Dendam (Abraham)

Dendam (Abraham)
Bab 62


__ADS_3

"Ini uang yang Nyonya Selena janjikan padamu Revan, sekarang kamu boleh pergi dari sini. Jangan sampai ada orang lain yang akan melihat kita," kata dokter itu yang rupaya sedang mengantar sejumlah uang untuk Revan sesuai dengan apa yang Selena janjikan untuk laki-laki mata duitan itu.


"Kenapa bukan Rico yang datang?" tanya Revan sambil mengambil uang kes yang ada di amplop berisi sejumlah uang.


"Saya tidak punya banyak waktu untuk menjawabmu Revan, sekarang kamu pulanglah sebelum aku mengambil kembali uang ini." Setelah mengatakan itu Roy langsung pergi saja dari sana karena kata Selena dirinya tidak udah berlama-lama ada di luar seperti saat ini mengingat kalau mata-mata Abraham ada di mana-mana.


"Tunggu." Suara Revan menggentikan langkah kaki dokter itu. "Jika Dokter tidak mau menjawabku, maka aku ingin tahu dimana keberadaan Desta sekarang?" Terdengar laki-lak itu sekarang malah memanyakan tentang kebetadaan Desta.


"Sudah saya katakan Revan, urus dirimu dan jangan tanyakan tentang Nona Desta juga. Itu uang bukan cuma uang yang Nyonya Selena janjikan saja. Selain uang tutup mulutmu juga supaya tidak banyak bicara bahkan bertanya seperti ini." Kali ini Roy benar-benar pergi meskipun terdengar Revan terus saja memanggilnya bahkan laki-laki itu juga sampai mengejarnya.


Namun, Roy terlihat memperlebar langkah kakinya, sebelum sang dokter itu masuk ke dalam sebuah mobil yang berwarna hitam.


"Ah sial!" Revan mengusap rambutnya kasar saking kesalnya dengan Roy yang pergi begitu saja. "Kalau begitu aku harus cepat pulang, sebelum mata-mata Abra sialan itu juga melihatku di sini," gumam Revan yang rupanya masih sangat takut dengan Abraham. Tanpa laki-laki itu tahu bahwa saat ini Arga juga Opi terus saja memperhatikannya. "Jika mereka melihatku maka tamatlah riwayatku malam ini juga," sambung Revan sambil berlalu pergi membawa uang yang tadi Roy berikan padanya.


Sedangkan di dalam mobil terlihat Opi dan Arga sedang sangat kebingungan. Dimana mereka tidak tahu harus mengikuti Roy atau Revan.


"Kita harus mengikuti Dokter itu saja karena saya yakin, kalau saat ini dia mau ke tempat persembunyian Nyonya Selena sekligus tempat penyekapan Nona Desta," kata Arga yang pada akhirnya memutuskan untuk mengikuti mobil Roy. Tapi sebelum itu ia juga sempat mengirim pesan pada Abraham yang memberitahu kalau semua ini terjadi karena Revan.


"Tadi mau ngikuti Revan, sekarang kenapa malah berubah?" tanya Opi.


"Diam Opet, kita harus mengikuti Roy dan untuk Revan bisa kita urus belakangan karena Dokter itu akan menuntun kita dimana keberadaan Nona Desta." Arga menjawab sambil menginjak pedal gas karena ia mau mengejer mobil hitam yang tadi dokter itu naiki. "Opet, kumpulkan bukti-bukti tentang Dokter sialan itu yang melakukan operasi secara ilegal, dan juga beberapa bukti Nyonya Selena yang selama ini menjual barang haram serta bukti-bukti lain supaya malam ini semua berakhir karena itu juga perintah Tuan Abra."

__ADS_1


"Baik, akan saya lakukan," timpal Opi.


"Jangan lupa juga kamu harus mengghubungu polisi untuk datang ke TKP supanya semuanya menjadi jelas," ucap Arga yang memang sudah ingin mengakhiri semuanya. Rupanya ia sudah tahu siapa itu Selena dan juga kisah kelam Abraham, itupun Arga tahu dari Nadia yang sengaja menceritakan semuanya pada dirinya tepat beberapa hari yang lalu. Sehingga membuat Arga mendukung Abraham untuk membalas dendam.


Bukan karena Arga mendukung tuannya untuk membalas dendam pada ibu kandung pria arogan itu. Tetapi, Arga cuma ingin sedikit saja memberikan pelajaran pada wanita paruh baya itu dan mau meminta maaf pada Abraham. Begitupun sebaliknya ia sangat berharap jika saja Abraham akan mau memaafkan kesalahan Selena.


