Dendam (Abraham)

Dendam (Abraham)
BAB 48


__ADS_3

"Sekarang, maukah kamu menikah denganku?" Revan terlihat mengeluarkan kotak kecil yang berwarna merah. Dimana isinya adalah dua buah cincin yang tadi sempat Abraham sudah siapkan untuk laki-laki itu melamar Nadia. "Nadia Sayang, maukah kamu menerimaku menjadi Ayah dari calon anak-anak kita?" Revan mengulangi kalimatnya sekali lagi.


Nadia yang dari tadi sudah melepaskan pelukannya dari Revan dengan cepat mengangguk sambil mengusap sisa lelehan air matanya.


"Tentu saja Revan, aku ingin menjadi Ibu dari anak-anakmu." Rasa senang kini terasa seperti sedang memeluk erat tubuh Nadia karena sebelumnya wanita itu tidak pernah merasa sebahagia ini. "Kapan kamu akan memintaku langsung kepada Kak Abra?"


Raven langsung saja tersenyum kecut serta menelan ludahnya secara bersusah payah pada saat dirinya mendengar nama Abraham disebut oleh Nadia.


"Secepatnya Nadia, bila perlu malam ini aku bersedia akan melamarmu." Revan lalu mencium kening wanita hamil itu supaya aktingnya terlihat murni seperti yang Abraham inginkan. "Malam ini, apa kamu sudah bersedia?"


Nadia rasanya ingin berteriak dan mengatakan bahwa dirinya adalah wanita yang paling bahagia karena kekasih pujaan hatinya akan melamar dirinya, yang artinya Revan mau bertanggung jawab, Nadia juga sama sekali tidak merasa curiga dengan perubahan sikap laki-laki itu pada dirinya.


"Van, jangan malam ini juga, kamu tahu aku ini masih sakit." Nadia memperlihatkan pergelangan tangannya pada laki-laki itu. "Nih Van, gara-gara kamu aku menjadi begini," sambung Nadia.


Revan langsung saja merubah ekspresi wajahnya menjadi sendu. "Sayang, aku benar-benar minta maaf padamu. Aku tidak bermaksud untuk ...."


"Sayang," panggil Nadia sambil mengambil kotak cincin itu. "Sebelum kamu minta maaf, aku sudah terlebih dahulu memaafkanmu. Jadi, jangan salahkan dirimu anggap saja ini semua hanya musibah." Nadia yang memang benar-benar sangat mencintai Revan tidak tahu apakah laki-laki itu tulus atau tidak yang terpenting baginya laki-laki itu mau akan mempertanggung jawabkan semuanya.


"Terima kasih sayang, tidak salah aku memilihmu untuk menjadi pendamping hidupku. Rupanya kamu adalah jodohku," kata Revan yang sekarang mengelus pipi Nadia. "Aku adalah laki-laki yang sangat beruntung karena sudah mendapatkan wanita cantik sepertimu, Nadia."


Hati Nadia semakin berbunga-bunga pada saat ia mendengar kalimat itu yang keluar dari bibir Revan.


"Aku sangat mencintaimu, jangan pernah meninggalkan aku," ucap Nadia dengan suara lirih.


"Tidak akan sayang karena aku tanpamu adalah rembulan tanpa malam. Sampai sini apa kamu paham?" Revan tersenyum saat kedua netranya bertemu dengan netra Nadia. Senyum yang laki-laki itu tunjukkan adalah senyum kepalsuan, senyum penuh kebusukkan.

__ADS_1


"Revan." Nadia langsung saja mendaratkan kecupan pada bibir laki-laki itu. Nadia juga terlihat malah memegang tongkat sakti milik Revan. Sepertinya wanita itu saat ini sangat haus dengan belaian ayah dari calon bayinya itu. "Van, aku pengen." Sesaat setelah mengatakan itu Nadia malah me lu mat bibir Revan.


Sedangkan Revan yang memang sangat mesum malah membalas apa yang Nadia lakukan padanya saat ini. Seolah-olah dirinya lupa dengan kalimat Abraham, ia juga mungkin saja lupa bahwa saat ini pria arogan itu sedang menunggunya di luar.


Ketika hasrat dua insan yang sedang menggebu-gebu, maka di rumah sakit pun mereka anggap seperti di hotel bintang lima.


"Sekarang Sayang ... k*cok." Revan berbisik pada saat Nadia sudah membuka resletingnya. "Yah sayang, seperti itu." Kini tangan Revan malah mulai meraba boba milik wanita hamil itu. "Terus Sayang ...." Suara de sa han keluar dari mulut laki-laki dan perempuan itu.


Nadia sekarang malah menunduk dan segera menghis4p lollipop dibawah sana sepertinya wanita itu sudah terlihat sangat pro. Sehingga membuat Revan lagi-lagi terdengar men de sah.


"Sayang lebih cepat." Suara Revan terdengar serak dan berat. Sejujurnya meskipun dirinya tidak ada rasa dengan Nadia. Revan akan tetap menikmati apa saja yang membuat bibirnya men de sah itu. "Sayang." Laki-laki itu malah membaringkan Nadia di atas bed karena ia merasa bahwa pisang ambonnya ingin masuk ke dalam sarangnya saat ini juga.


Nadia malah membuka seluruh kancing baju rumah sakitnya pada saat dirinya berbaring supaya Revan juga puas melihat dua jelly berukuran sedang itu.


