
Tanpa aba-aba Abraham malah terlihat langsung saja menyayat lengan Revan. Dengan satu kali tarikan saja pada sebilah belati itu.
"Akhh!" Lagi-lagi suara erangan dari mulut Revan terdengar. Tapi kali ini suara erangan laki-laki itu sangatlah berbeda karena dirinya benar-benar sangat kesakitan dengan apa yang Abraham lakukan pada dirinya saat ini.
"Apa kamu masih saja belum mau mengakui kesalahan bahkan dosa yang kamu itu lakukan?" Abraham menyeringai dengan elegan pada saat dirinya bertanya seperti itu pada Revan.
"Aku tidak salah! Adikmu itu saja yang mau memberikan aku segalanya padaku tanpa perlu aku memintanya terlebih dahulu," jawab Revan yang pada akhirnya keceplosan mengatakan itu semua pada Abraham.
"Oh ya, apa kamu pikir aku tidak tahu tentang kamu yang menjanjikan pernikahan pada Adikku, tapi setelah Nadia hamil kamu malah mengingkari janji itu. Sungguh kamu benar-benar manusia yang terkutuk Revan!" Abraham menekan luka sayatan yang tadi pada lengan Revan. "Rasakan ini, dasar pecundang dan sangat pengecut!"
"Akkhhhhh, sakit ...." Suara Revan mengerang kesakitan.
"Kamu harus menyerahkan nyawamu padaku, jika saja laki-laki biadab sepertimu masih saja tidak mau bertangngung jawab dengan semua yang telah kamu lakukan. Sehingga Adikku hampir saja meregang nyawa karena dia takut bahwa aku akan memarahinya ketika aku sudah tahu semua kebenarannya," kata Abraham sambil terlihat mengelilingi Revan yang masih saja meringis kesakitan. "Satu kesempatan lagi, apa kamu mau menikah dengan Nadia seperti kataku yang tadi? Jawab dengan cepat sebelum belati yang aku pegang ini akan bersarang tepat di jantungmu."
"Saya memiliki kekasih, harus berapa kali saya katakan itu semua padamu. Sehingga membuat saya tidak akan mungkin bisa menikah dengan Nadia. Mohon pengertianmu karena tidak semudah itu saya bisa menikah dengan wanita lain pada saat saya sudah memiliki pacar, dan sebentar lagi akan menikah dengannya." Revan penuh dengan percaya diri malah mengatakan itu semua.
Abraham mengepalkan tangannya kuat lalu ia malah memberikan bogem mentah beberapa kali pada Revan dengan cara mem ba bi buta sehingga terlihat wajah Revan langsung saja babak belur, dimana sudut bibir serta hidung Revan laki-laki itu mengeluarkan darah.
"Kurang ajar! Kau sudah membuat kesabaranku habis!" geram Abraham yang terus saja terlihat melayangkan bogem mentah pada wajah Revan. Bahkan sekarang pria arogan itu meninju perut laki-laki yang mungkin saja saat ini akan pingsan saking dahsyatnya pu kulan Abraham. "Kau ba ji ngan! Kau harus mam pus!" Suara Abraham bagaikan petir yang menggelegar.
Sehingga membuat Arga yang baru saja datang membawa satu ember air garam hampir saja jatuh karena tangan kanan Abraham itu sangat kaget dengan suara Abraham.
Sedangkan Opi yang ada disana dari tadi hanya bisa diam saja dengan cara menutup kuping serta mata karena sungguh apa yang Abraham lakukan saat ini membuatnya merasa bergidik ngeri. Mengingat dirinya selama ini tidak pernah memu kul orang sampai separah pria arogan yang ada di hadapannya langsung seperti saat ini.
"Tuan ini air garamnya," kata Arga takut-takut sambil mendekat ke arah pria arogan yang sepertinya saat ini sedang kerasukan siluman macam. Sebab dirinya juga baru kali ini melihat tuannya itu memu kul orang sampai berdarah-darah karena selama ini yang Arga tahu, bahwa Abraham hanya akan memberikan pelajaran untuk tawanannya dengan cara memu kul sampai babak belur bukan sampai berdarah-darah. Membuat Arga kali ini merasa bahwa Abraham berbeda dari hari-hari sebelumnya.
"Tuan ini air gar–"
Kalimat Arga menggantung diudara karena pria arogan itu mengambil air garam itu dan langsung saja mengguyur Revan yang mungkin saja sudah pingsan.
