Dendam (Abraham)

Dendam (Abraham)
BAB 44


__ADS_3

"Apa kamu benar-benar masuk angin?" tanya Abraham sekali lagi pada Nadia.


"Iya, aku masuk angin Kak Abra. Tapi Kakak tenang saja kalau aku tidak akan masuk angin lagi kok, karena Bi Ayu sudah membuatkanku teh jahe. Supaya perutku di dalam terasa hangat dan tidak akan mual-mual lagi seperti yang tadi," jawab Nadia.


"Lalu, apa ini?" Abraham memberikan Nadia testpack yang tadi sempat Ayu berikan padanya, karena saat ini pria arogan itu hanya ingin tahu apakah adiknya memang benar-benar hamil atau tidak. "Nadia, jawab Kakak. Apa ini?"


Raut wajah Nadia langsung saja berubah pada saat itu juga, karena testpack yang sempat wanita itu cari dua hari yang lalu rupanya saat ini malah ada di tangan sang kakak.


"Kakak mendapatkan alat ini dari mana?" Nadia bertanya balik pada sang kakak. Meskipun saat ini wanita itu merasa sangat gugup, takut jika saja Abraham akan tahu tentang dirinya yang tengah mengandung benih dari laki-laki brengsek seperti Revan.


"Kakak butuh jawaban bukan pertanyan Nadia. Jadi, jawab saja Kakak tentang apa ini." Abraham terlihat terus saja memegang alat pengecek kehamilan itu. "Nadia, jika belum jelas maka Kakak akan bertanya lagi. Tentang siapa yang punya benda ini?" Saat ini Abraham terus saja mendesak sang adik untuk memberitahunya.


"Hm, ini ... ini punya temanku Kak, kemarin tidak sengaja jatuh di lantai ruang tamu atau bahkan jatuh di anak tangga." Meski Nadia membual. Wanita itu tetap saja menjawab Abraham dengan jawabannya yang terdengar agak sedikit ngaur untuk itu. "Iya, ini punya temanku yang kemarin aku sempat ceritakan ke Kakak kalau dia baru satu bulan menikah tapi sudah hamil. Kebetulan dia sempat kesini juga menyampaikan kabar yang sangat baik ini tepat kemarin sore, dan mungkin saja dia tidak sengaja menjatuhkan benda itu disini."


Abraham tersenyum getir, karena ia tahu kalau saat ini Nadia sedang berbohong pada dirinya.


"Nadia, sejak kapan Kakak mengajarkanmu berbohong? Katakan sejak kapan itu?" Abraham meremas testpack itu sehingga membuat benda kecil panjang itu patah. Menandakan kalau saat ini laki-laki itu sangat marah pada Nadia. "Siapa laki-laki brengsek itu Nadia?!" Suara Abraham mulai meninggi. Pada saat ia baru saja menyadari kalau selama ini pengawasannya pada Nadia hanya sia-sia saja. Jika adik sewata wayangnya itumalah bisa hamil di luar nikah.


"Ini punya temanku!" Suara Nadia juga tidak kalah tingginya. "Bisa-bisanya Kakak menuduhku tanpa bukti. Apa hanya dengan melihat ini Kakak bisa mengambil kesimpulan sendiri? Kakak salah besar!"


Tangan Abraham terkepal dengan sangat kuat. "Sejak kapan kamu berani meninggikan suara di depan Kakak?" Abraham menatap sinis ke arah Nadia.


"Kakak yang mulai duluan, menuduhku yang bukan-bukan. Padahal selama ini Kakak tahu jika aku tidak memiliki kekasih. Tapi sekarang bisa-bisanya Kakak malah berkata seperti itu, mengatakan kalau aku ini hamil," ucap Nadia yang sebenarnya saat ini merasa jika saja Abraham tahu kalau dirinya sedang berbohong. "Malu sama tetangga, bagimana jika mereka membenarkan tudukan Kakak ini terhadapku," sambung Nadia.


Abraham mengusap wajahnya dengan kasar. "Baik, jika kamu terus-terusan mengelak seperti ini maka Kakak akan panggilkan kamu Dokter kendungan." Tidak ada yang bisa Abraham lakukan selain membuktikannya langsung dengan cara memanggilkan Nadia dokter kandungan. "Kamu tetap diam disini, karena Kakak akan menghubungi Jesika dulu. Dokter kandungan yang sekaligus teman Kakak."