Sedangkan di luar ruangan itu terlihat Abraham terus saja mondar mandir dari tadi karena ini sudah hampir satu jam Revan belum juga keluar.


"Kurang ajar, ngapain saja dia di sana? Kenapa malah belum keluar juga?" Abraham bertanya pada Arga yang saat ini sedang berdiri sambil bersandar pada diding tembok.


"Mungkin masih curhat, Tuan," celetuk Arga.


"Lihat dia, jangan sampai aku benar-benar akan menghabisinya malam ini juga. Padahal tadi aku sudah memberitahunya tentang aku yang hanya memberikannya waktu 30 menit. Dasar Revan otak kotor!" gerutu Abraham. "Sekarang Arga lihat dia, bila perlu seret dia keluar dari ruangan Nadia."


Arga mengangguk. "Baik Tuan, saya akan melihatnya dulu." Arga lalu terlihat berjalan ke arah ruangan Nadia.


"Sepertinya bedebah itu tidak merasa takut denganku sehingga dirinya malah seperti ini. Tidak mendengarkan apa yang aku katakan." Abraham membatin, pria arogan itu juga menggepalkan tangannya dengan kuat sehingga otot-otot pada punggung tangannya kelihatan dengan sangat jelas. Menandakan kalau saat ini pria itu sangat kesal dengan Revan.

__ADS_1


๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Setelah beberapa menit pada akhirnya Arga kembali lagi menghampiri Abraham. Sungguh saat ini mata laki-laki itu benar-benar telah ternoda dengan apa yang tadi ia lihat di dalam ruangan Nadia. Sehingga membuat tangan kanan pria arogan itu tidak akan tahu harus menjawab apa jika saja Abraham nanti akan bertanya pada dirinya tentang Revan yang belum keluar dari dalam ruangan Nadia.


"Aduh, nanti saya akan jawab apa pada Tuan Abra. Masa saya bilang kalau Nona Nadia dan si bedebah itu sedang bercocok tanam," gumam Arga membatin dengan langkah kaki yang sangat lambat sekali. "Tidak ... tidak, masa iya saya harus menjawab seperti itu. Ah, rupanya ini sesuatu hal yang sangat tidak mudah aku ucapkan." Pada saat Arga terus saja berbicara dengan dirinya sendiri. Tiba-tiba saja Abraham malah menepuk pundak laki-laki itu sehingga malah membuat Abraham terlonjak kaget.


"Astaga!" Arga memegang dadanya karena ia benar-benar merasa sangat kaget. "Tuan, Anda benar-benar membuat saya kaget." Arga menoleh ke arah samping dimana saat ini Abraham sedang menatapnya juga.


"Kamu kenapa malah ikut-ikutan diam di sana? Bukannya menyeretnya keluar untuk ikut bersamamu." Abraham langsung saja mengatakan itu pada tangan kanannya itu. "Kemana dia? Kenapa kamu tidak membawanya?"


Arga berdehem beberapa kali karena tenggorokannya terasa sangat kering. "A-anu, a-anu ... anu, Tuan ...." Rasanya Arga sangat malu jika laki-laki itu harus memberitahu Abraham tentang apa yang tadi laki-laki itu lihat.


"Anu, anu! Kamu itu harus ngomong yang jelas jangan malah setengah-setengah pakai acara menjeda kalimat segara!" ketus Abraham yang kini juga merasa kesal dengan Arga karena pertanyaannya tidak kunjung dijawab oleh laki-laki yang sekarang terlihat malah berkeringat dingin. "Apa susahnya mulutmu itu menjawab, bukan malah begini. Kamu ini lama-lama mirip dengan brengsek itu kelakuanmu," sambung Abraham.


"Tuan, Nona Nadia sedang ...." Arga malah menjeda kalimatnya lagi sehingga membuat Abraham malah meninju lengannya. "Akhhh!" Suara ringisan keluar dari dalam mulut Arga karena Abraham meninjunya sekuat tenaga. "Sakit Tuan." Lirih laki-laki itu.


"Lebih sakit aku yang menunggumu dari tadi disini tapi kamu kembali tidak membawa bedebah itu." Abraham yang merasa penasaran melangkahkan kakinya karena dirinya ingin melihat apa yang sebenarnya telah terjadi dengan adiknya. "Dasar tidak becus!" ketus pria arogan itu sebelum ia benar-benar menjauh dari sang tangan kanan.


"Waduh, gawat Tuan Abra pasti akan melihat adegan pemersatu bangsa itu saat ini juga. Mana Tuan Abra belum menikah lagi saya takut jika saja dirinya nanti malah akan kepengen seperti saya inโ€“" Arga langsung saja menutup mulutnya sendiri karena dirinya merasa keceplosan mengatakan itu semua. "Maafkan mulut saya yang lancang ini Tuhan," gumam Arga sebelum laki-laki itu mengejar tuannya.


"Tuan Abra, tunggu saya jangan masuk. Pokoknya Anda jangan masuk!" seru Arga sambil berlari.


Abraham mengabaikan apa yang Arga katakan sehingga membuat pria arogan itu malah mempercepat langkah kakinya supaya dirinya akan bisa cepat sampai di ruang rawat inap Nadia.


"Dasar tidak becus!" desis Abraham pada saat melihat Arga yang saat ini terus saja berlari ke arah dirinya. "Hanya bisa membuatku kesal saja," gumam Abraham pelan.

__ADS_1


__ADS_2