Byur!!
__ADS_1
"Rasakan kau bedebah!" geram Abraham sambil tertawa terbahak-bahak. "Kau pikir siapa kau ini, hah?" Pria itu malah menendang kursi kayu tempat Revan diikat. Sehingga menyebabkan tubuh Revan yang sudah lemas tidak berdaya karena tidak sadarkan diri langsung saja terjatuh bersama kursi itu. "Aku bukan lawanmu brerengsek! Aku juga bukan tandinganmu, dan sekarang rasakan ini semua karena kamu laki-laki paling lancang yang aku kenal." Dari raut wajah Abraham sangat terlihat dengan jelas kalau saja pria arogan itu saat ini benar-benar sangat murka.
"Tuan, apa yang harus saya lakukan?" Disela-sela hanya ada suara Abraham, lagi-lagi Arga terdengar bertanya pada tuannya itu.
"Bawa dia ke ruangan sebelah karena Desta bisa saja melihatnya disini, mengingat wanita itu bisa ada dimana-mana. Termasuk dia bisa saja datang kesini," ucap Abraham sambil terlihat memasukkan sebilah pisau ke dalam sakunya. "Untuk Opet, suruh dia yang menjaga si brengsek ini karena aku yakin kalau dia pasti akan sadar sebentar lagi."
Mendengar itu Arga melambaikan tangannya pada Opi. "Opet sini, ini kamu ada tugas," ucap Arga.
Opi yang mendengar dirinya dipanggil bergegas mendekat ke arah Arga.
"Urus semuanya Arga karena aku yakin setelah dia sadar nanti, dia akan langsung mau bertanggung jawab pada Nadia." Abraham setelah mengatakan itu ia langsung pergi dari sana saat itu juga. Gara-gara dirinya baru saja mengingat kalau saja Desta pasti sudah memasak rendang untuk dirinya.
"Saya akan mengurus semuanya Tuan. Jadi, Anda tenang saja," timpal Arga pada saat dirinya melihat Abraham sudah melangkahkan kaki untuk keluar dari penjara ruang bawah tanah itu.
***
Sedangkan di dalam mansion tepatnya di dapur terdengar suara Desta yang sedang bercakap-cakap dengan Ayu mereka terdengar saling melempar candaan satu sama lain. Sebelum Desta terdengar melontarkan pertanyaan pada ART itu.
"Bi, apa dia kali ini akan benar-benar akan memakan masakanku?" tanya Desta pada saat dirinya terlihat sedang menyusun lauk rendang yang tadi ia masak ke atas meja makan seperti hari-hari sebelumnya.
"Apa Bibi begitu sangat yakin dia akan memakannya kali ini?" Desta terdengar bertanya lagi pada Ayu.
Ayu mengangguk sambil menjawab, "Saya sangat yakin sekali Nona karena Tuan Abra jika sudah menyebutkan lauk apa yang akan dimasakkan pasti beliau akan memakannya." Ayu yang memang sudah tahu bagaimana karakter Abraham bisa memastikan kalau majikannya itu pasti kali ini akan memakan masakan Desta. "Nona susun saja nasi beserta lauk rendangnya karena Tuan Abra pasti sebentar lagi akan datang," sambung Ayu.
Desta terdengar mengiyakan Ayu sebelum wanita itu menyadari kalau saja Abraham dari tadi mendengar percakapannya dengan Ayu.
"Hem ...." Terdengar suara Abraham yang berdehem. Sehingga membuat Desta dan Ayu langsung saja menoleh secara bersamaan. "Aku mau mandi dulu, setelah itu baru aku akan mencicipi rendang buatanmu," kata Abraham yang terus saja menatap Desta.
"Iya." Hanya satu kalimat yang keluar dari mulut Desta pada saat Abraham mengatakan bahwa pria arogan itu mau mandi dulu baru akan makan siang. Desta juga sama sekali tidak terkejut dengan Abraham yang sudah tiba-tiba saja berdiri disana.
"Aku mau mandi dulu!" Abraham terdengar sedikit meninggikan nada suaranya saat ini.
__ADS_1
"Tuan Abra mandi saja nanti keburu rendangnya malah dingin," timpal Desta yang tidak mengerti dengan apa yang saat ini pria arogan itu maksud. "Sana mandi buran."