Gugup itu yang Nadia rasakan karena Abraham akan benar-benar mendatangkan dokter kandungan untuk memeriksa dirinya.

__ADS_1


Namun, untuk saat ini Nadia tidak bisa melakukan apapun lagi selain menyetujui apa yang Abraham katakan tadi, karena ia juga tidak mungkin akan menolak bisa-bisa sang kakak malah akan menjadi semakin curiga pada dirinya.


"Oke, Kakak panggil saja dokter kandungan itu. Aku tidak takut." Meski sebenarnya Nadia was-was, wanita itu tetap saja mengatakan itu pada Abraham. "Sana Kakak panggil saja sekarang."


"Baik, kamu tunggu disini dulu, karena Kakak harus menyuruh Arga yang akan menjemput Dokter kandungan itu. Supaya dia langsung bisa datang ke rumah ini," timpal Abraham mantap Nadia. Jujur saja saat ini pria arogan itu juga sangat berharap jika saja tebakannya ini salah. "Kamu pokoknya harus tetap disini, karena hanya Dokter Jesika yang menentukan apakah kalimatmu memang benar apa adanya. Atau kamu ini sedang membual."


"Aku tidak akan kemana-mana, Kak Abra saja yang terlalu berlebihan gara-gara menemukan testpack, dan mendengarku muntah-muntah Kakak malah langsung saja berpikiran buruk padaku. Padahal aku ini memang benar-benar masuk angin!" gerutu Nadia dengan jantung yang semakin berdetak lebih kencang dari sebelumnya.


Abraham memejamkan mata, karena saat ini ia sedang kebingungan apakah dirinya akan mempercaayai apa yang Nadia katakan atau mengikuti kata hatinya yang membenarkan bahwa Nadia saat ini sedang hamil.


"Diam Nadia, lebih baik kamu duduk dan tunggu Arga datang membawa Dokter kandungan itu," ucap Abraham sambil keluar dari kamar Nadia, membawa perasaan yang tidak karuan.


"Jika benar Nadia hamil, maka akan aku temukan laki-laki biadab itu. Meskipun dia bersembunyi di lubang semutpun," gumam Abraham membatin.


Sedangkan Nadia langsung saja terlihat segera menghubungi Revan, karena wanita itu mau memberitahu kekasihnya tentang masalah ini.


"Revan harus tahu," ucap Nadia pelan sambil menggigit kukunya, ia juga terlihat langsung saja menekan tombol hijau untuk menghubungi kekasinya itu. Setelah ia memastikan kalau saja Abraham sudah benar-benar perhi dari sana.


"Van, Kak Abra akan memeriksaku. Aku saat ini takut. Tolonglah bantu aku, jangan mau hanya enaknya saja kamu." Suara Nadia serak karena wanita itu saat ini sedang menangis. "Aku butuh pertolonganmu untuk saat ini, karena jika Kak Abra sampai tahu maka kamu juga pati sedang ada dalam masalah besar."


"Gugurkan saja Nadia, jangan kamu buat susah-susah. Minum pil penggugur kandungan yang pernah aku berikan padamu, dan aku minta tolong kamu jangan libatkan aku lagi." Dengan entengnya Revan malah mengatakan itu semua pada Nadia. "Apa kamu mendengarka aku? Jika kamu demgar maka lakukan apa yang tadi aku katakan itu. Jangan membantah juga."


"Dasar brengsek kamu Revan! Rupanya memang benar kamu cuma mau enaknya saja. Pengecut kamu juga pecundang!" pekik Nadia.


"Bukankah waktu itu kamu sendiri yang menyerahkan semuanya padaku tanpa aku minta? Lalu kenapa sekarang kamu malah berkta seperti itu? Seolah-olah aku yang bersalah atas kehamilanmu itu."


"Kamu memang ba ji ngan!" teriak Nadia sebelum wanita itu melempar ponselnya ke arah tembok, sehingga membuat benda pipihnya itu menjadi hancur.

