapi tenang saja aku akan tetap datang kesini untuk menjadi pelayanmu, Tuan. Kedua aku nanti akan menikah dan mungkin saja aku akan mengambil cuti untuk tidak masuk bekerja menjadi budakmu pada waktu itu. Bagaimana menurut Anda?" Desta hanya mengajukan dua keinginan saja saat ini pada laki-laki arogan itu.
"Hanya itu?" Abraham tersenyum tipis pada saat dirinya menanyakan itu.
"Satu lagi, aku tidak akan datang kesini jika keadaanku sedang tidak enak atau sedang sakit." Desta setelah mengatakan itu mendekat ke arah pintu penjara itu.
"Baiklah, aku setuju, tapi kamu juga harus setuju dengan setiap apa saja yang aku katakan. Maka dengan cara begitu aku akan segera membukakan pintu untukmu," kata Abraham yang ternyata setuju dengan tiga permintaan wanita itu.
Desta terlihat mengangguk. "Aku setuju, jika kamu setuju juga. Maka cepat bukaan aku penjara ini." Desta terlihat mengusap sisa-sisa lelehan air matanya, karena saat ini wanita itu harus segera masuk ke dalam jeruji besi itu dimana saat ini Farhan masih saja memejamkan mata.
"Arga … buka kan, dia," perintah Abraham pada Arga yang dari tadi hanya diam saja.
__ADS_1
"Baik Tuan." Arga sang tangan kanan Abraham itu kini terlihat bergegas membuka jeruji besi itu untuk Desta.
"Tunggu dia disini Arga jangan sampai dia berniat kabur, setelah nanti ayahnya sadar," kata Abraham sebelum laki-laki itu keluar dari dalam ruang bawah tanah itu, karena saat ini laki-laki itu ada yang harus diurus.
Desta yang melihat Abraham pergi terlihat biasa saja, karena saat ini yang harus wanita itu lakukan adalah segera masuk ke dalam jeruji itu. Di tambah kini Desta semakin mengkhawatirkan keadaan sang ayah.
"Cepat buka, jangan lambat sekali." Desta yang merasa kalau Arga tidak bisa cepat membukanya, dengan gerakan cepat malah mengambil kunci itu. "Sini biar aku saja yang membukanya sendiri." Dengan kasar Desta mengambil kunci itu dari tangan Arga.
"Tapi Nona ...." Arga menjeda kalimatnya.
"Tidak ada tapi-tapian, karena aku tidak akan mungkin bisa kabur dari sini. Disaat Ayahku masih belum sadarkan diri." Kini Desta sudah berhasil membuka pintu itu, ia juga langsung saja bergegas masuk. "Kunci saja, jika kamu takut aku akan kabur!" ketus Desta.
Beberapa menit kemudian, setelah Desta menyipratkan air pada wajah Farhan beberapa kali kini pria paruh baya itu terlihat mulai mengerjapkan matanya menandakan kalau Farhan rupanya sudah sadar.
"Desta, putri Ayah ...." Lirih Farhan.
"Ayah," panggil Desta yang sekarang terlihat membantu sang Ayah untuk duduk. "Ayah sudah sadar, sekarang Ayah harus makan dan minum," kata Desta yang mengambil nasi bungkus yang rupanya juga ada di keresek itu.
__ADS_1
"Ayah haus." Farhan memegang lehernya.
"Ayah haus, kalau begitu minum dulu setelah itu baru makan." Desta dengan cepat memberikan Farhan sebotol air minum yang tadi sempat wanita itu buka. "Ayo Ayah minum dulu." Desta sekarang membantu Farhan untuk minum langsung dari dalam botolnya.
"Pelan-pelan Ayah, nanti Ayah tersedak." Wanita itu mengingatkan sang ayah.
Farhan yang sangat haus tidak mendengarkan Desta, pria paruh baya yang memang sedang sangat kehausan itu meneguk air di dalam botol itu dengan sangat cepat sehingga air di dalam botol itu sampai tumpah ke bajunya.
"Ayah, hati-hati." Desta terus saja memperingatkan Farhan. Wanita itu juga menahan tangan sang ayah yang sedang memegang botol air mineral yang terlihat tinggal setengah. "Sekarang Ayah makan dulu."
Farhan menggelng. "Ayah cuma mau bebas dari sini," ucap pria pruh baya itu dengan tatapan sendunya.
"Iya, aku akan segera membawa Ayah keluar dari sini. Aku janji Ayah." Desta memegang tangan sang ayah. "Aku janji, Desta akan segera mengeluarkan Ayah dari sini secepatnya." Wanita itu mengulangi kalimatnya supaya Farhan merasa sedikit tenang.
"Kapan Desta? Apa kamu mau menunggu Ayah mati dulu baru kamu akan mengeluarkan Ayah dari jeruji besi sini?" tanya Farhan.
Desta menggeleng dengan sangat kuat. "Pria arogan itu akan mengeluarkan Ayah dari sini, karena aku sudah setuju dengan apa yang dia katakan." Desta menatap wajah pucat Farhan.
__ADS_1
"Benarkah, apa kamu serius?" tanya Farhan.
"Iya Ayah, aku serius," jawab Desta.