"Nona, mungkin Tuan Abra menyuruh Anda untuk menyiapkan air hangat untuk beliau mandi, mengingat air di mansion ini sangat dingin karena berada di tengah-tengah hutan lindung." Ayu bergegas menghampiri Desta hanya untuk membisikkan kalimat itu pada Desta karena dirinya tahu apa maksud Abraham saat ini.
"Apa!" Desta yang baru kali ini disuruh menyiapkan air hangat untuk Abraham begitu sangat kaget. "Apa kupingku tidak salah dengar, Bi?" tanya Desta yang juga setengah berbisik.
"Betul Nona, sekarang Anda naik saja ke lantai tiga sebelum Tuan Abraham akan memarahi Anda," ucap Ayu sambil mengambil lap piring yang Desta pegang saat ini. "Ayo Nona, biarkan saya yang akan menyusun piring-piring ini."
Desta menghela nafas sebelum dirinya melangkahkan kaki untuk naik ke lantai tiga dimana kamar Abraham berada, dan jujur saja saat ini Desta merasa jengkel dengan pria itu sehingga membuatnya terus saja bergerutu di dalam benaknya. Meskipun sebenarnya saat ini Desta juga sama sekali tidak mau menyiapkan air hangat untuk Abraham.
Akan tetapi, apa boleh buat di dalam mansion itu Desta hanyalah seorang budak yang harus menuruti setiap apa saja yang pria arogan itu inginkan. Padahal wanita itu melakukan semuanya atas dasar keterpaksaan.
"Sedang-sedang jangan terlalu panas," kata Abraham pada saat dirinya melihat Desta mulai menaiki anak tangga satu per satu karena sedangkan dirinya akan menggunakan lift untuk naik ke lantai tiga. Sehingga membuatnya bersantai-santai dulu seperti saat ini. "Apa kamu mendengar kalimatku, Desta?"
"Tidak, karena aku mendadak tuli!" jawab Desta ketus.
"Awas kamu Desta, berani-raninya kamu malah menjawab saya ketus," gumam Abraham pelan.
🍂🍂
"Huh." Desta yang kecapekan karena menaiki anak taga segera mengatur nafanya yang ngos-ngosan. "Rupanya capek juga naik ke lantai tiga ini menggunakan anam tangga," ucap Desta yang merasa nafasnya masih saja terputus-putus karena tenaganya saat ini benar-benar saja terkuras habis.
"Kenapa kamu lama sekali? Tidak tahukah kamu kalau aku ini sudah sangat kekegerahan." Abraham yang sedang bersandar di pintu kamarnya terdengar membuka suara. "Cepat, siapkan aku air hangat."
Desta memutar kedua bola matanya karena dirinya tidak akan pernah menyangka kalau saja dirinya akan bertemu dengan pria semenyebalkan seperti Abraham.
"Tunggu dulu, aku masih capek!"
"Capek? Kamu itu hanya menaiki anak tangga, masa sudah capek. Malu sama Bi Ayu," celetuk Abraham.
"Ingat Tuan tadi naik lift sedangkan aku menggunakan tangga. Begitu juga dengan Bi Ayu yang selalu saja bolak balik ke lantai tinga ini menggunakan lift. Sedangkan aku sendiri kamu haramkan untuk naik ke sini menggunakan lift!" desis Desta sebelum dirinya berjalan ke arah Abraham. "Aku heran, kamu selalu saja menyamakan diriku dengan Bi Ayu. Dimana diriku ini kamu malah berniat ingin menyiksaku sedangkan Bi Ayu ...." Desta menjeda kalimatnya. "Ah sudahlah, aku malas membahas masalah ini. Jika unjung-ujungnya kamu malah biasa saja bukan merubah sikapmu terhadap diriku ini."
__ADS_1
"Simpan keluh kesahmu itu Nona babu karena aku tidak akan pernah mau mendenagrkannya, sekarang lebih baik kamu masuk daripada harus membuang-buang waktu saja disana. Dengan melontarkan kalimat-kalimat yang sangat menggelikan di telingaku." Abraham lalu membuka pintu kamarnya. "Sekarang Nona Desta, jangan malah diam saja seperti manekin disana."
"Dasar aneh," ucap Desta pelan sambil menghentak-hentakkan kakinya. "Pria yang memang benar-benar sangatlah aneh di muka bumi ini!" gerutu wanita itu.