Dendam (Abraham)

Dendam (Abraham)
BAB 29


__ADS_3

Sore menjelang pada akhirnya pekerjaan beres-beres di manasion itu selesai juga sehingga membuat Desta terlihat mengulum senyum simpul karna wanita itu merasa senang kalau saja dirinya tidak sampai malam disana.


"Badanku terasa sangat pegal," kata Desta yang menggerakkan tangannya ke kiri dan kekanan. "Kalau sudah beres itu artinya aku bisa pulang," sambung wanita itu. Ia juga tidak lupa berterima kasih pada Ayu karena perkerja rumah tangga itu yang tadi telah membantunya beres-beres di mansion itu.


"Non Desta, saya mau pamit pulang dulu karena ini sudah sore," ucap Ayu yang terlihat membawa dua kresek berwarna putih.


Desta yang mendengar itu langsung saja berbalik, sehingga wanita itu bisa melihat Ayu saat ini.


"Eh, Bi Ayu, apa Bibi tidak tinggal disini?" tanya Desta yang baru saja menyadari jika ia tidak pernah melihat Ayu sejak pertama kali Desta datang ke mansion itu beberapa hari yang lalu. Sehingga membuat Desta yang penasaran merasa harus mengetahui apakah Ayu tinggal di mansion itu atau tidak.


"Tidak Non, Bibi bekerja disini hanya sampai sore saja. Lalu besok pagi-pagi Bibi datang lagi kesini, begitu terus setiap hari karena Tuan Abra tidak mengizinkan saya untuk tinggal disini." Ayu menjawab Desta, karena ia tahu kalau saja Desta pasti ingin tahu tentang dirinya yang bekerja di mansion itu hanya sampai sore saja. "Entahlah, apa alasan beliau yang tidak mengizinkan saya untuk tinggal disini."

__ADS_1


Rasa penasaran Desta semakin menjadi-jadi pada saat wanita itu mendengar jawban dari mulut Ayu.


"Terus Bi Ayu tinggal dimana? Siapa tahu saja aku mau main ke rumah Bibi." Desta memang saat ini ingin tahu dimana rumah Ayu supaya wanita itu bisa menggali informasi tentang Abraham, karena Desta benar-benar ingin tahu asal usul pria arogan yang tiba-tiba saja menjadikan dirinya budak seperti ini. "Ya sudah, kalau Bu Ayu tidak mau memberitahuku tidak apa-apa, mungkin saja Bibi takut jika aku ini berniat jahat pada Bibi." Desta merasa kalau Ayu tidak mau memberitahunya tentang dimana tempat tinggal ART Abraham itu. Sehingga membuat Desta mengatakan itu karena Ayu juga dari tadi yang ditanya malah diam saja.


"Non, maafkan saya. Bukan saya tidak mau memberitahu Anda, tapi ... Tuan Abra sudah memperingati saya kalau Nona Desta tidak berhak tahu tentang dimana tempat tinggal saya." Ayu menunduk pada saat ia mengatakan itu. "Saya benar-benar minta maaf, Non Deata."


Desta menepuk lengan Ayu. "Tidak apa-apa, tidak masalah yang terpanting Bi Ayu tetap bersamaku setiap hari disini walau hanya sampai sore." Desta memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Meskipun saat ini wanita itu merasa kecewa pada Ayu yang tidak mau memberitahunya. "Ngomong-ngomong, Apa Bibi benar-benar sudah lama bekerja disini?" Sekarang Desta malah menanyakan tentang Ayu yang sudah bekerja lama di mansion.


"Ah, itu ... anu, aku lupa." Desta menggarauk tengguknya yang tidak gatal. Wanita itu juga terlihat nyengir kuda sehingga deretan giginya yang putih dan sangat rapi kelihatan dengan sangat jelas.


"Sekarang sudah ingat lagi?" tanya Ayu.

__ADS_1


"Sudah Bi, kalau begitu aku pamit pulang juga. Lagipula pekerjaanku semua sudah beres." Desta lalu terlihat mengambil tasnya, tidak lupa juga ia mengambil kunci mobil yang wanita itu taruh di atas meja. "Ayo Bi, kita sama-sama pulang sa–"


"Siapa yang mengizinkanmu pulang, Desta?" Abraham tiba-tiba saja malah memotong kalimat Desta, entah sejak kapan pria arogan itu berdiri di ambang pintu utama.


"Aku harus pulang Tuan Abra, lagipula pekerjaanku sudah beres." Desta menatap Abraham.


"Kamu tidak boleh pulang, karena aku tidak mengizinkanmu." Abraham menimpali.


Ayu yang takut jika saja Abraham nanti akan marah juga pada dirinya dengan cepat berkata, "Tuan Abra kalau begitu saya pamit pulang dulu."


"Pulanglah, besok pagi jangan terlambat," balas Abraham yang sekarang berjalan ke arah Desta.

__ADS_1


__ADS_2