Dendam (Abraham)

Dendam (Abraham)
BAB 61


__ADS_3

Dua hari berlalu dengan sangat cepat, dua hari itu juga Abraham terus saja mencari keberadaan Desta. Tapi pria arogan itu sama sekali tidak bisa menemukan keberadaannya sehingga membuat Abraham mulai merasa sedikit perustasi dengan apa yang saat ini sedang terjadi.


"Dasar sialan! Apa kalian berdua tidak bisa melacak dimana keberadaan Desta?" Abraham berteriak marah pada Arga juga Opi dari seberang telpon karena rupanya kedua tangan kanan dan kirinya itu belum berani pulang gara-gara Desta belum di temukan.


"Tuan, saya benar-benar tidak bisa melacak dimana keberadaan Nona Desta. Apa sebaiknya kita menyewa seorang yang jago salam hal IT?" Dengan takut-takut Arga bertanya balik pada tuannya yang saat ini terlihat seperti orang yang sudah ingin menelan manusia secara hidup-hidup.


"Tidak perlu karena aku yakin kamu dan Opet bisa melacaknya, bodoh!" Abraham terlihat mengusap wajahnya dengan sangat kasar. Pada saat pria itu membayangkan kalau saja Selena sudah berbuat macam-macam dengan Desta. "Dua hari sudah kalian mencarinya tapi tidak membuahkan hasil, apa aku sendiri yang harus turun tangan?"


Mendadak Arga dan Opi terlihat menjadi panik karena mereka tahu jika saja Abraham akan ikut turun tangan lebih jauh lagi maka sesuatu hal buruk akan terjadi.


"Tuan, saya dan Opet malam ini akan mencati Nona Desta sesuai dengan petunjuk. Jadi, Anda tenang saja." Arga menjawab seperti itu supaya Abraham menjadi tenang.


Namun, bukannya tenang Abraham malah terlihat membanting vas bunga serta gelas kosong yang ada di sampingnya.

__ADS_1


"Kurang ajar, ini pasti ada kaitannya dengan Revan, sekarang bawa laki-laki terkutuk itu ke hadapanku karena amu yakin dia pasti tahu saat ini dimana keberadaan Desta," kata Abraham yang baru berpikiran kalau saja adik iparnya itu pasti tahu dimana keberadaan wanita yang sudah dua hari belakangan ini selalu saja mengusik relung hatinya karena Abraham terus saja gelisah memikirkannya.


"Revan, apa Anda yakin dia tahu tentang keberadaan Nona Desta?" tanya Arga untuk sekedar memastikan.


"Bawa dia sekarang juga ke hadapanku, sebelum aku memakanmu Arga!" teriak abraham yang benar-benar sudah sanggat murka. "Kamu juga jangan banyak tanya, jika kamu mau mulutmu itu masih mau berpungsi dengan baik dan benar!" sambung pria arogan itu ketus.


"Baik Tuan, saya akan membawa Revan ke hadapan Anda tepat malam ini juga." Arga lalu terlihat memberikan ponselnya pada Opi pada saat Abraham belum memutuskan sambungan teleponnya. "Silahkan Tuan kalau Anda mau bicara dengan Opet karena saya mau menjalankan mobilnya dulu."


"Ada yang bisa saya bantu Tu–" Kalimat Opi terputus karena Abraham sudah terlebih dahulu memutuskan sambungan telepon itu.


Tutt ... tutt ... tutt ....


"Yah, di matiian," gumam Opi pelan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, sekarang yang terpenting kita harus membawa Revan," ucap Arga sambil terus saja menyetir. "Tugasmu, tinggal melacak dimana keberadaannya."


"Dia seperti biasa pasti ada di rumahnya. Jadi, untuk apa saya harus melacaknya?" Dengan santainya Opi berkata seperti itu pada Arga. "Bukankah selama ini laki-laki itu tidak pernah pergi kemana-mana, semenjak Tuan Abra mengancamnya?"


"Tumben kamu benar, kira-kira habis makan vitamin A berapa kilogram, sehingga membuatmu menjadi pintar begini?" Tanpa meliriki, Arga bertanya seperti itu pada Opi.


"Saya sudah pintar dari lahir, sehingga membuat saya tidak perlu memakan vitamin banyak-banyak," celetuk Opi mr jawab Arga. "Kalau kamu kira-kira sudah makan berapa kilogram?"


"Diam!" Satu kalimat mampu membuat mulut Opi langsung saja bungkam. "Lihatlah, disana si brengsek itu." Arga menunjuk ke arah luar jendela dimana Revan terlihat sedang duduk berdua di sebuah warung bersama laki-laki yaitu dokter Roy. "Sepertinya kita malam ini akan tahu dimana keberadaan Nona Desta."


"Kita harus bawa Revan du–"


"Ssstt, diam!" potong Arga cepat sehingga membuat kalimat Opi terputus. "Lihat terus ke arah mereka, jangan sampai kita kehilangan jejak mereka."

__ADS_1


__ADS_2