__ADS_1


"Kamu pecundang Revan!" Nadia histeris sebelum wanita itu berjalan ke arah kamar mandi, entah apa yang saat ini ingin Nadia lakukan.


"Akan aku buat kamu membayar semuanya Revan! Akan aku buat kamu mempertanggung jawabkan apa yang telah kamu lakukan ini padaku," gumam Nadia membatin, saat ini ia benar-benae merasa hancur. Ketika ia mendengar bahwa Revan malah menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya.


***


"Siapa yang mau di periksa? Apa jangan-jangan selama ini kamu sudah diam-diam menikah? Maka dari itu sekarang kamu memintaku untuk memeriksa istrimu itu." Jesika terus saja berusaha menebak-nebak sendiri saat ini. "Setelah istrimu hamil, kamu baru kasih tahu aku. Apa begini seharusnya seorang teman?"


"Masuk, jangan banyak tanya. Kamu juga jangan sok tahu!" Abraham terdengar ketus pada saat ia mengatakan itu pada Jesika. "Masuk Jes, jangan malah diam saja disana, apa kamu mau kalau Arga yang menggendongmu masuk?"


"Kamu ini bagimana sih, bukannya menjawab malah mengalihkan pembicaraan. Jawab dulu aku siapa yang akan aku periksa saat ini." Jesika melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam rumah itu. "Abra, apa tidak ada niatan kamu ini akan memberitahuku?"


Abraham menggeleng. "Kamu naik saja ke lantai dua, dengan begitu maka kamu akan tahu siapa yang akan kamu periksa. Tanpa harus terus-terusan bertanya padaku, karena aku ini tidak akan mungkin menjawabmu," ucap Abraham yang sekarang terlihat berjalan ke arah anak tangga. "Lebih cepat Jesi, supaya aku tahu hasilnya nanti seperti apa dan bagimana, dan untuk Arga kamu tidak usah ikut naik ke atas cukup diam disini saja."


Arga terlihat langsung saja mengangguk. "Baik Tuan, kalau nanti ada sesuatu Anda bisa panggil saya," kata Arga yang sekarang terlihat kembali lagi menuruni anak tangga satu persatu.


"Aku sungguh penasaran," ucap Jesika pada saat dirinya melihat Arga sudah menuruni anak tangga. "Apa kamu tidak ada niat kasih tahu aku bocoran sedikit saja?"


"Periksa Nadia." Dua kalimat yang Abraham ucapkan berhasil membuat mulut dokter kandungan itu terbuka dengan sangat lebar. "Iya, yang saat ini harus kamu periksa adalah Nadia. Jadi, kamu jangan merasa penasaran lagi."


Jesika benar-benar terkejud, akan tetapi wanita itu berusaha untuk tetap berpikiran negatip.


"Kenapa kamu malah menyuruhku yang dokter kandungan untuk memeriksa Nadia? Bukankah searusnya yang kamu panggil itu Dokter Ovi?" Jesika mengerutkan kening pada saat ia bertanya seperti itu pada Abarham. "Kamu ini lama-lama kok menjadi aneh saja."


"Kamu akan tahu semuanya jika sudah memeriksa Nadia, maka dari itu kamu masuk saja." Dengan wajah datarnya Abraham menyuruh Jesika untuk masuk ke dalam kamar sang adik. "Masuk Jesi, jangam malah menatapku terus-terusan sepeti itu sungguh aku merasa ingin mencolok kedua bola matamu," celetuk Abraham.


Jesika memegang gagang pintu, ia lalu terlihat masuk begitu saja ke dalam kamar Nadia setelah pintu itu terbuka.

__ADS_1


"Dimana Nadia? Katamu aku harus memeriksanya." Jesika melihat sekeliling kamar luas milik Nadia. Sebelum dokter kandungan itu berteriak histeris karena melihat air mengalir bercampur darah dari dalam kamar mandi Nadia. "Aaaaa, ada darah!" seru Jesika sambil menunjuk ke arah kamar mandi.


"Nadia!" Abraham juga berteriak memanggil nama sang adik. Pria arogan itu kini benar-benar merasa sangat panik, karena ia takut hal-hak buruk akan menimpa Nadia.


__ADS_2