
Setelah Desta merasa kalau sang ayah sudah kenyang, kini wanita itu terlihat keluar dari dalam jeruji besi itu.
"Ayah tunggu dulu disini, karena aku harus bicara dengan laki-laki arogan itu," kata Desta yang memang benar ingin bicara dengan Abraham. "Pokoknya saat ini Ayah harus tenang, jangan pikirkan apapun karena aku akan membebaskan Ayah secepatnya dari sini."
"Des, jangan tinggalkan Ayah." Farhan menatap Desta ketika wanita itu mulai melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana. "Des, Desta ... jangan tinggalkan Ayah."
Desta hanya melambaikan tangan pada sang ayah sambil bekata, "Aku akan segera kembali, Ayah jangan takut aku meninggalkan Ayah sendirian disini."
Arga yang dari tadi disana tetap diam saja, karena saat ini tangan kanan Abraham itu sedang mengunci kembali jeruji besi itu, supaya Farhan tidak akan bisa kabur dari sana mengingat pria paruh baya itu terus saja memohon pada Arga untuk membebaskannya sebelum Desta datang tepat beberapa jam yang lalu. Sehingga membuat Arga harus selalu tetap waspada pada Farhan.
__ADS_1
"Sampaikan pada Tuan Abra, kalau putri saya sudah bersedia," ucap Farhan memberitahu Arga. Berharap supaya laki-laki itu mau membebaskannya.
"Pak Farhan cukup diam saja, biarkan itu semua menjadi urusan Tuan Abra dan putri Bapak," balas Arga menimpali. "Sehingga Bapak tidak usah mengatakan apapun, tugas Pak Farhan cuma satu jangan pernah banyak bicara karena Tuan Abra sangat membenci orang-orang yang banyak bicara," sambung Arga, laki-laki yang tidak kalah dinginnya dengan tuannya, Abraham.
Mendengar itu Farhan langsung saja bungkam, karena apa yang di katakan oleh Arga memang ada benarnya juga dimana ia harus diam saja daripada banyak bicara.
"Saya permisi dulu, kalau ada apa-apa Bapak bisa menghubungi saya dengan ponsel yang saya berikan itu. Jangan malah gunakanny untuk menghubungi putri Bapak seperti beberpa jam yang lalu." Memang benar Arga memberikan Farhan ponsel untuk menghubungi dirinya, tapi pria paruh baya itu malah menggunakannya untuk menghubungi Desta, dan tentu saja itu tanpa sepengetahuan Arga maupaun Abraham. Membuat tangan kanan laki-laki arogan itu mengatakan itu semua pada Farhan. Supaya ayah dari Desta itu tidak akan mengulanginya lagi.
"Simpan kata maaf Bapak itu," sahut Arga sebelum laki-laki itu benar-benar pergi dari sana.
__ADS_1
Farhan terlihat pasrah ketika ia melihat Arga juga pergi, dan membiarkannya hanya sendiri di ruang bawah tanah yang cahaya lampunya sedikit redup.
๐๐
"Bebaskan Ayahku, karena aku sudah setuju menjadi budakmu." Desta mengatakan itu pada Abraham yang saat ini sedang berdiri menatap ke araj luar jendela.
"Perjanjian kita belum sah, karena kamu belum menandatangi surat yang aku buat." Abraham terus saja menatap ke arah luar jendela meskipun saat ini Desta sedang berbicara pada pria arogan itu.
"Perjanjian?" Desta menyerngit karena saat ini wanita itu tidak mengerti dengan apa yang Abraham maksud.
__ADS_1
"Kamu tinggal baca saja, supaya kamu mengerti dan tidak perlu bertanya padaku seperti ini," jawab Abraham. "Silahkan baca, karena surat itu ada di atas meja," sambung Abraham.
Desta yang penasaran dengan perjanjian apa yang Abraham sebutkan tadi, segera berjalan ke arah meja hanya untuk mengambil selembar kertas perjanjian itu.