Mengingat Abraham dan Selena adalah anak dan ibu yang dipisahkan oleh karena keegoisan seorang Selena yang gila dengan harta serta di butakan dengan kemewahan serta kemegahan dunia yang sangat pana ini.


"Kalau kita sudah sampai di lokasi baru saya akan mengirim alamatnya pada polisi." Setelah terdiam Opi akhirnya terdengat menyahut Arga yang saat ini sedang pokus menyetir.


***


Di tempat lain, desa terpencil tempat Selena menyekap Desta.


"Meski air matamu ini berubah menjadi darah aku tidak akan pernah mera iba anak sialan!" Selena sekarang menjambak rambut Desta. "Berdoalah supaya jasadmu ini bisa di terima oleh Tuhan, dan kuburmu akan di lapangkan."


Desta malah terlihat semakin menggelang dengan sangat kuat. Menandakan bahwa wanita itu saat ini benar-benar takut dengan Selena.


Tidak lama tiba-tiba saja terlihat Roy datang dengan membawa koper di tangannya.


"Kita harus cepat pergi dari sini, sebelum Abra akan datang ke sini," kata Roy yang mungkin saja sudah tahu jika saja Abraham akan datang. "Ayo Nyonya segera kemasi barang-barang Anda."

__ADS_1


"Aku harus melenyapkan wanita ini dulu. Setelah itu baru kita akan pergi." Selena terlihat baru saja akan menarik platuknya tapi tiba-tiba saja suara tembakan dari arah luar mulai terdengar mambuat wanita paruh baya yang kaget itu malah membuat tembakannya malah meleset ke tembok bukan ke kepala Desta. "Kurang ajar! Siapa itu?" Selena yang tahu bahwa itu adalah orang yang pasti akan menyelamatkan Desta segera menarik pelatuknya lagi karena kali ini ia tidak ingin tembakannya meleset lagi


"Nyonya ayolah." Roy yang panik terlihat terus saja menatap ke arah pintu. "Nyonya, biarkan saja Nona Desta di sini nanti kita ledakkan saja tempat ini karena saya sudah menanan bom," ucap dokter itu.


"Aku harus membubuhnya." Pada saat Selena mengatakan itu tiba-tiba saja pintu itu di dobrak dari arah luar dan terlihatlah Abraham yang sudah berdiri dengan sangat gagah di sana tanpa memegang senjata apapun di kedua tangan pria arogan itu.


"Selamat malam Ibu." Setelah sekian lama baru kali ini Abraham terdengar memanggil Selena dengan panggilan ibu. "Senang bertemu denganmu lagi, Bu." Pada saat Abraham terus saja mengatakan itu salah satu polisi diam-diam mendekati Selena dan segera mengambil senjata api itu karena tujuan Abraham mengatakan itu supaya Selena menjadi lengah dan tidak akan bisa berpikir ingin mengakhiri hidup Desta.


"Kurang ajar kau sialan!" Selena mengkat tangannya ia pikir senjata api itu masih berada di tangannya.


Namun, wanita paruh baya itu salah. Dimana senjata itu sudah polisi itu ambil.


"Biadab!" Selena malah terlihat mengambik senjata api lagi dari dalam saku baju yang ia kenakan. Lalu tanpa aba-aba dia malah membak ke arah Abraham.


Dorr!


Satu tembakan tidak meleset sehingga membuat Abraham pada saat itu juga malah memegang lengannya yang ternyata Selena tadi tembak.


"Letakkan senjata api Anda Nyonya Selena sebelum kami yang akan menambak Anda!" seru salah satu polisi yang dari tadi terus saja menatap Selena. "Untuk Dokter Roy, tolong borgol dia karena dia sudah melenyapkan nyawa dua orang sekaligus pada saat melakukan operasi," sambung polisi itu yang sekarang menyuruh bawhanannya untuk memborgol Roy.


Roy ingin kabur pada saat dokter itu mendengar apa yang tadi polisi itu katakan.

__ADS_1


Namun, salah satu polisi malah memukul tengkuk leher Roy dengan sangat keras sehingga menyebakkan dokter itu jatuh tersungkur ke lantai.


Selena terdengar malah menjerit sebelum para polisi melakuan berbagai cara supaya senjata api yang Selena pegang bisa mereka ambil lagi.


__ADS_2