Dendam (Abraham)

Dendam (Abraham)
Menagih Hutang


__ADS_3

Sore menjelang, ketika Abraham baru saja terlihat duduk di sofa tepat di sebelah sang bibi, pria itu langsung saja menatap Sarah dengan sangat intens.


"Apa benar kalau Nadia mau pergi liburan?" tanya Abraham pada bibinya.


"Iya, tapi Nadia maunya pergi liburan sama kamu," jawab Sarah jujur, karena memang benar Nadia, gadis kecil yang dulu setiap hari minggu Abraham ajak ke rumah Selena dengan cara sembunyi-sembunyi.


Kini Nadia sudah menjadi wanita yang sangat cantik, duplikat Timo sedangkan Abraham adalah duplikat Selena.


"Sekarang pergi kemana dia, Bi?" Abrham celingak celinguk mencari Nadia, wanita yang umurnya sudah 29 tanun itu, karena biasanya Nadia akan menyambut sang kakak ketika baru pulang dari kantor seperti ini. Namun, kali ini Nadia sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya.


"Katanya tadi dia mau mandi, mungkin saja sekarang dia ada di kamarnya." Sarah, wanita paruh baya yang umurnya hampir sama dengan Selena menjawab keponakannya itu. "Sana, kamu cari saja dia ke kamarnya dan tanyakan mau pergi liburan kemana lagi dia." Sarah selama ini yang telah merawat serta membesarkan kedua anak saudaranya. Sehingga membuat wanita itu tahu bagimana sifat serta karakter kedua keponakannya itu.


"Untuk kali ini Bibi saja yang menemaninya, karena satu bulan ke depan aku benar-benar sangat sibuk," kata Abraham yang merasa kali ini tidak akan bisa menemani adik tercintanya untuk pergi liburan.


Sarah hanya bisa mengangguk. "Tapi kamu sendiri yang memberitahu Nadia, agar dia percaya karena kamu sudah tahu sendiri adik kamu itu seperti apa, Abra."


"Iya, aku yang akan memeberitahu Nadia. Semoga saja dia tidak ngambek sebab dia itu umurnya saja yang sudah dewasa. Namun, pemikirannya masih seperti anak-anak." Apa yang di katakan Abraham memang benar apa adanya. Dimana adiknya itu masih saja bertingkah layaknya anak ABG padahal umurnya sudah sangat cukup dewasa. "Kalau begitu, aku mau pergi ke kamarnya dulu," kata Abraham yang terlihat akan berdiri dari duduknya. Namun, suara Sarah membuat laki-laki itu kembali duduk.


"Abra, kapan kamu akan menikah? Usia kamu itu sudah hampir berkepala dua. Namun, kamu sampai sekarang belum juga ada tanda-tanda akan tertarik pada satu wanita pun. Bibi ini juga sudah tua tidak akan mungkin akan terus bisa menemanimu sewaktu-waktu." Sarah sengaja mengatakan itu semua supaya Abraham mau menikah.

__ADS_1


"Aku akan menikah bila sudah waktunya, Bibi tenang saja." Hanya ini jawaban yang selalu pria itu berikan pada Sarah jika dirinya ditanya kapan di


ia akan menikah. "Bibi hanya perlu tetap menjaga kesehatan Bibi, supaya Bibi bisa menggendong bayiku kelak." Sesaat setelah mengatakan itu Abraham langsung terlihat pergi begitu saja, karena entah mengapa laki-laki itu sama sekali tidak ingin menikah. Sebab Abraham berpikiran bahwa semua wanita sama saja seperti Selena, kecuali Nadia dan Sarah. Sehingga membuatnya tidak terlalu begitu respect pada wanita.


Bukan karena Abraham memiliki kelaian, tapi perbuatan serta kelakuan sang ibu yang dulu sangat menyayat di hati pria itu sampai membekas sampai sekarang. Sehingga membuat Abraham terus saja merasa kalau wanita hanya memandang harta dan kasta saja.


"Abra, menikahkah karena tidak semuanya wanita di dunia ini sama!" seru Sarah ketika Abraham sudah sampai di tengah-tengah anak tangga.


