
Jam menunjukkan pukul 22.23 WIB. Dimana Desta terlihat sedang berpura-pura sudah tidur untuk saat ini dengan cara memejamkan mata, karena wanita itu ingin tahu tentang apa yang akan Selena lakukan pada dirinya malam ini, dan tidak berselang lama suara ketukan pintu terdengar dari arah luar.
Tok, tok ... tok ....
"Nona Desta, apa Anda sudah tidur?" Rico sang asisten Selena terus saja terdengar mengetuk pintu kamar Desta beberapa kali. "Nona Desta," panggil laki-laki itu sekali lagi.
"Masuk saja, siapa tahu Nona Desta sudah tidur," ucap Roy, dokter kepercayaan Selena. "Ayo kita masuk saja karena saya sangat yakin jika air yang ada di dalam gelas yang kamu taburi obat tidur itu pasti sudah Nona Desta minum." Dengan penuh keyakinan dan percaya Roy mengatakan itu pada Rico.
"Baiklah, kalau begitu saya dulu yang akan masuk lalu setelah itu Dokter karena saya tidak mau nanti Nona Desta malah belum meminum air yang ada di dalam gelas itu," kata Rico yang sekarang terlihat membuka pintu kamar Desta. "Nanti kalau saya panggil Dokter, Anda harus cepat-cepat masuk ke dalam."
Roy menjawab dengan anggukan kecil. "Sana masuklah," balas Roy pelan.
"Lho Dok, Ric, kenapa kalian malah bergantian masuk seperti ini? Ayo kita sama-sama masuk saja karena aku yakin kalau Desta pasti sudah terlelap mengingat anak itu pasti seharian ini bekerja dengan sangat keras." Selena lalu terlihat masuk terlebih dahulu. "Desta sudah meminum air yang ada di dalam gelas itu sampai habis, itu artinya kalau saat ini obat tidur itu sedang bereaksi." Wanita paruh baya itu mengatakan itu semua karena air minum yang ada di atas nakas sudah habis. Tanpa ia tahu bahwa Desta membuangnya ke kamar mandi bukan meminum air yang sudah di taburi obat tidur itu.
__ADS_1
"Kalau begitu saya akan mengeceknya langsung, apakah ginjal Nona Desta dan Nona Elsa cocok." Roy membawa alat yang digunakan untuk memeriksa ginjal Desta. "Rico tolong bawakan saya ini dulu." Roy memberikan Rico tas yang ia bawa. Pada saat dokter itu baru saja mengingat kalau satu alatnya malah ketinggalan.
"Kenapa tidak Anda bawa sendiri, Dok?" Rico bertanya dengan dahi yang mengkerut.
"Saya lupa alat yang satunya ketinggalan di dalam mobil," jawab Roy yang sekarang malah terlihat berbalik. "Nyonya, saya harus mengambilnya dulu di dalam mobil. Secepatnya juga saya akan kembali karena saya sudah tahu jika saja obat tidur itu tidak akan bekerja terlalu lama."
"Cepatlah Dok, jangan malah membuang-buang waktu saja." Selena sekarang mendekat ke arah ranjang Desta, entah apa yang saat ini wanita paruh baya itu akan ia lakukan.
"Aku hanya ingin memastikan kalau Desta masih bernafas, sekarang tugasmu berjaga di ambang pintu, karena bisa saja Elsa nanti malah tiba-tiba masuk ke dalam. Jika kamu tidak berjaga sesuai dengan apa yang aku katakan tadi," ucap Selena.
"Kalau begitu saya akan berjaga di luar dulu Nyonya," timpal Rico yang sekarang malah berjalan keluar lagi setelah tadi ia ikut masuk ke kamar Desta.
Selena mengangguk sebagai respon wanita paruh baya itu.
__ADS_1
๐๐
"Bagaimana apa cocok?" tanya Selena pada Roy.
"Sangat cocok sekali, kapan kira-kira kita akan mengambil ginjal Nona Desta untuk Nona Elsa?" Roy malah bertanya balik pada Selena setelah tadi dokter itu sempat menjawab pertanyaan wanita paruh baya itu.
"Kita tunggu waktu yang tepat, jika sudah waktunya maka aku akan memberitahumu Dok, tentang kapan kita akan mengambil ginjal Desta." Selena pada akhirnya bisa bernafas dengan lega karena ia mendengar jika saja ginjal Desta sangat cocok dengan ginjal Elsa. "Tidak sia-sia aku mengadopsinya selama ini, jika ginjalnya rupanya sangatlah cocok dengan Elsa."
"Harus cepat Nyonya, karena mengingat kondisi Nona Elsa," kata Roy. "Jika kita tidak melakukan itu semua dengan cepat, maka dapat saya pastikan kalau Nona Elsa akan salam masalah besar mengingat satu ginjalnya sudah tidak berfungsi lagi. Sehingga membuat saya menjadi merasa sedikit takut jika hal-hal yang tidak kita inginkan akan terjadi menimpa Nona Elsa," kata Roy panjang kali lebar.
"Kapan kira-kira?" Selena memegang dagunya pada saat wanita paruh baya itu bertanya pada dokter itu.
"Dua hari lagi, kita akan melakukan semuanya," jawab Roy dengan mantap. Tanpa merasakan lidahnya keseleo ketika ia mengatkan itu pada Selena.
__ADS_1