Dendam (Abraham)

Dendam (Abraham)
BAB 43


__ADS_3

Setelah beberapa menit pada akhirnya Desta juga Abraham terlihat sudah sampai juga di mansion.


"Ingat kamu harus masak yang banyak untukku," kata Abraham pada saat Desta akan keluar dari dalam mobil.


"Kita lihat saja nanti," balas Desta yang dirasa jika saja Abraham memiliki niat lagi untuk membuat suasana hatinya menjadi dongkol seperti hari-hari sebelumnya. "Kalau aku tidak masak, berarti tugasku hari ini haya bersih-bersih saja," sambung Desta yang sekarang malah membuka pintu mobil itu.


Namun, tiba-tiba saja Abraham malah menarik tanganya. Sehingga membuat wanita itu terlihat malah menutup pintu mobil itu lagi.


"Apaan sih, ada masalah apa?" tanya Desta tanpa mau menatap Abraham. "Tadi kamu yang menyuruhku untuk memasak, tapi sekarang kamu juga yang malah menahan tanganku. Sebenarnya apa yang kamu inginkan Tuan Abra yang sangat-sangat terhormat? Sehingga sebagian orang di muka bumi ini sangatlah tunduk padamu." Desta sebenarnya tidak mau meladeni Abraham, akan tetapi, karena dirinya terlanjur sangat kesal pada pria itu membuatnya merasa harus adu mulut dulu dengan Abraham. Supaya pria arogan kulkas sembilan pintu itu tidak terlalu menganggapnya remeh


"Masakkan aku rendang karena aku mau makan itu." Abraham kali ini memang sungguh-sungguh ingin memakan rendang, sehingga membuatnya berkata seperti itu. Ia juga sampai menarik tangan Desta hanya untuk mengatakan itu saja. "Apa kamu mendengar apa yang saat ini ingin aku makan?"


"Rendang apa?" Desta malah bertanya balik pada pria yang masih saja terlihat memegang pergelangan tangannya.


"Sapi, aku mau rendang sapi," jawab Abraham yang merasa tiba-tiba saja air luarnya ingin menetes hanya karena mendengar jawabannya sendiri yang meminta Desta untuk membuatkannya rendang daging sapi. "Sekarang kamu boleh turun, dan ingat pakai daging sapi yang ada di dalam kulkas karena aku sudah menyuruh Bi Ayu membelinya sejak jauh-jauh hari..


Desta mengangguk. "Baiklah, jika kali ini Tuan Abra tidak benar-benar memakannya maka aku tidak akan pernah mau memasak lagi, meskipun Tuan menyuruhku sampai mulut Tuan Abra itu mengeluarkan busa. Aku tidak akan pernah mau ... ingat dan bila perlu catat saja kalimatku ini pria yang sangat arogan, jangan sampai kamu mempermainkan aku lagi."


"Turun, aku tidak akan berbohong lagi kali ini, asal masakan rendang-mu itu akan sangat sesuai di lidahku ini, sesuai juga dengan rendang yang ada di dalam isi otakku." Abraham malah terlihat menyunggingkan senyum simpul pada saat pria itu melihat kalau saja Desta sekarang sudah keluar dari dalam mobil dan Desta malah membanting pintu mobil dengan sangat kasar.


"Desta, adalah wanita langka," gumam Abraham pelan sebelum pria arogan itu ikut keluar dari dalam mobil itu. "Karena dia adalah wanita yang sama sekali tidak tertarik padaku," sambungnya membatin.


***

__ADS_1


"Buka tutup wajahnya," kata Abraham pada saat pria itu kini sudah berada di ruang bawah tanah, ternyata tadi setelah sampai di mansion Abraham langsung saja menuju ke tempat itu. Dimana saat ini Revan sedang di sekap.


"Baik Tuan," sahut Arga yang kemudian melepaskan tutup wajah Revan, tangan kanan Abraham itu juga langsung saja mundur beberapa langkah sambil menarik tangan Opi yang hanya melongo saja. Supaya ikut mundur dengan dirinya.


"Hei, siapa kamu? Saya tidak mengenalmu." Revan terlihat memberontak pada saat laki-laki itu berpikir jika saja Abraham akan menyakitinya karena jujur saja ia tidak tahu siapa Abraham. "Lepaskan saya! Saya tidak merasa mengenalmu!" Revan terus saja terlihat memberontak sekuat tenaga, tapi ikatan pada kedua tangannya yang ada di kursi kayu itu sama sekali tidak bisa lepas, saking kuatnya Arga dan Opi mengingatnya sehingga membuat tangannya memerah karena ia memberontak.


"Kamu si bedah itu rupanya." Abraham sama sekali tidak menghiraukan apa saja yang Revan katakan saat ini karena bagi pria itu, ia harus bisa membuat Revan mempertanggung jawabkan apa yang sudah laki-laki itu lakukan dengan adiknya. "Revan, nama laki-laki pecundang yang malah ingin lari dari tanggung jawab," lanjut Abraham.


"Apa maksudmu? Saya benar-benar tidak mengerti. Tanggung jawab apa? Perasaan saya tidak pernah melakukan apapun. Jadi, saya tidak perlu harus bertanggung jawab. Kenal dengan kamu saja tidak." Revan memang tidak mengenal Abraham karena dirinya hanya tahu namanya saja dari Nadia tanpa pernah melihat wajah pria arogan itu sama sekali. "Kalian menang benar-benar salah orang, sekarang lepaskan saya!" Suara Revan setengah berteriak.