"Tentu, aku akan segera menikah," sahut Abraham hanya untuk membuat hati sang bibi sedikit merasa bahagia. Meskipun saat ini pria itu hanya membual.


***


"Apa benar ini sudah tanggal sesuai dengan perjanjian kita?" tanya Abraham pada Arga, karena tangan kanannya itu pasti mencatat semua hal pada buku agenda yang dimiliki.


"Benar sekali Tuan, Pak Farhan tepat malam ini sudah jatuh tempo dari hari perjanjian kita," jawab Arga sambil mengeluarkan buku agendanya. "Silahkan, Tuan bisa lihat sendiri disini."


"Tidak usah, aku percaya padamu Arga. Sekarang kamu tinggal cepatkan saja laju mobilnya supaya kita cepat sampai di sana." Abraham tersenyum penuh arti, karena entah apa yang saat ini sedang laki-laki itu rencanakan. Sebab Hanya dirinya dan Arga yang tahu.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚

__ADS_1


"Tuan saya janji akan segera membayar hutang saya. Namun, untuk saat ini saya belum memiliki uang untuk melunasi hutang saya itu," kata pria paruh baya itu yang kini terlihat berlutut didepan Abraham yang saat ini sedang terlihat duduk dengan sangat tenang, dan dengan raut wajah datarnya. "Saya janji Tuan, dan tolong berikan saya tambahan waktu lagi," sambung Farhan, pria paruh baya yang sudah berhutang uang sangat banyak pada Abraham.


"Malam ini sudah jatuh tempo, saya harap Anda harus segera membayar hutang Bapak. Sebelum saya akan membawa ini semua ke jalur hukum." Abraham sama sekali tidak memiliki sedikit saja belas kasihan pada Farhan. Sehingga sekarang ia malah terdengar sedikit mengancam pria paruh baya itu.


"Tuan saya mohon ...." Sekarang Farhan terlihat malah bersimpuh di bawah kaki pria yang begitu arogan itu. "Jangan laporkan saya ke polisi, karena saya tidak ingin hidup di dalam jeruji besi."


"Baiklah, kalau Bapak tidak mau membayar hutang pada malam ini maka ... terpaksa saya harus mengambil kedua ginjal Bapak, karena sepertinya hanya itu saja yang berharga di dalam diri Pak Farhan selebihnya saya anggap tidak memiliki harga. Bagimana apa Bapak setuju, kalau saya ini akan mengambil kedua ginjal Bapak?"


Farhan terlihat menggeleng ketakutan. "Jangan Tuan, saya mohon jangan ambil kedua ginjal saya, karena saya masih mau hidup. Saya juga masih memiliki putri yang harus saya nafkahi." Farhan yang sudah babak belur lagi dan lagi rela bersimpuh di kaki Abraham, merendahkan harga dirinya sendiri.


"Seorang putri, dan kira-kira berapa usianya sekarang?" Abraham yang ingin mendengar Farhan mengatakan itu pada dirinya dari tadi. Merasa kalau misinya akan segera berhasil sehingga membuat Abraham hanya bisa menutup wajah bahagianya dengan mimik wajah datarnya.


"25 Tuan, Iya putri saya baru saja berumur 25 tahun," jawab Farhan saat Abraham sekarang malah menodongkan senjata api pada kepala pria paruh baya itu. Tubuh Farhan juga terlihat berguncang kuat karena saat ini ia sampai gemetar ketakutan.


"25 tahun ... baiklah serahkan putrimu itu padaku dengan suka rela, maka aku akan menganggap semua hutang Bapak lunas. Bagaimana apa kali ini Pak Farhan setuju? Ya, meskipun Bapak tahu sendiri kalau hutang Bapak itu sangat lah banyak. Namun, karena malam ini saya sedang berbaik hati. Maka dari itu saya ingin putri Bapak itu yang akan menjadi penebus hutang."


Farhan terdiam karena ia tidak tahu saat ini harus setuju atau tidak, dengan tawaran Abraham.


"Jika Bapak setuju, maka ikut dengan kami. Namun, sebelum itu Bapak harus menghubungi putri Bapak itu sendiri, karena saya tidak mau ada kata keterpaksaan di dalamnya." Abraham mengatakan itu sambil menyerahkan ponsel pada Farhan.

__ADS_1


__ADS_2