Abraham yang sudah terlanjur kesal, kini benar-benar tidak bisa menahan diri lagi sehingga membuatnya malah menjambak rambut Revan dengan sangat kasar.


"Dasar ba ji ngan!" umpat Abraham pada saat dirinya mendengar Revan malah meringis kesakitan pada saat tangan Abraham malah semakin keras menjambak rambut laki-laki yang telah menanam benih di rahim Nadia.


Plak, plak ...!


Dua tamparan keras mendarat di pipi kiri dan kanan milik Revan, sehingga terlihat wajah laki-laki itu langsung saja memerah.


"Dengar laki-laki sialan! Aku ini adalah Kakak dari wanita polos yang telah kamu nodai sampai hamil, lalu sekarang kamu malah dengan entengnya menyuruh adikku itu untuk menggugurkan kandungannya. Kamu ini sebenarnya manusia jenis apa, hah?" Abraham sekarang memegang dagu Revan dengan satu tangannya lagi. "Apa kamu masih mau mengelak bedebah, setelah mendengar apa yang aku katakan ini? Kamu memang laki-laki terkutuk yang hanya ingin enaknya saja!"


Revan langsung saja terdiam, karena dirinya tidak pernah menyangka kalau dirinya akan bisa bertemu dengan kakak dari Nadia seperti saat ini.


"Apa kamu Abra?" tanya Revan.

__ADS_1


"Iya, aku ini adalah Abraham, apa kamu tidak mengenal diriku ini?" Terdengar Abraham malah bertanya balik pada Revan.


Pada saat itu juga Revan malah kesulitan menelan salivanya karena dirinya baru saja tahu kalau rupaya Abra yang Nadia maksud adalah Abraham, sosok pria arogan, berwajah datar yang juga sangat ditakuti. Meskipun itu hanya Revan dengar dari mulut orang-orang yang pernah bertemu dengan Abraham secara langsung.


Tapi lihatlah sekarang Revan bisa melihat sendiri, pria yang sering disebut-sebut sebagai pria yang selain arogan Abraham juga terkesan sangatlah kejam.


"Pilih tanggung jawab atau nyawamu sebagai gantinya?" tanya Abraham pada saat ia hanya melihat Revan diam saja dari tadi, setelah tadi ia memberitahu Revan kalau dirinya adalah Abraham. Pria yang memang ditakuti oleh sebagian orang, dan disegani karena Abraham adalah pengusaha terkaya di kotanya saat ini.


"Bukan saya yang menghamili Nadia." Revan tiba-tiba saja malah terdengar mengelak saat ini. "Mungkin saja laki-laki lain karena setahu saya, kekasih Nadia banyak bukan cuma saya saja. Jadi, dapat kita ambil kesimpulan kalau saja yang membuat Nadia itu hamil memang benar bukan saya," sambung Rean yang masih saja terdengar mengelak.


"Semakin kamu membela diri maka semakin jelas bahwa kamu adalah laki-laki yang terkutuk itu." Abraham melepaskan cengkraman tanganya dari dagu Revan, ia juga melepaskan jambakannya. "Sekarang kamu tinggal jawab saja pertanyaanku yang tadi itu brengsek, mau tanggung jawab atau nyawamu akan melayang." Terdengar Abraham mengulangi kalimatnya sekali lagi.


"Saya berani bersumpah bukan saya pelaku–" Kalimat Revan terputus karena Abraham malah menodongkan senjata api pada mulut laki-laki itu, sehingga membuat Revan langsung saja bungkam.


"Sekali lagi mulut busukmu itu mengucapkan kata sumpah, maka dapat aku pastikan bahwa nyawamu memang benar-benar ada di tanganku," ucap Abraham yang memang tidaklah suka mendengar kata sumpah di permainan seperti saat ini. "Berhubung aku masih berbaik hati maka menikahlah dengan Nadia, kamu tinggal datang padanya lalu melamarnya. Sesimple itu tanpa kamu harus bertele-tele seperti saat ini karena aku juga tahu bahwa dirimu masih sayang dengan nyawamu."


"Aku memiliki kekasih mana mungkin aku akan menikah dengan Nadia. Lagipula aku ini bukan laki-laki yang kamu cari." Revan memang pandai bersilat lidah. Lihatlah sekarang meskipun dirinya terpojok ia tetap bisa mengelak terus-terusan.


"Ambilkan aku air garam, Arga!" seru Abraham yang akan menggunakan air garam itu untuk menyiksa laki-laki yang tidak tahu diri seperti Revan saat ini.


"Baik, akan saya ambilkan Tuan," sahut Arga yang sekarang terlihat bergegas pergi dari sana karena ia tahu apa yang akan pria arogan itu lakukan pada Revan.


"Apa yang akan pria ini lakukan padaku?" gumam Revan membatin, ia sekarang tiba-tiba saja merasa takut hanya dengan dirinya mendengar Abraham meminta air garam pada salah satu anak buah pria arogan itu. "Apa jangan-jangan dia akan memintaku untuk meminumnya?" Pada saat Revan terus saja membatin tiba-tiba saja Abraham malah terlihat mengeluarkan sebilah belati.

__ADS_1


__ADS_2